
Baru pukul 5 pagi, Ansel dikejutkan oleh Arka dan Aksa yang sudah masuk ke kamar hotelnya. Dia masih tertidur disofa dan terkejut melihat Arka dan Aksa disana.
"Ansel!" Teriak Arka melihat Ansel yang baru bangun, dia merasa lega karena tidak terjadi apa-apa dengan mereka. Tetapi baru saja lega Adel sudah bangun juga dengan tubuh polos, Adel yang belum menyadari duduk dengan dadanya terbuka. Aksa langsung menutupinya dengan menarik selimut.
"Kakak kenapa disini?" Tanya Adel yang bingung lalu melihat Arka dan Ansel disana.
"Aaaahhhhhh.." Teriak Adel lalu menyelimuti dirinya sampai ke kepala, dia sembunyi didalam selimut dan menangis, dia baru menyadari dan ingat semuanya. Memang dia menyukai Ansel tetapi tidak begini caranya, Adel mengingat apa yang terjadi dengan dirinya, kebinalannya memaksa Ansel untuk menyentuhnya.
"Ansel!" Bentak Arka melihat tajam padanya.
"Om tenang.. Ansel bisa jelaskan. Tidak terjadi apa-apa, Adel masih suci om." Jelas Ansel dan dilihat dari kondisinya memang Adel terlihat baik-baik saja dan malah Ansel yang terlihat seperti habis di perkosa. Banyak bercak merah di leher dan dada Ansel yang sedikit terbuka.
Aksa malah terlihat menahan senyumnya, dia tau kalau Ansel memang menyukai adiknya tapi dalam keadaan begini bagaimana dia bisa tahan dengan amarah papi Arka?
"Pakai bajumu Adel.. ini kakak sudah bawakan." Aksa menarik selimut dan Adel masih tidak bergerak. "Adel.. cepat." Adel lalu menyelimuti dirinya lebih tebal lagi dan merampas paper bag dari Aksa lalu berlari ke kamar mandi. Selang 15 menit Adel telah keluar dan menunduk malu dilihat oleh Ansel dan Aksa, sedangkan Arka sudah diluar menghubungi seseorang.
"Sekarang kita pulang." Titah Arka begitu kembali ke kamar. "Ansel ikut kami." Arka kemudian jalan duluan diikuti oleh ketiganya.
Setelah sampai di rumah Arka, didalam ruang kerja sudah ada Arden, Hanny dan Anson. Mereka sudah menunggu Ansel dan Adel untuk mendengar penjelasan. Sedangkan Anson masih tersenyum melihat Ansel yang sudah berwajah kesal, dia memang tidak pernah membuat masalah tetapi sekali bermasalah langsung menghebohkan.
"jadi apa yang terjadi?" Tanya Arden menatap Ansel tajam, ingin putranya menjelaskan keseluruhan kejadian, Ansel langsung menjelaskan namun tidak dengan apa yang terjadi dikamar hotel setelah Anson pergi.
"Daddy sudah menyuruh Vino cek, obat itu efeknya lama dan jika tidak tersalurkan maka tidak akan sadar atau tenang, jadi apa yang kau lakukan?" Tanya Arden lagi, kali ini Ansel menarik napasnya panjang, wajahnya tetap sama, tenang dan datar.
"Serius mau Ansel ceritakan?" Ansel menatap wajah Arden dan segera melirik ke Adel yang duduk dengan Eve dan Hanny.
"Tidak!" Teriak Adel, dia terlalu malu jika harus mendengarnya. Ansel menatapnya kemudian menatap Arka dan Arden.
"Tapi kita perlu tau nak.." Arden melemah karena dia percaya pada anaknya, Ansel bukanlah anak yang tidak bisa menahan diri. Arka juga tau sifat dan watak dari Ansel maka mereka sepakat Ansel membisikkan saja. Lalu Ansel ceritakan pada kedua ayah itu apa yang dilakukannya, masih dengan Ansel yang tenang.
"Hem.. jika begitu tidak masalah. Setidaknya Adel masih suci." Bisik Arden pada Arka.
"Benar tapi bagaimana dengan Adel?" Tanya Arka bingung, karena sebagai wanita pasti tetap menjadi masalah karena telah disentuh oleh pria. Apalagi Adel masih 15 tahun, ini merupakan kejadian memalukan baginya.
"Adel, kau ingin mengatakan apa? Ansel sudah menceritakan kejadiannya." Tanya Arka pada putrinya yang masih menunduk malu.
"Adel tidak tau pi.. Adel memang masih perawan tapi sudah di sentuh kak Ansel, bagaimana kalau ada yang tau?" Adel menangis lalu Eve menenangkannya.
"Kalau tidak ada laki-laki yang mau menikah dengan Adel bagaimana pi?" Tanya Adel terisak.
