Menjaga Cinta

Menjaga Cinta
BAB 31 - Terjatuh


__ADS_3

"Booosss!!!! Tuan Alexander sudaaaa..... " Teriakan Vino terhenti saat masuk ke ruangan Arka seperti biasanya siang itu, tak menyangka bahwa disana telah ada Arden, Arlen,Arka dan Hanny yang sedang makan siang.


"Vino!" Hardik Arden lalu melirik kearah Hanny yang terdiam dengan sendok yang masih dimulutnya. Sendok itu terjatuh, Hanny langsung melotot kearah Vino yang sudah terdiam salah tingkah.


"Alexander?? Papi... ada apa dengan papi kak Vino?" Tanya Hanny mulai panik, terlihat wajah terkejutnya menunggu penjelasan dari Vino.


"Vin..." Panggil Arden dan akhirnya Vino mendengus pasrah pasti di hajar lagi sama Arden.


"Sayang, dengar.. om Alex tidak apa-apa jangan khawatir." Arden menenangkan Hanny yang sedari tadi panik dan meremas tangannya. Sudah lama dia tidak mendengar tentang papinya. Kenapa papinya tidak menghubunginya sama sekali.


"Tapi, papi sudah lama pergi ke Vietnam dan tidak menghubungiku sama sekali kak." Mata Hanny mulai meneteskan airmata.


"Baiklah... sebentar lagi om Alex akan pulang. Benar kan Vin, kamu mau bilang itu tadi" Arden melirik tajam ke arah Vino.


"Eh.. i iya benar, tadi baru mau bilang kalau Tuan Alex akan pulang sebentar lagi. Tenang nona anak buahku sudah memastikannya." Jelas Vino dan Hanny sedikit lega.


"Kapan papi pulang?" Tanyanya lagi.


"Mungkin dalam minggu ini." Jawab Vino pasti.


Memang benar Alex akan keluar dari penjara, sebab Vino dan Jupi sudah memberikan bukti ketidak terlibatan dalam penggelapan dana karena dana tersebut tidak sedikitpun masuk ke rekening Alex. Aliran dana itu memang tidak jelas tetapi semua rekening tidak ada hubungannya dengan Alex.


Hanny merasa lega dan segera melanjutkan makan siang yang akhirnya disuapi oleh Arden sampai dia menghabiskan makanannya.


"Sudah minum susu hari ini?" Tanya Arden sambil membersihkan mulut Hanny dengan tissue.


"Sudah tadi pagi, Siti yang buatkan." jawabnya.


"Bagus.." Ujar Arden mengecup sekilas pipi Hanny.


Setelah makan siang selesai, Hanny kembali ke kantornya dan disana sudah heboh dengan pembicaraan, siapa model pria yang akan digunakan. sudah lebih dari 5 model pria dengan wajah dan tubuh sesuai tetapi terasa masih ada yang kurang lalu Lucy yang saat itu sedang bersama Irene pun memberi saran yang segera di setujui orang semuanya.


"Bagaimana kalau kita rekrut saja salah satu pengawal disini, mereka rata-rata bertubuh bagus dan juga tampan." Ujar Irene dan Lucy langsung setuju.


"Bagaimana kalau Will!" Celetuknya dan seketika Irene langsung setuju.


"Lagi pula, aroma parfum ini mengingatkanku pada Will loh, soalnya waktu dia lewat pas meeting bersama pak Arkana tadi pagi aromanya terasa familiar." Lucy menyambung dan segera semua wanita disana heboh ingin Will yang menjadi model prianya. Tetapi siapa yang berani meminta hal tersebut kepada Will?


Hanny yang mendengar semuanya menjadi kesal, cemburu dan jiwa posesifnya terhadap Arden kembali muncul. Dia tidak akan membiarkan siapapun mendapatkan aroma tubuh Arden yang begitu memabukkan. Tidak Akan! Teriaknya dalam hati. Dengan wajah kesal dia kembali keruangan Arka, Arden dan Arlen yang masih disana pun terkejut melihat Hanny kembali dengan wajah terlihat kesal.


"Kakak!! Teriaknya pas masuk melewati pintu.

__ADS_1


"Duh.. bumilku kenapa lagi?" Bisik Arden takut-takut dan Arka pun tertawa geli karena pasti Arden akan dimarahin lagi.


"Siap-siap saja.." Ejek Arka. Sedangkan Arlen hanya menautkan kedua alisnya tanda kebingungan.


"Sayangku, ada apa hemm..?" Tanya Arden selembut mungkin sambil mengelus pipi Hanny yang memerah karena marah.


"Ganti parfum kakak." Perintah Hanny.


"Loh.. kenapa? Bukannya kau suka sayang.."


"Tidak boleh... produk baru itu mirip sama parfum kakak, semua wanita disini bilang aroma kakak memabukkan."


