
Sarapan pagi pun selesai, saat ini Hanny sudah kekenyangan dan ingin menikmati liburan 2 hari lagi dengan pria yang paling tampan dan dicintainya. Semua ajakan teman sudah ditolaknya dengan alasan sakit perut karena kebanyakan makan yang di balas godaan dari Stella pastinya.
"Kak.. kita tidak usah kemana-mana ya. Ingin peluk kakak terus seperti ini. Kan kita tidak pernah bersama selama 24 jam." kata Hanny yang dari tadi sudah berada di pelukan Arden yang masih betah bermain di 2 gunung kembarnya. Meremas dan kadang mengelus pelan dengan pakaian Hanny yang masih utuh.
"Ok, tapi main berapa ronde hari ini?" tanya Arden yang sudah mulai melancarkan aksinya, tangannya sudah nakal masuk kedalam baju Hanny mengelur perutnya dan sesekali keatas mencari sesuatu.
Hanny terus mendesah kala Arden berhasil mel***t habis gunung kembar yang sudah terbuka\, bahkan dia tidak tau sejak kapan bajunya sudah terlepas. Dengan cekatan Arden melepaskan baju dan celananya lalu menyingkirkan seluruh kain yang tersisa di tubuh Hanny\, Arden memandangnya dari atas sampai kebawah dengan tatapan penuh gairah menikmati keindahan luar biasa didepannya yang menunggu untuk dilahap habis.
"Jangan dilihat begitu kak... malu..." Rengek Hanny sambil berusaha menutup tubuhnya dengan selimut namun segera ditarik oleh Arden\, kembali ia melahap puncak salah satu gunung didepannya\, menarik pelan dan mengemutnya lama. Hanny mendesah dan terus mengadu karena terkadang Arden meng***tnya gemas.
"Auuhh.. aahh kak sudah aakkhh" Arden melepaskan dengan sekali tarikan panjang yang membuat Hanny mengaduh sedikit sakit. "hehehe maaf, gemas sih." Ujar Arden dengan wajah tak bersalahnya.
"Kak.. dibawah sini terasa aneh." Hanny menyentuh inti tubuhnya dan mengadu ke Arden sebab dari tadi sudah merasakan denyutan luar biasa di miliknya. Arden tertawa jahil lalu menurunkan dirinya kebawah, seperti biasa ritual mereka sebagai pemasan, permainan lidah dan jari Arden yang sangat disukai oleh Hanny.
Arden menuntun tangan Hanny mendekat lalu menyentuhkan tangan itu ke miliknya. "Mainkan dia, terserah kamu.." Bisik Arden dan Hanny mulai menyentuh dan menggenggamnya sedikit bergetar.
"Tenang... dia tidak bisa gigit, cuma menyemburkan bisa yang sudah membuatmu hamil." Goda Arden dan Hanny tersenyum malu. Hanny mulai menaik turunkan sentuhannya disana,tidak punya pengalaman namun dia tau apa yang akan dilakukan, secara naluri saja. Akhirnya Hanny mulai paham dan sudah dapat memperlakukan si besar dengan cukup baik.
"Cium dia sayang... perlakukan dia seperti makan eskrim atau lolipop." Ujar Arden mulai menjatuhkan diri merebahkan badannya di dipan kasur. Sedangkan Hanny berjongkok mengarahkan wajahnya ke milik Arden.
"Tak masuk kak.. tidak muat." Kata Hanny sesaat setelah mencoba mel***p si besar itu. Arden terkikik sebentar\, "Pelan-pelan saja." Ujarnya sambil mengelus lembut kepala Hanny.Dia mencoba terus akhirnya hanya ujungnya saja dan membuat Hanny kesal\, "Tidak bisa kak..." Kesalnya lalu menggenggam erat milik Arden membuat Arden mendesah kuat.
"Aaasshhhh ahhhh sudah kalau begitu dimakan oleh mulut bawah saja ya.." Ujarnya lalu menarik Hanny dan menaikkan tubuh Hanny mendudukinya.
__ADS_1
"Maaf sayang... kakak akan pelan pelan ya. Takut anak-anak kita terkejut." Hanny mengangguk pasrah, apalagi saat Arden mulai bermain kedalam intinya yang begitu terasa, penuh, sesak dan dia suka.
"Gantian ya.. kamu diatas." Bisik Arden dan Hanny segera mendudukan dirinya diatas Arden yang telah merebahkan dirinya.
"Pelan-pelan saja sayang.. nanti dedek terkejut. Sabar ya.. seharian ini aku milikmu." Ucap Arden disela ******* Hanny yang makin kuat. Hanny sudah lemas tak berdaya, sungguh dirinya digempur habis-habisan oleh Arden yang seperti singa kelaparan dengan ukuran jumbonya membuat Hanny tak sanggup untuk menolak.
