
"Apapun yang berhubungan sama kamu itu harus saya ketahui karna kamu sekretaris saya kalo kamu tidak fokus sama kerjaan hanya karna mikirin privasi kamu itu siapa rugi, pasti sayalah" Angga tak mau kalah
"Tenang saja pak saya tidak akan melibatkan masalah pribadi saya dalam urusan pekerjaan, saya akan profesional" ucap Desi penuh keyakinan
"Saya tidak yakin" Angga memalingkan pandangannya menatap ke arah lain
"Terserah bapak saja" Desi meninggalkan Angga
"Eh mau ke mana? Tidak sopan banget pasti orang yang kamu kerjain tadi lebih parah dari ini atau jangan-jangan bapak kamu sendiri yang kamu kerjain" Angga menyipitkan matanya dan menatap Desi
"Bapak ngaco, mana mungkin saya nger jain bapak saya memang saya anak durhaka"
"Ya siapa tahu karna kamu kesal atau apa kamu seperti itu"
"Sudahlah pak, saya mau ke ruangan saya karna saya tidak mau bikin bapak RUGI!" Desi masuk ke ruangannya
"Dasar cewek" Angga juga masuk ke dalam ruangannya
*
Hari demi demi hari yang dilalui Anton semakin kacau, meski dirinya sudah bekerja tapi ekonominya tak kunjung pulih. Sang ibu juga tidak se sehat dulu, bahkan untuk melakukan pekerjaan rumah sering merasa kelelahan maka tak jarang Anton juga ikut mengerjakannya.
"Uhuk uhuuk sudah makan?" tanya Ratna pada Anton
"Sudah bu, aku berangkat dulu ya ibu istirahat jangan terlalu banyak aktivitas"
"Iya, kamu hati-hati ya"
Anton keluar dari rumahnya dan mengendarai motornya.
Sejauh ini usaha yang dilakukan Anton untuk mendapatkan Desi kembali tidak ada yang berhasil, meskipun ia sudah meminta bantuan pada Burhan dan Dewi. Tapi hati Desi seperti sudah terkunci untuk kembali pada Anton lagi.
Anton masih tak menyerah, ia yakin jika dirinya bisa kembali dengan Desi semuanya akan kembali baik-baik saja. Anton juga membutuhkan sosok Desi karna ibunya sudah mulai sakit-sakitan.
"Aku mampir ke rumah Desi saja, siapa tahu dia mau berangkat bareng. Masih jam setengah 7 juga" Anton melajukan motornya ke arah rumah Desi
Sesampainya di rumah Desi, Anton langsung mengetuk pintu.
__ADS_1
Tok tok tok
"Assalamualaikum" ucap Anton
"Waalaikumsalam" jawab Desi
Pintu terbuka dan Desi sudah rapi dengan pakaian kantornya.
"Belum berangkat ya?" tanya Anton basa-basi
"Belum mas, ini mau berangkat. Ada apa ya mas tumben ke sini memang tidak kerja?"
"Kerja, cuma mampir saja sebelum berangkat. Kamu naik apa berangkat ke kantornya?"
"Naik ojek mas"
"Bareng aku saja kan kantor kita searah"
"Duh ngapain sih mas Anton ke sini segala mana nawarin berangkat bareng lagi" ucap Desi dalam hati
"Tukang ojeknya sudah nunggu katanya mas, aku naik ojek saja kasihan kali dibatalin"
"InsyaAllah mas aku akan main ke sana"
"Ya sudah aku berangkat ya, atau kamu mau bareng ke depannya biar tidak perlu jalan kaki?"
"Tidak usah mas, lagian dekat juga kok"
"Ya sudah aku berangkat ya Assalamaualaikum"
"Waalaikumsalam"
Anton pergi dari rumah Desi.
*
Sesampainya di kantor, Desi harus menahan kesabarannya lagi. Entah kenapa hari yang sama selalu ada saja yang membuat kesabarannya teruji.
