
"Ayolah Ben, temanmu sedang butuh bantuan." Jim sedari tadi membujuk Ben untuk mengikutinya ke darat untuk membantunya menemui seorang wanita di bar langganannya.
"Rose sudah menagih janji untuk bertemu denganmu, tolong main 1 ronde saja dengannya." Ben tetap tidak mau karena dia sudah berjanji bahwa tidak ada wanita yang akan mendapatkan hati atau tubuhnya selain istrinya.
"Tidak Jim, jangan memaksa. Lagi pula aku tidak yakin bisa melakukannya dengan wanita lain manapun." Jawab ben yang masih tenggelam dalam pekerjannya, memperbaiki jaring dengan menjahitnya dengan alat khusus telah menjadi rutinitasnya saat ini.
"Aku sudah terlanjur berjanji Ben, jika tidak dia tak akan mau lagi aku booking. Kau tau sendiri Rose itu meskipun sudah berumur 45 tahun tapi tubuh dan goyangannya sangat memabukkan dan sexy. Kau tidak tertarik? Apalagi buah kembarnya yang menantang, montok dan super besar itu."
Ben tetap pada pendiriannya dan malah semakin enggan karena merasa jijik dengan wanita yang sudah di jamah oleh temannya dan menyuruhnya tidur lagi dengan wanita itu? Oh tidak!
"Tidak Jim, dan kau sadarlah, cucumu saja sebentar lagi akan lahir dan kau masih bermain dengan wanita-wanita seperti itu." Ben sudah kesal mendengar ocehan temannya.
"Ah.. istriku tidak bisa lagi membuatku puas, seperti bermain dengan bongkahan kayu Ben! Makanya aku mencari kepuasan di tempat lain." Ben yang mendengarnya hanya mendengus kesal. Jika istrinya masih ada, mau seperti apapun dia, Ben akan bersyukur dan membahagiakannya.
"Tidak Jim, pokoknya tidak!" Tegas Ben lagi dan akhirnya Ben malah terjun ke laut untuk memantau jaringnya dibawah sana. Tak berapa lama dia sudah mendapatkan banyak cumi-cumi dan 2 ekor ikan besar. Ditariknya jaring itu keatas dan memisahkan semua jenis makhluk laut ke ember masing-masing untuk makan malamnya nanti. Ben segera membentangkan lagi jaringnya dan kembali turun ke laut untuk memasang kembali jaring itu. Malam hari akan lebih banyak ikan yang masuk ke jaring, Ben sangat rajin mencari ikan untuk dirinya sendiri jika ada waktu luang, dari pada ke bar dan mencari wanita seperti rekannya yang lain. Memang hidup di tengah laut menjadikan wanita adalah sosok yang langka dan pria biasanya sangat merindukan dekapan seorang wanita. Ben yang lebih memilih rajin bekerja, selalu menjual hasil tangkapannya sendiri dan hasilnya dia berikan ke anak-anak dekat dermaga yang kurang mampu untuk tambahan biaya sekolah mereka.
"Aku titip ini untuk dijual dan belikan beras, sayur dan susu. Sisanya kau berikan ke bocah perempuan bernama Sinta didekat dermaga." Ben memberikan jaring berisikan abalone yang sangat banyak pada Jim. hasil dari tangkapannya kemarin di dekat pantai sewaktu berkunjung ke pulau dekat jermalnya.
"Kau selalu saja, pikirkan dirimu sendiri."
"Aku kasihan dengan kakaknya, gadis pintar dan dapat beasiswa tetapi harus hidup di kota J sendirian dengan biaya yang tidak sedikit. Sementara orang tuanya hanya nelayan kecil." Ben mengingat wajah gadis muda itu yang manis dan sangat pintar namun sayang terbentur biaya kuliah. Syukur gadis itu mendapatkan beasiswa meskipun harus hidup di kota J yang terkenal dengan biaya hidup yang mahal.
