Menjaga Cinta

Menjaga Cinta
BAB 54 - Ulah Arini lagi


__ADS_3

Sejak bangun pagi tadi, Arden masih betah membelai rambut Hanny dan terkadang mengelus lembut perutnya menunggu pergerakan anak-anak mereka, Arden sangat malas untuk beraktifitas meskipun hari ini dia akan keluar kota untuk melihat pembangunan gedung baru untuk kantor cabang Tenggara di kota itu. Sudah hampir waktunya Jupi akan menjemput tetapi dia masih malas bangun bahkan sangat betah membiarkan Hanny bergelayutan manja di dadanya.


"Kakak.. cepat mandi, sebentar lagi Jupi jemput jam 10." Hanny sudah duduk dan menarik tangan Arden supaya segera beranjak tetapi sia-sia, sudah jam 9 lebih tapi suaminya masih betah diatas ranjang.


"Malas, ingin peluk kamu saja." Ucapnya dan menarik Hanny lagi dan memeluknya tetapi Hanny segera melepaskan dirinya.


"Tidak boleh.. ayo bangun, nanti kalau sudah balik aku berikan jatah extra." Hanny tersenyum nakal untuk menggoda Arden sambil beranjak dari ranjang dan menyiapkan keperluan suaminya.


" Benar ya sayang... janji?" Arden mengikuti langkah Hanny dan memeluknya dari belakang lalu mengecup pipinya, setelah itu masuk ke kamar mandi.


Setelah Arden berangkat, Hanny dan AnsTwins juga ke rumah besar Tenggara untuk bertemu bunda dan juga Arlen. Mereka akan pergi ke cafe pertama Arlen yang baru dibuka minggu lalu.


"Om Aleeennn..." Teriak Anson berlari melihat Arlen yang sudah menunggu di depan pintu utama.


"Jangan turun Son.. Om Arlen juga akan naik ke mobil." Hanny berteriak karena tidak sempat menghentikan Anson yang sudah turun dari mobil begitu Hanny membuka pintunya.


"Ponakan om kenapa cepat besar ya.. jadi berat begini." Arlen sudah mengangkat Anson dan menerbangkannya ke kiri dan ke kanan lalu menaikkan lagi Anson ke dalam mobil dan dia juga masuk. Bunda Cecil juga sudah duluan masuk ke dalam mobil dan memangku Ansel.


"Wah ini cafe pertama? Bagus dan menunya memang cocok untuk anak sekolahan."


Begitu masuk kedalam Hanny langsung melihat menu yang sudah terpampang di dinding atas meja kasir dan order, jadi sangat praktis. Datang langsung pesan dan bayar, ambil nomor meja dan duduk manis menunggu makanan diantar.


"Nasi ayamnya enak Len, kokinya jago." Ujar Hanny yang sedang menikmati nasi ayam ekonomis milik cafe Arlen, dengan harga terjangkau dan sudah dapat minuman. Surga bagi Hanny karena makanan disini murah dan enak, dia sudah mencoba 3 menu di cafe ini. Sedangkan bunda Cecil malah lebih memilih cemilan.


"Om Aleennn mau tuh.." Anson melihat seorang siswi memakan desert berisikan campuran jelly dan selai coklat.


"Ohhh boleh.." Arlen langsung ke dapur dan selang 10 menit sudah membawa 2 mangkuk desert jelly dengan topping selai coklat. Sudah pasti 2 bocah ini melompat kegirangan. Bukan hanya mereka bahkan Hanny juga memesan menu yang sama membuat bunda menggeleng karena napsu makan Hanny yang diluar nalar.


Sementara Arden baru sampai ke kota G dan menuju lokasi pembangunan gedung kantor Tenggara yang baru disana, ditemani oleh Jupi. Baru saja sampai di lokasi Vino dengan paniknya menghubungi ponsel Arden.


"BOS!" Teriaknya diseberang sana.


"Apa Sih Vin!" Balas Arden sedikit kesal karena baru saja sampai di lokasi dan akan berunding dengan manager proyek disini.


"Bos, nona Hanny bos.. di internet. Bos cek sendiri deh.. cepat bos." Vino langsung menutup sambungan teleponnya, membuat Arden bingung dan menyuruh Jupi cek apa yang dikatakan Vino tadi.


"Eh bro lihat ini.." Jupi memberikan ponselnya, ternyata di dunia maya sudah heboh foto dan video Hanny dulu sewaktu SMA.


"Brengsek!!" Amarah Arden meluap melihat hal itu dan juga komentar negatif tentang istrinya.


"Jup... urus itu dan kita balik sekarang." Arden masuk kembali ke mobil dan Jupi segera menghubungi anak buahnya untuk urus seluruh berita itu.


