
Desi meminta Darto untuk ikut menemaninya ke dapur.
"Pak coba jelaskan semuanya" ucap Desi sambil membuatkan minum untuk Angga dan Anton
"Tadi bapak pulang dari kebun langsung mandi terus ada yang ketok pintu bapak kira itu kamu jadi bapak buka eh ternyata bukan kamu malah Anton, ya mau tidak mau bapak suruh duduk. Sebenarnya bapak mau usir cuma bapak ingat kata kamu saja jadi bapak ajak ngobrol katanya mau tunggu kamu sampai datang, karna kamu lama dia sudah mau pamit tapi setelah lihat kamu pulang dengan laki-laki dia urungkan" jelas Darto
Sedangkan di depan rumah, Anton dan Angga seperti tikus dan kucing yang sedang berburu ikan.
"Apa pantas bos mengantarkan karyawannya sampai pukul segini" cibir Anton
"Setidaknya saya berani bertanggung jawab karna sudah membawa Desi pergi dan mengantarkannya pulang dengan selamat, daripada yang mengaku suaminya tapi menyakiti apa itu lebih pantas" sindir Angga
Anton kalah telak, perkataan Angga membuatnya kesal, niatnya ingin menjatuhkan Angga malah dirinya yang dijatuhkan.
Desi dan Darto datang dengan membawa nampan yang berisi minuman.
"Silakan diminum" ucap Desi
"Terima kasih jadi merepotkan" ucap Angga
"Tidak merepotkan kok nak, oh iya ini siapa Des? kok bapak baru tahu dan kamu belum mengenalkan dengan bapak" ucap Darto
"Ini bos Desi pak" ucap Desi
"Saya Angga pak, atasan Desi di kantor. Tadi saya meminta Desi untuk menemani saya beli baju untuk hadiah ulang tahun sepupu saya karna ukurannya sama seperti Desi jadi pulangnya telat" jelas Angga
"Oh, jadi ini bos kamu yang waktu itu kamu bilang-"
"Iya pak dia bos aku" Desi langsung memotong ucapan Darto sebelum ia kelepasan bilang semuanya
Angga mengerutkan keningnya dan menatap pada Desi, apa yang pernah Desi katakan pada bapaknya sehingga Darto tahu kalo Angga adalah bosnya.
"Hem" Anton berdehem karna merasa dicuekin "Des aku mau bicara sama kamu, boleh ke sana sebentara" ajak Anton
"Oh iya mas boleh"
Desi dan Anton sedikit menjauh dari Darto dan Angga.
"Mau bicara apa mas?" tanya Desi
"Kamu jangan terlalu dekat dengan bos kamu itu mungkin dia punya niat jahat sama kamu" pesan Anton
"Selama ini pak Angga tidak pernah ada niat macam-macam sama aku mas kamunya saja yang suka berpikir negative" ucap Desi
"Kalo sekarang bisa saja tidak tapi nanti bisa saja dia melakukan apa saja"
"Mas, aku lebih tahu pak Angga seperti apa kalau pun nanti pak Angga macam-macam biarkan itu urusan aku" setelah mengucapkannya Desi langsung kembali
__ADS_1
Angga dan Darto yang melihat perubahan raut wajah Desi hanya bisa diam, sekarang bukanlah waktu yang tepat bagi Darto untuk bertanya.
"Kalo begitu saya permisi pak, Des" ucap Angga
"Loh kok buru-buru sekali" ucap Darto
"Iya pak sudah hampir maghrib tidak baik kalo seorang laki-laki datang ke rumah perempuan yang bukan muhrimnya sampai larut seperti ini kecuali dalam keadaan darurat" Angga melirik Anton
Anton yang mendengarnya seperti tersindir.
"Sepertinya ada persaingan sengit" bisik Darto pada Desi
Desi menyenggol lengan Darto.