"Kota J, sesekali ingin kesana, padahal lumayan dekat dengan sini tapi kenapa perbedaan biaya hidupnya sangat jauh." Keluh Jim dan kemudian sudah naik ke kapalnya menuju darat. Sesuai permintaan Ben, dia sudah menjual abalone yang cukup mahal itu, mendapatkan hasil 2,3juta dan membelikan kebutuhan Ben yang dia minta, tentu dengan alat cukur juga karena mengingat janggut Ben yang sudah memenuhi seluruh wajahnya. Setelah itu dia menemui bocah bernama Sinta untuk memberikannya uang.
"Ben" Panggil Jim yang sudah kembali dan tidak melihat Ben dimanapun. Tak lama Ben sudah keluar dari dalam air dengan jaring penuh ikan tadi malam.
"Kau sangat rajin Ben, ini pesananmu dan sudah ada alat cukur untuk membersihkan rambut di seluruh wajahmu itu." Ben mengambil barang pesanannya dan tersenyum karena sudah sangat lama dia ingin makan sayuran. Sementara sayuran yang dia tanam malah mati minggu lalu karena salah satu temannya salah menyiramkan air asin.
"Ah iya, ibu dari bocah bernama Sinta ingin bertemu denganmu untuk makan malam besok. Karena anak gadisnya siapa namanya? ah lupa, dia akan berangkat ke kota J lusa, agar dapat berterima kasih. Sudah aku iya kan, jadi jangan ada alasan kau menolak." Ben hanya mendengus kesal, tetapi apa boleh buat, dia juga ingin bertemu gadis itu untuk memberinya selamat.
Besok malamnya Ben benar telah berada di dermaga dan sudah ditunggu oleh Sinta yang tersenyum bahagia melihat Ben datang. Mereka berjalan bersama menuju rumahnya. Ben sudah rapi dengan janggut yang sudah dicukur meskipun tidak semuanya dan masih menyisakan bayak rambut di wjahnya dan juga memakai pakaian bersih.
"Ben, terima kasih atas bantuanmu. Kirei akan ke kota J untuk melanjutkan kuliahnya." Ibunya Sinta berterima kasih dan mempersilakan Ben untuk duduk dan makan malam dengan mereka.
"Tapi kenapa Kirei dan Sinta sama sekali tidak mirip ya?" Gumam Ben tetapi masih bisa didengar olehnya. "Maaf aku tidak bermaksud."
"tidak apa.." Ayah Sinta yang menjawab.
"Kirei anak suamiku dari almarhum istrinya yang asli orang jepang, dia meninggal saat Kirei umur 10 tahun dan baru menikah denganku 2 tahun setelahnya." Jelas Ibu Sinta dan Ben akhirnya paham.
Kirei, sesuai namanya. Gadis 19 tahun yang baru akan kuliah itu memang sesuai dengan namanya Kirei yang artinya cantik. Kirei dengan tinggi 165cm dan tubuh porposional, kulit putih mulus padahal sering berada di tepi laut untuk mencari kerang tetapi seakan sinar matahari tak bisa menyentuh kulitnya yang tetap putih, wajah seperti artis jepang cantik, imut, dengan mata bulat dan berbinar. Dia gadis baik dan pintar, juga pekerja keras, itulah yang membuat Ben sangat menyukai gadis ini, seperti seorang ayah yang ingin menjaga putrinya.
Ben akhirnya pamit begitu makan malam selesai dan memberikan beberapa pesan untuk Kirei yang akan hidup di kota besar yang penuh tipu daya, Kirei gadis cantik dan polos, Ben takut jika gadis itu akan tertipu pria dan pergaulan bebas diluar sana.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Bin, cafe baru di mall XXX sudah rampung?" Tanya Arlen pada Bintang yang masih sibuk dengan laptopnya untuk membantu membersihkan nama Hanny dan membuat Irene terpuruk.
"Sudah Len, pembukaannya besok siang sesuai rencana. Tapi untuk restoran seafood masih kendala pasokan bahan segar, masih belum menemukan yang cocok." Arlen memberikan beberapa penjual ikan yang belum bisa memberikan apa yang Arlen inginkan.
