Menjaga Cinta

Menjaga Cinta
BAB 22 - Ide Mendadak


__ADS_3

Seminggu berlalu tanpa masalah, meeting ketiga akan berlangsung beberapa menit lagi untuk menentukan team pemenang yang akan dipakai untuk pembuatan iklan perhiasan. Meeting kali ini akan dihadiri oleh Manager dan juga Arkana dirut StarE karena iklan ini termasuk project besar yang merupakan produk mewah yang akan diperlihatkan langsung ke seluruh anggota team.


Semua telah duduk diruang meeting yang luas itu dengan kursi berjejer berhadapan panjang. Arden sebagai Will tentu saja selalu berdiri di samping Arka dengan tenangnya sambil memantau seluruh ruangan selayaknya seorang pengawal. Apa lagi saat ini sedang tersusun rapi 4 set perhiasan mewah yang asli di meja itu. Sebelum meeting dimulai seluruh anggota team secara bergantian diizinkan melihat secara langsung perhiasan di meja itu yang berharga total ratusan milyar. Semua memandang dengan mata berbinar apalagi wanita, haha.


Tiba-tiba Hanny terlihat pucat dan terdiam sejenak lalu menatap ke arah Arden yang memang sedari tadi sering melirik ke arah Hanny. Wajah Hanny terlihat cemas dan tiba-tiba menjadi gelisah. Stella yang kala itu duduk disampingnya pun menyadari begitu juga Arden yang melihat wajah gelisah Hanny dari jauh.


"Han, kenapa?" Tanya Stella berbisik.


"Ide dan konsep yang telah aku susun hilang mba." Jawab Stella berbisik lirih hampir manangis.


"Hah.. kok bisa? Kamu bawa tadi?" Tanya Stella lagi dengan panik.


"Sudah disusun dari tadi malam di map ini dan tersimpan dilaci yang terkunci, aku tidak buka lagi, setelah disini malah tidak ada." Kata Hanny mulai panik.


"Hm.. kamu masih ingat kan? Coba buat ulang saja, nanti presentasikan sesuai yang ada di otak kamu. Saya akan minta ubah giliran di akhir saja, tukar dengan team 4." Stella akhirnya memberikan sarannya agar Hanny bisa tenang dan memikirkan bagaimana caranya agar meeting dapat berjalan lancar.


Stella beranjak dari kursinya sesaat sebelum meeting dimulai untuk bertukar giliran dengan team 4 yang untungnya disetujui oleh mereka. Sambil mendengarkan ide konsep team pertama, Hanny mulai menulis dan menuangkan yang ada di otaknya sesuai dengan yang telah dia kerjakan sebelumnya. Tiba giliran team 3, Yuli lah yang mempresentasikan konsepnya. Namun Hanny juga tertegun tak percaya mendengar ide dari Yuli sangat mirip dengan punyanya meskipun ada beberapa bagian telah berubah. Begitupun dengan Arka dan Will yang sadar bahwa ide yang di sampaikan Yuli adalah punya Hanny. Tentu mereka tau karena konsep asli ini masih tersimpan rapi di laptop Arka.


Hanny memandang ke arah Arden dan Arka bergantian dengan raut wajah cemas, sedangkan Arden dan Arka tampak marah. Hanny menggelengkan kepalanya samar agar mereka tidak bertindak apapun. Arka paham, inilah yang terjadi. Pantas saja team 2 bertukar giliran jadi yang terakhir. Setelah team 3 selesai, semua bertepuk tangan kagum dengan ide dan konsep yang diberikan oleh Yuli, diapun tersenyum bangga dan terlihat sombong. Sedangkan Stella juga merasakan kecurangan ini, karena dia tau bagaimana awal ide cerita ini disusun dengan sangat rapi oleh Hanny.


"Kita lihat apa yang bisa kau lakukan saat ini ******." Batin Yuli menatap Hanny dengan tatapan meremehkan.