"Bro, aku akan minta ke Bintang untuk cek siapa yang kirim ini." Ujar Jupi sambil mengetik pesan yang akan dikirimkan ke Bintang. Arden masih sibuk menghubungi ponsel Hanny yang belum dijawabnya, lalu bergegas menghubungi Arlen.


"Len, Hanny dimana?"


"Ada disini sedang makan di cafe, kenapa Ar?"


"Pokoknya jangan biarkan dia lihat ponsel ataupun Tv dan sejenisnya. Sedang ada berita negatif tentang dia, foto dan video masalalunya yang direkayasa kembali muncul. Pokoknya jaga dia baik-baik, aku segera kembali." Ujar Arden yang sudah panik membayangkan bagaimana Hanny nanti, kandungannya sudah jalan bulan ke 7 dan dia takut trauma Hanny akan semakin parah.


Sedangkan Hanny masih asik memakan pudingnya dan tiba-tiba dia mengambil ponsel dari dalam tas karena baru ingat kalau Arden belum menghubunginya. Arlen yang mulai panik tidak sempat menghentikannya. Sudah banyak pesan teks masuk dan beberapa nomor yang masuk menghubunginya, termasuk Arden.


"Ah.. kak Ar, maaf tadi tidak dengar, ponselnya di dalam tas." Jawab Hanny begitu menjawab sambungan telepon Arden masuk lagi.


"Kamu baik-baik saja kan? sehabis tutup sambungan ini langsung berikan ponselmu pada Arlen. ok?"


"kenapa kak?"


"Patuh saja ya sayang...pokoknya dengarkan kakak saja, terus langsung pulang bersama bunda dan Arlen saja, jangan ke rumah."

__ADS_1


"Ada apa sih kak?"


"Patuh ya... istriku, sayangku.. ok?"


"Baiklah.."


"Bye istriku yang cantik.."


"Bye suamiku yang tampan."


Hanny menutup sambungan telepon itu dengan bingung, belum sempat dia ingin buka pesan yang masuk ke ponselnya sudah direbut oleh Arlen dan menyimpannya.


"Ihh kak Arlen.." Hanny kesal karena ponselnya di rebut begitu saja.


"Semuanya ayo kita pulang." Arlen langsung tanpa basa-basi menggendong 2 ponakannya untuk keluar dan menuju mobil, mau tak mau Hanny pun mengikutinya, bunda Cecil juga heran melihat tingkah Arlen.


Tapi Hanny yang memang dikehamilan kali ini lebih cuek, hanya pasrah dan ikut tanpa bertanya. Dia hanya memikirkan akan tidur sampai puas setelah kembali ke rumah karena sudah kekenyangan, AnsTwins juga pasti ada yang akan menjaga mereka di rumah besar. Dan benar saja, sampai dikamar, Hanny sudah merebahkan dirinya di kamar tak lama dia terlelap.


"Hah.. kita semua sedang panik karena pemberitaan itu, si bumil malah tidur dengan tenangnya." Ujar Arlen di ponselnya karena Arden menghubunginya lagi.


"Untunglah.. tolong jaga istriku Len. Sebentar lagi kami sampai." Ujar Arden lagi sedikit lega karena Hanny sedang tidur.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


"Kali ini pasti Arini lagi.." Jupi melihat lagi foto dan video yang diunggah ke dunia maya itu.


"Sepertinya Irene ingin bermain-main, buat dia hancur Jup, agar tidak mengganggu Hanny lagi." Arden sudah mengepalkan tangannya tanda menahan emosi. Apalagi ini sudah kesekian kalinya Irene berbuat hal yang sama pada Hanny.


"Kalau bisa kita cari video aslinya, pasti dia menyimpannya, hanya hasil editan buram yang dia keluarkan." Ujar Arden lagi. Saat ini mereka sudah ada didalam pesawat pribadi untuk segera kembali ke kota J.


"Sepertinya Radian dan Tyo pernah dapat video aslinya, setelah sampai akan aku tanyakan bro." Ujar Jupi lagi mengingat dulu sewaktu mencari para siswa di dalam video mereka diancam dan ada yang mendapat video versi asli dengan wajah siswa terlihat jelas.


Arden tiba di ruang keluarga untuk menjelaskan pada semuanya perihal foto dan video itu, meyakinkan seluruh keluarga bahwa itu bukan Hanny.


"Bukan Oma, itu bukan Hanny.. Aku tau pasti." Ucap Arden karena melihat Omanya sangat cemas dengan pemberitaan di media.


"Iya nak.. kami percaya. Tapi bagaimana hal itu bisa terjadi? Ada orang yang dendam kepadanya?" Kali ini Cecil yang bertanya.


"Iya bun, teman SMA Hanny yang melakukannya dan siswi di video itu juga dirinya, tapi Hanny belum tau karena siswi di video itu sahabatnya dulu yang sekarang menghilang." Jelas Arden yang kemudian mendapat pesan dari Bintang pada ponselnya.


