
"Seharusnya Hanny saat ini dengan bayinya ada disisni dan kami akan mengadakan syukuran dan pengumuman pernikahan serta memperkenalkan mereka." Ucap kakek salim ke Oma Susi di sebuah ruang VIP restoran.
"Sabarlah.. kata cucuku mereka baik, sehat dan bahagia disana. Alex juga tidak mengizinkan Hanny kembali." Jelas Oma Susi yang kasihan melihat teman lamanya itu.
"Apa yang sebenarnya dilakukan oleh Johan? Aku tidak mengerti." Keluh Kakek Salim lagi, karena Oma Susi sudah menceritakan tentang Alex yang dipenjara karena dijebak Adam dan Johan.
"Kau... apakah merindukan anakmu yang lain?" Oma Susi mulai menanyakan hal itu dengan hati-hati.
"Tentu, sangat. Tapi mereka sudah bahagia. Aku tidak bisa memaksanya, sebenarnya aku pernah mencarinya setelah bercerai dengan neneknya Johan. Tapi aku melihat dia sudah bahagia dengan pria lain dan terlihat pria itu sangat mencintanya dan anakku." kakek Salim mulai meneteskan airmatanya. Sangat merindukan mantan istrinya kala itu dan anaknya.
"Bahkan, uang yang aku kirimkan sampai sekarang masih sangat banyak. Mereka hanya menggunakannya sesuai kebutuhan dan hidup sederhana. Dari jumlah uang yang keluar, seperti penghasilan karyawan biasa 1 bulannya. Bahkan hanya digunakan beberapa tahun saja, sampai sekarang uang itu tetap utuh" Jelasnya lagi. Oma Susi hanya mendengarkan tanpa berkomentar sedikitpun.
"Jika punya kesempatan, aku ingin bertemu anakku untuk terakhir kalinya sebelum aku mati." Sambungnya lagi. Oma Susi tersenyum.
"Pasti bisa." Ucap Oma Susi.
~Markas~
Beberapa bulan terlewati lagi dan Arden masih belum sempat kembali ke Hanny dan AnsTwins. Dia sudah sangat merindukan mereka dan setiap hari hanya bisa video call. Arden mulai mempelajari cara handle perusahaan Tenggara karena jika waktunya tiba dia akan terjun langsung. Belum lagi masalah penyelidikan tentang Johan dan dalang yang ada di baliknya makin membuatnya ingin cepat kembali ke sisi Hanny.
"Bos.. bisa kita mulai?" Tanya Vino bersemangat karena telah menemukan sesuatu yang akan membuat bosnya senang.
"Mulai Vin." Jawab Arden tak bersemangat karena harus mematikan video callnya dengan AnsTwins
"Jadi begini bos..."
Anak buah Vino yang ada di Digi.inc sudah menemukan rekening atas nama Hanny yang digunakan untuk menimbun banyak dana ilegalnya melalui Digi.inc. Rekening itu benar-benar rahasia bahkan Johan juga tidak tau cara menggunakan rekening itu, semua di percayakan kepada salah satu anak buahnya di departemen keuangan Digi.inc.
Saat ini dana di rekening itu sangat banyak seperti sengaja di timbun untuk suatu hal yang besar.
"Nah kalau sambungan dari kegunaan itu bisa di sambung sama Jupi bos ceritanya." Vino selesai dan disambung oleh Jupi.
"Jadi bos.." Sambung Jupi.
Uang itu dikumpulkan untuk membangun bisnis ilegal mereka yang akan digunakan untuk modal pembuatan obat terlarang dan jual beli organ tubuh, penculikan anak-anak dan wanita. Mereka butuh dana rahasia yang cukup besar. Jadi ini sudah pasti ada hubungannya dengan 'Skull' karena dulu inilah bisnis mereka yang sempat dibabat hampir habis oleh 'Blake'.
Anggota 'Blake' selalu menggagalkan rencana mereka, mengambil kembali orang-orang yang telah diculik dan menghancurkan pabrik obat-obatan mereka.
__ADS_1
"Jadi dulu itu Blake, ayahnya bos yang menghancurkan mereka satu demi satu hingga terbabat habis. Sekarang mereka ingin mulai lagi dengan bisnis ini dan menggunakan Digi.inc untuk iklan terselubung biar tidak ketahuan seperti dulu." Jupi selesai dan akan disambung oleh Vino lagi.
"Sambungannya bos..." Lanjut Vino.