"Kak... peluk." Pintanya manja dan dengan senang hati Arden memeluknya, miliknya masih betah didalam Hanny masih tidak mau keluar dari sarangnya.
"Ini tidak mau dikeluarkan?" Tanya Hanny sambil menggerakkan pinggulnya membuat Arden meringis nikmat.
"Tuh kan... kakak sih, dia keras lagi tuh." keluh Hanny, dia sudah sangat lelah dan milik Arden menegang lagi didalam sana.
"Kan kamu yang gerak-gerak barusan. Sekali lagi, janji ini yang terakhir." Arden bergerak lagi sambil memeluk Hanny, mengecup dahinya lalu mencium hingga ******* habis bibirnya yang sudah membengkak merah karena ulahnya. Hingga tak berapa lama keluar lagi benih cintanya kedalam Hanny, lalu mencabutnya membuat Hanny meringis merasa lega dan kosong.
"Terima kasih sayangku... " Arden mengecup bibir Hanny pelan lalu beristirahat sejenak sebelum membawanya masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Menjelang malam Hanny terbangun dari tidurnya, menggerakkan badannya yang kaku dan pegal. Arden sudah sejak tadi bangun dan sedang ngobrol dengan Arka di balkon, sedangkan Eve terlihat sedang menyiapkan susu hamilnya Hanny.
"Terima kasih." Ujar Hanny sambil mengambil gelas susu yang diberikan oleh Eve dan meminumnya habis dan meletakkan gelas situ di meja nakas.
"Besok kita pulang ya nona.. Alfonso sudah sangat berisik menunggumu kembali ke rumah."
"Baiklah, padahal liburku masih sampai lusa." Eve tersenyum dan paham benar kalau Hanny ingin berlama-lama bersama Arden.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kita pulang saja, nanti keluar lagi cari alasan lain dan jalan-jalan." Saran Eve disambut senang oleh hanny.
Setelah Hanny mandi dan berdandan sedikit, mereka siap untuk mencari makan malam, bumil itu sudah merengek daritadi karena lapar. Semua sepakat mengikuti keinginan bumil yang memilih makanan kaki lima di pinggir jalan karena menunya yang bermacam-macam sehingga dia bebas memilih.
"Tapi kalau bertemu teman-temanmu bagaimana?" Tanya Arden dan membuat Hanny berpikir sejenak.
"Iya yah.." Gumamnya pelan
"Kita saja yang pergi ya, baby.." Ujar Arka pada Eve istri tercintanya yang masih santai menyetir, jika ada yang melihat juga tidak apa-apa karena mereka memang suami istri.
"Ok bie.. Nona Hanny mau makan apa? Silakan di tulis saja." Tanya Eve menyerahkan ponselnya karena tau bumil ini pasti memesan banyak makanan dan banyak permintaan.
"Sayang... itu semua bisa habis?" Tanya Arden yang melirik sekilas apa yang diketik oleh Hanny.
"Bisalah.. kan cuma ketoprak, bakso bakar, cumi goreng tepung, nasi goreng seafood, jus alpukat dan esteh. Sedikit kok..yang makan kan bertiga." Jawab Hanny sambil mengembalikan ponsel Eve, mereka memutuskan makan di dalam mobil saja daripada membuat kehebohan jika bertemu teman kantornya.
"Bertiga?" Arka dan Eve kompak.
"Iya, tiga, Hanny dan dedek-dedek didalam." Jawab Hanny bahagia, Arden tersenyum senang melihat kelakuan bumil ini, dengan gemas dicubitnya pipinya yang makin gembul.
"Wah hebat Ar.. ada 2 ternyata." Arka memberi selamat dan mereka tos bersama dan Eve benar-benar tak percaya. Apa yang akan dilakukan kakek salim nantinya jika tau cicit palsunya kembar.
Arka dan Eve sudah turun dari mobil dan mencari makanan yang dipesan Hanny. Semua mata tertuju pada mereka, pasangan yang mencolok karena tampan dan cantik. Seperti pasangan model yang sedang berjalan di catwalk. Dan benar saja, disana sudah terlihat sekumpulan wanita yang sangat heboh melihat pasangan itu. Yuli dan teman-temannya sesama karyawan StarE minus Stella, Serin dan Hanny sedang mencari jajanan disana. Mereka sangat heboh sampai mengambil beberapa foto direktur mereka yang sedang berjalan bersama wanita cantik yang pernah datang ke gedung kantor mereka. Sedangkan yang dibicarakan malah asik bergandengan tangan mesra, mereka tau sedang dibicarakan karena posisinya lumayan dekat saat itu.
__ADS_1
Setelah balik ke mobil, mereka memutuskan untuk kembali ke hotel saja karena tidak aman berada dijalanan begitu. Bisa-bisa para karyawannya datang menghampiri dan melihat Hanny serta Arden ada disana juga. Sebaiknya menghindar saja, pikir Arka.
TBC~