__ADS_1
Baru saja ia hendak masuk dan tidak memperdulikan Sely, malah Sely yang menariknya untuk bertemu dengannya.
"Sini kamu" Sely menarik tangan Desi menjauh dari pintu masuk perusahaan
"Ada apa ya, sepertinya kita tidak ada urusan" Desi berusaha melepaskan cekalan tangan Sely namun tak bisa karna Sely mengeratkan cekalannya.
"Apa tidak ada pria lain lagi selain kamu dekati Angga hah?! Dasar janda gat*l" ucap Sely
"Maaf ya aku tidak pernah mendekati pak Angga, kami hanya rekan kerja dan ucapan yang sudah kamu katakan tadi tidak benar dan bisa menjadi fitnah"
"Halah tidak benar apanya? jelas-jelas kamu sering jalan dengan Angga, apa itu namanya kalo bukan gat*l"
"Kalaupun aku jalan dengan pak Angga apa urusannya sama kamu? Kamu juga bukan siapa-siapa pak Angga tidak punya hak untuk mengatur pak Angga dekat dengan siapa saja"
"Oh jadi kamu berani ya, orang kayak kamu itu banyak di luaran sana jadi jangan kamu pikir aku tidak tahu apa tujuan kamu mendekati Angga!" Sely murka
"Yang pasti tujuan aku sama kamu itu berbeda, kalo kamu berpikir aku mendekati Angga hanya karna uang, aku bukan kayak kamu yang suka morotin uang laki-laki apalagi suka gonta ganti laki-laki. Jadi kalo kamu bilang aku mendekati Angga karna uang kamu salah besar dan itu tujuan kamu bukan aku!" Desi sudah tidak bisa menahan kesabarannya karna Sely selalu saja mengganggu dirinya hanya karna ia dekat dengan Angga, bagi Desi itu hal biasa karna ia menganggap Angga sebagai atasan jadi wajar kalo ia dekat dengan bosnya dalam masalah pekerjaan.
"Sekarang kamu berani ya" Sely mengangkat tangannya bersiap untuk menampar Desi.
Beruntung Angga datang di waktu yang tepat, ia menahan tangan Desi dan menghempaskannya.
"Angga" ucap Sely
"Kamu masih berani ke sini ya ternyata" ucap Angga kesal
"Ga, kamu tidak kangen sama aku" Sely bergelayut manja pada Angga
Angga menarik tangannya dan menjauh dari Sely.
"Jangan membuat onar di kantor aku, lebih baik kamu pergi dan kalo kamu masih membuat onar di kantor aku, jangan harap kamu bisa menikmati semuanya lagi" ancam Angga
"Kamu apa-apa sih Ga, kamu lebih belain dia daripada aku? Aku tidak nyangka ternyata kamu berubah dan semua ini pasti karna dia kan, dulu kamu tidak seperti itu pasti wanita ini yang sudah goda kamu kan Ga?" Sely menunjuk-nunjuk Desi
"Aku berubah bukan karna Desi tapi karna kamu, kamu tidak pernah sadar itu"
"Tidak, aku yakin dia pasti sudah menggoda kamu. Awas saja kamu kalo masih menganggu dan dekat-dekat dengan Angga aku tidak akan biarin kamu-"
__ADS_1
"Stop Sely, kita sudah putus jangan kamu berharap lagi kita bisa seperti dulu. Kamu yang sudah mengkhianati aku dan sekarang kamu bilang aku yang berubah dan tergoda dengan wanita lain. Aku sudah cukup sabar menghadapi kamu ini peringatan terakhir untuk kamu kalo kamu masih berani datang ke sini dan buat kekacauan aku akan membuat perhitungan" Angga menarik Desi untuk masuk ke dalam "Bawa dia pergi" ucap Angga pada satpam yang berjaga
"Baik pak" jawab satpam