Menjaga Cinta

Menjaga Cinta
BAB 65 - Special Arlen (Kumpul Keluarga)


__ADS_3

Masih di jermal Jim, mereka duduk seperti tadi sambil menikmati makan malam yang sudah tengah malam. Telah tersedia nasi yang baru matang, ikan bakar dan cumi. Ben sedang menyuapi Cecil, hal yang sangat ingin dia lakukan selama ini dan Cecil juga melakukan hal yang sama. Arden dan Arlen melihat ke dua orangtuanya dan tersenyum bahagia, perasaan lega yang sangat membuat senyuman tidak bisa lepas dari bibir mereka. Arlen juga sejak tadi memisahkan ikan dari tulangnya untuk Kirei yang sedang menikmati makanannya.


"Ah.. aku rindu istriku." Desah Arden melihat pasangan yang sangat mesra disana.


"Heh.. kalian bisa tidak, menghargai kami yang tidak punya pasangan disini!?" Hardik Jim kesal melihat kelakuan Ben dan Arlen. Yang di bicarakan malah tidak menjawab dan masih saja terlihat mesra.


"Dasar ayah dan anak sama saja." Keluh Jim dan  membuat mereka semua tertawa. Setelah makan malam yang bahagia, Ben membawa Cecil kedalam untuk istirahat, sedangkan yang lain harus cari sendiri sudut nyaman diruangan itu untuk tidur.


"Arden dan Arlen memutuskan untuk tidak tidur dulu dan masih berbincang dengan Jim yang sejak tadi terus bertanya tentang Ben yang hampir mati saat itu. Arden menceritakan sedikit tentang kisah keluarga mereka yang membuat Jim terkejut tak percaya.


"Jadi kalian adalah keluarga Tenggara yang sangat kaya dan berkuasa itu?!" Pekik Jim tak percaya dengan pendengarannya. Kemudian Ben keluar dan bergabung dengan mereka.


"Dan kau!" Jim menunjuk ke Ben yang sudah duduk di depannya, disamping putra kesayangannya Arlen.


"Kau... Blake mafia itu..." Lirih Jim yang masih tak percaya.


"Sudahlah itu masalalu." Ujar Ben dan merangkul Arlen, dia sangat merindukan putra kembarnya tetapi dari tadi Cecil tidak mau lepas darinya.


"Bunda sudah tidur yah?" Tanya Arden.


"Iya, kalau tidak bagaimana ayah bisa disini, bundamu tidak akan melepaskan ayah." Kekeh Ben melihat kelakuan Cecil sejak tadi.


"Hah.. kalian punya menantu yang luar biasa." Ujar Arden lagi membuat Ben heran dan bingung.


"Iya.. bunda baru ditemukan setahun belakangan ini dan Hanny lah yang pertama kali menemukan bunda yang sedang menculik Anson karena mengira Anson adalah Arden. Lalu Kirei bersama ayah disini sekian lama tapi kami tidak tau." Jelas Arlen.


"Menculik?" Tanya Ben, kemudian Arden menceritakan seluruh kejadian dari awal hingga akhir, begitu juga dengan pertemuan mereka dengan Arlen.


"Kau sudah sangat menderita nak.." Ben memeluk Arlen dengan airmata yang sudah jatuh, Arlen menenangkan Ben, semuanya telah baik-baik saja.


"Dan kau sungguh putra yang hebat, ayah bangga kau bisa melindungi keluargamu Arden." Ben juga memeluk Arden yang sudah berpindah kesisi Ben sejak tadi.


"Ayah minta maaf, seandainya ayah tidak menjadi pengecut dan bersembunyi disini, kalian tidak akan melalui hal seberat itu." Ben sangat menyesal kenapa bisa dia menjadi pengecut dan malah sembunyi seorang diri.


"Tidak ayah, kami mengerti kondisi ayah. Dan pengkhianat itu juga sudah mati." Ujar Arden


"Sudah mati, karena apa?"


"Jeremy menembaknya." Jawab Arden.


"Jeremy... bagaimana anak nakal itu sekarang?" Ben malah mengingat Jeremy bocah yang selalu mengikutinya dulu.


"Dia baik, hebat dan semakin bar-bar." Jawab Arden dan dibalas gelak tawa oleh Ben yang mengerti artinya.


