
Hanny masih tak sadarkan diri didalam kamar VVIP RS milik 'Blake' dan sedang diperiksa oleh dokter kepercayaan Arden disana.
"Tidak ada yang serius, hanya kelelahan dan syok, akan aku suntikkan vitamin saja." Jelas dokter itu dan melanjutkan tugasnya. Arden yang panik bernapas lega meskipun masih belum mengetahui apa yang terjadi.
"Vin, periksa semuanya dan usut tuntas." Titah Arden.
"Sedang dikerjakan oleh Jupi bos." Jawab Vino segera.
"Kenapa ini tak pernah kita temukan selama ini Vin?"
"Pada saat nona Hanny SMA kelas 2, kita belum mengikutinya bos. Menjelang hampir lulus SMA baru kita pantau." Jelas Vino yang memang disaat itu Arden masih belum dapat semua akses ke anggota 'Blake' sehingga pergerakannya masih terbatas. Hanya mempercayakan pada Oma Susi untuk menjaga Hanny.
"Ck.. pokoknya siapapun dalang dari semua ini akan aku habisi, untung anakku tidak apa-apa." Ujar Arden sambil membelai lembut wajah Hanny yang tertidur, terlihat raut wajahnya begitu pucat dan diliputi kesedihan mendalam.
Selang satu jam, Jupi, Arka dan Siti datang bersamaan. tentu saja Siti dengan tampilan aslinya Eve. Mereka duduk di ruang tamu yang tersedia di kamar itu sedikit jauh dari tempat tidur Hanny.
"Begini bos.." Jupri mulai menjelaskan.
Saat Hanny SMA dia adalah gadis tercantik di seluruh sekolah itu dan setiap siswa pasti menyukainya bahkan guru sekalipun. Tetapi begitulah Hanny yang sangat cuek terhadap yang namanya laki-laki. Banyak juga siswi yang sangat tidak suka padanya karena iri, Hanny gadis cantik, pintar, ramah, teladan di sekolah. Bahkan sampai pernah di labrak oleh istri salah satu guru disana yang menuduhnya menjadi pelakor kala itu, tapi semua tidak terbukti.
Sampai pada akhir semester kelas 2 terjadilah hal menghebohkan, foto-foto itu muncul dan membuat nama Hanny begitu buruk, semua orang mencemooh Hanny dan menganggapnya wanita murahan dan bisa dibayar. Beberapa siswa disana juga tak segan memberi Hanny uang dengan melemparkannya ke arah Hanny agar dapat melayani mereka. Tentu Hanny tidak terima dan namanya semakin hancur saat video keluar.
"Nah saat video itu keluar bos nona Han.."
"BOS!!!" Teriak Vino saat itu juga membuat Jupi terhenti.
"Ini bos...video." Vino memberikan ponselnya sendiri karena ponsel tadi sudah hancur di lempar Hanny.
"Bangsat!!" Arden melempar ponsel itu tapi segera di cegah oleh Vino.
"Sabar bos, ponselnya tak seberapa tapi datanya penting."
Video Hanny yang dimaksud Jupi sudah tersebar, 2 video berdurasi cuma puluhan detik itu terlihat sangat vulgar. Si wanita diatas si laki-laki dan menghentakan dirinya naik turun masih dengan seragam yang setengah terbuka. Video kedua si wanita di hajar dari belakang.
"Memang mirip nona Hanny bos..." Ujar Vino yang langsung ditatap tajam oleh Arden. Arden melihat dengan seksama berkali-kali, "Dia bukan Hanny.." Ujar Arden yakin.
"Tentu bos.. kan bos yang perawanin beberapa bulan lalu." Timpal Vino yang berakhir mendapat timpukan tissue beserta tempatnya yang ada di meja itu. Vino hanya nyengir tanpa rasa bersalah.
"Lanjut Jupi..." Arka bersuara.
"Terus... video itu muncul kan..." Sambung Jupi lagi.
Setelah beredar video mirip Hanny, 1 sekolah semakin heboh dan akhirnya Hanny dipanggil oleh kepala sekolah untuk di interogasi dan tentu saja Hanny membantah semuanya. Hingga Alex dipanggil untuk menyelesaikan masalah ini. Masalah terselesaikan begitu saja dalam waktu 2 hari kala itu, tetapi Hanny terlanjur syok dan hampir 1 bulan tidak masuk sekolah. Hanny terapi ke psikiater dan menenangkan dirinya. Disekolah sudah tidak ada lagi yang membicarakan masalah Hanny begitupun foto dan video seakan tak pernah ada, hanya menyisakan goresan luka dan trauma pada Hanny. Sewaktu Hanny masuk sekolah, semua sudah berjalan normal seperti biasa seakan hal itu tak pernah terjadi.
