
Arlen dan Kirei sudah janjian bertemu di cafe jam 6 pagi untuk berangkat ke Pantai Berlayar, kampung nelayan tempat Kirei dilahirkan, kampung nelayan itu tidak begitu jauh dari kota J, hanya 1 setengah jam dari pusat kota ke arah Utara. Karena Arlen belum bisa menyetir, jadi seperti biasa, Bintanglah yang membawa mobil. Arlen tidak suka memakai supir karena tidak mudah akrab dengan orang lain.
"Ck.. aku jadi nyamuk dong." Keluh Bintang begitu Arlen dan Kirei sudah berada didalam mobil. Arlen yang awalnya ingin duduk di belakang bersama Kirei akhirnya pindah ke depan duduk di samping Bintang.
"Nih, aku pindah.. puas?" Ujar Arlen dan Bintang tersenyum menang lalu mulai menjalankan mobilnya. Satu setengah jam berlalu dengan diselingi obrolan ringan seputar kampung nelayan disana dan keseruan mencari ikan atau kerang. Sebelum sampai, mereka mampir ke warung dekat kampung untuk sarapan, di warung ini lah Kirei biasanya menitipkan kue atau jajanan buatannya untuk dititipkan, agar dijual oleh Nek Marni.
"Nek Marni.. Pesan nasi uduknya 2, Mie goreng 1 dan teh hangat 3 ya nek." Kirei memesan dan Nek Marni segera menyiapkan.
"Kiki sama siapa? Wah mereka gagah yo.." Tanya Nek Marni yang sejak tadi sudah melirik kedua pemuda tampan itu. Nek Marni yang sudah 62 tahun tapi tetap terlihat sehat dan segar, tak terlihat usianya yang 62 tahun.
"Ini Pak Arlen dan sekretarisnya Pak Bintang, bos nya Kiki di kota nek, mereka mau cari juragan ikan segar." Jawab Kirei yang sudah membantu membawakan makanannya untuk Arlen dan Bintang.
"Ini pak silakan." Kirei juga ikut duduk dan menikmati makanan sekukaannya yaitu mie goreng dengan lahap. Setelah sarapan mereka melanjutkan perjalanan yang hanya tinggal 5 menit berjalan kaki, mobil mereka titipkan disebelah warung Nek Marni saja biar tidak terkena macet didalam yang banyak mobil pengantar ikan yang suka asal memarkirkan mobil mereka.
Berjalan di kampung nelayan ini harus menggunakan kostum yang sesuai, untung saja mereka sudah mempersiapkannya sesuai arahan Kirei. "Pakai baju yang paling nyaman tapi tetap hangat, sepatu? Tolong pakai sandal jepit atau sepatu boots sekalian." Itu lah pesan Kirei dan sesuai instruksi, mereka memilih pakai sandal crocs saja tetap nyaman dan terlihat modis.
Setelah berjalan kurang lebih 5 menit akhirnya mereka sampai dirumah kayu yang mungil tetapi terlihat rapi dan hangat.
"Ayah.. Ibu.. Kirei pulang.." Teriak Kirei begitu membuka pintu rumahnya. Diikuti oleh Arlen dan Bintang yang menyusul jauh dibelakang.
"Silakan masuk pak, maaf kalau rumahnya kecil." Ujar Kirei sambil meletakkan tasnya di kursi ruang tamu yang sekaligus ruang makan itu.
"Hari ini aku lepaskan dari ciuman, karena sedang dirumahmu." Bisik Arlen di telinga Kirei dan membuat gadis itu terkejut, dia baru ingat tidak boleh memanggil bapak. Kirei pun tersenyum dan menaikkan bahunya dan minta maaf.
"Kirei.." Panggil ibunya yang baru masuk dari luar.
"Ibu kemana? Kirei panggil tidak ada orang." Ujar Kirei sambi memeluk ibunya.
