Menjaga Cinta

Menjaga Cinta
BAB 52 - Keluarga Tenggara


__ADS_3

Kini kandungan Cecil sudah 4 bulan dan semakin terlihat besar karena ada 2 dedek bayi lagi disana. Mereka seperti panen anak, kalau kata Arka. Saat ini waktunya me time bagi Hanny yang sudah lama tidak merasakannya. Berbeda kali ini me time bersama bunda, Aileen, Eve dan Clara. Setelah mereka dari salon dan spa, Cecil sangat ingin jalan-jalan di mall karena sejak dulu dia sangat jarang jalan dengan bebas, tapi kali ini berbeda. Setelah lelah berkeliling, mereka melihat ada sekumpulan wanita yang histeris.


"Ada apa disana kak Eve?" Tanya Aileen pada Eve yang sedang jalan bergandengan.


"Sepertinya aku tau ada apa." Hanny melirik ke arah Eve dan dibalas anggukan olehnya.


"Ayo kesana.." Ujar Eve dan mereka masuk ke dalam cafe setelah berjuang melewati para wanita dari segala usia itu.


"Iya kan.. dasar." Ujar Hanny dengan wajah cemberutnya memandang tajam ke arah sudut ruangan.


"Sa sa yang... " Ujar Arden melihat Hanny dan yang lainnya.


"Baby..." Arka juga sama. Iya, mereka sedang makan eskrim bersama Arlen dan 3 bocah seperti biasanya. Dengan kostum kali ini kompak warna merah.


"Ohh para hot daddy sedang me time bersama juga." Ujar Clara yang sudah cekikikan disana. Yang di bicarakan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Daddy, jangan lagi keluar seperti ini, lihat banyak wanita disana memandang wajahmu. Aku tidak suka." Ujar Hanny tegas tetapi dengan wajah hampir menangis.


"Nah, sudah mulai, bumil sudah kembali menjadi cemburuan dan posesif." Ucap Arka berbisik tapi masih dapat didengar oleh mereka. Cecil, Aileen dan Clara hanya bengong mendengarnya, mereka baru tau saat ini.


"Iya mommy, daddy cuma mau bawa anak-anak makan eskrim. Tidak ada maksud lain. Jangan marah yaa.." Jelas Arden mulai panik dengan kelakuan bumil yang hampir dia lupakan. Cengeng, cemburuan dan posesif.


"Apa waktu hamil pertama juga begitu?" Tanya Cecil berbisik juga.


"Iya bunda, bahkan lebih parah." Jawab Arka dan Cecil hanya tertawa, membayangkan Arden menghadapi istri hamilnya.


"Dari dulu pertama bertemu mereka sudah saling bucin." Sambung Arka lagi.


"Benar." Timpal Clara. Sementara yang dibicarakan masih asik marah dan merayu.


"Arlen juga sepertinya mau buka cafe saja." Ujar Arlen tiba-tiba dan semua melihat ke arahnya.


"Kau yakin?" Arden memandang ke wajah Arlen di depannya


"Sepertinya seru, lagi pula senang rasanya melihat orang-orang menikmati waktu mereka dengan teman, sahabat dan orang tersayang. Ada juga yang baru betemu dan berkenalan." Jelas Arlen lagi.


"Lakukan apa yang menurutmu baik." Balas Arden.


"Sepertinya karena aku tidak banyak bersosialisasi jadi ingin melihat keramaian dan cara mereka saling berkomunikasi." Ucap Arlen dan akhirnya Arden mengerti apa yang dimaksud oleh saudara kembarnya itu.


"Nanti Vino akan membantumu mencari lokasi, Bintang yang akan mengaturnya." Ucap Arden.


"Tidak, kami akan sama-sama, aku ingin lokasi dekat sekolah, kampus dan perkantoran. Membuka cafe yang dapat dinikmati segala usia bagus juga. Terus cafe dengan banyak eskrim biar keponakanku terus mencariku untuk minta eskrim hahahaha..." Arlen terlihat bahagia mengutarakan keinginannya.


