
Keesokan harinya, Angga bekerja seperti biasa. Ia mengikuti saran Desi, meski sebenarnya Angga ingin sekali membuat perhitungan dengan mantan kekasihnya itu.
Tok tok tok
"Permisi pak" ucap Desi
"Masuk" jawab Angga
"Jadwal bapak hari ini meeting dengan PT Sinar Jaya dan Harapan Sejahtera" ucap Desi
"Harapan Sejahtera" Angga mengingat-ingat nama perusahaan itu
"Iya pak, apa ada masalah?" Tanya Desi
"Tidak ada, memang meetingnya di mana?" Tanya Angga
"Di sini semua pak" jawab Desi
"Ubah tempatnya dengan Harapan Sejahtera di Restoran" titah Angga
"Memang kenapa pak?" Tanya Desi
"Ubah saja, kamu ini banyak tanya" omel Angga
"Iya pak" Desi mendengus kesal
Desi keluar dari ruangan Angga dan kembali ke ruangannya.
*
Angga dan Desi bersiap pergi ke Restoran untuk bertemu dengan perwakilan dari perusahaan Harapan Sejahtera.
Angga dan Desi mencari meja yang kosong untuk mereka duduk. Setelah menemukan meja yang kosong, Angga dan Desi menunggu kliennya.
"Selamat siang" sapa seseorang yang baru datang
"Siang" ucap Angga dan Desi, mereka menoleh ke sumber suara
__ADS_1
"Sely" ucap Angga
"Hai, apa kabar?" Ucap Sely
"Jadi Harapan Sejahtera milik Sely" ucap Desi dalma hati
Sely duduk di dekat Angga.
"Kita langsung mulai saja" ucap Angga
"Aku mau yang menanggapi proyek ini kamu, jika proyek ini orang lain yang menangani aku tidak mau bekerja sama" ucap Sely
"Peraturan dari mana itu?!" Bentak Angga
"Sabar pak" ucap Desi
"Loh memang kenapa, kamu kan bos jadi lebih mudah kalau kamu sendiri yang menanganinya" ucap Sely
"Kalau untuk ini bukan tanggung jawab aku, jadi aku tidka mau" ucap Angga
"Kalo kamu tidak mau kerja sama ini batal" ancam Sely
Angga menatap Desi dengan tatapan tidak terima tapi Desi mengangguk seolah menyuruh Angga untuk mengiyakan dan semua tidak akan terjadi apa-apa.
"Ya sudah" ucap Angga pasrah
"Nah begitu dong, coba dari tadi pasti tidak akan selama ini. Ini surat kontraknya silakan ditanda tangani" Sely memberikan dokumen pada Angga
"Maaf bu, kami sudah membuatnya" ucap Desi
"Tidak masalah kita tanda tangani semuanya, bagaimana?"
Desi mengangguk
Angga menandatangani surat kontrak itu, Sely pun juga menandatanganinya.
"Selamat bekerja sama bapak Angga, semoga kerja sama kita lancar ya" ucap Sely
__ADS_1
Angga hanya menjabat tangan Sely tanpa menanggapi ucapannya.
*
Setelah pertemuan tadi dengan Sely, Angga dan Desi langsung kembali ke kantor karna mereka meeting sekitar jam 2.
Sarah melihat wajah bosnya itu sedang tidak bersahabat, lalu Sarah beralih pada Desi, mukanya memang biasa saja tapi Sarah yakin pasti terjadi sesuatu diantara mereka.
Angga langsung masuk ke ruangannya sedangkan Desi menghampiri Sarah karna sedari tadi ia melihat temannya itu memperhatikan dirinya.
"Ngapain kamu lihat sampai segitunya" ucap Desi
"Si bos kenapa mukanya kayak begitu setelah keluar sama kamu, kamu apain bos?" Ucap Sarah
"Enak saja aku tidak ngapa-ngapain bos ya" Desi melihat kana dan kiri setelah dikira aman Desi menceritakan semuanya.
"Kok bisa?" Tanya Sarah
"Sepertinya, dia ada merencanakan sesuatu lagi deh tapi aku tidak tahu apa. Aku menyuruh pak Angga untuk tetap hati-hati selama melakukan proyek dengan Sely." Ucap Desi
"Kamu cemburu ya kalo pak Angga dekat dengan Sely lagi" goda Sarah
"Ya kali aku cemburu, aku tuh cuma tidak mau tambah masalah nanti aku ikut pusing lagi" ucap Desi
"Iya juga sih, tapi pak Angga kayaknya suka sama kamu deh" ucap Sarah
Seketika Desi menoyor kepala Sarah.
"Kalo bicara itu dipikir" Desi memperhatikan sekitar "Kalo ada yang dengar bahaya, kalo punya mulut emang suka nyeblak ya" omel Desi
" Ya maaf lagian tidak ada orang kok" bela Sarah
"Sudah jangan bicara sembarangan"
"Tapi Des aku yakin kalo pak Angga itu suka sama kamu, dari gelagatnya saja sudah bisa ditebak masak kamu tidak sadar sih" ucap Sarah dengan hati-hati
"Kamu jangan bikin gosip deh Rah, sudah ah aku mau ke ruangan aku" Desi berlalu meninggalkan Sarah
__ADS_1
"Tu anak tidak tahu atau pura-pura tidak tahu sih" ucap Sarah