"Ibu kan dari pasar Ki, ayah belum pulang mungkin sebentar lagi." Jawab ibunya dan Kirei baru ingat kalau hari sabtu lumayan ramai dipasar.
"Oh iya, lupa ini hari Sabtu bu."
"Ini siapa Ki?" Tanya Ibu memandang ke arah Arlen dan Bintang.
"Ini Pak Arlen bos Kirei pemilik cafe, dan ini Pak Bintang sekretarisnya Pak Arlen." Kirei memperkenalkan mereka dan setelah berkenalan Bintang memberikan 2 keranjang buah dan 1 box donat beraneka rasa untuk Sinta.
"1 keranjang buah ini untuk Uncle Ben ya bu, Kirei sering cerita tentang yang namanya Uncle Ben." Ucap Arlen dengan sopan dan ibu menerimanya dengan senang hati.
"Wah terima kasih Pak sudah repot-repot, nanti saya berikan ke temannya Ben kalau ada singgah disini ya. Soalnya Ben itu tidak pernah turun ke darat kalau tidak penting." Jelas Ibu karena takut mereka salah paham jika titipannya tidak diberikan ke Ben.
"Bapak kapan belinya? Kok tidak ada di mobil tadi?" Bisik Kirei dan Arlen tersenyum.
"Bintang yang siapin, tadi ada di belakang mobil." Balas Arlen juga berbisik.
"Terima kasih pak." Kirei tersenyum, karena buah-buahan itu sangat langka di keluarga mereka, karena mahal.
Tak lama ayah Kirei pulang dari melaut dan membawa lumayan banyak ikan untuk dijualnya ke pasar siang nanti. Sebelum berkenalan ayah membersihkan diri dulu karena sudah semalaman berada dilaut.
"Maaf nak Arlen, bapak tadi bersih-bersih dulu, sudah bau ikan." Ayah terkekeh geli karena memang seluruh tubuhnya bau ikan kalau baru pulang dari melaut.
"Tidak apa-apa pak, saya juga maklum karena mencari nafkah tidak semudah kelihatannya." Jawab Arlen sopan. Pasti dia akan sopan, yang didepannya sekarang adalah calon mertua.
"Ayah, pak Arlen kemari untuk minta tolong carikan juragan ikan yang terjamin kesegarannya. Di kota susah dapat ikan segar yah, makanya Kirei juga tak pernah makan ikan di kota. Rasanya beda." Ujar Kirei dan dimata Arlen Kirei sangat berbeda jika dirumah. Dia lebih banyak bicara dan juga sedikit manja pada ayahnya, sangat menggemaskan.
"Oh boleh, nanti Jim mungkin akan ke Bar nya tante Rose. Nanti kalian susul kesana dan tanya dia karena kemarin dia sudah mengeluh restoran yang mengambil ikan padanya sudah tutup." Jelas ayah.
"Tapi Om Jim datangnya malam yah, ini masih pagi. Kalau ke jermalnya saja tidak bisa?" Tanya Kirei lagi.
"Tidak bisa nak, jermalnya jauh dari sini hampir 2 jam di tengah lautan lepas. Belum tentu nak Arlen dan nak Bintang kuat." Balas ayah dan Arlen juga setuju, 2 jam di kapal pasti membuatnya mabuk laut, apalagi dengan kapal kecil itu, oh tidak!
"Yasudah, ajak mereka jalan-jalan saja. Atau nak Arlen dan nak bintang suka main air atau lumpur misalnya?" Kekeh ayah sembari menggoda kedua pemuda tampan dan gagah itu.
"Ih ayah.. mana mungkin main lumpur." Pekik Kirei dan Arlen tersenyum melihat Kirei yang sangat cerewet hari ini.
"Boleh juga, tapi main lumpur buat apa?" Tanya Bintang yang memang tidak pernah ketempat seperti ini.
"Tangkap ikan, cari kepiting dan kerang." Jawab Kirei dengan seringai kecil, ingin sekali dia mengerjai dua pemuda kota ini.
