Menjaga Cinta

Menjaga Cinta
BAB 47 - Masih Liburan 2


__ADS_3

Pagi harinya mereka berangkat lebih pagi lagi dari kemarin, kali ini Arka, Eve dan Aksa tidak ikut karena Eve mulai kelelahan. Jadi keluarga kecil itu memilih jalan di sekitar resort saja. Sisanya masih semangat ikut Arden dan Hanny yang pergi mencari lokasi baru untuk membangun villa. Sultan kalau ada maunya harus di penuhi, begitu kata Vino.


Setelah sampai, mereka ada di desa yang lumayan ramai. "Disini paling ramai tuan, ada sekitar 150an kepala keluarga dalam 1 desa. Beda lagi dengan yang disekitarnya di dalam hutan. Masih banyak penghuninya." Jelas pak supir lagi.


"Apa mau jalan-jalan dulu di desa, disana ada pasar yang hanya buka setiap Rabu dan Sabtu." Tanya pak Supir. karena pas hari ini adalah hari Rabu. Mereka pun turun, Hanny begitu senang melihat jajanan pasar yang membuat air liurnya tiba-tiba banyak.


"Ibu.. saya mau ini ini ini itu juga dan itu." Hanny menunjuk kue-kue yang tersusun rapi di meja kecil seorang ibu penjual yang sudah tua.  Setelah membayar dia pergi lagi.


"Bapak, susu jagungnya 1 ya." Hanny langsung meminumnya disana.


"Mba, pecelnya pakai peyek dan bakwan, pakai mie sedikit." Setelah memesan Hanny makan dengan lahapnya.


"Ibu, getuknya 2 ya."


"Sayang, kamu sudah makan banyak loh.. belum kenyang?" Arden akhirnya menghampiri istrinya yang sudah makan entah keberapa kali pagi ini, ya pagi, belum siang.


"Masih mau, soalnya makanan disini enak-enak kak." Jawab Hanny yang sudah memasukkan getuk kedalam mulutnya.


Arden hanya geleng-geleng kepala melihat kelakukan istrinya tersayang, setelah Hanny puas berkeliling mereka kembali ke mobil dan menuju lokasi. Arlen sudah memakai topi yang terbuat dari bambu yang baru dibelinya, sementara Clara membeli sebuah selendang dengan corak unik dipasar tadi. Hanny? Tentu saja dengan banyak bungkusan jajanan.


Menempuh 20 menit perjalanan mereka sampai di suatu rumah sederhana mungil terbuat dari kayu ditengah hutan yang sangat asri dan sejuk. "Ini rumah teman saya tuan, silakan istrirahat." Ujar pak supir dan mereka pun turun. Rumah mungil itu tak berpenghuni karena memang dibangun untuk yang mau memancing dan mandi disungai saja. Rumah itu memiliki kursi panjang terbuat dari bambu yang sangat nyaman. Ansel dan Anson didudukkan disana bersama Hanny karena mereka tidak mau ikut Arden ke bukit belakang melihat lokasi karena harus jalan kaki. Arlen juga memilih duduk di luar rumah dengan tikar yang sudah disediakan bersama Clara yang juga malas ikut dengan Jupi dan Vino. Akhirnya Bintang tetap bersama mereka untuk berjaga.


Tak lama AnsTwins tertidur di kursi bambu dan juga Hanny, mereka bertiga tertidur dengan pulas. Ternyata semua yang ada disana ketiduran karena suasana yang sepi dengan udara sejuk membuat mata mereka berat dan mengantuk. Setelah tidur hampir setengah jam, Hanny terbangun dan melihat sekeliling. Ada Clara yang tertidur di kursi kayu dengan menyenderkan kepalanya di dinding, Arlen dan Bintang terlentang tertidur di atas tikar, 2 baby sitter bersama AnsTwins di kursi bambu yang sama dengannya.


"Anson mana?!" Teriak Hanny panik membuat semua yang ada di sana terkejut dan bangun dari tidurnya. Hanny mulai panik dan berlari mengelilingi daerah rumah itu.


"Anson tidak ada, dimana Anson?" Panik Hanny yang mulai menangis. Mereka tersadar dan segera berpencar mencari Anson. Hanny, Clara, Bintang dan 2 baby sitter berpencar kesegala arah, Arlen bertugas menjaga Ansel dan mencoba menghubungi ponsel Arden, Jupi dan Vino sembari menunggu kepulangan mereka.


