Menyesal Setelah Dibuang

Menyesal Setelah Dibuang
63 Mengenal


__ADS_3

"Apa kamu yakin dengan pilihanmu? Apa tidak ada gadis yang mau dengan kamu sampai kamu harus mencari janda?" Tanya Santi yang mulai tidak percaya dengan pilihan anak semata wayangnya itu


"Jangan melihat statusnya mah, meskipun dia pernah gagal dalam pernikahannya sebelumnya itu juga karna kesalahan suaminya karna selingkuh dia juga belum punya anak dengan mantan suaminya itu jadi anggap saja Angga menikahi gadis karna belum mendapatkan bonus" ucap Angga terkekeh


"Bawa dia ke sini, jika itu memang pilihanmu mamah bisa apa" ucap Santi pasrah


"Terima kasih mah, mamah memang yang paling mengerti" Angga memeluk mamahnya


"Kalo ada maunya saja begini" Santi menjewer Angga


"Ampun mah, jangan dijewer aku sudah besar malu kalo ada yang lihat. Apa kata mereka seorang bos dijewer ibunya" keluh Angga


"Oh jadi kamu malu, biar saja biar semua orang tahu kalo kamu itu anak durhaka yang tidak ingat pada mamahnya dan asik dengan pekerjaan kamu itu" omel Santi


"Bukan durhaka mah, tapi aku bekerja untuk mamah juga"


"Sudahlah mamah sudah bosan mendengar alasanmu"


Setelah mengobrol dengan Santi, Angga berpamitan untuk pulang.


"Apa tidak bisa kamu tidur di sini menemani mamah Ga?" Ucap Santi


"Lain waktu aku akan ke sini dan menginap"


Setelah mengucapkan itu, Angga mencium tangan Santi dan keluar.


"Anak itu sama sepertimu mas, sama-sama gila kerja bahkan sekarang dia akan mengenalkan wanitanya yang entah nanti akan seperti apa" ucap Santi menatap kepergian anaknya itu


Entah perasaan Santi belum yakin dengan pilihan Angga, tapi ia akan mencobanya dan mencari tahu seperti apa sifatnya.


Seminggu setelah Angga mengatakan ingin membawa Desi, hari ini Angga mengajak Desi untuk menemui mamahnya, hari ini adalah hari libur jadi mereka bisa menemui Santi tanpa beban pekerjaan.


"Assalamualaikum mah" ucap Angga


"Waalaikumsalam, kamu Ga" ucap Santi


"Iya mah, kenalin ini Desi mah. Des ini mamah" ucap Angga


"Desi tante" ucap Desi sopan

__ADS_1


"Ayo duduk" ucap Angga


Desi mengangguk dan duduk di sebelah Angga. Meski ia pernah menghadapi situasi seperti ini sebelum menikah dengan Anton tapi rasanya berbeda, Desi takut jika Santi tidak bisa menerimanya karna statusnya.


"Kamu bekerja di mana?" Tanya Santi


"Saya bekerja di perusahaan Angga sebagai sekretarisnya tante" jawab Desi sopan


"Ini seperti sedang diintrogasi, kenapa aku jadi takut melihat wajah tante Santi seperti ingin memakan" ucap Desi dalam hati


Angga mencoba menenangkan Desi dan menggenggam tangannya.


"Aku akan menikahi Desi secepatnya mah" ucap Angga


"Kenapa harus cepat-cepat, kamu tidak sedang berbuat sesuatu lalu menutupinya kan?" Santi menatap Angga


"Mamah bicara apa sih, aku bukan orang yang seperti itu" omel Angga


"Lalu kenapa harus buru-buru, mamah belum mengenal Desi seperti apa bahkan mamah belum menemui keluarganya. Mamah juga harus mengenal keluarganya apalagi dia akan menjadi keluarga Wijaya" ujar Santi


"Baiklah aku tidak akan mempercepat pernikahan ini tapi mamah merestui kami kan?" Tanya Angga


"Tentu saja mah" ucap Angga yakin


"Tentu saja?" Santi mengerutkan keningnya


"Tentu saja tidak, aku akan tetap menikahi Desi karna aku yakin dia adalah istri yang baik" ucap Angga


Santi menghela nafasnya kasar "huft"


"Beri waktu untuk mamah mengenal calon menantu mamah"


"Aku akan menyiapkan makanan jadi kalian makan siang di sini" ucap Santi


"Aku bantu tante" ucap Desi


Santi mengangguk dan pergi ke dapur diikuti Desi.


"Kamu benar-benar mencintai anak saya?" Santi menatap Desi

__ADS_1


"Tentu saja tante, jika tidak untuk apa ada pernikahan" jawab Desi penuh keyakinan


"Apa yang kamu lihat dari Angga?"


"Meski dia bukan pria yang romantis tapi Angga punya cara sendiri untuk membuat aku bisa nyaman dan bisa jatuh hati padanya"


"Kamu menikah untuk Angga?"


Desi mengangguk mengiyakan jawaban calon mertuanya itu.


"Bukan karna dia seorang bos?"


Pertanyaan itu membuat Desi tersentak, ternyata ini yang dikhawatirkan Santi.


Santi takut jika Desi menikahi Angga hanya untuk kesenangan semata seperti Sely. Meski Angga bisa memberikan apa saja yang diinginkan Desi tapi tetap saja Santi khawatir suatu saat nanti Desi tidak mau menemani Angga disaat susah karna ia tahu roda kehidupan berputar.


"Meski aku hanya seorang janda, aku tidak pernah memandang seseorang karna jabatan atau tahtanya, aku tahu tante khawatir karna Angga memilih seorang janda sebagai pendamping hidupnya. Tante tidak perlu khawatir aku tulus mencintai Angga bukan karna dia seorang bos atau pengusaha" jawab Desi dengan perasaan berkecamuk


"Maafkan tante, bukan maksud tante membuat kamu sedih atau tersinggung. Seorang ibu tentu ingin yang terbaik untuk anaknya, begitu pun aku. Aku hanya khawatir kamu tidak bisa mendampingi Angga disaat Angga susah, tapi sekarang aku yakin kalo kamu memang pilihan yang tepat untuk Angga" Santi mengusap pundak Desi


Desi mendongak dan menatap calon mertuanya yang ada di depannya lalu tersenyum.


"Terima kasih tante, sudah mau menerima aku. Aku paham jika tante ingin yang terbaik untuk Angga" ucap Desi tersenyum


"Jangan panggil tante, panggil mamah sama seperti Angga" ucap Santi tersenyum


Meskipun ada sedikit kekhawatiran tapi ia akan mencoba untuk mengenal lebih dalam dengan Desi.


"Ayo masak, sebelum Angga mengeluh lapar karna masakannya belum siap" ucap Santi terkekeh


Desi tersenyum mendengarnya dan mengangguk.


"Apa tante-"


"Mamah" potong Santi


"Apa di sini tidak ada pembantu mah?" Tanya Desi


"Ada, hanya saja aku ingin memasak sendiri untuk anak dan menantuku, Angga sangat susah untuk disuruh pulang jadi jarang-jarang aku bisa memasakkannya. Anak itu memang gila kerja sampai melupakan orang tuanya sendiri" keluh Santi

__ADS_1


__ADS_2