"Bole, siapa takut." Jawab Arlen penuh keyakinan.
"Baiklah.. tapi ganti baju dulu, karena sayang baju mahal nanti kotor." Kirei lalu ke kamar dan membawakan 2 kaos dan celana training lusuh milik ayahnya, lalu 2 sepatu boots usang. Sedangkan dia sendiri juga sudah berganti dengan kaos lengan pendek dan celana selutut dan boots kuning miliknya, dengan rambut panjangnya dikepang dua, memakai topi lebar dan keranjang serta alat-alat ditangannya. Siap untuk mencari kerang dan kepiting.
__ADS_1
"Ya ampun, gadis cantik ini sangat menggoda iman." Batin Arlen tak berkedip memandang Kirei tak tampak sangat imut baginya.
"Ayo!" Kirei mengajak 2 pemuda kota itu dan berjalan jauh ke arah depan setelah meninggalkan gang rumahnya, mereka turun dari tangga dermaga yang memang airnya sedang surut pagi itu.
Langkah pertama Arden sudah terpeleset, Bintang membantunya berdiri dan Kirei tertawa cekikikan melihat tingkah Arlen. Mereka melanjutkan perjalanan ke arah lebih jauh kedepan untuk mencari kerang, Kirei menggali pasir bercampur lumpur dekat air dan sudah menemukan beberapa buah kerang disana, sedangkan Arlen malah mengambil batu, Bintang lebih parah lagi tidak mendapatkan apapun. Tetapi setelah diajari oleh Kirei mereka berdua akhirnya berhasil mendapatkan kerang dan berteriak heboh karena senang. Acara mencari kerang sudah berlangsung setengah jam dan keranjang kerang telah penuh. Kirei mengajak mereka jalan lebih jauh lagi mendekat hutan bakau untuk mencari kepiting. Keranjang kerang sudah ditangan Bintang karena terlalu berat untuk diangkat Kirei dan Arlen tidak mengizinkan gadisnya itu kelelahan.
"Taruh saja kerang itu disini, tidak akan hilang." Ujar Kirei menunjuk sudut salah satu akar pohon bakau untuk meletakkan keranjang kerang dan Bintang mengikuti saran itu. Mereka lanjut masuk kedalam hutan bakau yang berlumpur dalam. Berkali-kali Arlen dan Bintang jatuh atau kaki mereka tertanam kedalam lumpur. Mereka berteriak terus-terusan dan tertawa, saling berpegangan dan menolong.
"Ki.. tunggu, kami susah jalannya." Panggil Arlen yang melihat Kirei sudah jauh meninggalkan mereka. Lalu Kirei kembali menghampiri 2 pemuda kota yang sudah penuh lumpur bahkan diwajah tampan mereka.
"Hahaha... berjalan di lumpur tuh harus bisa meringankan tubuh kita, berjalan seperti melayang loh.. begini." Kirei lalu berjalan kecil dan memang terlihat ringan.
"Tapi Kirei, kau itu memang ringan, kita kan berat." Bantah Bintang tidak terima.
"Tidak.. lihat bapak itu, dia bisa kan. Yah tapi memang harus terbiasa sih." Kirei menunjuk seorang bapak di ujung hutan bakau dan memang bapak itu terlihat bongsor dan tinggi tegap. Arlen dan Bintang hanya mengernyitkan kening mereka karena bingung.
"Meringankan tubuh? Seperti film kungfu gitu?" Bisik Arlen pada Bintang yang masih kesusahan menarik kakinya dari lumpur.
"Nah, disini hati-hati jangan jatuh. Lumpurnya lebih keras jadi mudah jalan disini, tapi banyak akar yang tajam seperti itu." Kirei menunjuk akar-akar yang bermunculan dari lumpur dan kedua pemuda tampan itu begidik ngeri.
"Jangan takut, disini lumpurnya keras jadi jalan saja seperti biasa." Kirei melanjutkan langkahnya tak lama dia berteriak agar Arlen dan Bintang menghampirinya.