Hanny masih berkeliling panik dan menangis mencari Anson di dalam hutan. Sekitar 300 meter dari sana Hanny melihat ada sungai dan segera menuju sungai itu berpikir mungkin Anson disana dan dia sudah ketakutan, memikirkan hal terburuk.


"Anson... Anson..." Teriak Hanny dan bersahutan dengan teriakan yang lain juga mencari Anson di sisi lain tempat itu.


Sementara Anson sedang berada si tepi sungai melompat-lombat kegirangan dan bermain air, berjongkok dan mengambil batu kerikil disana dan melemparnya lagi. Tak jauh dari tempat Anson ada seorang ibu paruh baya yang terlihat masih cantik mendekatinya dan tiba-tiba memeluk Anson.


"Anakku...." Lirih ibu itu dan Anson yang terkejut dengan orang asing langsung menangis dan berteriak.


"Ini ibu nak.. anakku sayang, akhirnya ibu menemukanmu." Isak tangis ibu itu pun terdengar lirih sambil memeluk dan menggendong Anson. Hanny mendekat dan melihat ada orang lain yang menggendong Anson pun berlari dan berteriak.


"Anson!!" Teriak Hanny mendekati ibu itu, namun ibu itu juga panik dan berlari menjauhi Hanny yang juga panik dan menangis sambil mengejar mereka.

__ADS_1


"Anson... lepaskan anak saya. Tolong itu anak saya." Teriak Hanny yang sudah semakin mendekat dengan Anson dan Ibu itu.


Ibu itun terjatuh dan Anson tetap dipelukannya, Hanny segera menarik Anson dari ibu itu tetapi tidak bisa karena ibu itu dengan kuat memeluk Anson dan mendorong Hanny sampai mundur beberapa langkah.


"Ini anak saya! kamu orang jahat yang mau menculik anak saya!" Teriak ibu itu marah dan segera berdiri tetap memeluk Anson yang sudah menangis kencang.


Bintang dan Clara yang tak jauh dari sana mendengar suara ribut dan suara tangis anak kecil segera menuju sumber suara. Mereka akhirnya sampai di tepi sungai tempat Hanny dan Anson juga ibu tak dikenal.


"Tolong, kembalikan anak saya.." Lirih Hanny lagi sambil mengatupkan kedua tangannya memohon.


"Ibu itu dengan wajah marah tetap tidak mau melepaskan Anson yang makin menangis memanggil mommy-nya.


"Kamu orang jahat, kamu yang mau ambil anak saya. Tidak dia anak saya." Bentak ibu itu. Bintang yang ada disana pun segera mendekat dan merebut Anson namun ibu itu tetap tak mau memberikan, malah menggigit tangan Bintang dengan kuat.


"Kalian jangan mendekat, dasar orang jahat, menculik anak saya." Teriak ibu itu lagi sambil mengelus lembut punggung Anson. Tampak ibu itu sangat lembut dan sayang pada Anson, Hanny yang sudah tak berdaya mendekat dengan pelan.


"Ibu... ini anak saya Anson, bukan anak ibu." Ucap Hanny pelan tidak ingin membuat ibu itu semakin panik.


"Bukan, ini anakku Arden!" jawab ibu itu sontak membuat Hanny terkejut. "Arden?" Hanny bergumam.


"Hanny... sayang, kamu tidak apa-apa?" Teriak Arden yang sudah tiba disana dengan panik dan mimik wajah khawatir, segera berlari dan menghampiri mereka, dia melihat Anson sedang digendong seorang wanita tetapi tidak terlihat wajahnya.


"BUNDA!" Teriak Arden terkejut, ya, disana ada bunda Cecilia yang sedang menggendong Anson. Dia masih mengingat wajah bundanya yang cantik meskipun sudah terlihat sedikit tua.


"Bundaa..." Lirih Arden, berjalan perlahan mendekat ke Cecil yang tampak sedikit lebih kurus dengan wajah linglungnya.


"Blake...." Ucap Cecil dan memeluk Arden.


Hanny terkejut, tak percaya, dia hanya mematung tak bergerak sama sekali. Akhirnya Anson terlepas dan berlari ke Hanny dan langsung memeluknya.


"Blake, kamu kemana saja.. aku menunggumu sangat lama. Anak kita juga hilang, aku baru bertemu Arden." Ujar Cecil dengan suara pelan tetap mengeratkan pelukannya.


"Arden, mana Arden anakku." Cecil panik lagi dan mencari Anson, yang sudah bersama Hanny.


