Menyesal Setelah Dibuang

Menyesal Setelah Dibuang
34 Numpang Makan


__ADS_3

"Iya aku tahu, tapi paman sama bibi tetap harus membantu aku karna rahasia kalian ada di tangan aku, kecuali kalian mau aku bongkar" Anton tersenyum licik


"Kami akan membantu kamu, tapi kalo hasilnya masih sama kami tidak mau lagi bantu kamu" ucap Dewi


"Apapun itu kalian harus tetap membantu aku" Anton menaiki motornya dan melajukan dengan kecepatan tinggi


"Sial! Kita malah seperti kacungnya Anton saja" ucap Burhan kesal


"Ya sudahlah mas, lagian Desi juga tidak mau kembali dengan dia kita bujuk lagi nanti kalo gagal ya sudah, lagian sudah dibuang malah mau diambil lagi tidak tahu malu banget Anton itu untung aku tidak menghajarnya tadi" ucap Dewi emosi


"Kita pulang, aku juga sudah capek banget ditambah masalah dengan Anton" Burhan dan Dewi masuk ke dalam mobilnya dan pulang ke rumahnya.


*


Pagi harinya, Desi yang sedang memasak untuk sarapan mendengar suara ketukan pintu.


Tok tok tok


"Siapa sih bertamu pagi-pagi seperti ini" Desi membuka pintu


Kreek


"Bibi" ucap Desi


"Eh Desi" Dewi langsung menyelonong masuk


"Meski keluarga kalo kelakuannya kayak begini juga malas mau anggap keluarga" ucap Desi dalam hati


"Kamu sudah masak? Pamanmu itu pergi pagi-pagi tadi jadi bibi ke sini untuk sarapan bareng kalo sendirian tidak enak rasanya" ucap Dewi


"Biasanya paman juga sering tidak pulang dan sudah biasa sarapan sendiri kenapa baru sekarang tidak enaknya" ucap Desi


"Mungkin karna tadi malam makan bersama jadi gimana gitu kalo sendiri" Dewi mencari alasan


Desi kembali ke dapur dan melanjutkan memasaknya.


"Mau numpang makan malah diam saja bukannya bantu" Desi mengomel sambil memasak


Darto baru saja dari belakang, ia melihat iparnya sedang duduk bersantai dan Desi sedang memasak di dapur.


"Tumben bibi kamu pagi-pagi sudah di sini" ucap Darto


"Tau tuh, katanya mau sarapan bareng karna sendiri di rumahnya tidak enak, biasanya juga sering makan sendiri. Pasti ada sesuatu lihat saja nanti apa yang dilakukan" ucap Desi

__ADS_1


"Ya sudah kalo begitu, bapak ke depan ya" ucap Darto


"Bapak tidak kesal apa?" tanya Desi


"Kesal? Karna apa?" tanya Darto


"Ya harusnya bapak kesal dan usir bibi biar sarapan di rumahnya saja" ucap Desi kesal


"Ya biar saja kan bibi kamu jarang juga sarapan di sini,mungkin bibi kamu memang tidak enak makan sendirian. Dulu bapak juga kayak gitu waktu kamu tinggal sama Anton, rasanya tidak enak gitu cuma makan sendirian dan setelah kamu ada di sini bapak jadi ada temannya rumah ini juga tidak sepi lagi" jelas Darto


"Iya memang sih tapi aneh saja pak biasanya bibi juga makan sendirian biasa saja kenapa malah sekarang yang merasa seperti itu"


"Sudah-sudah lebih baik kamu selesaikan masaknya dan kita sarapan" Darto pergi meninggalkan Desi


Darto sebenarnya juga merasa aneh dengan sikap Dewi yang ingin sarapan di rumahnya, tapi ia tak membenarkan semua tuduhan Desi karna sebagai orang tua Darto juga harus bersikap bijak.


Setelah menyelesaikan masakannya, Desi membawanya ke meja makan.


"Ayo kita sarapan" Dewi langsung mengambil makanan yang ada di depannya


Desi dan Darto hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Dewi.


