
"Sayang..." Jam 9 pagi dan Arden sejak tadi berkeliling rumahnya sambil menggendong Anna yang sejak tadi tidak mau dilepaskan oleh daddy-nya. Padahal Arden hanya ingin bermain sebentar dengan Anna yang duluan bangun dari saudaranya yang lain. Jika Arden mengembalikannya atau mendudukkannya maka Anna akan menangis kencang, membuat Arden tidak tega dan tetap memeluk anak cantiknya.
"Hanny.. mommy sayang.." Arden sejak tadi memanggil dan mencari istrinya tetapi sang istri masih nyaman berada dalam bathtub sudah lebih dari 1 jam. Arden kira dia sudah ada di dapur karena sejak dia bangun sudah tidak melihat Hanny disampingnya maka Arden langsung ke kamar anak-anak.
"Ah ternyata mommy disini." Arden akhirnya masuk ke kamar mandi melihat Hanny yang sedang berendam.
"Eh ada daddy dan anak cantiknya mommy..sudah bangun ya cantik." Ujar Hanny yang masih asik bermain dengan busa sabunnya.
"Mommy.. Anna dari tadi tidak mau lepas dari daddy.. padahal daddy mau meeting dan ini belum mandi." Keluh Arden dengan wajah memelas.
"Hahaha.. makanya daddy jangan sering-sering sibuk dan tinggalin mommy dan anak-anak." Hanny tertawa senang karena sudah 2 hari Arden pergi pagi pulang larut malam karena sibuk.
"Kan mommy tau kalau daddy ada proyek baru dan harus selesai sebelum kita liburan ke gunung A besok." Jelas Arden lagi, padahal rencananya dia sudah memberikan tanggungjawab pada direktur baru, tetapi si direktur itu malah kecelakaan dan harus dirawat 2 hari ini jadi Arden harus menggantikan.
"Baiklah.. sebentar ya, mommy bilas dulu." Hanny lalu naik dan berjalan santai membasuh dirinya di bawah shower
"Jangan menggodaku mommy..." Bisik Arden dan pergi dari sana, karena ada Anna digendongannya jadi dia tidak bisa macam-macam.
Setelah melepaskan diri dari Anna, Arden segera meninggalkan Hanny dan Anna untuk mandi dan berangkat ke kantor, dia hanya punya waktu setengah jam saja. Dengan terburu-buru akhirnya Arden jalan keluar menuju mobil dan sebelum itu dia mengecup bibir Hanny sekilas dan mencium Anna. "Bye, mommy..."
Padahal meeting itu hanya berlangsung sampai jam makan siang dan dia akan kembali pulang ke rumah.
"Huft.. " Arden menghela keras setelah semua selesai, Jupi yang melihatnya pun tersenyum sambil menggeleng.
"Jupi.. jadi ikut kan besok?" Tanya Arden melihat Jupi masih sibuk membereskan pekerjaanya.
"Tidak jadi.. Clara lagi mual muntah terus karena hamil." Jawabnya
"Wah.. selamat Jup.. akhirnya Clara akan jadi macan betina juga nanti." Godanya karena Jupi sudah terlihat lelah bahkan sebelum anaknya lahir.
"Ah.. semoga Clara masih bersikap manis jagan cemburuan seperti Hanny dulu. Bisa mati aku bro.. tau sendiri kadang pekerjaanku cari wanita buat para rekan bisnis mu yang hidung belang." Keluh Jupi lagi. Arden malah tertawa mendengarnya.
"Lalu Vino mana? Dia ikut juga kan?" Tanya Arden yang tidak melihat Vino sejak pagi.
__ADS_1
"Ah dia lagi pendekatan sama sekretaris baru nya direktur baru mu itu."
"Ohhh.. ok.. mau mengakhiri masa jomblo sepertinya."
************* *************
Perjalanan ke gunung A dimulai, Kirei yang baru pertama kali naik pesawat malah pusing dan lemas karena mabuk udara, padahal dia sangat antusias untuk melihat pemandangan dari atas melalui pesawat pribadi punya 'Blake'
"Baby, cantik.. tiduran saja, sini jangan lihat ke luar lagi." Arlen menarik kepala Kirei untuk bersandar dipundaknya tetapi Kirei malah masih ingin melihat pemandangan padahal sudah tak terlihat apa-apa selain awan.
"Ayolah cantik., nanti pusing lagi." Akhirnya Kirei menurut dan merebahkan tubuhnya bersandar pada tubuh Arlen.
"Sangat nyaman." Gumamnya membuat Arlen tersenyum dan membelai rambutnya. Tak lama kemudian Kirei sudah tertidur. Sewaktu Kirei terbagun dia sudah ada di dalam mobil yang sedang melaju dengan pemandangan sekitar adalah pepohonan dan bukit.
"Ini dimana Bee.." Tanya Kirei begitu melihat sekelilingnya. "Kita sudah di daerah kaki gunung A." Jawab Arlen yang tangannya sudah membenarkan rambut Kirei yang sedikit berantakan.
"Wah... pemandangannya bagus." Kirei masih melihat pemandangan diluar dengan mata berbinarnya. "Aku tidur berapa lama?" Tanyanya langsung berbalik menghadap ke Arlen. "Dua jam lebih mungkin." Arlen tak begitu yakin.. "Tapi kau sudah sehat kan baby?" Tanya Arlen lagi sambil mengelus wajah cantik Kirei. "Sudah." Jawabnya penh semangat dan senyum mengembang.