"Gitu bos ceritanya dan sampai sekarang tidak ada yang tau kenapa hilang begitu saja semua foto dan video pada saat itu." Selesai menjelaskan Jupi segera minum minuman yang diberikan oleh Eve.
"Yang tau cerita pastinya hanya Tuan Alex dan Hanny." Ucap Eve, "Tidak, yang tau hanya Tuan Alex." Timpal Arka.
"Benar, karena Hanny tidak mungkin tau, mengatasi traumanya saja sudah sulit baginya." Arden menambahkan, sungguh gadis kecilnya ternyata pernah mengalami hal semacam ini. Rasa bersalah meliputi hatinya sekarang mengingat dia pernah menyakiti Hanny dimalam itu dimana kesucian Hanny diambil olehnya.
"Hari semakin sore Ar, mau bilang apa ke keluarga Salim?" Tanya Eve yang mencemaskan cercaan Alfonso nantinya.
"kau telepon saja mereka bilang Hanny dibawa kerumah sakit karna kecelakanaan di kantor tapi tidak serius, syok saja dan Arka penyebabnya biar kita bisa disini." Jelas Arden dan Eve pun mengerti. Selah berbicara pada Alfonso dan meyakinkan kalau Hanny baik-baik saja mereka pun membahas rencana tentang mencari dalang dibalik ini dan dari mana mereka dapat foto itu.
Tak lama Arden berlari ke arah ranjang Hanny karena mendengar isak tanginya. "Sayang... " Panggil Arden mendekat ke Hanny dan ingin memeluknya tetapi Hanny menolak.
"Jangan sentuh aku, pergi!" Hardiknya membuat Arden tak berani mendekat.
"Aku memang kotor, wanita ******, bahkan punya selingkuhan dan mengandung anak bukan dari suamiku." gumam Hanny terdengar sangat sedih sambil menangis, membuat hati Arden sangat sakit mendengarnya, dia merasa bersalah.
__ADS_1
"Sudah... kau tidak salah sayang, akulah yang salah." Akhirnya Arden tetap memeluknya meskipun Hanny menolak.
"Tenang ya... jangan nangis. Kau wanita baik, cantik, pintar dan bersih. Bukan wanita kotor, kau wanita yang paling aku cintai." Ucap Arden menenangkan Hanny.
"Apa kau membenciku?" Arden melepaskan pelukannya dan memandang Hanny dan dijawab dengan menggelengkan kepalanya. "Ya sudah.. jangan nangis ya, nanti dedek bayi juga ikut nangis."
"kak.. lapar."
"Mau makan apa?"
"Mie ayam."
"Lagi?"
Hanny mengangguk, "Vino..." Yang dipanggil pun segera menghadap.
"ada apa bos?" Tanya Vino.
"Beli mie ayam." Perintah Arden.
"baik bos, segera."
"Jumbo.." Ucap Hanny menambahkan.
"Pangsit rebus juga 1 porsi, jangan pakai saos, sambelnya banyak." Sambungnya lagi.
"Baik nona... tapi apa nona tidak mau bos yang pergi beli? Biasanya ibu hamil suka ayah dari calon anaknya yang beli." Tanya Vino memastikan.
"Tidak! kakak tidak boleh keluar, nanti banyak yang lihat wajah tampannya. Aku tidak suka." Jawab hanny lantang sambil mengelus rahang Arden.
"huuu.... nasib yang jomblo." Vino pun melangkah pergi membelikan pesanan sang nona. Arka dan Eve yang mendengar dari luar pun hanya terawa geli melihat kelakukan bumil yang posesif.
"kakak percaya kan kalau foto itu bukan aku?" Tanya Hanny setelah selesai acara berciumannya dengan Arden.
"Tentu.. malah ada videonya tadi." Lanjut Arden dan Hanny terkejut dan matanya kembali mengalirkan cairan bening.
