Menjaga Cinta

Menjaga Cinta
BAB 57 - Special Arlen (Jatuh Cinta)


__ADS_3

"Hari ini cukup melelahkan." keluh Arlen yang sedang makan siang bersama Bintang dikantor cafenya. BGF Cafe, yang telah buka selama seminggu sudah lumayan ramai karena dekat dengan kampus tempatnya kuliah, disalah satu universitas terbaik milik Tenggara.


"Iya Len, sepertinya kita butuh pelayan lagi, tapi wanita saja karena yang laki-laki sudah cukup." Ujar Bintang yang masih lahap memakan makan siangnya dan Arlen mengangguk setuju.


"Apalagi nanti kalau AnsTwins datang, makin sibuk jadinya. Sekarang Hanny masih belum keluar dari RS, jadi mungkin keponakan ku itu akan datang lagi sore ini."


"Ok, nanti kita tempel pengumuman di depan. Mudah-mudahan ada yang datang melamar. Kampus disini kan kampus mahal jadi tidak mungkin ada mahasiswi yang mau kerja jadi pelayan."


Arlen berpikir sejenak, "Benar juga, tapi coba saja Bin."


"Baiklah."


Sore itu BGF Cafe masih ramai dikunjungi para mahasiswi Universitas XX karena mereka tau yang membuka cafe ini adalah Arlen Tenggara, pria tampan, manis dan kaya raya, siapa yang tidak ingin mendekatinya? Apalagi dia terlihat ramah meskipun tidak banyak bicara dan terkesan pendiam.


"Sudah ditempel Bin?" Tanya Arlen yang melihat Bintang baru saja kembali dari pintu samping cafe.


"Iya, sudah di sebelah samping saja, biar tidak terganggu." Setelah itu Bintang pamit pulang untuk mengerjakan hal lainnya. Dia juga sudah menyiapkan beberapa pengawal. Sebenarnya beberapa pelayan disini adalah pengawal yang disamarkan agar tidak membuat pelanggan ketakutan. Cafe ini buka dari pukul 9 pagi sampai jam 9 malam, pas dengan waktu berakhirnya jam malam di universitas. Jadi membutuhkan beberapa sift untuk yang akan bekerja di cafe ini.


Jam sudah menunjukkan pukul 9.20 malam, cafe sudah tutup tetapi masih banyak yang bekerja membersihkan semuanya. Arlen juga masih disana karena belum selesai dengan beberapa dekor di lantai 2 dan akan merenovasi lagi kantornya agar lebih luas untuk keponakannya, belum lagi beberapa cctv yang salah letak pemasangan membuatnya harus ikut lembur.


"Permisi..." Sapa seorang gadis yang baru masuk ke dalam cafe yang masih dibersihkan. Beberapa pelayan memandang ke arah suara yang sangat merdu terdengar.


"Cari siapa ya?" Tanya salah seorang pekerja wanita disana dan mendekat ke arah suara.


"Saya lihat didepan ada mencari pelayan ya? Boleh saya mencoba?" Tanyanya sambil menunjuk ke arah samping dinding kaca cafe yang tertempel kertas pemberitahuan.


"Oh, sebentar saya tanyakan ke bos." Jawab wanita itu dan menelepon seseorang.


"Boleh, silakan naik ke lantai 2 ada ruangan di sebelah kanan." Ujarnya.


"Terima kasih mba.." Jawab gadis itu kemudian jalan menuruti arahan.


"Tok tok tok, permisi pak. Saya ingin melamar pekerjaan." Ujarnya.


"Boleh, silakan masuk." Jawab Arlen masih sibuk dengan apa yang dikerjakannya. Lalu dia mengangkat wajahnya melihat asal suara yang menyapa tadi.


Deg deg


Jantungnya memompa cepat saat melihat gadis itu, dia tertegun, "Cantik" batin Arlen, dia masih betah memandang wajah manis dan cantik gadis yang baru masuk ke ruangannya.