"Itu ada kepiting besar." Tunjuk Kirei lalu dengan tongkat yang sejak tadi di pegang Arlen dia menekan kepiting itu dengan pelan Kirei mengambilnya dengan hati-hati agar tidak tercapit. Kirei mengangkat kepiting itu dengan memegang erat 2 capit kepiting dan menyusuh Bintang mengambil tali di tasnya untuk mengikat capit ini. Dengan takut dan tangan gemetar akhirnya Bintang berhasil mengikat capit yang sedang dipegang Kirei dan memasukkan ke dalam jaring yang dipegang Arlen.
"Wah, gadismu luar biasa." Bisik Bintang dan Arlen tersenyum bangga.
Setelah mendapatkan 6 ekor kepiting, mereka kembali lagi ke tempat kerang tadi untuk mengambilnya lalu kembali ke rumah, setelah perjuangan melewati lumpur laknat itu. Begitulah Bintang menyebutnya.
"Kita pulang dulu, mandi makan siang dan kalau air laut naik nanti kita memancing." Titah Kirei dan mereka berdua hanya mengikuti saja perintahnya.
"Bu.." Panggil Kirei setelah masuk kerumah.
"Kakak..." Pekik Sinta yang sudah pulang sekolah karena sudah siang. Arlen dan Bintang mandi secara bergantian kemudian terakhir Kirei karena dia tidak terlalu kotor. Kirei sudah membawakan 2 pasang baju ganti dan ****** ***** baru tentunya yang dibeli ibu dipasar. Setelah itu Kirei membersihkan kerang yang penuh lumpur bibantu oleh Arlen yang duduk dengan kursi jongkok di halaman depan rumah yang kecil, mereka bersama membersihkan lumpur dari kerang untuk segera dimasak.
"Ini Bu...kerangnya sebagian di rebus saja ya, kepitingnya juga 2 ekor dikukus saja." Pinta Kirei ke ibunya yang sudah menyiapkan bumbu, Kirei dibantu Bintang sudah mengupas bawang dan memetik cabe.
"Kok direbus dan kukus Ki? Biasanya dimasak asam manis, saos padang, lada hitam atau bumbu bawang putih." Tanya Arlen yang sedang membantu Sinta mengupas apel.
"Iya, aku dan ayah lebih suka kerang direbus dan makan dengan sambal asam biar segar. Karena kerangnya baru diambil dari laut maka masih manis dan segar. Kepiting juga, kalau dikukus rasa asli kepitingnya saja juga sudah enak tanpa bumbu macam-macam. Bahan yang kita ambil langsung dari alam jadi masih terasa manis alami. Kalau yang dikota sudah tidak segar makanya banyak bumbu untuk menambah cita rasa. Padahal cita rasa dari makanan laut sendiri saja sudah enak, pastinya harus yang segar ya..." Jelas Kirei dan Arlen mengerti.
Setelah berbincangan panjang mereka akhirnya bisa makan siang yang sudah lewat jamnya. Yang makan paling lahap tentu saja Bintang.
"Wah benar, ini sangat enak." ujarnya sambil tetap makan kerang rebus lalu beralih ke kepiting kukus. Kirei tersenyum kecil dan Arlen menepuk pundak Bintang.
"Pelan-pelan Bin, ingat perjuangan kita jatuh bangun di lumpur demi makanan ini. Jadi makannya jangan buru-buru, harus diresapi." Ujar Arlen dan di balas gelak tawa semuanya. Makan siang yang penuh suka cita akhirnya selesai, semuanya kekenyangan. Tak lama dari makan siang mereka dipersilakan masuk ke kamar Kirei untuk istirahat sejenak, awalnya mereka menolak tapi Kirei memaksa, sambil menunggu air pasang 2jam lagi. Baru saja 10 menit didalam kamar, 2 orang itu sudah tidur dengan lelapnya.