"Tapi itu bukan kamu.. kakak paling tau ukuranmu, goyanganmu, semua berbeda. Kan kakak juga yang merasakanmu pertama kali." Jelas Arden mebuat Hanny jengkel, bukannya membuat tenang malah membuatnya kesal dengan kata-kaa mesumnya.
"Maaf ya sayang... kakak mengambilnya secara paksa."
"Sakit sekali tau kak.. kalau kakak omongin dulu pasti Hanny rela kok kasih ke kakak." Jawab Hanny lirih, Arden terkekeh dan kembali memeluknya.
"Tapi yang kedua dan selanjutnya sudah enak kan?" Tanyanya lagi.
"Hem... sangat nikmat." Jawab Hanny.
"Dasar mesum" Arden menarik hidung Hanny gemas lalu mengecup pipinya bergantian.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Akhirnya Hanny dapat tidur lagi dengan tenang setelah makan malamnya, dokter memberikan obat penenang agar dia terlelap tanpa memikirkan apapun lagi.
Arden dan Arka sedang membahas untuk mencari orang yang bertanggungjawab atas insiden ini. Mereka sama-sama menyebutkan 1 nama yaitu Yuli yang memang terlihat sangat tidak menyukai Hanny. Akhirnya mereka sepakat untuk memberi efek kejut untuk pelaku.
Besok paginya Hanny diperintahkan untuk langsung masuk ke SM studio saja, tidak perlu ke kantor StarE lagi karena suasana belum kondusif. Seluruh karyawan kantor StarE telah menerima email teguran karena menyebar rumor dan pihak management akan mengusut dalang dari penyebaran foto dan video itu, jika ada yang mengetahui pelaku dapat segera melapor dan pelapor tentu saja akan dirahasiakan, akan diberi waktu 3 hari. Jika dalam 3 hari tidak ada yang melapor ataupun pelaku tidak ditemukan akan diberi 1x24 jam untuk pelaku segera menghadap. Jika dalam 1x24 jam tidak ada yang mengaku kasus ini akan dibawa ke ranah hukum sesuai dengan permintaan korban dengan tuntutan pencemaran nama baik dan penyebaran hoax serta pornografi.
Seluruh karyawan sangat heboh dan kembali bergunjing tentang siapa Hanny dan bagaimaan dia bisa membuat management sangat memperdulikannya. Sontak email itu membuat Yuli gemetaran, dia lemas tak bertenaga seketika. Yuli menghubungi Irene dan menceritakan semuanya, Irene menjadi sangat marah.
"Kenapa ini terjadi lagi?" Geramnya marah setelah menutup sambungan teleponnya.
__ADS_1
"Kurang ajar kau Hanny, sialan!" Irene membanting segala hal yang ada di dalam kamarnya meluapkan segala emosinya.
Irene berpikir sejenak... "Arini.. iya Arini yang dapat menolong." Ucapnya pelan dan langsung tersenyum.
Irene menghubungi Yuli lagi dan menanyakan akun dan ponsel anonim yang dipakainya yang ternyata ponsel baru itu didapat dari hadiah. Beruntungnya grup chat itu bukan grup resmi dari perusahaan tetapi karyawan yang membuat sebuah akun sosmed sebagai wadah keluh kesah, curhat, bergosip dan berteman saja sehingga siapapun karyawan dapat gabung disana bahkan yang bukan karyawan dapat ikut dalam sekali klik join. Siapa yang membuat akun tersebut juga sudah tidak diketahui karena sudah sangat lama.
Irene akan membuat seolah-olah Arini lah yang mengirimkan foto itu, dia akan membersihkan semua sidik jari yang ada pada ponsel itu seluruhnya. membuang kartu SIM dan memory yang tertinggal seperti ponsel baru, hanya ada foto dan video yang diunggah langsung dari grup jadi bukan dikirim dari ponsel lain. Hanya secarik kertas yang tertulis disana.
"Dear Hanny.. Hadiah yang aku berikan di ulang tahunmu sangat bermakna bukan? Selamat menikmati awal penderitaanmu. Dari : Arini Putri."
Begitulah isi dari surat itu, yang sudah cukup membuat Hanny merasakan tidak nyaman nantinya.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Paket diterima oleh bagian mailing room dan segera di email untuk pengambilan sampai jam 4 sore. Setelah makan siang Hanny segera keruangan mailing room untuk mengambil paketnya. Setelah ambil dia menuju ruangan Arka seperti biasa, hanya saja Hanny kesana dalam keadaan sudah kenyang karena makan siang bersama Stella dan Miss Jessica.