"Nah sudah ketemu." Ujar Arden "Kita sudah dapat video aslinya dan akan mengirimkannya ke media. jadi tenang saja ya, pokoknya Hanny jangan sampai tau. Sebelumnya juga pernah begini dan dia menangis histeris dan traumanya kembali waktu hamil AnsTwins. Jadi tolong jaga dia ya bunda." Arden menggenggam tangan Cecil dengan tatapan memohon.


"Tentu nak.. tenang saja." Cecil tersenyum.


Arden sudah menghubungi Bintang untuk mengunggah video asli dan foto-foto asli dengan wajah Arini yang terlihat jelas tetapi menutupi wajah siswa dalam video. Lalu dengan cara apapun membuat karir Irene jatuh. Bintang segera upload segala hal tentang Arini dan Irene, kemudian foto-foto dan video dengan wajah Arini setelah itu munculah berbagai opini public melihat postingan dari Bintang dengan akun anonim di sosmed dengan gambar burung agar lebih cepat.


Dari sana, muncul lagi akun-akun baru yang mengaku mengenal Arini waktu masih SMA dan tidak menyangka bahwa dia adalah Irene. Bukti operasi plastik pun mencuat dengan bukti valid juga ada foto passport Arini Putri tetapi dengan wajah Irene karena dia tidak mengganti namanya.


"Bro, mau konferensi pers atau cuma klarifikasi di sosmed saja?" Tanya Jupi yang sejak tadi di hubungi oleh sekretaris Arden untuk mengatakan bahwa banyak wartawan yang meminta wawancara.


"Tidak perlu, klarifikasi saja, kita lihat dulu perkembangan di dunia maya. Yang penting buat Irene tak bisa lagi tampil di dunia hiburan." Jelas Arden lalu masih membaca opini public di aplikasi burung biru milik Bintang.


Sementara Irene sudah panik di apartemennya, melihat pemberitaan di media tv ataupun dunia maya. Keberuntungan tak berpihak padanya, malah semakin banyak bukti terkuak kalau video itu bukan Hanny tapi Arini. Sudah banyak bermunculan akun anomin yang bahkan mengakui kalau beberapa siswa dalam foto itu adalah mereka dan mereka megatakan kalau itu memang adalah Arini, yang sengaja berpenampilan seperti Hanny untuk mempermalukannya.


"Sial! Brengsek! Arrrggggghhh!" Irene sudah berteriak histeris di kamarnya membaca postingan di aplikasi burung biru, banyak yang sudah berkicau tentang betapa buruknya sikap Irene selama menjadi artis dan model. Selama ini kebaikan Irene hanya topeng.  Lalu kembali si anonim mengunggah banyak foto Irene bermesraan dengan pria yang berbeda di setiap fotonya, dan video yang terlihat jelas kalau Irene sedang bercinta dengan pria yang berbeda-beda. Semua terpampang jelas bahwa wajah itu adalah Irene. Dan banyak juga komentar pedas masuk ke akun sosmed miliknya dan officialnya.


"Wah ternyata artis sekelas Irene adalah pela***\, tidak disangka."


"Pelacu*** berkedok artis biar jual dirinya cepat."

__ADS_1


"Banyak iklannya di tv, semua anak-anak melihatnya. Sungguh memalukan ternyata dirinya hanya wanita kotor."


"Dasar murahan."


"****** yang sebenarnya."


"Boikot saja dia, tukang zinah dan tukang fitnah."


"Mungkin dia iri dengan nyonya muda Tenggara yang cantik dan baik hati."


"Saya kenal Hanny dan dia wanita baik-baik dan cerdas, Irene pergi saja ke neraka."


"Tolong bersihkan nama Hanny, dia tidak bersalah."


Begitulah kira-kira komentar para netizen di sosmed. Irene sudah tamat kali ini, sudah ada beberapa perusahaan yang menarik iklannya dari tv dan media elektronik lainnya. Bahkan managernya juga sudah menghubungi bahwa ada 4 kontrak baru yang dibatalkan dan agency tidak dapat membantu karena dia telah menyinggung keluarga Tenggara.


"Hanny!! aku akan membalasmu. Lihat saja nanti." Irene melempar ponselnya dan membanting segala benda yang ada di kamarnya untuk meluapkan emosi.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Rumah besar Tenggara


Arden masih sibuk membaca komentar netizen dan kali ini hinaan dan hujatan sudah beralih ke Irene dan malah membela Hanny karena beberapa akun selalu memuji dan memberikan fakta baru bahwa Hanny adalah gadis baik dan pintar pada masa SMA, bahkan banyak fotonya dengan beberapa teman sedang membantu orang-orang yang membutuhkan, anak-anak jalanan, panti asuran, panti jompo dan badan sosial lainnya. Arden sangat bangga pada gadis kecilnya yang baik hati.