"Sepertinya mereka kelelahan." Ucap Kirei pelan sambil mengintip kedalam kamarnya. Sedangkan Kirei lebih memilih membantu ibunya menyuci baju dan membersihkan rumah, dia sudah biasa mengerjakan hal-hal tersebut sebagai rutinitasnya. Setiap pulang sekolah pergi mencari kerang atau kepiting lalu memasak dann membersihkan rumah, malamnya dia belajar.
Hari menjelang sore dan air laut sudah naik, tapi Arlen dan Bintang masih belum keluar dari kamar. Kirei masih ngobrol dengan ayahnya di ruang depan.
"Ayah.. tidak perlu kirim uang lagi ke Kirei, gaji Kirei cukup yah untuk hidup di kota."
"Bukan ayah yang kirim Ki, tapi uncle Ben, dia khawatir kau akan menderita hidup di kota." Jawab ayah yang masih mengunyah buah pir yang sudah dikupas oleh Kirei.
"Uncle Ben, Kirei kasihan lihat uncle, dia sendirian tak punya keluarga. Kenapa dia tidak menikah lagi yah?" Tanya Kirei tapi ayahnya hanya menggelengkan kepalanya.
"Kita tidak bisa memaksa nak, dia sangat mencintai istri dan anak-anaknya. Tapi... ya begitulah hidup." Ayah tak bisa melanjutkan kalimatnya, Kirei pun paham dan tida bertanya lagi.
"Sudah sore." Kirei membuka pintu kamar dan melihat Arlen sudah bangun dan sedang duduk di meja belajar Kirei sambil memandangi fotonya yang masih remaja.
"Ehm.. pak." Panggil Kirei menghampiri Arlen dan segera menutup figura fotonya karena malu, Arlen lalu berdiri sambil mencium bibir Kirei, gadis itu hanya menutup wajahnya dengan kedua tangannya setelah Arlen melepaskan ciumannya.
"Hukumanmu." Ujar Arlen dan Kirei tau itu hukuman buat apa. Mereka tidak sadar sebenarnya Bintang sudah bangun dan mengintip lalu tersenyum dan memejamkan mata lagi. Kirei segera keluar dari kamar setelah menyuruhnya siap-siap karena mau pergi memancing.
"Hahahaha... sudah sejauh itu rupanya." Tawa Bintang dan Arlen memukulnya dengan bantal.
"Dasar, kau mengintip ya.." Arlen segera menyisir rambutnya dan akan keluar kamar, tapi bintang terus saja menggodanya.
"Dimana ayahmu dan yang lainnya Ki?" Tanya Arlen yang melihat rumah itu sudah kosong.
"Ayah sudah pergi ke laut, ibu biasanya bantu juragan ikan asin di sekitar sini untuk membersihkan ikan teri dan udang yang sudah dijemur, Sinta pasti ikut ibu." Jelas Kirei yang sudah lengkap dengan alat pancing yang dia ambil dari gudang. Mereka keluar rumah dan menuju salah satu kapal yang berlabuh disana, kapal siapa saja, karena sudah biasa menaiki kapal yang berlabuh untuk mancing jika air laut telah naik.
__ADS_1
"Kita di sini saja. Kalau terlalu jauh nanti lama kembali ke darat." Kirei memustuskan berenti di kapal ke 7 yang mereka lewati sejak tadi. Arlen dan Bintang hanya mengikuti. Mereka mulai memancing dengan umpan buatan ayahnya yang terbuat dari udang dan tetelan ikan yang dikeringkan lalu ditumbuk halus, diberi sedikit air dan dibentuk bulat.
"Umpannya mirip terasi." Ujar Bintang dan Kirei membenarkan.
"Jika punya waktu lagi besok pagi aku ingin ajak kalian ke sebelah sana. Menangkap keong laut, rasanya sangat enak." Ucap Kirei sambil menunjuk kearah kanannya jauh disana ada banyak bebatuan dan kayu-kayu yang sudah terlihat tua.