Beberapa anak buah Vino yang ada di Paras Club sudah dapat beberapa bukti berupa video yang mereka ambil diam-diam, mereka jual-beli wanita menggunakan botol minuman dan 1 botol itu sama dengan 10 juta. Lalu ada barcode pada kemasan minuman itu untuk pembayaran dan juga pengambilan barang itu sendiri ditempat lain yang tidak diketahui. Beda lagi dengan pembelian narkoba yang akan di jual-belikan melalui produk baru yang iklannya akan tayang malam ini jam 11 malam.
"Kita tunggu saja bos, produknya itu apa. Biasanya untuk minuman beralkohol 10juta perbotol masih wajar untuk beli wanita. Tapi kalau narkoba kan ada yang murah dan mahal makanya kemungkinan barang ini juga barang yang umum diperjualbelikan di club." Jelas Vino lagi.
"Dan menurut anak buah kita disana, mereka punya catatan atau pembukuan berapa saja botol minuman yang terjual dan kalkulasinya ke dalam mata uang dan juga produk apa yang dibeli menggunakan minuman itu. jadi semua tersusun rapi. Hanya saja, anak buah kita masih mencari cara meng-copy isi data itu. Laptop si pemegang data selalu dijaga ketat bos, dibawa kemana-mana sampai ke toilet." Jelas Vino lagi dan kali ini mereka sudah mendapatkan begitu banyak informasi.
"Kalau keterlibatan Johan dalam bisinis ini sampai dimana saja?" Tanya Arden.
"Dia sebatas membuat iklan itu dan mengumpulkan dana rahasia. Kita bisa tarik dana itu bos kalau tau username dan password nya. Sedang di cari oleh anak buah kita disana." Jelas Vino, tetapi belum selesai.
"Tapi aku punya rencana untuk pinjam Bintang, dia kalau dilapangan sangat lambat bos. Dia sebenarnya jago di retas meretas, suruh saja dia yang handle laptop dan password rekening itu." Ujar Vino dan Jupi juga setuju karena adiknya itu memang sangat pintar di bidang teknologi apalagi dia dari SMP terkenal jago meretas soal ujian di sekolahnya.
"Baiklah panggil Bintang dan carikan Arlen asisten yang baru, soalnya dia belum dapat info apapun tentang dokter virus itu." Perintah Arden.
Arden berencana menjatuhkan 'Skull' kali ini dengan cara yang berbeda dari 'Blake'. Dia akan menyerang sumber akarnya, yaitu sumber keuangan mereka agar tidak dapat bergerak. Jika 'Blake' menghajar mereka dengan kekuatan maka Arden akan menghajar mereka dengan otak. Mematahkan mata pencaharian 'Skull' agar mereka tidak bisa berkutik.
"Bangsat! Johan menggunakan nama Hanny untuk membuka rekening luar negri dan menggunakannya untuk mengumpulkan dana rahasia yang ilegal. Aku akan menghabisinya nanti." Geram Arden mengepalkan tangannya kuat menahan emosi yang sudah memuncak.
"Kita harus gerak cepat, dana di rekening itu sudah berapa banyak Vin?" Tanya Arden dan Vino memberikan data yang dia punya.
"EUR 2,004,555 nah bos kalikan sendiri ya." Jawab Vino memberikan kalkulator pada ponselnya.
"Jika sudah sebanyak ini dana rahasia yang seharusnya belum boleh digunakan, berarti masih banyak rekening lainnya yang menjadi sumber pendapatan. tidak mungkin dia hanya bangun 1 club malam. pasti sudah banyak Vin. Kau coba cari lagi. Seharusnya ada beberapa." jelas Arden pada Vino yang mengangguk mengerti.
"Kau hitung saja club milik kita ada berapa dan kurangi totalnya. Setelah itu akan mudah karena punya kita saja sudah 85% di seluruh negri ini. Sisanya mungkin milik mereka." Timpal Jupi dan memang benar, club malam milik 'Blake' tersebar sangat banyak dan selalu mematuhi peraturan. Jika ada yang diluar peraturan maka dapat dipastikan itu bukan milik 'Blake'
"Lalu Arini atau Irene itu punya bisnis apa disana?" Tanya Arden lagi.
"Sebenarnya si Irene itu bukan siapa-siapa bos. Dia hanya mendekati pria kaya untuk menikmati kekayaan saja. Lagi pula dia juga mendekati Johan karna keluarga Salim lah yang cukup hebat diantara yang lain. Jika dia tau bos adalah Tenggara mungkin sudah dipepet terus bos.." Vino menjelaskan dengan nada meremehkan karena setelah diselidiki Irene hanya ikut untuk mengambil keuntungan untuk diri sendiri. Yakin 100% jika Johan terkena masalah maka Irene akan meninggalkannya.