Arlen sudah lama memikirkan keinginannya, untuk membuka cafe dengan harga terjangkau di dekat sekolah Aileen agar dapat memantau adik kecilnya, lalu di dekat kampusnya yang sebentar lagi akan menjadi tempatnya menghabiskan waktu beberapa tahun ini, lalu di mall dengan rasa eskrim yang banyak.


"Yang dekat sekolah mungkin akan membuka cafe yang cocok untuk remaja, kalau lokasi perkantoran masih bingung karena sudah banyak cafe didalam gedung.  Kalau di dekat kampus juga tidak menemukan lokasi yang pas." Jelas Arlen lagi.

__ADS_1


"Gedung kantor Tenggara tidak ada cafe 1 pun, yang ada hanya kantin." Timpal Clara.


"Nah betul, bisa buka 1 di lobi lantai bawah." Balas Arden. "Eh tapi kenapa bisa tidak ada ya di gedung Tenggara? Di StarE saja ada di lobi dan lantai atas." Tanya Arden karena baru terpikirkan.


"Kalau menurut si nenek lampir, cafe seperti itu hanya akan membuat karyawan malas kerja dan cuma memikirkan nongkrong bersama teman dan bergosip." Clara menimpali karena beberapa kali dia ingat kalau atasannya sering mengatakan hal itu.


"Bisa jadi Ar, karena si nenek lampir itu kan keponakannya direktur." Arka memberitahukan karena Arden memang tidak terlalu mengenal orang-orang di perusahaan Tenggara.


"Ehm, sepertinya direktur itu sudah bisa diganti. Sudah terlalu tua." Ujar Arden.


"Apa rencanamu?" Tanya Arlen melihat Arden sedang memikirkan sesuatu.


"Aku akan muncul ke public dan mengambil posisi dirut. Bolehkah sayang?" Ujar Arden lalu bertanya ke Hanny yang sejak tadi memperhatikan mereka sambil memakan french fries nya, dan sudah piring kedua.


"Terserah kakak saja, aku akan jadi istri yang menuruti kata suamiku." Jawab Hanny.


"Tapi alasanmu apa nak?" Kali ini Cecil yang bertanya karena bukan perkara mudah memperlihatkan diri ke public dengan menyandang nama Tenggara seperti dirinya dulu.


"Karena aku ingin memulai perang dengan orang-orang yang selama ini mengganggu keluargaku. Buka perang dalam arti kata sebenarnya tetapi hanya ingin memperlihatkan bahwa kita tidak takut dengan mereka, dengan memunculkan diri sebagai pemilik Tenggara, mereka juga tidak akan sembarangan bertindak. Apalagi dengan membuka seluruh penyamaran, dunia bisnis gelap pun akan berpikir ulang jika ingin mengganggu dengan warna mata ini mereka akan mundur secara teratur." Arden menjelaskan dan memang benar, karena di bisnis gelap atau mafia kecil lainnya juga akan mundur jika tau bahwa Tenggara dan 'Blake' ternyata adalah 1 pewaris.


"Dan aku ingin memberikan anak-anakku kehidupan normal, setidaknya mereka tidak merasakan hidup dalam penyamaran. Mereka akan belajar bahwa terlahir dan menyandang 2 nama keluarga adalah takdir yang harus dihadapi bukan dihindari. Mereka akan hidup dengan identitas asli dan menjalani kehidupan pada umumnya." Jelas Arden lagi sambil merangkul kedua anaknya.


"Mereka anak-anak kuat dan hebat, 2 nama keluarga tidak sembarangan akan diberikan Ar. Seperti kita, kita berhasil melewati semuanya. Sekarang kita tinggal menjaga apa yang kita punya." Sambung Arlen, mereka pun setuju. Apalagi Cecilia yang sangat bangga pada anak-anaknya yang hebat dan kuat menghadapi takdirnya.


