
"Hai Ben! Tolong naikkan jaring ikan itu dan berikan ke kapal nomor 1." Teriak Jimmy dari dalam ruangan jermal.
"Ok Jim!" Ben langsung menarik dan mengaitkan jaring ikan itu keatas kapal dan menaikkannya ke kapal nomor 1 sesuai arahan bos nya Jimmy. Selesai dengan pekerjaannya Ben langsung menyebarkan kembali jaring lebih kecil pada bawah jermal itu.
"Kau mau cari makan malam Ben?" Tanya Jimmy yang sudah tau ritual Ben untuk menangkap ikan besar pada sore hari dan tengah malam akan makan besar.
"Seperti biasa." Jawabnya singkat.
"Kita akan ke darat dan minum, mencari wanita. Kau mau ikut?" Tanya Jim lagi yang sebenarnya sudah tau jawabannya. Pasti tidak.
"Tidak, kau sudah tau jawabanku jangan bertanya lagi Jim." Ben masih berkutat dengan jaringnya, sebenarnya malas meladeni temannya itu.
"Ck.. Kau ini, bersenang-senanglah sejenak. Juniormu yang besar itu jadi tak berguna. Kau tau wanita disana sangat menggilaimu Ben. Kau sudah tua tapi pesonamu lebih dari pemuda disana." Jim masih membujuk Ben yang terlalu penyendiri di tengah lautan seperti ini, masih berdiri dikapalnya berharap Ben akan ikut.
"Aku tak selera dengan wanita disana, tak ada yang bisa menandingi almarhum istriku." Senyum Ben merekah bila mengingat istrinya, dia masih tetap bekerja dengan jaringnya.
"Sudahlah, tidak seru. Aku pergi Jim, jaga dirimu." Jim akhirnya pergi dengan kapalnya dan meninggalkan Ben sendirian ditengah lautan yang mulai gelap. Ben lebih suka bersantai di gelapnya lautan daripada bersenang-senang dihari liburnya. sudah hampir 10 tahun dia hidup di tengah lautan sambil mengenang masa indah bersama keluarganya dulu. Dia hanya menjalani sisa hidupnya sampai Tuhan memanggilnya, dia ingin segera tetapi Tuhan masih ingin dia hidup meski beberapa kali meregang nyawa, mungkin dosanya terlalu banyak dimasa lalu.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Kak... kak Ar." Teriak Hanny mencari suaminya yang sejak tadi menghilang. Sudah 10 menit dia berkeliling rumah mereka tetapi Arden tidak ada.
"Ck... kemana sih!" Decaknya kesal.
"Ah ternyata tidur disini." Akhirnya Hanny menemukan Arden yang sedang tidur di sofa ruang kerjanya. Hanny mengelus kepalanya pelan dan lembut. Rasanya rindu sekali, sebab sudah beberapa hari Arden sibuk untuk mencari pengganti Direktur di kantor Tenggara yang sudah sangat tua.
__ADS_1
"Hmm... " Arden terbangun menatap Hanny yang sedang berjongok memandangnya.
"Ada apa sayang? Kenapa kau duduk dibawah begitu, nanti perutmu sakit." Arden segera membawa Hanny duduk di sofa dan mengelus perutnya yang sudah sangat besar diusia kehamilan hampir 7 bulan. Hanny masih lincah dan sangat bersemangat seperti biasanya, hanya napsu makannya luar biasa, lebih dari kehamilan AnsTwins, membuatnya kini terlihat bulat dengan pipi kemerahan yang seperti bakpao.
"Istriku.. kenapa kau jadi sangat lucu menggemaskan." Arden menekan-nekan kedua pipi Hanny menggunakan telapak tangannya sampai bibir Hanny mengerucut dan di kecupnya berulang-ulang.
"Aaahhh kak, dari tadi aku cari kakak." Hanny melepaskan telapak tangan Arden yang dipipinya dengan kesal.