"Keong? Yang sering dijual dipasar?" Tanya Bintang.
"Bukan, itu keong sawah, ini keong laut, lebih bersih dan enak." Jelas Kirei dan sepertinya Arlen sangat tertarik, tapi mereka harus kembali malam ini setelah bertemu dengan Jim.
"Sabtu depan kita kemari lagi. Aku ingin bawa keponakanku bermain lumpur biar mereka bermain sepuasnya dan aku ingin lihat wajah Hanny yang marah. Apalagi Anson yang paling lincah." Arlen sudah membayangkan seperti apa Anson akan bermain lumpur disini.
"Kalau mau ajak si kembar, lebih baik kita ke arah sana, lebih luas dan tidak banyak kapal jadi aman untuk anak-anak dan lumpurnya tidak terlalu dalam. Juga banyak kepiting kecil warna warni yang lucu." jelas Kirei lagi menunjuk kearah tadi dia ingin mencari keong.
"Boleh juga, nanti aku bicarakan dengan Arden dulu." Mereka lanjut memancing, Arlen yang sangat heboh telah mendapat 2 ekor ikan ukuran sedang selalu menggoda Bintang yang masih belum mendapatkan apa-apa. Akhirnya Bintang menyingkir mencari temapat yang dia rasa akan mendapatkan ikan. Setelah ditinggal berdua, Arlen dan Kirei tampak duduk lebih dekat dan terlihat mesra, Arlen tidak membuang kesempatan dengan sesekali mencuri ciuman, entah mengecup pipinya atau merangkul bahu Kirei.
Total ada 8 ekor ikan yang mereka dapatnya sore itu, Bintang akhirnya dapat 2 ekor ikan, Arden 4 dan Kirei 3. Mereka kembali ke dermaga untuk pulang kerumah dan disana ternyata sudah ada Jim yang juga baru sampai.
"Om Jim." Panggil Kirei dari ujung gang melihat Jim sedang jalan kearah rumahnya.
"Kirei, kau pulang ya.. Bagaimana kabarmu?" Balas Jim yang melihat Kirei berlari kearahnya.
"Baik om, kami memang sedang kesini untuk menunggu om, sebentar lagi kami mau ke bar tante Rose untuk mencari." Kirei memberitahukan.
"Oh.. om sudah sejak siang ada disana. Ini ikan dari Ben dan ada beberapa abalone yang sengaja dipisahkannya dan tidak dijual." Jim memberikan beberapa bungkusan yang dia pegang kepada Kirei dan juga ada 1 jaring lagi dengan ikan yang sangat besar.
"Wah ikannya besar sekali." Ucap Bintang terkejut melihatnya.
"Om, ini bos Kirei datang ingin cari Om, mau tanyakan pasokan ikan ke restorannya yang rencananya akan dibuka bulan depan." Kirei mengenalkan mereka dan memutuskan untuk duduk didalam melanjutkan obrolan dan mungkin akan memulai bisnis. Sedangkan Kirei sudah membawa hasil laut itu untuk ibunya didapur dan bantu memasak.
Ikan segar yang sangat besar itu dipotong dan sebagian disimpan untuk besok sisanya bersama ikan yang mereka pancing dimasak berbagai menu oleh Kirei dan ibunya. Ada yang digoreng lalu saus asam manis, goreng kering dengan sambal kecap, ada yang di steam, sesuai selera yang dia inginkan agar tamunya dapat makan dengan lahap.
"Abalone nya tidak dimakan Kirei?" tanya Jim yang sudah makan bersama mereka.
"tidak om, untuk ayah saja nanti." Jawabnya dan Jum mengangguk mengerti.
"Oh iya, ada buah-buahan untuk uncle Ben, nanti om Jim bagi saja dengan uncle, bos Kirei yang belikan tadi." Kata Kirei lalu membawa keranjang buah itu untuk Jim.