__ADS_1
"Kalau begitu restoran itu pending dulu, kita akan cari pelan-pelan saja karena seafood itu harus terjamin kesegarannya."
"Kalau untuk udang, cumi dan ikan air tawar sudah ada, tapi untuk ikan laut masih susah dicari."
"Baiklah, kita fokus ke cafe di mall dan di kampus saja. Karena buka dalam 2 hari ini."
Bintang dan Arlen mulai kembali serius pada pekerjaan masing-masing, Bintang yang masih sibuk dengan permintaan Arden sudah menyelesaikan misinya dan kini tinggal menunggu hasil akhir dari kekuatan jarinya.
\= = = = = = = = = =
"Kau sudah gila Irene, kau membuat masalah dengan orang yang salah." Ujar manager Irene yang saat ini sedang menunggu keputusan pemimpin agency di ruangan meeting bersama Irene yang sudah terduduk tak berdaya disebelahnya.
"Aku tau kau membencinya tapi kali ini kau salah, dia bukan Hanny yang dulu bisa kau remehkan. Dia nyonya muda Tenggara dan jangan main-main dengan mereka Irene."
Irene hanya terdiam, memang benar dia telah salah langkah tapi iri dan dengki dihatinya tetap saja membuatnya sangat ingin membuat Hanny menderita. Dia tidak akan membuat Hanny bahagia, tidak dulu ataupun nanti.
\=Flashback=
"Han, selamat ya... masih kokoh di juara umum."
"Hanny.. darling, sudah cantik, baik, pintar, jadi maukah kau jadi istriku kelak?"
"Hanny... selamat ya selalu yang terbaik."
"Han.. nanti kita pergi yuk. Merayakan hari bahagia ini. Kita semua kan nilainya naik dan sudah seharusnya pergi bersenang-senang."
Begitulah yang selalu didengar Arini jika bersama dengan Hanny di kelas, kantin, lorong sekolah, dimanapun jika ada Hanny. Sudah pasti Arini kesal bukan main, karena nilai teman-temannya naik dan nilainya saja yang turun bahkan anjlok di peringkat 36 dari 40 siswa/i dikelas. Sudah pasti kalimat sanjungan ke Hanny merupakan kalimat menyakitkan baginya. Hanny selalu tersenyum dan dikelilingi orang-orang yang sayang padanya, sedangkan Arini bagai bayangan di sampingnya tidak ada yang melihatnya.
"Yahh sayang sekali, acara kita malah tidak ada primadonanya." Ujar salah satu dari mereka membuat Hanny meminta maaf tidak bisa hadir. Dia dan Arini sudah janji untuk pergi bersama neneknya Arini untuk ke pesta pernikahan saudara dari neneknya.
"Han, tidak apa-apa aku pakai baju seperti ini?" Tanya Arini yang sudah berada di mobil dengan mengenakan gaun selutut milik Hanny.
"Kau cantik Rin, jadi tenang saja. Kau akan jadi pusat perhatian. Jika selama ini kau dikucilkan oleh sepupumu, tapi tidak hari ini." Hanny menenangkannya dan memberikan kekuatan agar Arini lebih percaya diri. Arini tersenyum dan mengira dia akan menjadi pusat perhatian di pesta saudaranya nanti. Tapi itu hanyalah harapan, salahnya mengajak Hanny ke acara tersebut. Begitu mereka masuk ke aula, banyak pandangan mata tertuju pada mereka tetapi semua berdecak kagum melihat Hanny, sosok gadis belia cantik disebelah Arini yang juga tampil cantik. Tapi semua sia-sia kala disamping Hanny, secantik apapaun dia berdandan hanya akan menjadi lilin kecil disamping cahaya matahari yang menyinari dunia. Arini berasal dari keluarga tidak mampu karena hanya mengandalkan neneknya yang berjualan nasi uduk dipagi hari dan membuka kedai jajanan dirumah.