"Tapi..." Belum sempat Arden menjelaskan, Hanny sudah menangis dan membuat Arden panik.


"Huaaa... kakak tidak boleh jadi model, aku tidak mau kak Ar dilihat orang-orang. hiks  hiks.." Tangisnya pecah sambil tetap mengomel. Arden makin bingung sejak kapan dia mau jadi model.


Tak lama, masuklah email pengajuan untuk perekrutan model untuk parfum yang akan diproduksi iklannya ke email Arka, notifikasi email telah masuk ke ponselnya. Arka membuka dan membaca isi permintaan bahwa ingin merekrut pengawal pribadi Arka menjadi model pria dalam iklan parfum. Arka terbahak membacanya dan memberikan ponselnya pada Arden.


"Dasar! Ternyata karena ini." Pekik Arden tak percaya.


"Nah konsep itu hanya menampilkan tubuhmu, tidak dengan wajahmu." jelas Arka singkat.


"Sudahlah Han, izinkan saja Arden menjadi model. Wajahnya kan tidak terlihat." Bujuk Arka sebenarnya hanya menggoda Hanny agar lebih kesal dan Arden lah yang kena getahnya. Arlen pun tertawa, ternyata calon kakak iparnya begitu cemburuan dan posesif.


"Akan ada foto yang menampilkan model pria itu dari belakang tanpa memakai baju dan model wanita akan memeluknya. Aku tidak mau, nanti tubuh kakak dilihat banyak orang, belum lagi proses syuting pasti banyak wanita disana akan suka dengan kakak. terus nanti kakak dipeluk Irene, aku tidak sudi!" Hanny makin menangis dan marah-marah panjang lebar.


"Kakak juga tidak mau sayang.. kakak cuma milik Hanny, tidak ada yang lain. Sudah ya, jangan nangis lagi nanti dedek jadi sedih. Ya ampun.." Arden menenangkan Hanny, mengelus lembut puncak kepalanya.


"KA.. Tolak itu semua, aku tidak mau." Hardik Arden dan membuat Arka tersenyum geli, melihat sahabatnya takluk pada gadisnya.


"Ini sering terjadi?" Bisik Arlen pada Arka, "Terkadang.. bumil sering cemburu karna banyak yang menggilai Arden, bahkan sudah pernah diancam akan dikurung disini kalau berani senyum ke wanita lain. Bawaaan bayi, susah dimengerti." jelas Arka dan Arlen bergidik ngeri mendengarnya dan menggelengkan kepalanya.


Setelah Hanny  tenang dan kembali ke meja kerjanya dengan wajah masih sembab membuat Stella terheran.


"kenapa Han, kau menangis?" Tanya Stella cemas melihat Hanny seperti habis menangis.


"Tidak apa.. tadi dapat kabar dari papi kalau mau pulang." Bohong Hanny.


"Ohh aku kira ada apa.. baiklah tenang ya, jangan sedih. Bukannya papimu akan pulang, harusnya senang dong." Ujar Stella dan dibalas senyuman oleh Hanny.


Sementara di luar ruangan kantor itu sudah ada Irene yang sejak tadi mondar mandir menunggu kesempatan bertemu Will, tetapi yang ditunggu belum juga muncul. Hanny terkadang meliriknya sesaat dengan wajah kesal.

__ADS_1


Sebenarnya Irene sangat ingin meminta izin langsung ke Arkana agar dia saja yang memerintahkan Will untuk menjadi model setelah Will dengan tegas menolak permintaan mereka. Tetapi Arkana juga sangat susah didekati, bisa melewati sekretarisnya saja sudah luar biasa. Apalagi ruangan Arka tidak sembarangan orang yang dapat masuk, bahkan sekretarisnya pun tidak bisa.


Sore itu Irene tetap menunggu Will yang sebentar lagi akan melewati lobi utama untuk mengantar tamu penting dari Arkana,  info valid yang dia dapatkan setelah menyogok sekretaris Arka tentunya. Irene sengaja memakai heels yang sangat tinggi agar melancarkan aksinya menggoda Will. Di lobi sudah banyak karyawan yang akan pulang karena memang sudah waktunya. Saat Arkana dan Will melintas seketika waktu seakan berhenti, semua wanita memandang kagum pada mereka berdua. Setelah Tamu yang diantar ke lobi sudah berlalu Arka dan Will berbalik dan kembali ingin menuju ke lift. tetapi Irene mencegat mereka dan meminta izin pada Arka untuk berbicara pada Will. Arka tak bisa menolak karena tidak ada alasan untuknya menolak.


Irene sedang membujuk Will untuk setuju menjadi model pria pendampingnya, namun Will menolak dengan halus tetapi tegas. Irene tidak menyerah dan semakin mendekat kearah Will dan menyentuh pundak Will mesra dan membisikkan sesuatu. Will tetap terdiam dengan wajah datarnya, lalu mundur selangkah dan menolak Irene dengan tetap sopan.