Tiba akhirnya team 2 yang harus mempresentasikan hasil kerjanya, tetapi Hanny masih saja tidak tenang karena sudah pasti hasilnya akan sama dengan tim 3. Hanny berpikir sejenak lalu berdiri dari tempat duduknya dan menunduk meminta maaf pada semua yang ada disana. Lalu berjalan mendekati arah Arka, " Maaf pak Arkana, karena kecerobohan saya, telah menghilangkan hasil kerja team, tetapi semua masih tersimpan di memory otak saya. Saya akan melanjutkan presentasi tanpa adanya salinan untuk semua orang yang hadir." Ujar Hanny sopan, dan dibalas anggukan oleh Arka.


"Lalu?" Tanya Arka lagi.


"Apakah boleh memberikan waktu 5 menit lagi untuk saya dan izinkan saya melihat produk perhiasaanya lagi." Tanya Hanny.


"Baiklah, silakan." Arka mengizinkan dan Hanny berjalan mendekati 4 set perhiasan itu menatap bergantian sambil berpikir sejenak. Yuli sudah merasa menang dan tersenyum meremehkan sedangkan yang lainnya sudah mulai berbisik-bisik.


Arden yang tampak gusar mencemaskan Hanny, bukan karena takut menang atau kalah, tetapi takut suasana hati bumilnya makin buruk dan sedih. Juga dia marah karena kecurangan ini tentunya.


Tak lama kemudian Hanny tersenyum dan langsung meminta izin untuk melanjutkan presentasinya, sehingga 15 menit kemudian semua orang disana bertepuk tangan dengan takjub, seluruh team 2 tersenyum lega. Begitupun dengan Hanny yang sukses mengutarakan ide briliant, tidak penting menang atau kalah, yang pasti dia telah mengerjakan tugasnya dengan tanggungjawab. Arka dan Arden juga takjub dengan ide baru Hanny yang baru dipikirkannya dengan waktu 5 menit saja.


"Sungguh gadis kecilku, bumilku sangat pintar." Batin Arden yang mengulas senyum tipis tetapi langsung terdiam menggantinya dengan wajah dingin dan datar karena ditatap tajam oleh Hanny yang seakan berkata "jangan senyum"


"Baiklah, terima kasih atas kerja keras semua team." Arka berbicara dengan tegas tetapi juga ramah.

__ADS_1


"Menurut team pertama, konsep team mana yang terbaik?" Arka menanyakan ke-4 team tersebut tentang team mana yang terbaik, kompak seluruh team mengatakan team terbaik adalah team 2. Begitupun Yuli karena terpaksa, memang benar ide Hanny barusan sangat bagus melebihi ide sebelumnya yang telah dicuri olehnya.


"Sesuai suara mutlak kali ini, jadi tidak perlu kami yang menentukan lagi. team 2 lah yang akan memproduksi iklan ini." Semua bertepuk tangan dan gembira memberi selamat pada Hanny dan team 2.


"Besok akan ada meeting dengan owner Jess Jewelry atau Jsj dan beberapa kandidat bintang iklan yang akan ditentukan. Team 2 bersiaplah." Ujar Arka lagi dan setelah itu meeting dibubarkan tepat pada pukul 11.30 siang.


"Aku lapar..." Lirih Hanny tang didengar oleh stella, "Pergilah, bonus buatmu istirahat 1 etengah jam. Karena kerja kerasmu brusan." Stella memberi bonus istirahat kepada Hanny dan tentu saja bumil ini merasa bahagia karena lapar dan juga lelah.


Devan menghampiri Stella dan Hanny menyampaikan perintah Arka, "Hanny.. dipanggil Pak Arkana keruangannya." Ujar Devan. Semua terlonjak terkejut, pasalnya tidak ada staff biasa yang bisa mencapai ruangan dirut mereka. Hanya sampai jajaran manager saja, bahkan Devan juga tidka pernah.


"Tapi pak.. saya tidak tau ruangannya dimana?" Hanny bingung kalau melewati jalur biasa karena selalu melewati jalur khusus. "Kalau jalan rahasia sih aku tau." Batin Hanny.