Hanny bahkan hanya menggunakan dress simple dan tidak menggunakan makeup, hanya lipstick berwarna pink nude agar tidak pucat, tapi itu saja sudah memancarkan kecantikannya. Arini yang kesal pun pergi meninggalkannya yang sudah dikelilingi laki-laki dan perempuan dari keluarga dan kerabat jauhnya, Arini memilih duduk di pojok aula sambil melihat dengan mata sedihnya ke arah Hanny yang masih tersenyum sopan ke orang-orang yang ingin berkenalan dengannya.
Dari sinilah mulai tumbuh makin dalam rasa iri dihati Arini, apalagi laki-laki yang disukainya juga menyukai Hanny, kak Tyo ketua osis bahkan terang-terangan mendekati Hanny meskipun sudah ditolak berkali-kali tapi tetap mengejarnya. Arini pun menyerah pada Tyo, dia akan melupakannya. Beberapa bulan kemudian, Arini telah berpacaran dengan Bobby yang sebenarnya mendekati Arini hanya untuk membuka kesempatan lebih dekat dengan Hanny, tetapi Arini tidak mengetahui rencana Bobby dan telah jatuh cinta padanya.
Masalah pertama Arini pun muncul, dengan keadaan neneknya yang sakit dan tidak bisa berjualan lagi. Hampir putus sekolah di kelas awal kelas 2 SMA membuat Hanny begitu sedih dan akhirnya membantu Arini melunasi semua biaya sekolahnya karena papi Alex mendapatkan penghasilan yang lumayan banyak meskipun belum termasuk kaya. Arini semakin iri dengan kehidupan Hanny yang berjalan lancar. Sampai suatu hari Arini rela menjual keperawananya pada salah satu gurunya yang memang terkenal hidung belang agar mendapatkan biaya untuk karya wisata sekolah. Padahal Hanny ingin membantunya tetapi ditolak oleh Arini dengan alasan ada pekerjaan sampingan dan telah mendapatkan upah. Hanny percaya saja karena memang akhir-akhir ini Arini sangat sibuk.
Menjual dirinya telah menjadi rutinitas Arini sudah 3 bulan ini, pertengahan semester dia lalui dengan baik, biaya sekolah sudah ada, biaya sehari-hari juga sudah terpenuhi dengan baik. Banyak om-om hidung belang yang suka dengannya karena termasuk cantik dengan wajah blasteran dan tubuh montok dan indah diusianya yang masih belia sehingga tak jarang dia diberikan bonus yang banyak.
Suatu hari, Bobby pacarnya meminta putus dan terjadi pertengkaran hebat. Akhirnya mereka putus dengan tidak baik-baik. Baru putus 1 hari Bobby sudah menyatakan cinta pada Hanny disaksikan seluruh sekolah di lapangan. Membuat hati Arini begitu sakit dan iri hatinya berubah menjadi kebencian yang mendalam. Dia bertekad akan menjatuhkan Hanny dengan cara apapun. Mulai dengan memotong rambutnya yang panjang hampir sepinggang sama dengan Hanny menjadi rambut pendek sebahu terlihat jadi lebih fresh lalu mengubah sikapnya menjadi lebih ramah dan murah senyum, menjauhi Hanny, hingga memfitnah Hanny dengan cerita-cerita kalau dia hanya diperlakukan seperti budak oleh Hanny yang berkelakuan seperti putri. Tapi itu dirahasian oleh teman-teman karena permintaan Arini agar tidak membuat masalah.
"Langkah pertama adalah Tyo, aku akan mendapatkanmu." Ujar Arini lalu masuk ke ruang osis dimana Tyo sering menghabiskan waktu sepulang sekolah. Setelah memasang on video kameranya di sudut ruangan, dan berdandan mirip dengan Hanny dengan rambut palsunya. Rambut palsu yang dia curly sedikit dengan warna yang sama dengan rambut Hanny. Arini berjalan masuk dan menggoda Tyo dengan memberikan ciuman tiba-tiba pada Tyo yang masih duduk di kursinya. Mendapatkan perlakuan itu tentu membuat hasratnya naik, apalagi remaja itu sedang dalam masa penasaran dengan hal yang dinamakan ***. Semua terjadi begitu saja tanpa Tyo sadari semua telah terekam.
