
"Bunda..." Panggil Arlen yang telah masuk ke kamar Cecil.
"Iya ada apa anakku..." Jawab Cecil yang sedang berkemas untuk berangkat ke kampung nelayan.
"Nanti Arlen sekalian ingin melamar Kirei ke ayahnya, bunda bantu ya.." Ujar Arlen, hatinya sejak tadi tidak tenang karena takut ayahnya Kirei menolaknya.
"Tapi bunda tidak ada pengalaman.. dulu bunda nikah saja istilahnya 'kawin lari' nak." Cecil menjawabnya dan Arlen menghela napas panjang, pasrah pada keadaan sajalah, pikirnya.
"Minta tolong Arden saja, dia kan kakak tertua dan seharusnya menjadi kepala keluarga." Saran Cecil dan Arlen berubah sumringah mendengarnya.
"Baik bunda ku yang cantik.. terima kasih." Arlen memeluk Cecil dan beranjak dari sana untuk kembali ke kamarnya.
"Adik kecilku... kenapa disini?" Tanya Arlen begitu melihat Aileen yang sudah ada dikamarnya bersama Kirei.
"Ay cuma ngajak kak Kirei ngobrol kakak Aleeeennn..." Jawab Aileen dengan gemas, baru saja masuk sudah ditanya-tanya. Arlen terkekeh dan melanjutkan packing untuk berangkat sebentar lagi.
"Kau sudah membawa perlengkapanmu Ay?
"Sudah kak, kak Kirei sudah kasih tau tadi hal yang perlu dibawa dan yang tidak." Jawab Aileen dan dia segera permisi keluar karena sudah dipanggil bunda.
"Ayo kita pergi." Arlen menggandeng tangan Kirei dari kamar sampai ke mobil, tidak dilepaskannya. Mereka satu mobil dengan Bintang yang menyetir, Kirei, bunda Cecil dan Aileen duduk dibelakang. Tak lupa mereka sudah bawa bermacam oleh-oleh untuk keluarga Kirei dan uncle Ben.
Sedangkan Arden dengan Hanny beserta ke 4 anaknya dan 4 baby sitter, mereka keluarga yang sangat ramai. Untungnya Bintang sudah memberitahukan ke ayah Gunawan bahwa mereka akan kesana membawa rombongan besar. Bintang juga sudah menyiapkan 2 pelayan untuk membantu ibu di rumah untuk memasak.
Jupi dan Vino juga satu mobil dengan Clara dan 2 orang pelayan yang mereka bawa. Satu setengah jam perjalanan mereka tempuh dengan sekejap karena keseruan mengobrol apa saja yang bisa menjadi bahan obrolan. Apalagi dalam mobil Arden yang begitu ramai oleh celotehan anak-anak mereka.
Seperti biasa mobil mereka diparkir di sebelah warung Nek Marni dan mereka sarapan disana, ramai dan riuh terdengar dari warung Nek Marni pagi itu karena kedatangan banyak pelanggan sekaligus.
"Nek, pesan nasi uduknya... ehm... semua deh biar Kirei bawa kesana dan teh hangatnya langsung saja nek pakai ceret dan gelas kosong yang banyak. Kirei bingung hitung orangnya." Kirei akhirnya membawa 1 keranjang nasi uduk hangat yang baru dibungkus itu ke tempat duduk keluarga Arlen untuk mereka ambil masing-masing. Setelah mereka sarapan barulah mereka jalan kaki seperti biasanya, kali ini Bintang yang jadi penunjuk jalan karena sudah kali ke 3 dia kesini, kali ke 2 nya bertemu Om Jim untuk membicarakan kerja sama untuk pasokan ikan di restoran baru nanti.
"Arlen.. itu saudara kembarmu ya? Suaminya kak Hanny?" Tanya Kirei yang sejak tadi sudah memperhatikan Arden.
"Iya cantik, kenapa? Kau tidak suka padanya kan?" Tanya Arlen balik yang sudah mulai cemburu.