"Sudah ada yang akan mengantarkanmu." Ujar Devan dan menunjuk ke arah depan pintu yang sudah ada Will menunggu disana. Sontak membuat heboh 1 divisi disana sampai ada yang berteriak kencang dengan lebay.


Hanny menatap Will dengan tajam, meskipun tetap mengikutinya menuju lift khusus Dirut.


"Kak Will sengaja?" Tanya Hanny kesal setelah pintu lift tertutup. Aden langsung memeluk kekasihnya itu, tau kalau bumilnya sedang kesal. Mengecup bibirnya sekilas, "Manis." Lalu mencium bibir itu lagi lebih lama sampai pintu lift terbuka.


Hanny mengikuti langkah Will sampai ke ruangan Arka, disana Arka sudah menunggu dengan membuka data di laptopnya yang dikerjakan Hanny minggu lalu. Mereka berbincang sejenak perihal hasil kerja Hanny yang dicuri, tetapi Hanny tidak mau mempermasalahkan hal itu karena mau fokus dulu untuk tugas selanjutnya.


"Tapi kau harus waspada terdapat Yuli, dia pasti tidak akan begitu saja menerima keklahannya." Ujar Arka dan dibalas setuju oleh Hanny. Masalahnya sekarang adalah orang-orang yang akan heboh karena Hanny yang dipanggil ke ruangan direktur.


"Harus mau, kan kau sendiri tadi yang ngotot mau jemput Hanny. Jemput Stella dan Pak Devan agar tidak ada yang curiga." Jelas Arka dan Hanny juga mendukung ide itu. "Tapi kak Arden tidak boleh senyum-senyum, jangan terlalu dekat." titah Hanny cemburu sambil menunduk ke dada Arden dan dibalas cengiran lalu mengecup puncak kepala Hanny.


Agar tidak memunculkan kecurigaan, maka Devan dan Stella juga di panggil menghadap dengan alasan lalai dalam tugas. Stelah pemeriksaan cctv terdapat bukti bahwa Yuli lah yang patut dicurigai atas hilangnya data ide konsep milik team 2.


"Pak Devan, saya tidak mau lagi ada hal yang seperti ini terulang. Ini dibawah tanggungjawab anda. Karena Hanny tidak ingin mempermasalahkan dan juga masalah terakhir dengan baik maka saya selesaikan sampai disini saja." Tegas Arka agar Devan lebih tegas terhadap bawahannya sehingga tidak ada pihak yang dirugikan. Setleah berdiskusi singkat mereka pun akhirnya kembali ke meja masing-masing.  Mereka telah sepakat tidak memperpanjang masalah ini tetapi Devan malah tidak setuju sehingga secara sepihak menegur Yuli nantinya.


Hanny makin kesal karena sudah daritadi dia sangat lapar, harus turun dan naik lagi ke ruangan Arka membuat dia benar-benar kelelahan.


"Kak... aku lapar." Hanny yang merasa kesal menghampiri Arden yang masih menunggunya di dalam lift pintu rahasia.


"Mau makan apa sayang.." Tanya Arden lembut sambil mengelus rambut Hanny.


"Mau... siomay, bakso, pangsit rebus 1 porsi, pisang goreng dan susu kedelai." Jawab Hanny menyebutkan semua yang ingin dimakannya.


"Hah.. banyak sekali, untuk siapa?" Tanya Arden terkejut dengan menu yang disebutkan Hanny dan bumilnya itu bedecak kesal. "Aku yang makan semuanya."

__ADS_1


"Baiklah... sebentar, Vino yang akan belikan ya. Kamu mau duduk dulu atau tidur?"


"Aku tunggu disini."


Hanny duduk di sofa dengan tenang seperti biasanya sambil menunggu makanannya datang, ia pun bermain dengan ponselnya. Cuma beberapa menit Hanny langsung tidur terduduk di sofa itu.