"Selamat malam." Sapa gadis itu lagi dan Arlen terkejut.

__ADS_1


"Selamat malam, silakan duduk." Perintah Arlen dan gadis itu duduk di depannya. Arlen masih memandang wajah cantik didepannya. Jantungnya sudah berdetak kencang, tak pernah dia merasakan hal seperti ini.


"Siapa nama anda?" Tanya Arlen dengan memandang mata gadis itu, "mata yang cantik." batinnya


"Nama saya Kirei pak." Jawabnya dengan senyum dan sedikit menunduk.


"Kirei?" Ulang Arlen, "Namanya juga cantik." Batinnya lagi.


"Iya pak, saya ingin melamar pekerjaan. Apa saja yang diperlukan?" tanyanya lagi.


"Kamu bawa CV atau sejenisnya?" Tanya Arlen yang memang melihat gadis itu membawa sebuah map di tangannya.


"Ada pak ini, silakan dilihat." Kirei memberikan map yang ada ditangannya ke depan Arlen dan Arlen mengambil kemudian membaca isinya.


Kirei Gunawan, 19 tahun, mahasiswi semester 1 jurusan management bisnis, dan lainnya.


"Tempat tinggalmu di pantai?" Tanya Arden setelah membaca informasi yang tertulis disana karena dia juga dulu lama tinggal di pantai.


"Iya pak, ayah saya nelayan kecil dan saya bisa kuliah karena beasiswa sehingga butuh pekerjaan untuk menyambung hidup disini." Jawab Kirei sedikit menjelaskan situasinya berharap Arlen dapat menerimanya.


"Hm.. berarti kamu bisa bantu saya untuk mencari penjual ikan segar di tempatmu karena rencananya bulan depan saya akan buka restoran seafood di daerah XXX. Ayahmu kan nelayan." Arlen sebenarnya hanya ingin lebih lama untuk berbicara dengan Kirei, entah kenapa Arlen sangat betah memandang wajah polos gadis ini.


"Boleh juga, mungkin nanti kamu bisa bantu saya. Lalu kamu kuliah jam berapa, karena disini kerja per sift dengan waktu tidak tentu." Tanya Arlen lagi.


"Saya memilih kuliah sore pak, agar bisa kerja di pagi dan siang hari." Jelasnya lagi berharap Arlen dapat memberinya pekerjaan.


"Baiklah, kamu bisa bekerja mulai besok sift pagi, dari pukul 8 sampai pukul 4 sore. Hari libur seminggu 1 kali dan bergantian dengan pekerja lainnya, kamu mengerti kan? Untuk upah perbulan adalah sekian di transfer ke rekeningmu tanggal 30 setiap bulannya." Jelas Arlen lagi yang kini sudah tersenyum karena melihat wajah Kirei yang terlihat senang.


"Baik pak terima kasih. Saya akan bekerja dengan baik." Ujar Kirei masih dengan senyum yang mengembang.


"Tuliskan nomor ponselmu disini dan ini kertas untuk ukuran seragam, tolong catat dan besok mulai kerja dengan pakaian rapi saja." jelas Arlen lagi, setelah itu Kirei pamit undur diri. Arlen masih saja memandang Kirei sampai pintu itu tertutup.


"Ah... jatungku." ucap Arlen menepuk dadanya berkali-kali dengan pelan.


\= = = = = == = = = =


Kirei kembali pulang ke kost-an nya yang lumayan dekat dari kampusnya yang ditemukan secara kebetulan, karena dia menolong seorang ibu yang terjatuh di terminal. Ternyata ibu itu pemilik kost dekat Universitas XXX dengan harga standart tetapi dia memberi diskon untuk Kirei yang sangat baik membantunya saat itu. Sesampainya di dalam kamar, dia segera memberitahukan ke ayahnya di kampung nelayan lewat SMS dari ponselnya, mengabarkan kalau besok dia akan bekerja di cafe agar ayahnya tidak terlalu khawatir dengan keadaannya di kota J. Kirei masih tersenyum saat wajah Arlen terbayang begitu saja dalam benaknya, wajah tampan itu membuat hatinya sejak tadi tidak karuan.