"Tidak.. memang sangat tampan sih tapi bukan itu." Jawab Kirei setengah berbisik.
"Lalu apa?" Arlen makin kesal karena Kirei menatap Arden lagi yang jalan di belakang mereka.
"Sepertinya pernah melihat wajah itu dan mata itu juga. Tapi dimana yaaa...?" Kirei berpikir keras tapi tak menemukan jawabannya.
Memangnya siapa? Paling juga kau melihat si kembar AnsTwins." Ujar Arlen.
"Bukan.. ya sudah lah, jangan dipikirkan." Kirei sudah lelah memikirkan siapa yang mirip dengan Arden tapi tak menemukan jawabannya.
Akhirnya mereka sampai di rumah Kirei yang mungil untuk keluarga besar itu, tetapi Cecil sangat senang karena dulu juga dia tinggal di rumah seperti ini dengan suami dan anak kembarnya.
"Maaf kami datang mengganggu dengan membawa keluarga besar." Ucap Arlen kepada Ibunya Kirei merasa tidak enak dan segan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa nak Arlen, kami senang kalian mau singgah ke gubuk kami yang kecil ini. Maaf kalau tidak bisa menjamu dengan pantas." Jawab ibu merasa tidak enak juga, karena keluarga kaya ini mau ke rumahnya yang sederhana. Mereka berkenalan dan cecil juga memberikan oleh-oleh yang mereka bawa dan membawa 2 pelayan untuk membantu nantinya. Sekarang mereka sudah bersiap untuk mencari kerang.
Arlen, Kirei, Bintang, Vino, Jupi, Clara, Ayleen, Arden dan Hanny berserta AnsTwins sudah jalan bersama menuju pantai berlumpur dengan membawa keranjang masing-masing. Sedangkan Cecil memutuskan menemani ibunya Kirei dirumah saja. Mereka sudah masuk kedalam lumpur dan mengais kerang bersama, canda tawa dan bahagia meliputi semuanya. Mereka begitu antusias apalagi Anson yang senang dapat bermain kotor tetapi tidak dimarahi, sedangkan Ansel memilih bersama Arlen dan Kirei mencari kerang dengan tenang. Jupi dan Vino sudah bermain perang lumpur, dan Arden yang kena getahnya tidak ikut main tapi kena lempar juga.
Setelah sejam lamanya, mereka sepakat hanya Arlen, Kirei, Arden dan Vino saja yang mencari kepiting, sisanya tetap mencari kerang. Arlen sangat ingin mengerjai Arden dengan menenggelamkannya kedalam lumpur.
"Ar, ikut jalan disini lebih aman." Ajak Arlen melihat Arden bingung mencari jalan yang tidak terlalu berlumpur dalam, tapi malah arahan Arlen menyesatkannya, terperosok lebih dalam.
"Hahahah bos kena prank!" teriak Vino yang sudah terbahak-bahak melihat Arden sudah jatuh tersungkur dengan tubuh penuh lumpur.
"Ah sial, Arlen!" Bentak Arden kesal karena wajah tampannya jadi berlumpur.
"Arlen jahil deh.." Ucap Kirei tetapi dia juga senang.
"Sudah ayo.." Arlen membantu Arden naik tetapi Arden yang ingin membalas dendam malah menariknya kuat dan ikut terjatuh.
"HAHAHAH... kalian seperti bocah." Ejek Vino dan dia akhirnya mendapatkan lemparan lumpur di wajahnya. Setelah puas bermain mereka sudah serius mencari kepiting karena ada banyak orang yang harus makan.
Seperti biasanya Kirei lah yang banyak menemukan kepiting besar dan memberi perintah para pria itu untuk menangkapnya. Yang paling penakut adalah Vino karena jarinya hampir tercapit.
"Tidak! AKu tak mau lagi ikat capit laknat itu. Aku cari kepiting saja, kalian yang tangkap dan ikat." Tolak Vino yang sudah trauma dengan capit. Kirei tertawa dan akhirnya Arlen yang menangkap capit dan Kirei yang mengikat dibantu oleh Arden. Mereka harus mencari yang banyak, minimal 10 ekor kepiting dan itu cukup lama, akhirnya mereka hanya menemukan 7 kepiting besar.
