Menyesal Setelah Dibuang

Menyesal Setelah Dibuang
10 Pilihan Tak Tepat


__ADS_3

“Ternyata bapak orangnya narsis juga ya”


“Bukan narsis tapi percaya diri, kalo kita saja tidak percaya pada diri kita sendiri lantas siapa yang akan percaya pada diri kita”


“Omongan bapak bikin pusing, aku mau ke kamar istirahat bapak istirahat juga ya jangan tidur malam-malam nanti malah kambuh penyakitnya”


“Iya, bapak juga mau ke kamar istirahat”


Desi dan Darto pergi ke kamarnya masing-masing.


*


Pagi hari yang cerah, Desi yang terlihat lebih segar sudah siap dengan pakaian rapi.


“Pak, Desi berangkat ya. Bapak jangan lupa makan sudah disiapkan di meja” ujar Desi


“Iya, kamu hati-hati ya. Naik ojek lagi?” tanya Darto


“Iya pak, kalo naik taksi harus jalan kaki dulu paling nanti pulangnya kalo tidak dapat ojek” jawab Desi


“Sambil lalu belajar motor biar enak kalo berangkat kerja” ujar Darto


“Iya pak, nanti aku pinjam tetangga buat belajar motor, aku berangkat ya pak, Assalamualaikum” ucap Desi


“Waalaikumsalam” ujar Darto


Desi sudah sampai di kantornya, di sana terlihat para karyawan sudah duduk menatap layar segi empat yang menyala.


“Desi!” panggil Sarah


“Hai Rah” ujar Desi


“Nanti makan siang bareng yuk” ajak Sarah


“Boleh, tapi aku belum lihat jadwal hari ini nanti aku kabari lagi ya” ucap Desi


“Siap bos, oh iya si bos sudah datang?” tanya Sarah berbisik


“Tidak tahu, aku juga baru datang” jawab Desi


“He’em” Angga sudah berdiri di belakang Desi dan Sarah


“Pa-pak Angga, selamat pagi pak” sapa Sarah


“Apa pekerjaan kalian sudah selesai sehingga asik mengobrol di sini” ucap Angga sinis


“Kami hanya bertegur sapa pak, kalo begitu saya permisi ke ruangan saya dulu, permisi pak” Sarah berlari


“Apa kamu tidak punya pekerjaan!” bentak Angga


“Ini saya mau ke ruangan saya pak, permisi” Desi masuk ke ruangannya

__ADS_1


“Kayak hantu saja tiba-tiba muncul” ucap Desi


“Siapa yang kayak hantu?” tanya Angga yang baru masuk mengikuti Desi


“Itu si bos ups” Desi menoleh dan menutup mulutnya


“Aduh gawat pakai acara keceplosan lagi Desi, Desi bodoh banget sih” gerutu Desi dalam hatinya


“Oh, jadi saya mirip hantu begitu Desi Amalia!?” bentak Angga


“Bu-bukan pak, maksud saya bos bapak saya di rumah kayak hantu” jawab Desi asal


“Cih dasar tukang bohong” ujar Angga


Desi menunjukkan deretan giginya yang putih.


“Saya tunggu di ruangan saya, dan saya mau tahu jadwal saya apa saja” Angga keluar dan masuk ke ruangannya


“Nih mulut tidak bisa dikontrol” Desi memukul mulutnya sendiri


Desi berjalan menuju ruangan Angga.


“Masuk!” ucap Angga


“Ini pak berkas-berkas untuk meeting hari ini, jadwal hari ini hanya ada pertemuan dengan PT Kharisma setelah makan siang nanti” ujar Desi


“Hem”


“Tidak usah mengomel dalam hati” ucap Angga yang melihat Desi hanya bengong


“Si-siapa yang mengomel dalam hati, saya hanya menunggu perintah bapak selanjutnya” Desi mengelak


“Dia kok bisa tahu ya, apa jangan-jangan dia memang benar bisa mendengar suara hati” Desi menerka-nerka


“Daripada kamu bengong di sini lebih baik kamu kembali bekerja, dan nanti saya akan datang sendiri” ujar Angga


“Tumben mau pergi sendiri, tapi baguslah aku tidak perlu pergi dengan dia” ucap Desi dalam hati


“Desi!” bentak Angga


Desi yang sadar langsung keluar dari ruangan Angga dan kembali ke ruangannya.