"Aku masih tak percaya Ben, kau itu orang kaya dan hebat. Bisa-bisanya terjebak disini." Ungkap Jim lagi setelah mendengar cerita mereka.


"Begitulah Jim, aku menjadi lemah dan pengecut setelah kehilangan istri dan anakku. Mereka jatuh ke jurang didepan mataku dan aku ditembak oleh teman yang sangat aku percaya setelah dia mengakui bahwa dia yang membunuh keluargaku, lalu aku dibuang ke laut." Jelas Ben yang membuat Jim ternganga.


"Kita akan pulang ayah." Ujar Arlen dan Ben menatapnya... "Iya kita akan pulang." Jawabnya.


"Tapi Jim, apa kau percaya kalau aku tidak punya sebuah rumah?" Tanya Ben pada Jim yang sudah mengunyah sotong keringnya Ben dan tentu dia tidak percaya.


"Kalau tidak ada rumah kau tinggal dimana?" Tanya Jim kesal, orang kaya tidak punya rumah.


"Aku tinggal di hotelku." Jawabnya dan Jim kembali ternganga tak percaya.


"Kaya mu itu sudah dilevel yang tidak bisa ku bayangkan." Jim tergeleng tak percaya.


"Apa.. tempat ayah masih ada di lantai atas itu?" Tanya Ben yang sudah rindu dengan tempat favoritnya.

__ADS_1


"Tentu ada, aku menempatinya. Hanya merombak sedikit. Kamar ayah tetap utuh hanya aku mengubah ruang tamu menjadi kamarku." Jelas Arden.


"Dan disana dia menculik istri orang dan hasilnya cucu kembar ayah." Tawa Arlen dan membuat Arden malu.


"Jadi kau merebut istri orang?" Tanya Ben tidak percaya.


"Bukan yah.. aku dan Hanny sudah saling mencintai sejak kami remaja tapi karena Oma Susi tidak menjaganya dengan baik sehingga dia terpaksa menikah dengan lelaki brengsek yang hanya menyiksanya dan aku hanya mengambil milikku kembali." Lalu Arden menceritakan kisah cintanya pada mereka.


"Gila... kau hebat anakku." Ucap Ben bangga. "Menjadi menantuku juga pasti akan menjadi wanita hebat dan kuat. Tapi Kirei sangat baik hati apa dia kuat ya?" Tanya Ben sedikit khawatir.


"hem.. sebenarnya Kirei juga baru mengalami hal yang hm.. dia sebanarnya baru sehat setelah di siksa oleh 3 wanita brengsek." Arlen mengakui.


"Maksudnya? disiksa?" Arlen lalu memberikan ponselnya dan memutar video penyiksaan Kirei, Ben dan Jim yang melihatnya pun menjadi kesal.


"Brengsek!! Jadi dimana 3 wanita itu?" Tanya Ben yang sudah mengeratkan kepalan tangannya.


"Mereka masih dipenjara, aku sengaja berlama-lama mengurus hal ini agar mereka semakin lama disana. Meskipun oma membujukku berkali-kali untuk melepaskan mereka." Jelas Arlen lagi.


"kenapa oma ikut campur?"


"Salah satu wanita itu ingin dia jodohkan ke Arlen." Jawab Arden.


"Tidak bisa, ayah sudah menemukan menantu ayah sendiri." Sergah Ben kesal mengingat Susi memang sedikit pemaksa.


"Tentu ayah, makanya aku segera melamarnya tadi siang." jawab Arlen dan Ben sangat bangga kepadanya.


"Lalu si Bintang dan Jupi itu siapa?" Tanya Ben lagi melihat kedekatan mereka.


"Jupi dan Bintang kakak adik, Jupi adalah asistenku untuk semua hal di dunia gelap dan bintang aku tempatkan di sisi Arlen karena dia tidak mau masuk ke bisnis Tenggara atau StarE. Ada lagi namanya Vino, dia sedang menjaga istri dan anak-anakku karena dia memang asistenku yang lebih menjadi pengawal dengan anak buahnya yang banyak dan bisa diandalkan." jelas Arden dan Ben mengangguk mengerti.


"Seperti Darren dan Joshua." Ucap Ben pelan.


"StarE?? yang untuk para artis dan pembuatan film itu?" Tanya Jim setelah mendengar pembicaraan ayah dan anak itu.