"Istriku.. kau siap menyandang gelar nyonya muda Tenggara?" Tanya Arden melirik ke arah Hanny yang masih ngemil.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Sesuai keinginan Arden, mereka disini. Hotel mewah milik Tenggara di pusat kota J. Sedang mengadakan acara perkenalan Tuan muda Tenggara yang misterius beserta keluarganya. Semua awak media telah hadir dan menunggu dari 2 jam sebelum acara dimulai. Acara ini sekaligus mengadakan syukuran kembalinya Cecilia Tenggara dan Arlen Tenggara selama ini menghilang. Arlen juga sudah sehat dan sembuh total. Menjadi pemuda 24 tahun yang sangat tampan dan manis. Sudah banyak putri dari kolega bisnis Tenggara yang melirik padanya. Kalau Arden jangan ditanya, sudah dikelilingi oleh para wanita dan gadis belia sejak acara belum dimulai, membuat Hanny yang melihatnya dari jauh menjadi jengah. Pasalnya Arden tidak bisa mengusir mereka karena merupakan rekan bisnis dan putri rekan bisnis yang akan saling menguntungkan nantinya. Padahal mereka belum tau kalau kedua pria itu adalah Arden dan Arlen Tenggara.


Hanny berdiri sedikit jauh dari podium utama karena sesak dengan wartawan yang ingin meliput juga para wanita yang heboh dengan kedua pewaris Tenggara disana.


"Ah.. ada mantan nyonya muda Salim hadir disini, apakah pantas?" Ujar seorang wanita yang baru saja masuk ke aula itu.


"Nona Irene." Ujar Hanny sedikit terkejut.


"Oh ini anakmu hasil selingkuh itu ya? Wah sepertinya mereka kembar. Hebat juga selingkuhanmu." Ujar Irene sambil melihat AnsTwins yang sedang duduk disebelah Hanny dengan kacamata dan maskernya.


"Jangan bicara sembarangan nona, kau tau pasti seperti apa cerita sebenarnya." Jawab Hanny dengan wajah kesalnya.


"Dan ini.. kau hamil lagi, oh tidak. Kalau wanita murahan itu memang beda ya." Ucap Irene lagi yang melihat perut Hanny sudah membulat sempurna diusia kandungan 6 bulannya.


"Jaga mulut anda nona Irene." Bentak Hanny tetapi karena ramainya disana tidak ada yang tau dengan pertengkaran mereka.


"Loh.. ada Will disana, berarti Tuan Arkana juga hadir." Irene tersenyum melihat Arden sedang dikelilingi banyak orang dengan kacamata hitamnya membuatnya terpesona dan bergetar hebat membayangkan bisa berada di dekapannya. Tak lama mereka di hampiri seseorang.


"Hai Han, kenapa masih disini?" Tanya Arka yang baru saja masuk ke aula.

__ADS_1


"Selamat malam Tuan Arkana." Sapa Irene sedikit genit dengan suara manjanya.


"Selamat malam nona Irene, apakah anda juga diundang?" Tanya Arka karena setaunya, Tenggara tidak megundang Irene.


"Saya datang bersama teman yang diundang ke acara luar biasa ini." Jawab Irene lagi tanpa tau malu.


"Baik, silakan menikmati pestanya. Ayo kak Arka kita pergi." Hanny yang menjawab lalu menggandeng AnsTwins untuk segera pergi dari sana dan diikuti Arka yang tersenyum ramah sebelum meninggalkan Irene sendirian.


"Dasar wanita penggoda, ******, sepetinya dia berhasil menggaet Tuan Arkana." Ucap Irene setelah ditinggal sendiri, menatap sinis kepergian Hanny.


Setengah jam kemudian tepat jam 8 malam acara dimulai. Dipodium sudah berdiri Oma Susi yang mengucapkan salam terlebih dahulu dan membuka acara.


"Baiklah, tanpa menunggu lebih lama lagi saya akan memperkenalkan putri saya yang sudah hilang bertahun-tahun dan akhirnya kembali. Cecilia Tenggara."