__ADS_1
"Aku yang akan menikahimu!" Tegas Ansel menatap ke Adel yang terkejut, pipinya masih basah dengan airmata. Sedangkan Arka dan Arden saling menatap, Eve dan Hanny tersenyum simpul. Aksa dan Anson sudah menahan tawa. Sedangkan Ansel? Dengan wajah tenangnya dia masih menatap ke Adel.
"Adel masih 15 tahun Sel.." Ujar Arden dan Arka membenarkan.
"Tidak sekarang dad, om, nanti jika Ansel telah menyelesaikan kuliah, lagipula Ansel sudah diterima di Cambridge." Jelas Ansel dan mereka terkejut karena Ansel tidak pernah cerita kalau akan kuliah di luar negri.
"Kenapa tidak cerita Ansel?" Hanny yang berbicara sekarang, anaknya mau pergi ke luar negri tapi dia tidak tau, Hanny sudah hampir menangis.
"Tenang mom, Ansel mau memberitahukannya hari ini tapi ada kejadian seperti ini mom.. lagian Ansel akan pergi bersama Aksa." Jelas Ansel sembari merangkul Hanny.
"Iya, Aksa memang sudah beritahu kami." Sambung Arka.
"Lalu bagaimana denganku?" Anson bertanya kali ini tetapi mereka tidak mendengarkan.
"Ansel akan pergi, 3 tahun lagi baru akan kembali. Jadi om, bisakah setelah Ansel kembali sudah bisa menikahi Adel?" Tanya Ansel dengan menatap mata Arka dengan tekad yang sangat kuat, terlihat dari matanya.
"Om tidak bisa memutuskan sendiri, kau tanyakan pada Adel." Ucap Arka, Adel hanya terpaku menatap Ansel dari tempatnya.
"Baiklah.. bolehkah Ansel bicara berdua dengan Adel?" Tanya Ansel lagi dan Arka mengangguk, lalu semua keluar dari ruangan itu, tinggal Ansel dan Adel yang masih duduk di sofa sudah menundukkan kepalanya. Anson mendekat dan duduk di sebelahnya, mereka diam, hanya helaan napas Adel yang terdengar.
"Jadi.. kamu mau kan?" Tanya Ansel to the point. Adel menatapnya, bingung dan cemas, kenapa Ansel ingin menikah dengannya.
"Apa karna rasa bersalah? Jika karena itu aku tidak butuh!" Jawab Adel ketus memalingkan wajhnya lagi, padahal dia sangat menyukai Ansel.
"Kakak jangan bercanda\, lagian kalau aku bener cinta sama kakak\, apa kakak juga cinta sama Adel?" Tanya Adel masih menatap mata indah Ansel. "Adel gak mau kakak hanya mau bertanggungjawab." Sambungnya lagi. Ansel pun menoleh menatap Adel yang masih melihat lekat ke dirinya. Ansel mendekatkan wajahnya dengan cepat dan langsung mencium bibir Adel\, mengg**it bibir perlahan dan melum*tnya.
"Tadi malam kamu yang menciumku, dan ini balasan untukmu Adel." Ujar Ansel yang sudah tidak sabar melihat Adel yang keras kepala.
"Aku tak terima penolakan dan kamu harus menungguku, mengerti?" Tegas Ansel yang lalu dibalas anggukan oleh Adel yang sudah tak bisa menolak, hatinya sudah terpaut pada Ansel sejak dia masih kanak-kanak, itulah sebabnya sejak dulu dia selalu mengikuti Aksa kemanapun agar bisa bersama dengan Ansel. Sampai dia rela mempercepat sekolahnya agar dapat mengejar Ansel. Tetapi Ansel masih jauh diatasnya yang sangat sulit untuk digapai.
"Dan 1 hal lagi, jauhi temanmu yang kemarin di club, aku tidak mau kamu bergaul dengan orang-orang yang tidak berguna." Titah Ansel dan Adel hanya bisa mengangguk sambil memandangnya. Ansel yang begitu tegas yang mampu menghipnotisnya dengan ketampanan yang luar biasa. Sikap tegas dan dingin itulah yang disukai Adel.
"Jangan mendekati lelaki manapun atau membiarkan mereka mendekatimu. Aku tak suka jika milikku di sentuh orang lain. Kamu mengerti Adeline?" Bisik Ansel dengan suara paraunya di telinga Adel membuatnya gemetar dan badannya tiba-tiba panas.
"I i iyaa kak Ansel." Jawabnya lalu menjauhkan wajahnya dan berpaling melihat ke arah lain. Ansel mengecup lehernya membuatnya kegelian, "Ingat, kamu milikku!" Tegasnya sekali lagi.