"Wah.. Ben pasti senang. Sudah lama dia tidak mencicipi buah segar." Jim melihat beberapa jenis buah yang disusun rapi dan cantik di keranjang itu.
"Kenapa uncle Ben tidak tutun ke darat saja om? Kasihan uncle selalu disana kesepian." Tanya Kirei lagi.
"Hhh... Ben itu sangat keras kepala, dia tidak mau melihat dan bertemu orang-orang karena dia takut hal dulu terjadi lagi padanya." Jawab Jim dengan wajah penuh kesedihan.
"Memangnya apa yang terjadi om?" Tanya Bintang yang juga penasaran dengan yang namanya Ben karena dia tidak mendapatkan informasi apapun dari anak buahnya.
"10 tahun yang lalu, dia ditemukan tersangkut pada jala ikan anggota jermalku waktu sedang melaut, segera mereka membawanya ke jermal yang memang tempat terdekat dari pada daratan. Ajaibnya dia masih hidup dengan peluru yang masih bersarang didalam perutnya. Setelah dia sadar dia mencabut sendiri peluru itu karena di jermal sudah tersedia kotak obat yang lengkap. Setelah itu dia tidak pernah mau kembali ke darat. Kerjanya hanya belajar menjadi nelayan dan berenang mencari ikan, membuat jaring dan menanam sayur di box es yang telah di modifikasi." Jelas Jim dan rasa penasaran Bintang semakin dalam, begitupun Arlen.
"Apakah dia tidak menceritakan kenapa bisa ada dilaut dan tertembak?" Tanya Arlen akhirnya bersuara.
"Dia hanya bilang tidak bisa percaya pada siapapun lagi karena telah dikhianati oleh temannya karena istri dan anak-anaknya juga dibunuh oleh temannya itu makanya dia tidak mau bertemu siapapun. Dia hanya berdiam diri di tengah laut. Dia orang baik, di waktu senggangnya dia hanya mencari ikan laut yang ukurannya besar, atau cumi, atau abalone dan menyuruhku menjualnya. Setelah membelikan kebutuhannya dia memintaku memberikan sisa uang ke anak-anak yang membutuhkan disekitar sini." Sambung Jim lagi sambil mengingat Ben yang begitu baik tetapi kesepian.
"Makanya aku bisa menamatkan sekolahku dan lanjut kuliah semua berkat ucle Ben." Kirei menambahkan.
"Ya benar, dia sangat menyayangimu, hanya kau lah yang dia temui selama ini. Yang lainnya tidak pernah." Ujar Jim lagi.
"Loh kenapa om?" Tanya Kirei heran, dikiranya uncle Ben sering bertemu anak-anak lainnya.
"Katanya dia ingat dengan istrinya dan dia sejak dulu ingin seorang anak perempuan." Jawab Jim. Kirei menjadi sedih mengingat kalau uncle Ben sangat kesepian dihari tuanya.
"Aku jadi penasaran, boleh kita ke jermal mu om Jim?" Tanya Bintang lagi.
"Boleh, tapi setelah kita resmi kerjasama. Karena aku tidak membiarkan orang lain mendatangi jermalku. Tapi orang yang kerjasama denganku terkadang suka singgah sebentar untuk melihat." Ucap Jim dan Bintang menyetujuinya.
"Baiklah, sabtu depan kita akan datang lagi untuk bermain, jadi hari selasa kita bisa bertemu lagi? Dimana sebaiknya kita diskusi." Tanya Bintang dan Jim menyebutkan sebuah nama restoran didekat sini untuk diskusi lebih lanjut. Setelah itu Jim permisi untuk kembali karena sudah jam 8 malam, dia harus kembali ke jermal.
"kita juga kembali sekarang?" Tanya Bintang pada Arlen.
"Boleh agar tidak terlalu malam kembali ke rumah. Bagaima Ki?"
"Iya.. ayo."
__ADS_1
Mereka akhirnya berpamitan pada ibunya Kirei untuk kembali ke kota J malam itu.
TBC ~