
Semenjak Darto tinggal bersama, Desi merasa lega karna ia tidak perlu khawatir. Masalah kebun Darto memasrahkan pada seseorang yang dipercayainya yaitu Parto, dan masalahnya dengan Burhan juga sudah selesai secara baik-baik karna Darto tidak mau kalau tali silaturahmi antara keduanya nanti putus apalagi Burhan merupakan adiknya.
"Bapak" sapa Desi
"Arumi mana Des?" Tanya Darto
"Arumi sedang bermain dengan mamah" jawab Desi
"Bapak senang sekali bisa melihat kamu bahagia lagi" ucap Darto
"Aku juga tidak menyangka akan seperti ini pak"
"Ini semua takdir nak, kamu sudah melewati rasa sakit dan sekarang kebahagiaan hadir dalam hidup kamu apalagi setelah kehadiran Arumi"
"Bapak benar, Arumi membuat suasana rumah menjadi ramai meski hanya berceloteh tidak jelas"
Puas mengobrol dengan Darto, Desi menghampiri Santi yang sedang asik bermain dengan Arumi.
"Lagi main sama nenek ya" ucap Desi pada Arumi yang sedang tertawa
"Des, aku mau ke toilet dulu ya kamu jaga Arumi" ucap Santi
"Iya mah" jawab Desi
Angga yang baru pulang dari kantor langsung masuk ke dalam rumahnya.
"Assalamualaikum" ucap Angga
"Waalaikumsalam" ujar Desi
"Papapa" Arumi mengoceh karna melihat sang papah yang baru pulang
"Ada princessnya papah, sini papah gendong" Angga menggendong Arumi
"Mas"
"Iya sayang"
"Kamu mandi dulu biar aku yang gendong Arumi"
"Baiklah, hei princess papah mandi dulu yah kamu sama mamah dulu nanti kita main lagi"
Anga memberikan Arumi pada Desi lalu Angga masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan dirinya.
Malam tiba, Desi sedang menidurkan Arumi.
"Apa dia sudah tidur?" Tanya Angga
"Ya, baru saja tertidur" jawab Desi
"Ayo ke sana" ajak Angga
Desi pun mengikuti Angga.
"Sini duduk sayang"
Desi duduk di samping Angga yang langsung memeluknya.
"Terima kasih" ucap Angga
"Terima kasih untuk apa mas?" Tanya Desi bingung
"Terima kasih sudah hadir dalam hidup aku Des, sekarang hidup aku lengkap dengan kehadiran Arumi"
"Seharusnya aku yang berbicara seperti itu, terima kasih sudah menerima aku dan menjadikan aku sebagai pendamping hidupmu"
Desi bersandar di bahu Angga dan memeluknya.
"Arumi sudah besar, bagaimana kalau kita membuatkan adik agar tidak kesepian"
Seketika Desi langsung mencubit Angga.
__ADS_1
"Aww sayang kenapa dicubit" Angga memegang lengannya
"Dasar otak mesum, Arumi baru berumur 8 bulan dan kamu bilang ingin membuatkan adik"
"Salahnya di mana, aku kan benar nanti Arumi akan kesepian jika hanya sendiri kalau dia punya adik pasti rumah kita akan ramai dan kita tidak perlu merasa kesepian" ucap Angga panjang lebar
"Tidak" jawab Desi cepat
"Ayolah sayang" Angga terus memohon kepada Desi
Desi yang merasa risih karna Angga terus memohon dan merengek seperti anak kecil yang ingin dibelikan mainan.
"Angga kenapa Des?" Tanya Santi menghampirinya
"Tidak apa-apa mah" jawab Desi
"Kita lanjutkan di kamar" bisik Angga
"Kita ke kamar dulu ya mah ada pekerjaan yang harus dikerjakan"
Angga berlalu meninggalkan Santi yang masih menatap mereka dengan bingung.
"Issh dasar anak tidak tahu diri bisa-bisanya dia bilang seperti itu pada orang tua" Santi mengomel karna ia sudah mengerti dengan maksud pekerjaan yang akan dikerjakan oleh Angga dan Desi.
Keesokan harinya Angga mengajak Desi dan Arumi berjalan-jalan di sekitar taman.
"Mas, lihat itu seperti kenal dengan orang itu" Desi memperhatikan seorang wanita yang sedang duduk dengan pria
"Siapa? Aku tidak mengenalnya"
Desi masih terus melihatnya sampai wanita itu menoleh dan Desi dapat melihat wajah wanita itu dengan jelas.
"Tuh kan benar, ayo mas" Desi menarik tangan Angga dan menghampirinya
"Sarah" panggil Desi
Sarah yang merasa namanya dipanggil langsung menoleh kearah sumber suara.