“Kalo dibentak seperti ini terus bisa-bisa jantungan aku” ucap Desi


*


“Kamu mau ke mana Resti!?” Bentak Anton


Pertengkaran terjadi hampir setiap hari, Resti selalu keluar rumah tidak pernah mengurus rumah.


“Apa sih mas, aku cuma mau keluar ketemu teman-teman arisan aku” jawab Resti

__ADS_1


“Kamu kelayapan terus, rumah tidak kamu urusi bahkan untuk makan tidak kamu siapkan. Kamu tidak becus jadi istri” ucap Anton meninggi


“Kamu bilang aku tidak becus mas!? Aku sudah cuci baju kamu, tadi sarapan sudah aku siapkan. Kamu masih mengeluh aku tidak becus” Rasti mulai terpancing


“Aku menyesal memilih kamu jadi istri aku, seharusnya yang ada di sini Desi bukan kamu” ucap Anton


Plak


Satu tamparan mendarat di pipi Anton.


“Kamu bilang apa mas!? Kamu menyesal? Aku lebih menyesal karna sudah menjadikan kamu suami aku, suami tidak bisa diandalkan bisanya cuma menuntut istri untuk menjadi yang terbaik tapi kamu sendiri tidak sadar kalo kamu bukan suami yang baik” Bentak Desi


“Lancang kamu menampar aku, aku begini karna kamu seandainya kamu tidak boros dan tidak menuruti gengsi kamu pasti kita punya simpanan, sekarang perusahaan sedang tidak stabil dan kemungkinan ada pengurangan karyawan tapi kamu tidak memahami aku” ucap Anton lirih


“Itu sudah tugas kamu mas, sorang suami tugasnya untuk mencari uang sedangkan istri hanya menunggu jatah suami, kalo tahu akan begini aku tidak sudi menikah dengan kamu” Resti pergi begitu saja meninggalkan Anton


“Resti! Mau ke mana kamu, Resti! Arggh semua ini karna kamu Resti hidup aku hancur berantakan. Seandainya aku tidak tergoda dengan dia pasti hidup aku akan baik-baik saja dengan Desi” Anton tertunduk lemas


Anton melangkahkan kakinya, ia melihat isi kamar yang masih sama tak ada yang berubah.


“Ternyata benar penyesalan selalu datang di akhir” Gumam Anton


Anton meratapi nasibnya yang tidak beruntung, ia telah membuang berlian yang selama ini menemaninya.


*


Desi yang sudah pulang, ia berjalan kaki untuk mampir ke mini market.


Brak


Desi tak sengaja menabrak seseorang di depannya.


“Maaf, saya tidak sengaja” ucap Desi


Orang itu berbalik melihat orang yang menabraknya.


“Resti” gumam Desi


“Siapa laki-laki yang bersamanya, apa jangan-jangan dia selingkuh di belakang mas Anton. Kasihan sekali mas Anton” ucap Desi dalam hatinya


“De-desi, ngapain kamu di sini?” tanya Resti gugup


“Ya mau belanja, kamu ngapain di sini? Ini siapa? Kenapa tidak sama mas Anton?” tanya Desi beruntut


“Duh kayak wartawan saja banyak tanya, kita cari tempat yang lain saja ya” ucap Resti pada laki-laki di sampingnya


Resti pun meninggalkan Desi yang masih berada di sana.


“Mungkin ini yang dimaksud karma, orang yang selingkuh akan diselingkuhi mungkin nanti Resti akan begitu, laki-laki itu akan selingkuh di belakang Resti. Duh terserah saja yang penting aku tidak mau berurusan sama mereka lagi, mending belanja” ucap Desi


Desi mengambil keranjang dan memilih-milih barang-barang yang akan dibelinya untuk keperluan di rumah. Mulai dari buah-buahan, sayuran dan bumbu-bumbu dapur yang mulai habis.

__ADS_1


“Sepertinya aku harus naik taksi karna banyak barang yang dibeli” ucap Desi


__ADS_2