"Bibi kayak tuan rumahnya ya" sindir Desi


Desi menatap jengkel pada istri dari pamannya itu.


Selama makan suasana hening tak ada kata atau percakapan sampai mereka selesai makan.


"Oh iya Des, kamu kerja hari ini?" tanya Dewi


"Iya" jawab Desi singkat


"Kalo kamu punya suami kamu tidak perlu capek-capek kerja tinggal menikmati saja di rumah santai-santai" ucap Dewi


"Ini sudah dibahas tadi malam" ucap Desi


"Kalo kamu belum ada calon sama Anton saja dia berubah banget sekarang jadi lebih giat kerja dan suka banget bantu bibi sama paman kamu"


"Boro-boro bantu menyusahkan iya" ucap Dewi dalam hati


"Aku tidak mau" jawab Desi tegas


"Biarkan saja Dew lagian Desi baru pisah sama Anton mana mungkin langsung menemukan laki-laki yang bisa mengambil hatinya" Darto menyahut

__ADS_1


"Tapi kak, kalo terjadi apa-apa sama Desi kan ada yang jaga jadi kakak tidak perlu khawatir lagi, kenapa tidak rujuk saja sama Anton jadi tidak perlu mencari orang baru dan menunggu masa idah"


"Bibi kenapa sih kayak ngotot banget mau aku kembali sama mas Anton, pasti ada sesuatu ya" sidik Desi


"Hah ti-tidak bibi hanya tidak mau kamu nantinya kesepian dan bibi juga mau kamu itu aman ada yang jaga" ucap Dewi gugup


"Bibi tidak usah khawatir keselamatan aku, aku bisa jaga diri sendiri kok selama aku pulang pergi kerja tidak terjadi apa-apa"


"Sekarang tidak terjadi apa-apa tapi nanti? Bibi bukannya mendoakan hanya antisipasi saja karna bibi peduli sama kamu" ucap Dewi dengan muka prihatin


"Kalo bibi memang peduli sama aku lebih baik bibi bantu cuci piring karna aku harus berangkat kerja" Ucap Desi tersenyum


Dewi yang mendengarnya terkejut, ia tidak bisa memberi alasan karna Darto juga mengangguk membenarkan ucapan Desi.


"Tapi bibi-"


"Terima kasih bi, aku siap-siap ke kamar ya" Desi langsung berdiri dan berjalan masuk ke kamarnya.


"Ih kok malah senjata makan tuan" gerutu Dewi dalam hati


Darto juga berdiri dan masuk ke kamarnya.


Dewi membawa semua piring-piring kotor ke dapur dan mencucinya.


*


Desi yang sudah keluar dari rumahnya tersenyum senang, ternyata ada tujuan lain mengapa bibinya ingin sekali sarapan di rumahnya, beruntung Desi punya ide yang bisa membuatnya kabur dari sang bibi.


"Sekali-kali ngerjain orang yang lebih tua tidak apa-apa kan hehehe" ucap Desi tersenyum senang


"Ngerjain siapa?"


"Astaghfirullah, pak Angga untung jantung saya tidak lompat ke luar" Desi mengelus dadanya yang terkejut karna kehadiran Angga yang tiba-tiba


"Lebay, siapa yang kamu kerjain?" tanya Angga lagi


"Bapak kepo banget sih, lagian ngapain sih tanya-tanya" ucap Desi ketus


"Oh jadi kamu sekarang bisa melawan ya"


"Eh bukan begitu pak, maksud saya itu ini urusan keluarga jadi bapak tidak perlu tahu karna ini privasi" ucap Desi penuh penekanan


"Apapun yang berhubungan sama kamu itu harus saya ketahui karna kamu sekretaris saya kalo kamu tidak fokus sama kerjaan hanya karna mikirin privasi kamu itu siapa rugi, pasti sayalah" Angga tak mau kalah

__ADS_1


"Tenang saja pak saya tidak akan melibatkan masalah pribadi saya dalam urusan pekerjaan, saya akan profesional" ucap Desi penuh keyakinan


__ADS_2