"Ah.. lupa tanyakan nama pemilik cafe tadi." Ucapnya menepuk dahinya sendiri. "Besok saja."


Sama halnya dengana Arlen yang sudah senyum-senyum mengingat wajah cantik Kirei sesuai namanya, cantik. Kemudian Bintang masuk dan seperti biasa mereka akan pulang bersama.

__ADS_1


"Kenapa Len? Sepertinya sedang bahagia?" Tanya Bintang yang melihat wajah Arlen sejak tadi dan tersenyum terus tanpa henti.


"Ada tugas untukmu." Arlen memberikan CV Kirei kepada Bintang, dia mengambilnya dan membaca isinya, lalu tersenyum mengerti.


"Baiklah, yang sedang disambar dewa erros." Ujar Bintang menggodanya.


"Besok harus sudah dapat ya."


"Beres."


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Pagi cerah datang lagi, secerah wajah Arlen pagi itu yang membuat Cecil bingung melihatnya, "Arlen.. baru jam 7 pagi sudah mau berangkat?" Tanya Cecil yang melihat Arlen sudah di dapur untuk meminta jus pada pelayan.


"Iya bunda.. ada urusan." Jawabnya lalu meneguk jus yang sudah ada ditangannya.


"Bohong bunda... dia lagi berbunga-bunga ada gadis cantik kemarin." Bintang yang sudah datang pun melaporkan yang telah dia ketahui, Arden berdecak kesal dan melirik ke arah Bintang yang sudah disampingnya.


"Wah, bunda akan dapat menantu lagi nih.." Goda cecil dan Arlen hanya tersenyum malu lalu pamit dengan mengecup pipi Cecil.


"Kau dapat apa?" tanya Arlen yang sudah ada dalam mobil bersama Bintang.


"Tak ada, baru kali ini ada wanita yang tak mempunyai sosial media bahkan ponselnya juga ponsel jadul yang tak bisa di retas. Sulit. Paling tunggu anggota balik dari pantai." Bintang menghela napas panjang karena kali ini kemampuanya tak berguna.


"Hahahaha.. kemampuanmu tidak berguna, pakai cara Jupi akhirnya." Arlen mulai menggoda Bintang yang mulai frustasi. Mereka sampai di cafe sebelum jam 8 dan ternyata Kirei juga sudah ada disana.


"Selamat pagi." Sapa Arlen yang melihat Kirei sudah membersihkan meja dan menyusun barang-barang di meja cafe.


"Selamat pagi pak." Balasnya sambil menunduk sedikit.


"Panggil Arlen saja."


"Arlen? Ah iya Pak Arlen." Balas Kirei dengan senyumnya yang begitu cantik. Arlen lalu naik ke lantai 2 dan hanya memantau Kirei melalui cctv. Sementara Bintang sudah melakukan pekerjaannya untuk mencari tau tentang Kirei dengan cara yang sama seperti Jupi, mengerahkan anak buahnya.


"Tunggu 24 jam ya Len, janji semua akan lengkap." Ujar Bintang dan Arlen hanya tertawa melihatnya.


Seharian Arlen hanya memandangi Kirei yang sedang bekerja, Akhirnya dia bolos kelas demi memandangi gadis yang membuatnya deg-degan sejak tadi malam dan dengan adanya Kirei, banyak mahasiswa yang akhirnya datang ke cafe hanya untuk melihatnya karena penasaran. Arlen sedikit kesal karena banyak mata-mata nakal memandang gadis itu.


Setelah selesai jam kerjanya, Kirei sudah mengganti pakaiannya yang lebih santai untuk lanjut masuk kelas sorenya.


TBC~

__ADS_1


__ADS_2