"Sudah deh balik saja, nanti kita cari keong. Untuk pengganti kepiting dan ibu juga sudah membeli ikan di pasar." Ajak Kirei dan mereka berjalan pulang.
kelompok itu bergabung lagi untuk mencari keong setelah mengantarkan 2 keranjang besar kerang dan kepiting ke rumah untuk diolah. Mereka berjalan sedikit lebih jauh lagi untuk mencapai pantai yang ada pasirnya. Setelah sampai, AnsTwins lah yang sangat senang melihat hamparan pasir, memang bukan pasir pantai yang putih tetapi mereka tetap senang.
"Kita ke batu-batu itu, disana ada banyak keong yang tinggal diambil." Kirei menunjuk ke arah batu di dekat air yang masih surut jadi terlihat makhluk hitam di seluruh batu itu. Mereka segera kesana dan mengeruk semua yang bisa mereka dapatkan.
"Kalau ini keong murah kak jadi kalau dijual cuma tak seberapa, jadi makan sendiri saja." Jelas Kirei dan Vino menjadi malu sendiri.
"Kalau mau yang keong mahal ada di dekat pulau itu, disana airnya jernih dan banyak keong dan abalone kecil-kecil tidak besar seperti yang diberikan uncle Ben waktu itu." Jelas Kirei lagi dengan menunjuk pulau yang jauh dari pandangan mereka. Semua mengangguk mendengar penjelasan Kirei.
"Kalian cocok sih buka restoran seafood, Kirei banyak pengetahuan dan kau suka ikan dan tau mana yang segar atau tidak." Ucap Arden dan Arlen tentu saja setuju.
"Makanya nanti bantu aku untuk melamar Kirei ke ayahnya." Bisik Arlen, dan Arden meninjunya pelan tanda OK!
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Ben!" Panggil Jim pada Ben yang masih dibawah papan jermal untuk memasang jaring ikan seperti biasanya.
"Ya..?" Sahutnya masih dibawah.
"nanti sore mungkin anak muda kota itu akan datang berkunjung." Teriak Jim lagi karena merka sedikit jauh.
"Anak muda mana?" Balas Ben yang kini sudah mengapung dan akan naik keatas.
"Itu yang mau buka restoran dan ambil ikan dari kita. Bintang namanya dan siapa satu lagi.. namanya susah diingat. Alan? Alen? Ah iya mungkin Alan. Bosnya Kirei." Jelas Jim mengingat-ingat nama mereka.
__ADS_1
"Oh, ya sudah datang saja tapi seperti biasa aku akan didalam saja." Ucap Ben yang kini sudah memetik beberapa sayur yang dia tanam untuk makan siangnya.
"Ck.. kau ini, bersosialisasilah jangan menyendiri terus, sudah tua Ben."
"Umurku masih 50 tahun Jim, jangan mengejekku tua."
"Ya sudahlah aku akan ke darat lagi tapi nanti sore. Sekarang mau lihat hasil tangkapan dulu." Jim akhirnya pergi dari hadapan ben dan memilih lanjut bekerja.
Seperti biasa, Ben akan selalu didalam ruangan jika ada yang datang untuk mengunjungi jermal karena dia tidak mau mengambil resiko jika ada yang kenal. Tidak, dia juga tidak mau mengenal siapapun lagi, cukup Jim dan keluarga Kirei saja.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Keluarga Kirei sudah lengkap dan Keluarga Arlen juga, untuk makan siang bersama. Karena meja dan kursi tidak cukup mereka memilih duduk lesehan saja lebih nikmat dan kekeluargaan. Seperti biasanya makan yang paling lahap adalah Bintang dan kali ini dia sudah request kerang rebus dan kepiting kukus seperti Kirei. Dia sudah mengeti yang dimaksud Kirei waktu itu tentang cita rasa.