"Arden.. kembalikan anakku." Teriak Cecil. Arden hanya menangis tak percaya, ada apa dengan bundanya. Akhirnya Arden meminta izin Hanny untuk menyerahkan Anson sebentar. Hanny mengerti dan membawa Anson ke pelukan Cecilia lagi. Anson awalnya menangis dan menolak tapi karena ada Arden disana Anson jadi tenang.


"Arden sudah ketemu Blake, dimana Arlen, dia bersamamu kan?" Tanya Cecil lagi, Arden menangis lagi, sungguh tidak tau apa yang terjadi.


Jupi dan Vino yang ada disana juga tak percaya, orang yang sudah bertahun-tahun mereka cari muncul begitu saja disini. Mereka akhirnya kembali ke rumah kecil di tengah hutan dengan membawa Cecilia. Arlen yang menunggu dengan cemas pun hendak berdiri dan menghampiri namun jadi mematung melihat siapa yang bersama mereka.

__ADS_1


"Bunda..." Ucapnya tak percaya. Arlen lalu menghampiri mereka dan ingin memeluk Cecilia, tetapi Cecilia malah ketakukan dan bersembunyi dibalik tubuh Arden.


"Kamu siapa?" Tanya Cecilia membuat Arlen terkejut tak percaya.


"Bunda..." Ucapnya lirih. Arden segera membawa bundanya ke dalam rumah itu dan menenangkannya bersama Anson, lalu berjalan keluar memberitahukan ke Arlen apa yang baru saja mereka alami.


Cecil sudah tenang didalam rumah, dan masih tidak membiarkan Anson menjauh, sewaktu Ansel mendekat Cecil bingung.


"Kok Arden ada 2? Harusnya Arlen mirip denganku. kenapa Arlen jadi mirip Blake juga?" Tanyanya bingung, tetapi dia jadi tersenyum melihat Anson dan Ansel yang dikira adalah anaknya, dan Blake juga kembali.


Hanny yang melihat Arden tampak bingung, sedih juga bahagia mendekat kearahnya, memeluknya sambil mengusap lembut punggungnya untuk memberikan ketenangan. Arden pun menangis pilu, tak kuasa menahannya lagi, dia menangis dalam pelukan Hanny. Baru kali ini Hanny melihat sisi lemah dari Arden. Sedangkan Arlen masih terdiam duduk melihat bundanya bersama 2 keponakannya terlihat tersenyum.


"Biarlah bunda tak kenal pada kita yang penting bunda telah kembali. Lihat bunda tersenyum begitu bahagia." Ucap Arlen sambil menepuk pundak Arden. Arden pun melihat bundanya yang sedang tersenyum bersama kedua putranya, benar biarlah untuk saat ini.


Jupi dan Vino kembali setelah bertanya ke beberapa warga disana tentang Cecilia disini. Datanglah mereka bersama seorang ibu tua yang sudah 70an tahun bernama mbok Sumi.


"Ohh.. dia memang tinggal di sekitar sini, kami memanggilnya Ayu, karna dia sangat cantik sewaktu datang ke sini." Jelas Mbok Sumi.


"Ibu Ayu disini tinggal dengan siapa Mbok?" Tanya Jupi.


"Dengan suami dan anaknya." Jawab Mbok Sumi dan mereka semua terkejut.


"Suami?"


"Iya, suaminya dokter tampan dan gagah. Anaknya juga cantik sama seperti Ayu." Ujar Mbok Sumi lagi.


"Boleh tau dimana rumah Ayu mbok?"


"Oh lumayan jauh kalau jalan kaki 6 kilo dari sini."


"Kalau boleh tau Ibu Ayu sering kesini? Dan sama siapa?" Tanya Jupi lagi.


"Ayu memang kadang datang ke sungai kalau sakitnya sendang kambuh, mau mencari anaknya yang hanyut di sungai. Tapi kalau tidak kambuh dia normal seperti ibu lainnya." jelas Mbok Sumi yang memang sudah terbiasa melihatnya.


"Mbok bisa antar kami ke rumahnya?" Lanjut Jupi.


"Bisa, tapi suami dan anaknya tidak dirumah. Karena kalau ada pasti Ayu tidak dibolehkan ke sungai seperti ini. Sebentar lagi juga mereka akan datang mencarinya. Sudah biasa begitu." Jelas Mbok Sumi lagi.


Tetapi Arden memutuskan tetap akan ke rumah Cecilia untuk bertemu suami dan anaknya. Apakah benar Cecilia menikah lagi dan mempunyai anak? Mereka akan memastikannya.

__ADS_1


TBC~


__ADS_2