"Jup, perintahkan agency Irene untuk membatalkan semua kontraknya, entah itu yang sudah berjalan atau yang baru. Lalu stasiun tv kita jangan ada yang menayangkan apapun tentang Irene, boikot dia dan beritakan tentang kebaikan Hanny, suruh Bintang cari sampai dapat. Beritahu seluruh perusahaan bahwa Tenggara sudah memboikot Irene, biar mereka tahu sendiri apa yang akan dilakukan kedepannya." Begitulah isi pesan Arden pada Jupi karena kali ini dia akan benar-benar membuat Irene jatuh dan tak bisa bangkit lagi.


"Baik bro, semua sugar daddy nya juga sudah kita hubungi dan mereka tidak akan berani menolongnya. Hahaha menolongnya sama saja mencari mati." Balas jupi dan Arden tersenyum membacanya, bagus. Arden lalu membuka bajunya dan masuk ke kamar mandi setelah meletakkan ponselnya di atas meja rias agar jauh dari jangkauan Hanny bila dia bangun.


"Ennngggghhhh...." Hanny mendesah dan meliukkan tubuhnya untuk meregangkan otot-otonya yang kaku. Melihat jam dan terkejut bahwa dia tidur sangat lama, hampir 4 jam.  Dia mendengar ada suara air dari arah kamar mandi.


"Kak Arden sudah pulang.." Ucapnya dengan wajah bahagia lalu segera melepaskan pakaiannya untuk menyusul suaminya mandi karena dia juga belum mandi sejak kembali dari cafe tadi.


"Kak..." Panggilnya begitu membuka pintu kamar mandi dan berjalan menuju shower, Arden yang sedang mengguyur tubuhnya pun membalikkan badannya melihat bumilnya masuk dengan tubuh polos dan perut buncitnya yang lucu. Hanny berjalan menuju dirinya dan segera merangkul istrinya.


"Bumilku yang cantik mau mandi juga.. sini kakak mandikan." Arden lalu membasuh seluruh tubuh Hanny dan memandikannya membuat tubuhnya bergetar panas dingin ingin sesuatu yang lebih, tapi dia tidak akan memaksa.


"Hem... sudah lama tak bermain sama si Jumbo." Hanny tiba-tiba sudah mengelus si Jumbo yang masih keriput kedinginan.


"Kan baru 2 hari lalu main sama si Jumbo." Arden sedikit meringis karena Hanny sudah menggenggamnya kuat.


"Tapi mau lagi.."


"Ya sudah, tapi si Jumbo lagi tidur, kalau bisa dibangunkan nanti main lagi." Arden mempercepat membasuh seluruh sabun di tubuh Hanny dan mengeringkan tubuh mereka.


Akhirnya mereka kini berada di ranjang, Arden duduk selonjoran di tepi ranjang dan Hanny membungkuk memainkan si Jumbo agar cepat bangun. Tak perlu waktu lama si Jumbo sudah bangun dan berdiri tegak, Hanny tersenyum nakal dan naik ke pangkuan suaminya, menduduki si Jumbo agar cepat masuk ke sarangnya.


"Oh ssshh bumilku sayangku... pelan-pelan ya nanti dedek bayi terkejut." Arden memegang pinggul Hanny yang sudah bergerak cepat untuk sedikit menahannya agar si Jumbo tidak masuk dan menghantam terlalu dalam.


"Sayang, tidak lelah? kenapa masih belum tidur?" Tanya Arden yang masih mengelus perut Hanny setelah membersihkan diri mereka dan tiduran diranjang.


"Tidak, kan sudah tidur lama tadi.. malah laper." Jawab Hanny tetapi masih malas berpindah dari pelukan Arden.


"Mau kakak masakkan sesuatu?" Tanya Arden yang sudah berdiri dan mengangkat tubuh Hanny yang sudah berat.


"Boleh..." Hanny mengikuti Arden dan segera keluar menuju dapur dan ternyata keluarga lainnya tengah berada di ruang makan untuk makan malam. Mereka lupa kalau ini adalah jam makan malam.


"Loh, bunda kira masih tidur jadi tidak memanggil kalian." Bunda Cecil sudah menggeser kursi di sebelahnya untuk Hanny, dan mereka duduk bersama menikmati makan malam.


"Hanny lupa waktu bunda hehe.." Ucap Hanny malu-malu, karena sebenarnya Cecil tau apa yang terjadi dikamar sebab tadi dia ingin memanggil mereka tetapi terdengar suara sayup-sayup ******* Hanny yang luar biasa, karena dia tau ukuran anak-anaknya tidak normal seperti ayahnya. Bahkan si kecil AnsTwins juga sudah terlihat akan mewarisi hal yang sama. Cecil tersenyum dan kembali menikmati makan malamnya.

__ADS_1


TBC ~


__ADS_2