Setelah makan siang yang nikmat itu mereka kembali berkumpul dan mengobrol tetapi para wanita dan anak-anak dengan ditemani Jupi dan Vino sudah ikut Kirei ke pasar dekat sana untuk melihat-lihat meskipun kebanyakan yang dijual adalah ikan dan sejenisnya. Tinggal lah Arlen, Arden dan Bintang. Mereka sudah duduk didepan Ayah Gunawan dengan manis ingin mengutarakan maksud mereka.
"Ayah, begini.. ehm maksud dan tujuanku datang kesini untuk meminta izin." Arlen berhenti dan sedikit ragu untuk mengatakannya tetapi Arden menepuk bahunya pelan untuk menguatkan.
"Aku ingin meminta restu ayah untuk menikahi Kirei." Ujar Arlen mantap dan kemudian dia mulai cemas dengan apa yang akan diucapkan ayah.
"Hmm.. apakah Kirei sudah tau?" Tanya Ayah Gunawan dengan wajah datarnya.
"Sudah ayah.."
"Lalu Kirei jawab apa?" Tanyanya lagi
"Kirei jawab, kalau ayah dan uncle Ben mengizinkan maka di akan setuju." Jawab Arlen sesuai dengan perkataan Kirei.
"Begitu, ayah sebenarnya terserah Kirei saja, kalau dia setuju ayah hanya bisa berharap yang terbaik. Sekarang minta izinlah pada Ben. Karena selama ini dia yang sudah berusaha agar Kirei tidak putus sekolah dan bisa melanjutkan kuliah, itu sebabnya Kirei butuh izinya." Jelas Ayah, dan Arlen mengerti akan hal itu karena Kirei juga sudah menjelaskan.
"Aku juga tidak akan melarang Kirei lanjukan kuliahnya, karena aku juga sebenarnya masih ada 1 tahun lagi untuk lulus. Tapi ada hal yang perlu ayah ketahui tentang keluarga kami." Jelas Arlen lagi dan mulai menceritakan hal yang telah menimpa keluarganya selama ini dan di bantu oleh Arden karena Arden lah yang lebih mengetahui.
"Ternyata kalian dari keluarga Tenggara? Apa tidak masalah Kirei... kami dari keluarga kecil dan miskin." Ucap Ayah Gunawan yang menjadi tidak enak.
"Tidak ayah, kami tidak memandang status, ayah sudah dengar tadi, dulu kami juga tinggal di desa terpencil dan gubuk tua. Kami hanya lebih beruntung lahir di kelurga kami saat ini. Selebihnya kami adalah manusia biasa sama dengan yang lain." Kini Arden yang bantu berbicara lagi.
"Baiklah jika kalian tidak masalah dengan itu, mohon jagalah Kirei, dia anak yang baik dan masih polos tidak mengenal dunia luar." Mata ayah mulai berkaca-kaca tetapi dia tersenyum lega.
"Baik ayah, kalau kita ingin bertemu uncle Ben bagaimana ya?" Tanya Arlen lagi.
"Ayah bisa suruh orang mengantarkan kalian kesana. Tapi hanya nak Arlen dan Bintang saja karena
jim tidak membiarkan yang belum dikenal ke jermalnya." Jelas ayah dan beranjak dari sana untuk memanggil temannya.
"Uncle Ben siapa?" Tanya Arden
"Nanti aku jelaskan. Aku dan Bintang ke jermal dulu." Arlen menepuk pundak Arden dan menyusul ayah Gunawan. Bintang juga ikut dengan membawa sekeranjang buah dan ayam bakar untuk Ben karena dia pernah bilang ingin makan ayam kepada Jim.
__ADS_1
"Dari sini akan butuh waktu 2 jam sampai kesana, dan kalian hanya ada waktu 1 jam disana dan harus kembali. Mungkin akan hujan tapi belum tentu ada badai, karena bukan musimnya." Jelas ayah dan Arlen segera permisi untuk berangkat. Hari sudah sore dan ayah Gunawan juga harus pergi kelaut.
TBC ~