Selanjutnya, Arini juga menggoda Radian yang memang sudah sangat suka dengan Hanny sejak pertama kali melihatnya namun sudah ditolak oleh Hanny ratusan kali. Arini menggoda Radian dan tentu saja dia mau karena memang terkenal playboy dan suka bermain wanita. Semua Arini lakukan dengan kamera terpasang di sudut ruangan. Sudah berpuluh siswa yang telah melakukannya dengan Arini, dari yang hanya ciuman, bercumbu mesra sampai melakukan ***. Hanya sekali Arini melakukan dengan para siswa itu, jika mau yang kedua kali atau berlanjut tentu harus bayar. Semua dilakukannya dengan dandanan seperti Hanny.
Lalu tak lama foto dan video mirip Hanny pun muncul dan menjadi heboh di sekolah. Gadis teladan cantik, pintar dan baik pun menjadi tercemar. Arini sangat senang apalagi sudah mengancam beberapa siswa untuk bungkam karena video asli masih tersimpan. Beberapa malah ikut membuly Hanny karena arahan dari Arini. Semua berjalan dengan baik sesuai rencananya. Hanny depresi dan tidak masuk sekolah, tetapi hanya beberapa hari semua terselesaikan. Arini sempat bingung karena ada beberapa orang yang datang menemuinya dan tau hal yang menimpa Hanny adalah ulahnya. Setelah ketahuan Arini pun menghilang, dia melarikan diri.
__ADS_1
Dengan uang yang terkumpul lumayan banyak dia bertekad akan pergi jauh untuk sementara, dari kepergiannya itulah dia bertemu dengan Misye yang menjadi ibu angkatnya. Misye yang hampir menabraknya malah menolong Arini karena merasa putrinya yang telah meninggal sudah kembali, Misye sedikit depresi akibat putrinya yang meninggal beberapa bulan lalu, dan menjadikan Arini sebagai putrinya Irene. Melihat Misye merupakan wanita setengah baya yang kaya dan hidup sendirian membuat Arini menjadi serakah dan akan menggantikan Irene di sisi Misye. Setelah mendapatkan semuanya dia membuat seolah-olah Misye meninggal karena kecelakaan padahal dialah yang mendorong Misye sehingga tertabrak mobil yang melaju kencang.
Setelah memindahkan seluruh uang Misye, dia pergi begitu saja. Misye memang tidak memiliki banyak aset tetapi semua berupa dana cash di rekeningnya. Irene pergi keluar negri untuk melakukan operasi plastik dan operasi keperawanan agar menutupi jati dirinya yang sebenarnya. Setelah itu dia kembali dan menjadi Irene si Model, kemudian berlanjut sampai sekarang.
\=Flashback end=
"Maaf Irene, kami tidak bisa membantumu. Kami terpaksa mengorbankanmu kali ini demi perusahaan. Semua telah memboikotmu karena takut bermasalah dengan Tenggara. Kami harap kau paham akan situasinya." Pimpinan Aagency itu memberikan sebuah surat dihadapan Irene yang tengah tertunduk.
"Tanda tangani ini dan seluruh kontrak telah batal, perihal pinalti dan sebagainya kami tidak akan menuntut apapun. Kamu akan mendapat bayaran yang sesuai dengan hasil kerjamu sampai hari ini saja." Irene menatap dan meremas surat itu kuat, tapi akhirnya dia menandatanganinya dan keluar dari ruangan itu tanpa satu patah katapun. Yang ada didalam hatinya hanya ingin menghancurkan Hanny. Sekarang dia tak punya apa-apa lagi dan akan melakukan apapun untuk membuat Hanny menderita. Tentu saja harta Irene masih banyak, asetnya masih utuh dan itulah yang akan dia gunakan untuk mencelakakan Hanny.