"Kak..." Panggil Hanny begitu pintu terbuka. Arden dan Arka menyambutnya dengan senyum mengembang, melihat bumil itu sudah ceria hari ini.
"Kak.. bantuin buka ini. Aku malas..." Ujarnya memberikan kardus kecil paketnya ke Arden dan langsung duduk disampingnya bersandar manja di lengan Arden yang berotot.
"Beli barang online?" Tanya Arden sambil berusaha membuka paket itu.
"Tidak, tadi dapat email ada paket. Ya sudah ambil saja." Ujar Hanny cuek dan masih nyaman dalam posisinya.
Aden menatap Arka curiga dan segera membuka kardus itu. Setelah membukanya didalam terdapat sebuah kertas kecil bertuliskan, "Dear Hanny.. Hadiah yang aku berikan di ulang tahunmu sangat bermakna bukan? Selamat menikmati awal penderitaanmu. Dari : Arini Putri." Baca Arden yang terdengar oleh Hanny yang langsung terlonjak kaget.
Wajah Hanny memucat mendengar nama itu. "Arini.. Putri..." Ucapnya lirih.
"Siapa Arini Putri?" Tanya Arden memandang wajah Hanny yang terlihat cemas.
"Arini temanku di SMA dulu kak... tapi dia hilang. Dulu aku sempat tidak masuk sekolah 1 bulan dan waktu masuk dia sudah hilang. Kabar terakhir dari teman lainnya bilang kalau dia bunuh diri." Hanny menjelaskan, Arden dan Arka saling memandang seperti berbicara lewat mata mereka.
Arden membuka ponsel didalamnya dan isi ponsel itu hanya foto dan video yang mirip Hanny, bulan hanya 3 foto tapi banyak foto lainnya, foto Hanny bersama Arini yang masih bersekolah sampai foto menjijikkan mirip Hanny yang sangat banyak serta video juga berdurasi pendek tetapi sangat banyak dari berbagai posisi gaya, 1 siswi aja tetapi siswa di sana berbeda-beda.
Hanny sudah tidak mau melihat isi ponsel itu dan memilih diam saja menjauh dari Arden yang masih melihatnya.
"Kak.. stop!! Jangan nonton lagi.." Bentak Hanny galak. Oh.. Hanny cemburu karena itu wanita lain dan tidak mau Arden melihatnya. Arden mengerti dan tersenyum tipis, "Baiklah... biar Arka saja yang lihat yaa..." Arden melempar ponsel itu ke arah Arka dan berhasil menangkapnya.
"UUhhh bumilku sedang cemburu." Arden mendekati Hanny dan mencubit pipinya lalu mengecup bibir Hanny yang mengerucut lucu, kemudian gemas dan menggigit pipi Hanny sampai berbekas merah.
"Aaaahhh kok digigit sih... hiks.." Tangis Hanny pecah, geram karena digigit oleh Arden.
"Kakak ini jelmaan golden ya? iihhh kan, bentar lagi mau kerja." Rengeknya kesal tetapi Arden malah tertawa bahagia melihat bumilnya sangat lucu. Arka pun menghela napas panjang... "nasib punya istri tapi rasa jomblo." Batinnya.
"Udah Kaaa... jangan iri, kamu juga ketemu Eve langsung nyosor tanpa pandang bulu." Ujar Arden dan Arka terkekeh geli karena memang benar, Eve sangat liar dan tidak takut dengan apapun.
"Masa sih kak? Kak Arka sangat kalem loh." Tanya Hanny tak percaya.
"Huh.. kalem, bahkan mereka bernah bercinta disana dan aku duduk disini." Jawab Arden sambil menunjuk kursi kerja Arka di ujung sana.
"Wow.. Siti sangat berani." Hanny terkesima mendengarnya.
"Trus kakak disini saja?"
"Iya pura-pura tidur."
"Hooo... ya sudah nanti kita balas." Ucap Hanny asal dan tersadar langsung menutup mulutnya. Arden tak tinggal diam dan langsung menerkam Hanny, hanya bercanda dan membuat mereka tertawa.
"Iya nanti akan kita coba.." Bisik Arden di telinga Hanny yang sontak membuatnya malu.
__ADS_1
TBC~