"Ok, lupakan Irene. Kita fokus ke Johan saja karna nasib Hanny ada di Digi.inc dan rekening rahasia itu." Arden lalu berdiri dan ingin segera berangkat untuk menemui Hanny dan AnsTwins.
+++++++
__ADS_1
Enam jam perjalanan ditempuh lagi oleh Arden, lelah sudah pasti tetapi setelah melihat AnsTwins yang makin lucu membuat lelahnya hilang. AnsTwins sudah 4 bulan dan sangat lucu membuat Arden gemas dan selalu menggoda mereka.
"Anak-anak daddy... Hai sayang..." Arden membuka pintu kamar dan menyapa AnsTwins dan Hanny. Mengecup kening Hanny sejenak lalu mengintip baby AnsTwins yang sedang tidur.
"Yah tidur..." Keluh Arden kecewa lalu menciumi pipi gembul AnsTwins bergantian.
"Kakak.. jangan dicium-cium, mandi dulu." Pekik Hanny sedikit berbisik.
"Oh iyaaa, lupa sayang" Ujarnya terkekeh, lalu masuk ke kamar mandi di kamar Hanny dan menyelesaikan ritual mandinya dalam waktu 15 menit.
"Duh... anak-anak daddy lucunya..." Arden kembali mencium AnsTwins bertubi-tubi sampai membuat mereka terganggu dan bergerak-gerak .
"Kakak.. jangan, nanti mereka bangun. Susah sekali membuat mereka tidur dan 2 mba juga sudah istirahat." Hanny mengomel gemas melihat Arden yang sangat suka mengganggu AnsTwins.
"Habisnya kakak rindu dengan mereka, kenapa cepat sekali besarnya." Ujarnya sambil menoel pipi Ansel dan mendapat pelototan dari Hanny.
"Kakak tidur saja deh.." Titah Hanny yang tau Arden kelelahan karena perjalanan jauhnya. Arden menurut dan merebahkan dirinya di kasur Hanny, tak lama dia terlelap.
"Tuh kan, sudah tidur." Ucap Hanny pelan sambil mengelus wajah Arden yang sangat dirindukannya. Mengecup pipi Arden dan membaringkan tubuhnya juga dan memeluk Arden. Biarlah besok papi marah, yang penting malam ini tidur nyenyak, pikir Hanny.
Sudah jam 10 pagi menjelang siang tetapi Arden masih tidur dengan lelapnya. Hanny sengaja tidak membangunkannya malah ingin menggodanya. Di taruhnya Ansel diatas dada Arden, Ansel yang sudah bisa telungkup dan memukul tangannya pun berulah. Jadinya wajah Arden yang terlelap jadi sasaran empuk Ansel, bayi lucu itu menepuk wajah Arden berulang-ulang sehingga Arden terbangun. Melihat Ansel diatasnya membuat mata kantuknya langsung melebar cerah.
"Anak daddy yang tampan dan lucu lagi bangunin daddy ya.." Arden mengangkat Ansel dan menciumi perut Ansel sampai bayi montok itu tertawa lepas. Begitu bahagia bermain dengan daddynya. Hanny yang sedang menggendong Anson pun ikut menghampiri mereka, Arden kemudian bertukar dan mengangkat Anson dan melakukan hal yang sama, mereka tertawa bahagia bersama.
Beberapa hari dilewati Arden dirumah bersama Hanny dan AnsTwins, mereka juga sedang menunggu Arka dan Eve berkunjung dengan baby boy mereka yang sudah 2 bulan yang diberi nama Aksa Yudanta Arkana.
"Hai baby Aksa... lucunya kamu. Mirip sama mommy nya ya.." Hanny menggendong Baby Aksa yang baru 2 bulan itu. Bayi lucu dengan wajah sangat mirip dengan Eve, versi tampan.
"Semua dengan awalan A.." Gumam Hanny yang sempat didengar oleh Arden.
"Apanya sayang?"
"Arden, Arka, Ansel, Anson, Aksa, Alex" Hanny menyebutkan dan menunjuk satu persatu dari mereka, Eve pun menyadarinya.
"Hanya kurang Arlen." Timpal Eve dan dibenarkan oleh Hanny. "Semua berawalan 'A'" ucap Hanny. Akhirnya mereka baru menyadari.
TBC ~
__ADS_1