"Iya Jim.." Balas Ben, "Sekaya apa kau Ben? Tenggara saja sudah luar biasa, sekarang StarE?" Sambung Jim.


"Hehe.. aku bisa membelikanmu pulau yang disana, yang banyak abalone nya." Jawab Ben dan segera mendapatkan timpukan sotong kering dari Jim.


"Aku serius Jim. Lagi pula Tenggara itu milik anak-anakku, milikku beda lagi dan pasti lebih kaya.. hahahaha."


"Dasar sombong! Aku jadi membencimu Ben!" Hardik Jim yang kesal lalu menggigit kasar sotong keringnya. Tak terasa obrolan mereka yang panjang, matahari mulai terlihat di ufuk Timur, mereka memandang naiknya matahari dengan wajah ceria meskipun semalaman tidak istirahat. Tak lama Bintang juga sudah bangun dan keluar untuk bergabung dengan mereka. Di ikuti Jupi yang duduk disebelah Arden.


"Aku kok jadi lapar ya.." Gumam Arden, lalu di sambung Arlen setuju.


"Ayo, buka baju kalian dan ikuti ayah.. kalian bisa berenang kan?" Ben membuka bajunya lalu dilingkarkan ke lehernya dan naik ke kapal Jim. Diikuti ke-empat pemuda itu juga Jim. Mereka pergi dengan kapal untuk ke pulau terdekat yang sebenarnya cukup jauh namun indah.


Setelah sampai mereka berdecak kagum dengan keindahan pulau disana. "Ini sungguh indah." Ujar Arden .


"Benar, seandainya bunda dan Kirei ikut.. mereka pasti senang." Sambung Arlen.


"Aku akan kembali menjemput mereka Ben, kau carilah sarapan." Teriak Jim lalu berputar kembali. Ben sudah mengajari mereka cara mencari kerang laut yang besar dan abalone disana, dengan semangat mereka mulai menyusuri area tersebut.


"Kalian cari disini ayah akan kesana mencari lobster." Ben langsung masuk kembali ke dalam air dan berenang lincah. Pengalaman 10 tahun membuatnya sudah berteman dekat dengan alam disekitarnya.


Selang 40 menit Ben sudah kembali dengan membawa 2 lobster besar dan 1 ukuran lebih kecil lalu beberapa abalone ukuran besar. Semua berdecak kagum, begitupun Cecilia yang sudah sampai disana.


"Kenapa selama ini kau tidak menangkap lobster untukku Ben?" Protes Jim melihat ukuran lobster itu.


"Kau kira mudah menemukannya? Selama ini aku baru menemukan 3 dan itu juga sangat jauh kesana." Ujar Ben menunjuk arah yang berbeda dari pulau mereka, tempat yang lebih jauh dan penuh karang.

__ADS_1


"Pasti demi istri tercinta." Goda Jim.


"Tentu saja, ini untuk kalian, bagikan. Ini untukku dan istriku saja." Ben sudah memisahkan ukuran yang paling besar dan abalone besar untuk Cecil.


"Jangan begitu sayang... berikan pada mereka saja biar dimakan sama-sama." Ucap Cecil yang didengar Ben adalah sebagai perintah.


"Baiklah sayangku." Ben menurut dan kembali memeberikannya pada Jim.


"Biar Jim yang memasaknya, aku lelah." Ben lalu duduk didepan api yang sudah membara. Jim Sudah mulai memasak semua hasil laut yang mereka dapatkan, dia juga tadi sempat mengambil kompor portable dan panci untuk merebus serta beberapa botol minuman. Setelah makan Ben pergi lagi untuk mencari beberapa abalone dan jika beruntung lobster lagi untuk cucu dan putrinya didarat, tapi kali ini ditemani oleh Arden dan Jupi sebagai pembawa kantung jaring dan tim sorak.


"Ayah semakin hebat saja." Ucap Arlen yang sedang duduk ditepi pantai dengan deburan ombak sudah membasahinya. Disampingnya sudah ada Cecil dan Kirei yang bergelayut manja di sisi dan kanan bahunya.


"Iya.. dia memang hebat." Ucap Cecil yang masih menatap ke ujung lautan memperhatikan Ben yang sedang mencari abalone sambil bermain dengan Arden dan Jupi.


"Lihatlah bunda.. ayah terlihat bahagia disini."


"Itu karena ada kalian." Kirei yang menjawab.


"Benar juga."