Cecilia mulai berjalan masuk dan naik ke podium dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajah cantiknya sama seperti waktu muda dulu. Dengan gaun panjang menjuntai berwarna hijau tua, rambut di gelung keatas menjadikannya lebih anggun dan memancarkan aura keibuannya.


"Lalu berikut adalah cucu-cucu saya yang sudah lama dinantikan khalayak ramai, Arden Tenggara dan Arlen Tenggara, beserta cucu perempuan saya Aileen Tenggara."


Mereka kemudian masuk dan naik ke podium berdiri di sebelah Cecilia yang masih tersenyum bahagia. Akhirnya acara itu diambil alih oleh Arden yang mengucapkan salam perkenalan.


Di belakang sana sudah banyak terdengar histeris suara wanita melihat ketampanaan dan kegagahan 2 pria pewaris Tenggara yang misterius. Teruma Irene yang tidak percaya bahwa Will yang dikenalnya adalah pengawal pribadi Tuan Arkana direktur utama StarE adalah Arden Tenggara yang selama ini ingin diketahui oleh semua orang.


Setelah memperkenalkan dirinya Arden lalu membuka kacamata hitamnya dan memperlihatkan mata hijaunya ke muka umum dan seluruh dunia. Semua memandang kagum tak percaya, mata yang begitu indah menghipnotis seluruh orang yang ada disana.


"Mungkin semua bertanya kenapa kami berbeda sebagai saudara kembar. Jika Arlen lebih mirip ke bunda, maka saya lebih mirip ke ayah. Begitupun dengan adik bungsu kami memiliki mata yang sama seperti ayah kami." Jelas Arden kemudian Aileen juga membuka kacamatanya, berbeda dengan Arden yang memakai kacamata hitam, Aileen memakai kacamata berwarna sedikit abu kehijauan yang sesuai dengan gaya anak remaja untuk menyamarkan warna matanya. Semua berdecak kagum karena belum pernah melihat sorot mata seindah itu.


"Apakah kalian sudah menikah?" Teriak salah satu wartawan yang sudah tidak sabar karena banyak wanita disanan menginginkan mereka berdua.


"Adik kembar saya Arlen masih single, saya sudah menikah dan mempunyai anak kembar dan sedang menunggu anak kembar kami yang berikutnya." Jelas Arden kemudian Hanny dan kedua putranya pun turut naik ke podium. Hanny mengenakan gaun ibu hamil selutut berwarna hijau muda terlihat fresh dan cantik. Semua yang hadir begitu terpesona melihat istri dari Arden Tenggara yang ternyata sangat cantik dan anak kembar yang sangat mirip dengan Arden, sama dengan mata hijau mereka.


"Luar biasa!"


"Anak-anak yang lucu dan tampan!"


"Wah nyonya muda Tenggara sangat cantik!"


"Baru jatuh cinta sudah patah hati."


"Masih ada Tuan muda Arlen."


Terdengar kalimat sahut menyaut diantara undangan disana. Berbeda dengan Irene yang terdiam tak percaya.


"Sial, dia selalu ada diatasku. Beruntung sekali dia bisa jadi nyonya muda Tenggara dan istrinya Will eh Arden." Batin Irene kesal masih menatap sinis kearah podium.


"Baiklah, sekian perkenalan dari kami dan silakan nikmati acara selanjutnya." Arden menutup acara itu dan mereka turun bersama untuk berbaur dengan tamu lainnya. Oma Susi, Cecilia dan Aileen bergandengan. Arden menggendong Anson yang sudah bawel sambil menuntun Hanny, terlihat romatis di mata tamu lainnya, sedangkan Arlen jalan bersama Ansel yang sudah sejak tadi menunjukkan sikap dinginnya.


Setelah turun dari podium, mereka sudah ditunggu oleh Arka, Eve dan Aska, Jupi dan Clara yang sudah menjadi pasangan, Vino yang berdiri disamping Alex, Maya dan Bintang. Keluarga yang telah melewati pasang surut dan badai itu kini terlihat bahagia dan sempurna.

__ADS_1


TBC ~


__ADS_2