"Kasihan bumilku.. kelelahan." Arden menggendongnya dan masuk ke dalam kamar untuk merebahan Hanny agar tidur dengan nyaman. "Tidur yang nyenyak ya sayang" Arden mengecup keningnya. "Anak daddy baik-baik ya." Arden pun mengecup perut Hanny yang masih rata itu. Sebenarnya dia gemas melihat Hanny dan ingin melahapnya, tapi cintanya lebih besar dari napsu mesumnya, akhirnya dia hanya mengelus lembut wajah Hanny dan juga merebahkan dirinya dan memeluk Hanny.


Setengah jam berlalu, Vino datang membawakan makanan pesanan Arden, "Nih.. mana si bos?" Vino meletakkan beberapa bungkus makanan di meja depan sofa.


"Tuh didalam, bumilnya lagi tidur." Jawab Arka yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Sayang... bangun, makanannya sudah datang." Arden mengelus pipi Hanny, tetapi bumil itu masih tertidur lelap. Gemas dengannya yang dibangunin berkali-kali tidak bergerak, Arden mengecup bibinya, perlahan.. lama kelamaan ********** sampai Hanny merasa tengganggu dan kesusahan bernapas.


"Aaahh... kak." Erang Hanny akhirnya terbangun.


"Bangun ya.. makan, kasihan dedek sudah lapar." Hanny masih tergolek, malas menggerakkan badannya. Perlahan Hanny pun bangun dan menghampiri kumpulan makakan kesukaannya. Tercium aroma makanan yang semakin membuat Hanny kelaparan, beruntung kehamilannya tidak membuatnya sudah makan ataupun mencium aroma. Hanny makan dengan lahapnya, sedikit tergesa-gesa membuat Arden yang panik sendiri.


"Pelan-pelan sayang.. tak ada yang rebutan denganmu."


"Hehe.." Hanny hanya nyengir mendengarnya tetapi tetap lahap. Semua habis tak bersisa, berpindah kedalam perut Hanny.


"Kenyang..." Gumamnya pelan sambil mengelus perutnya.


Setelah makan, Hanny langsung kembali ke ruangan kantornya, terlihat sepi dan ada aura menyeramkan dari beberapa orang disana. Serin menyenggol pelan lengan Hanny yang baru saja duduk dikursinya. "Kenapa tadi?" Tanyanya penasaran.


"Hah? Kenapa?" Hanny balik bertanya.


"Tadi diruangan Dirut."


"Oh.. masalah di meeting tadi, kan hilang. Jadi ya begitu, tapi sudah selesai." Jawab Hanny yang terus menjelaskan. Yang jadi masalah saat ini adalah Devan memanggil Yuli dan team nya untuk memberi teguran dan sepertinya Yuli tida menerima hal itu. Yuli mengira Hanny lah yang telah melaporkannya dan menuduhnya.


Sementara di taman dekat cafe lantai atas, Yuli sedang kesal karena dituduh mencuri ide dari team 2, segera dia menghubungi Irene untuk merencanakan pembalasan ke Hanny. Beberapa foto masuk ke ponselnya dan seketika dia terkejut melihat foto tersebut.


"Gila... ternyata dia memang ******!" Pekik Yuli tidak sengaja terucap dari mulutnya, spontan dia menutup mulut dengan tangnnya. Ada 2 foto terlihat gadis mirip Hanny sedang dicium pipinya dari samping, ada yang sedang diremas dadanya, ada yang di cium lehernya oleh laki-laki seragam SMA yang sama dengannya. Tetapi semua foto itu terlihat mirip Hanny, tetapi tidak jelas karena selalu difoto dari samping atau dari belakang. Namun karena ada beberapa foto normal Hanny dengan seragam dan dandanan yang sama jadi setiap orang yang melihatnya pasti berpikir itu benar Hanny.


"Ini baru pemanasan." Isi pesan Irene.

__ADS_1


Grup chat perusahaan tiba-tiba memposting foto Hanny dengan memakai seragam SMA, terlihat begitu cantik, manis dan masih muda belia. Semua orang takjub dan mengomentari foto itu dengan pujian, karena Hanny masih terlihat sama bagi mereka, muda dan cantik. Dua lembar foto yang terlihat normal itu dielu-elukan semua pria disana, jarang juga yang wanita juga memujinya.


TBC~


__ADS_2