"Oh jadi sekarang sudah punya pasangan yah dan tidak bilang-bilang atau kamu takut aku minta PJ" omel Desi
"PJ?" Tanya Angga bingung
"Iya pajak jadian" jawab Desi
"Aiish aku kira apa" ucap Angga menggeleng kepala dengan tingkah sang istri
"Astaga Des, suami kamu sudah kaya masih mau minta PJ sama aku" Sarah tak habis pikir dengan sahabatnya itu
"Memang kenapa biarkan saja lagian aku maunya dari kamu tidak mau uang suami aku biar uangnya disimpan untuk Aruminanti" ucap Desi tak mau kalah
"Kalaupun tidak dusimpan juga tidak akan habis sampai Arumi punya cucu" omel Sarah
"Apa kamu akan terus mengoceh dan tidak mau mengenalkan pacar barumu" ucap Desi
"Ah iya aku lupa, kenalkan Dimas dan mereka pasangan suami istri yang satu server namanya Desi dan Angga sekaligus atasan aku di kantor" ujar Sarah
"Apa maksud kamu satu server?" Tanya Desi melotot
"Emm itu" Sarah menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Satu server sayangnya begitu maksud aku"
"Awas saja ya"
"Sudah kalo begitu kita ke sana dulu sambil ngobrol-ngobrol" ucap Sarah mengalihkan pembicaraan
Mereka pun ke Cafe di seberang jalan.
"Baiklah sekarang kamu jelaskan pada aku Rah" tatapan Desi seperti mengintimidasi
"Je-jelaskan apa?" Tanya Sarah bingung
"Ya jelaskan semuanya"
__ADS_1
Sarah menghela nafasnya dan mulai menceritakan awal mula mereka bertemu sampai pacaran.
"Aku dan Dimas bertemu saat aku sedang menemani saudara aku dan kebetulan Dimas juga kenal dengan saudara aku jadi kami makin dekat dan makin dekat lalu sekarang jadi sangat dekat" jelas Sarah sambil menggandeng tangan Dimas
"Biasa saja tidak perlu gandengan segala memang mau nyebrang apa" omel Angga
"Yee pak Angga sirik saja mentang-mentang sudah basi" ujar Sarah tak mau kalah
"Basi? Apa maksud kamu basi" Angga mulai ngegas
"Sudah-sudah, apa kalian tidak malu pada Dimas, maaf ya Dim suami aku kadang suka begitu" ucap Desi merasa tidak enak
"Tidak apa-apa mbak, aku senang karna Sarah punya teman seperti kalian" ucap Dimas
"Siapa yang mau berteman dengan dia" Angga mendapat cubitan dari Desi
"Sayang" Angga menatap Desi dengan tatapan manja
"Masak bos kayak begitu sih"
"Hey kamu bilang apa tadi, mau aku pecat" Angga berubah menjadi garang
"Ya ampun pak jangan marah-marah kasihan Arumi jadi takut" ucap Angga
"Kenapa kalian jadi kayak kucing dan tikus sih" Desi mulai pusing dengan kelakuan Angga dan Sarah
Akhirnya Angga mengalah dan membiarkan sang istri dan Sarah mengobrol.
"Sepertinya Arumi mulai bosan, kalau begitu aku pamit dulu ya Rah, Dim" ucap Desi
"Ya sudah Des, kita juga mau balik" ujar Sarah
Angga dan Desi serta Arumi pulang ke rumah.
"Sudah pulang Des?" Tanya Santi
"Iya mah, kami ke kamar dulu ya Arumi sepertinya ngantuk"
Desi pun membawa Arumi masuk ke dalam kamarnya.
Kebahagiaan yang dirasakan Desi saat ini adalah hasil dari kesabarannya ketika harus merasakan sakit sewaktu masih bersama Anton.
Arumi yang mulai tumbuh dan aktif membuat Desi bahagia, bahkan sekarang Arumi selalu membuat hari-harinya penuh warna dan kebahagiaan bersama Angga dan juga keluarganya.
Desi tidak meminta bantuan pada baby siter dalam merawat Arumi karna ia ingin melihat perkembangan Arumi.
Tidak disangka Arumi kini tumbuh menjadi gadis kecil yang ceria.
"Apa kalian tidak mau menunggu Arumi sampai berumur 4 tahun, aku akan merasa kesepian jika kalian pindah" wajah Santi berubah sendu
"Mamah bisa berkunjung setiap hari ke rumah dan kamu akan mengunjungi mamah setiap minggu jadi mamah jangan khawatir" Desi mencoba menghibur Santi
"Jika memang itu semua sudah keputusan kalian ya sudah tapi sering-seringlah main ke sini mamah sudah tua" pesan Santi
"Pasti mah, kami akan sering menjenguk mamah, iya kan Arumi"
"Nenek jangan cedih" ucap Arumi
"Uuh cucu nenek manis sekali, nenek tidak akan sedih tapi Arumi harus sering menjenguk nenek ya"
"Iya nek" jawab Arumi
"Kalau begitu kami pamit ya mah, mamah jaga kesehatan kalau ada apa-apa langsung hubungi aku" ucap Angga
"Iya Ga"
Angga menggendong Arumi ke dalam mobil.
"Dadah nenek" Arumi melambaikan tangannya dari jendela
"Dah sayang" Santi membalas lambaian tangan Arumi
__ADS_1
Darto sudah kembali ke rumahnya sejak Arumi berumur 1 tahun karna Darto juga harus memeriksa kebunnya jadi ia memilih kembali ke rumahnya.