"Ada apa sayangku? Ada sesuatu yang istriku inginkan?" Tanya Arden sambil mengelus pipi gembul itu.
"Mau ke StarE, mau ketemu Stella dan Serin. Tapi sama kakak." Pinta Hanny dengan suara yang tiba-tiba manja.
"Loh, biasanya juga pergi sendiri dari kantor Arka."
"Tapi nanti jangan marah dan cemburu ya kalau kakak diperhatikan wanita disana.."
"Iya."
"Baiklah, ayo.. sekalian bawa AnsTwins."
Arden dan Hanny beserta anak-anaknya sudah jalan dengan santainya di lobi gedung kantor StarE yang otomatis menjadi tontonan semua karyawan disana. Dengan santai Hanny dan Arden berhenti di sebuah meja cafe lantai 1 menghampiri Stella dan Serin yang sedang menunggunya disana.
"Hai Stella, Serin." Sapa Hanny begitu sampai di meja mereka, Stella dan Serin mendongakkan kepala dan tersenyum melihat Hanny dan juga 3 lelaki tampannya. Mereka sudah tau siapa Hanny sebenarnya tetapi tetap saja ingin tanya langsung ke dia.
"Ansel, Anson, ingin ikut daddy atau mommy?" Tanya Arden, sedangkan Hanny sudah duduk sambil melihat menu yang akan dia nikmati.
__ADS_1
"Cel cama daddy."
"Con kut momi."
"Okeh." Arden kemudian mendudukkan Anson di kursi sebelah Hanny dan mengecup kening Hanny sambil pamit untuk ke kantor Arka.
"Bye sayang, nanti keatas kalau sudah selesai." Hanny hanya tersenyum menatapnya serta mengangguk dan langsung melihat kembali menu didepannya.
"Aaahhhh Hanny..." Stella dan Serin sudah berteriak histeris melihat kelakuan Arden padanya, pria idaman semua wanita.
"Berarti waktu kerja disini kau sudah hamil Han?"
"Iya, waktu drama jatuh.. juga, gilaaa aku baru ingat, kalau benar jatuh bisa bahaya. Pantas saja waktu itu Will sangat cekatan menangkapmu."
Hanny masih tersenyum bahagia dan mulai menceritakan kepada 2 temannya yang sangat heboh jika berhubungan dengan Arden. Mereka melewati jam makan siang dengan seru seperti biasanya, tetapi kali ini ada Anson bersama mereka jadi tidak bisa mengatakan hal-hal arbsurd. Setelah 1 jam mereka akhirnya selesai dan Hanny sudah berjalan menuju kantor Arka, tetapi dari kejauhan Irene yang juga sedang disana menatap tidak suka pada Hanny.
"Aku tidak akan membuatmu hidup tenang dan bahagia. Kita lihat saja sebentar lagi, keluarga sekelas Tenggara tidak meungkin akan menerimamu begitu saja." Ucap Irene seraya menghubungi temannya yang seorang hacker untuk kembali mengganggu kehidupan Hanny yang mulai tenang.
Hanny berjalan masuk ke kantor Arka dan disana Arden dan Arka sedang membicarakan pekerjaan, tetapi yang membuat Hanny takjub adalah Ansel sangat tenang duduk dipangkuan Arden dan mendengarkan pembicaraan itu seakan-akan dia mengerti.
"Anak mommy yang satu ini, sedang dengar pembicaraan bisnis daddy ya? Memangnya kamu ngeri nak?" Hanny lalu mengangkat Ansel dan memindahkannya di sofa. Hanny tidak ingin Ansel menjadi dewasa sebelum waktunya. Tetapi Ansel meronta dan tetap berlari kembali ke pangkuan Arden.
"Anak daddy... masih kecil sudah mau ikut meeting? Ya sudah, sini." Arden kembali memangkunya dan melanjutkan pembicaraan dengan Arka. Hanny hanya pasrah pada sifat Ansel yang memang sangat berbeda dengan Anson.
TBC ~
__ADS_1