\~\~\~\~\~\~\~
Hanny masih betah bergulung didalam selimutnya, tubuhnya masih polos karena tadi baru bertempur 2 ronde dengan suaminya. Kehamilannya kali ini membuatnya lebih bergairah dari sebelumnya. Arden tentu senang karena istrinya semakin liar di ranjang dan tidak segan lagi meminta duluan bahkan bisa tiba-tiba sudah bermain dengan si Jumbo waktu dia bangun pagi.
"Sayang... masih mau tidur atau ikut pergi?" Arden menarik selimut Hanny dengan jahil untuk membuatnya terbangun.
"Ahhh kak.. mau kemana?" Jawab Hanny dengan mata masih terpejam dan menarik kembali selimutnya.
"Kami mau ke cafenya Arlen di mall, mau makan eskrim sama anak-anak dan Arka." Jawab Arden yang sudah berada di samping Hanny untuk mengganggu tidurnya.
"Ikuuuutttt... " Ucapnya manja. "Tapi maunya di mandikan sama kakak."
"Baiklah, istriku yang manja." Arden menarik tubuh Hanny pelan agar naik dari ranjang lalu membopongnya menuju kamar mandi. Setelah mandi mereka ke kamar dan membawa AnsTwins untuk segera pergi ke cafe Arlen yang diberi nama Ans cafe. Karena dia membuka cafe ini agar keponakannya bisa makan eskrim sepuasnya karena eskrimnya benar-benar sehat terbuat dari buah dan susu dengan gula murni tanpa pengawet dan perasa buatan. Khusus untuk keponakan yang sangat menyukai eskrim.
"Pak, nanti berhenti sebentar di depan sekolahan disana ya." Ujar Hanny pada supirnya.
"Untuk apa mommy?" Tanya Arden heran.
"Mau beli bakso bakar."
"Ha?? jangan jajan sembarangan."
"Sekali saja, ya ya?" Mohon Hanny sudah mengeluarkan jurus manjanya dan Arden pun nyerah.
"Baik, kali ini saja."
"Thankyou sayangku..."
Hanny akan segera turun untuk membeli bakso bakarnya, tetapi karena harus menyebrang maka Arden pun ikut untuk menjaga istrinya yang sudah hamil besar. Setelah membeli 20 tusuk bakso bakar rasa manis pedas mereka menyebrang untuk kembali ke mobil. Tapi sebelum sampai sudah ada pengendara motor yang melaju kencang ke arah Hanny dan Arden. Sontak membuat 2 pengawal mereka yang sudah melihatnya dari jauh segera berlari dan menarik Hanny untuk menjauh dari jalan raya. Arden pun terkejut dan malah dia yang jatuh hampir tertabrak motor tadi.
"Kakak!" Teriak Hanny yang sudah berada di dekat mobil melihat Arden terjatuh dan sedang ditolong oleh pengawalnya. Arden segera berlari ke arah Hanny yang masih ketakutan menggenggam lengan jas pengawal yang menariknya tadi.
"maaf tuan, kami terpaksa menarik nyonya muda duluan." Pengawal itu merasa bersalah melihat Arden lah yang malah hampir celaka.
"Tidak apa-apa, bagus, istriku harus diutamakan." Jawab Arden dan sudah merangkul Hanny yang masih ketakutan.
"Tidak apa-apa hanya jatuh dan tidak ada luka. Tenang ya... ayo kita masuk." Arden membawa Hanny kembali masuk ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Untung saja pengawal tadi sangat cepat, kalau tidak mereka tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Hanny dan anak dalam kandungannya.
Dilain tempat, Irene kesal karena rencananya gagal lagi karena para pengawal sialan, ya Irene lah dalangnya. Dia berencana mencelakakan Hanny agar bayinya mati dan Hanny akan menjadi terpuruk lagi, jika keberuntungan dipihaknya maka Hanny juga akan ikut mati. Begitu pikirnya.
__ADS_1
TBC ~