"Wah.. indah sekali." Gumam Kirei setelah sampai di depan villa yang dibangun dengan begitu besar dan mewah. "Tapi dingin.." Ujarnya lagi dengan mendekap lengan Arlen lebih erat agar tubuhnya menempel pada Arlen.
"Iya disini memang dingin, sini aku peluk baby." Arlen juga mengeratkan pelukannya.
"Ck.. pengantin baru maunya nempel terus." Goda Arden yang baru turun dari mobil karena baru sampai. Arlen terkekeh dan masih memeluk istrinya yang sudah kedinginan.
"Yuk masuk, Kirei sudah kedinginan sama tuh sama ayah, mereka terbiasa di laut makanya kedinginan." Jelas Arden dan mengajak semua untuk masuk. Villa ini dibangun dengan total 7 kamar dengan 2 kamar utama dan 5 kamar tamu. Sedangkan untuk pelayan ada paviliun di belakang dengan 3 kamar. Ada 1 lagi kamar khusus yang dibangun oleh Arden untuk menikmati waktu berdua dengan Hanny nantinya.
"Ini kamar khusus, sebenarnya untukku dan Hanny tapi karena kalian pengantin baru aku hadiahkan. Nikmati saja dengan permainan liar dialam terbuka." Bisik Arden memberikan sebuah kunci padanya. Melihat saudara kembar itu bisik-bisik Hanny dan Kirei jadi penasaran dan menghampiri mereka.
"Ada apa kak? Aku jadi curiga.." Ujar Hanny melirik ke Arden.
"Tidak sayang.. kamar khusus kita akan dipakai mereka saja ya.. untuk hadiah." Jawab Arden dan Hanny setuju saja biar keponakan segera rilis.
Arlen membawa Kirei menuju kamar yang diberikan oleh Arden, di lantai 4 setelah keluar dari lift mereka terkejut dengan penampakan kamar itu.
__ADS_1
"Ini indah sekali Bee!" pekik Kirei melihat ruangan luas itu full kaca dan pemandangan pengunungan dari atas, mereka sangat tinggi diatas. Terlihat di kejauhan masih ada kabut yang sangat ingin disentuh oleh Kirei.
"Gila.. Arden luar biasa bisa membangun tempat ini. Lihat baby.. disana ada kolam renang." Arlen menarik tangan Kirei untuk mengikutinya. Kolam renang dengan air hangat terbuat dari kaca, menjorok keluar seperti melayang, dibawah mereka adalah hutan. disamping kolam ada jaring terbuat dari tali berukuran besar dan Arlen langsung mengangkat Kirei dan menjatuhkan diri di atas jaring itu dan mereka seakan melayang diudara.
"Aaaakkk" Teriak Kirei ketakutan, Arlen tertawa dan memeluk istrinya gemas.
"Bee..!! kalau jatuh bagaimana?" Gerutu Kirei.
"Tidak akan.. ini kuat cantik." Mereka duduk sambil berpelukan mesra memandang jauh ke pegunungan hijau dan indah.
"Ini honey moon terbaik." Gumam Arlen sudah membayangkan akan menggempur Kirei ditempat ini. Tapi dia akan menunggu sampai besok pagi saja mengingat Kirei sangat lemah seharian ini.
"Hai pengantin baru." Panggil Arden yang sudah masuk ke kamar itu karena penasaran, diikuti Hanny dan ayah bunda mereka.
"Wah ini indah.." Ujar Ben dan melihat Arlen dan Kirei duduk mesra di atas jaring.
"Ayah juga mau begitu sama bunda. Setelah ini kalian pulang saja biar ayah dan bunda tetap disini." Ujar Ben dan Cecil hanya tersenyum mendengarnya.
"Jangan iri yah.. ini lebih cocok untuk anak muda." Goda Arden dan mereka berkeliling sebentar melihat kaamr yang dibangun khusus oleh Arden.
"Idemu sungguh bagus nak.." Bangga Ben pada Arden.
Kini keluarga itu sudah berkumpul dan bahagia, Ben atau Blake sudah kembali ke sisi istrinya Cecilia, kedua putra kembarnya Arden dan Arlen sudah hidup bahagia bersama keluarga kecil mereka, dan seorang anak perempuan menjadi pelengkap kebahagiaan mereka.
"Kak Arden.. sepertinya kau sangat bahagia.. terlihat dari wajahmu yang sangat bercahaya, semakin tampan kak." Hanny membelai wajah suaminya yang semakin membuatnya jatuh cinta.
"Iya sayangku.. kakak bahagia, semua telah berkumpul lagi. Aku memilikimu, anak-anak kita, ayah dan bunda, Arlen sekarang sudah menikah, Aileen yang semakin hari semakin pintar dan cantik. Hidupku sempurna." Arden memeluk Hanny dengan erat, rasa syukur tak henti-hentinya dia ucapkan.
"Kita akan bersama selamanya, keluarga besar kita.. Aku mencintaimu kakak bule ku."
"Aku juga mencintaimu gadis kecilku.
\~\~\~END\~\~\~
__ADS_1