Mereka berdua keluar dari ruang kerja Arka dan sekarang bergabung dengan yang lainnya di ruang keluarga. Mereka membicarakan siapa yang membuat Adel seperti itu dan apa motifnya. Namun pria yang membawa Adel hanya orang suruhan dan tidak kenal dengan Adel sama sekali. Teman yang membawa Adel kesana juga hanya 2 orang yaitu Nico dan Siska, mereka memang teman baik Adel sejak dia masuk kelas 11.
"Ya udalah.. yang penting Adel, mulai sekarang jangan kemanpun tanpa pengawal dan kakak akan menambahkan pengawal untukmu." Tegas Aksa yang membuat Adel menciut padahal dia sudah ingin protes.
__ADS_1
"Bagamana Ansel, apakah akan sesuai rencana?" Tanya Arka pada Ansel yang masih berdiri disana di samping Adel.
"Iya om, sesuai rencana. Ansel akan kuliah dan kembali 3 tahun lagi dan menikahi Adel." Jawab Ansel dengan yakin.
"Benar begitu Adel?" Tanya Arka memastikan.
"i iya papi.." Adel menjawab dengan terbata-bata dan langsung menundukkan kepalanya lagi.
"Aaahhh calon mantuku.." Hanny berteriak senang dan langsung memeluk Adel, dia menuntun Adel untuk duduk bersamanya di sofa yang sama dengan Eve.
Arden mendekati Ansel dan menepuk pundaknya kencang, "Kau memang putraku, daddy bangga nak."
"Tolong jaga Adel untukku dad.." Ujar Ansel menatap pada Arden penuh harap
"Tentu, daddy tidak akan membiarkan kejadian yang sama terulang. Cukup daddy yang mengalaminya saja melihat wanita yang kita cintai menikah dengan orang lain." Arden lalu melirik Hanny yang masih sibuk dengan calon menantunya. Ansel tersnyum tipis, sangat tipis karena dia tau akan cerita cinta kedua orangtuanya.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Hari dimana Ansel dan Aksa akan berangkat ke Inggris dan mereka diantar oleh keluarga masing-masing. "Kenapa gak pake pesawatnya daddy atau grandpa aja sih?" Tanya Anson yang kesal menunggu waktu keberangkatannya Ansel di ruang tunggu yang ramai.
"Gak mau, gak dapet feel-nya." Jawab Aksa dan Ansel hanya diam tak mau berkomentar.
"Anaknya mommy... hiks hiks.." Hanny masih menangis, anaknya akan berpisah jauh bertahun-tahun darinya. Dia terus memeluk Ansel.
"Mommy, Sel cuma pergi 3 tahun. Gak lama kok mom.." Ujar Ansel yang sebenarnya juga sedih melihat Hanny menangis, dia sangat sayang pada mommy-nya itu.
"Sayang.. Ansel sudah dewasa, biarkan dia memutuskan sendiri." Ujar Arden yang sudah seminggu ini terus membujuk Hanny agar tidak sedih lagi.
"Tapi, bagi mommy kalian tetap anak-anak mommy yang masih kecil, lucu dan imut." Ujar Hanny yang malah membuat Anson tertawa.
"Imut dari mana mom, kalau Anson iya imut, kalo Ansel tuh amit-amit." Kekeh Anson yang mendapat timpukan tasnya Hanny karena kesal.
Berbeda dengan Aksa yang dilepas oleh Eve dengan tawa dan sukacita karena anaknya akan pergi menimbah ilmu. Arka juga bangga pada putranya dan dia tetap akan menemani Ansel sebagai teman, saudara dan asistennya nanti di perusahaan. Adel sedari tadi melirik ke arah Ansel, dia berat berpisah dari cintanya.
"Adel.. ingat pesanku, jangan bergaul dengan orang tidak berguna dan jangan mendekat atau didekati lelaki manapun. Kau milikku." tegas Ansel lagi lalu memeluknya sesaat.
"Kau milikku." Bisiknya sekali lagi di telinga Adel.
Akhirnya mereka berangkat dan Hanny masih saja mengangis, Arden sejak tadi sibuk menenangkan istrinya itu. Anson juga sudah kembali duluan karena ada test dan kuliah pagi itu. Akhirnya kedua keluarga kembali ke rutinitas masing-masing. Sedangkan Adel, dia bertekad untuk belajar dengan rajin dan akan menyusul Ansel ke sana.
__ADS_1
\~\~\~END \~\~\~
NB : Pengen banget lanjutin Ansel dan Adel tapi masih belum dapat feelnya. Hehehe.. Terima kasih yang sudah membaca, saya disini hanya ingin menyalurkan kehaluantingkat tinggi. Jika ada salah kata ataupun yang kurang berkenan mohon maaf. Untuk cerita selanjutnya sudah ada ya... Cao~