Hampir satu jam lamanya mereka baru kembali membawa sekantong abalone, 2 lobster dan beberapa kerang besar untuk dibawa kembali ke darat.


"Ayo kita kembali, matahari semakin terik bisa berbahaya untuk kulit." Ajak Ben yang sudah memakai kembali pakaiannya yang masih sedikit basah.


Mereka akhirnya balik ke jermal dan membereskan beberapa barang Ben yang akan dibawanya, tidak banyak dan mengganti pakaiannya. Setelah pamit dengan beberapa pekerja yang sudah kembali dia naik kembali ke kapal.


"Jangan lupa rawat tanamanku, aku akan kembali dan melihatnya." Teriak Ben saat kapal mulai jalan.  Setelah 2 jam perjalanan mereka tiba di dermaga dan disana sudah terlihat Sinta yang menunggu dan lompat-lompat senang melihat kakaknya kembali.


"Hai bocah kecil, kau menunggu kakakmu?" Tanya Ben yang mengelus kepala Sinta.  Mereka berjalan ke arah rumah Kirei, Ben sudah tidak sabar untuk menemui anak perempuannya.


"Kak Arden.." Teriak Hanny yang sudah ada diluar rumah yang sejak tadi mondar-mandir menunggu suami dan keluarganya. Arden berjalan cepat dan memeluk Hanny yang sudah hampir menangis.


"Sayang.. sini, ini ayah." Ucap Arden membawa Hanny ke hadapan ayahnya.


"Halo nak, senang melihatmu. Kau sangat cantik." Ucap Ben dengan senyumnya.


"Iya ayah.. ternyata ayah memang sangat mirip dengan kak Arden." Kata Hanny yang masih menatap lekat ayah mertuannya.


"Sudah.. jangan jatuh hati pada ayah, nanti bunda cemburu." Goda Arden yang melihat Hanny masih memandang tak percaya.


"Itu tidak mungkin kak." Balas Hanny membuat Arden tersenyum.


"Ini anak kita sayang... Aileen. Ay ini ayah.." Ucap Cecil pada Aileen yang sejak tadi hanya diam berdiri dekat sana.


"Ayah.." Lirih Aileen melihat Ben yang sangat mirip dengan Arden dan mata yang sama juga dengan dirinya. Ben langsung memeluk anak perempuan yang sangat diinginkannya, dia menangis dan mencium Aileen beberapa kali di dahinya dengan rasa rindu dan sayang.


"Maafkan ayah nak.." Hanya itu yang terucap dari bibir Ben. Setelah pertemuan mengharukan itu, mereka diajak masuk oleh ayah Gunawan yang telah tau cerita keluarga ini. Dia juga tak menyangka kalau Ben adalah ayah dari bos anaknya dan calon menantunya.


"Ini cucu-cucu ayah?" Tanya Ben yang melihat Ansel dan Anson sedang duduk memakan eskrim. "Mereka sangat tampan dan ini adalah Arden dulu waktu masih kecil." Ben tertawa melihat cucunya, merangkul dan menggendong mereka berdua. Tak bisa dibayangkan rasa bahagia yang dirasakannya saat ini. Setelah menurunan AnsTwins dia ke kereta bayi disampingnya dan melihat 2 bayi mungil cantik sedang tertidur.


"Ya ampun... mereka sangat cantik. Jim lihatlah cucuku sangat menggemaskan." Teriak Ben senang memanggil Jim untuk menyombongkan diri lagi.


"Ck.. sudah lah Ben, jangan sombong lagi." Desah Jim kesal tapi sebenarnya dia juga senang melihat Ben yang akhirnya terlihat hidup.  Setelah berbincang sebentar mereka sudah berpamitan karena harus segera kembali untuk melanjutkan aktivitas yang sudah tertinggal.


"Jim.. terima kasih sudah merawatku selama ini. Aku akan tetap menggunakan nama Ben, itu pemberianmu sebagai penyelamatku. Aku akan kembali lagi untuk menjenguk dan melihat tanamanku. Jadi jangan terlalu sedih" Ucap Ben dan memeluk temannya.


"Tentu saja kau harus kembali, kota J tidak terlalu jauh, kalau kau tidak datang maka kau keterlaluan Ben." Balas Jim dengan memeluk dan menepuk punggung Ben.


TBC ~

__ADS_1


__ADS_2