Irene tetap tidak menyerah dan berbisik lagi, "Ayolah Will, aroma tubuhmu mirip dengan parfum itu dan tidak ada yang lebih cocok darimu. Jika kau terima, akan kuberi hadiah yang tidak akan pernah kau lupakan." Bisik Irene menggoda pas ditelinga Will.


"Maaf nona Irene, saya tidak tertarik. Anda dapat mencari orang lain untuk itu." Tolak Will lagi dan melangkah pergi menjauh dari Irene.


"Tunggu Will." Irene berlari dan sewaktu Will membalikkan badannya akan melihat Irene, wanita itu menjatuhkan dirinya, sengaja untuk memeluk dan Will akan mendekapnya. Tetapi tak disangka, Will malah menghindar dan membiarkan Irene terjatuh dan terduduk. Banyak pasang mata melihat kejadian itu. Ada yang ternganga tak percaya, ada yang tertawa, seorang Irene terjatuh, sangat memalukan.


Sedangkan Hanny dan yang lainnya mematung tak percaya melihatnya. Hanny sedang bersama Stella, Serin dan Devan akan pergi ngopi bareng karena Devan mengajak Hanny namun tak bisa ditolak dan Hanny mengajak Stella dan Serin juga. Dibelakang mereka telah ada Yuli dengan beberapa orang yang sedang memperhatikan kejadian itu, Will telah berlalu dan berjalan meninggalkan Irene yang masih terduduk dengan malu karena tidak ditolong. Sedangkan Yuli dengan sembunyi-sembunyi mendorong Hanny dengan kesal dan terjatuh di depan kerumunan orang-orang.


"Aaakkkk..." Teriak Hanny, tetapi "Auuhh... loh.. tidak sakit." Ujarnya sambil membuka mata.


Will sudah menangkapnya, merengkuh pinggangnya agar tidak jatuh ke lantai.


"Fiuuuhh..." Hanny bernapas lega, lalu segera melepaskan rengkuhan tangan Will di pinggangnya.


"Terima kasih." lirih Hanny malu-malu. "Lain kali hati-hati nona Hanny. Ini sudah yang kedua kalinya." Ujar Will padanya sambil saling menatap kuat.


Sewaktu mereka saling berpandangan, orang-orang yang disana sudah berdecak tak percaya. Mereka melihat sendiri Irene yang terjatuh tetapi Will menghindar, Hanny terjatuh malah Will yang didekat sana dengan sigap merengkuhnya agar tidak terjatuh.


"Gila, Hanny... ini sudah dua kali kau diselamatkan dan dipeluk oleh Will. Perbuatan baik apa yang kau lakukan  hingga seberuntung ini." Pekik Serin tak percaya.


"Benar! Bahkan si Irene yang model dan artis terkenal saja dibiarkan terjatuh dilantai." Timpal Stella, sedangkan Devan hanya diam tidak suka melihat kejadian itu, padahal posisinya paling dekat dengan Hanny tapi tidak bisa menolongnya.


Irene yang tengah ditolong oleh pengawal lain pun mendengus kesal dan menatap sinis pada Hanny. "Dasar wanita ******! Awas kau nanti" Geramnya tak terima.


Sedangkan Hanny yang awalnya marah dengan Will yang didekati Irene pun menjadi berbunga-bunga. Dia tidak lagi marah ataupun cemburu malah hatinya bergetar hebat dan wajahnya memerah malu seperti gadis remaja sedang jatuh cinta. Iya seperti dulu waktu pertama kali jatuh cinta pada kakak bulenya saat masih 13 tahun.


"Pertunjukan yang bagus Ar." ujar Arka begitu Arden masuk keruangannya. Arka memang sudah kembali dari awal sewaktu Irene meminta izin untuk berbicara dengannya.  Dia menontonnya secara live melalui cctv ditemani oleh Vino dan Jupi yang sudah ada disana.


"Seperti nonton drama korea bro." Timpal Jupi dan dibalas senyuman oleh Arden.


"Tapi wanita ini yang berulah lagi." Kata Arka sambil menunjukan cctv nya, Yuli lah yang mendorong Hanny.


"Sampah! Bagaimanpun caranya dia harus diberi pelajaran Ar." Bentak Arden, pasalnya kalau Hanny benar terjatuh tadi akan berakibat fatal pada kandungannya.


"Hampir saja, kalau tadi nona Hanny jatuh. Wah kacau bos." Timpal Vino yang membuat Arden makin geram.

__ADS_1


Jupi sudah dengan sebuah map dengan informasi yang ditunggu Arden. Begitupun dengan Vino yang sudah mengantongi informasi pentingnya.


TBC~


__ADS_2