"Ya sudah kalo kamu mau pulang, terima kasih sudah mengantarkan Desi sampai ke rumah ya" ucap Darto
"Iya pak sama-sama kalo begitu saya pulang Assalamualaikum" ucap Angga
"Waalaikumsalam" jawab Desi dan Darto
Setelah kepergian Angga, Anton pun juga segera pamit untuk pulang.
"Saya juga pamit pulang Des, pak" ucap Anton
"Iya mas, terima kasih martabaknya ya" ucap Desi
"Iya sama-sama Des, Assalamualaikum" ucap Anton
"Waalaikumsalam" jawab Desi dan Darto
"Bapak kalo bicara suka tidak di rem ya" ucap Desi
"Bicara apa?" tanya Darto
"Tadi itu yang hampir keceplosan sama bos aku untung saja aku bisa mengalihkan pembicaraannya"
"Ya wajar bapak bilang kayak begitu, kamu kan bilang bos kamu galak kenapa bisa jalan sama dia" Darto menaik turunkan alisnya
"Issh bapak, aku mau mandi keburu magrib" Desi meninggalkan Darto yang terus meledeknya
*
Keesokan harinya
Anton yang baru saja selesai bersiap langsung keluar dari kamarnya.
"Ayo sarapan dulu" ucap Ratna
__ADS_1
"Iya bu"
Anton dan Ratna sarapan dengan menu apa adanya.
"Apa kamu sudah bertemu dengan Resti?" tanya Ratna
"Belum bu, sepertinya dia kabur setelah menjual rumah" jawab Anton
"Memang kurang ajar ya wanita itu, sudah tidak mau merawat ibu dan sekarang malah bawa kabur uang penjualan rumah padahal rumah itu kan milik kamu. Kamu juga kok bisa kecolongan sertifikat hilang malah tidak merasa" omel Ratna
"Ya mana aku tahu bu, kalo aku tahu aku tidak akan membiarkan Resti membawanya"
"Kok bisa kamu tergoda dengan perempuan seperti itu, coba saja kamu tidak bercerai dengan Desi pasti hidup kita akan baik-baik saja tidak akan sengsara seperti ini, tinggal di kontrakan gaji kamu pas-pasan buat makan dan bayar kontrakan"
"Aku juga lagi bekerja keras bu, biar aku bisa naik jabatan kalo aku naik jabatan kita bisa beli rumah lagi tidak perlu mengontrak"
"Sudah habiskan makanannya, nanti kamu telat yang ada kamu turun jabatan bukan malah naik jabatan"
Setelah menghabiskan makanannya, Anton berpamitan langsung berangkat.
Selama perjalanan menuju kantor, Anton melihat kanan kiri sambil mencari Resti bahkan Cafe yang sempat ia melabrak Resti pernah ia datangi namun tak ada Resti.
Di depan hotel, Anton seperti melihat Resti, akhirnya ia memarkirkan motornya dan langsung berlari untuk menghampiri Resti.
"Resti" panggil Anton
Resti yang tidak mendengar terus berjalan, Anton pun terus mengejar Resti.
"Resti tunggu" Anton mencekal tangan Resti agar ia tak bisa lari
"Anton" ucap Resti terkejut
"Kenapa? Kamu kaget? sekarang cepat berikan uang hasil penjualan rumah aku yang sudah kamu jual tanpa seizin aku" ucap Anton
"Lepas" Resti mencoba memberontak dan kabur dari Anton
"Aku akan melepaskan kalo kamu sudah memberikan uang itu" ucap Anton semakin mengeratkan cekalan tangannya
"Pak satpam tolong" teriak Resti
Satpam yang menjaga di depan pintu langsung menghampiri karna mendengar keributan.
"Ada apa ini?" tanya satpam
"Pak tolong saya, saya tidak kenal dengan orang ini tiba-tiba saja dia menarik saya" ucap Resti berbohong
"Dia bohong pak, dia sudah mengambil sertifikat rumah saya lalu menjualnya saya cuma mau meminta uang saya dikembalikan" jelas anton
__ADS_1
"Tolong jangan membuat keributan di sini" ucap satpam
"Saya tidak kenal dengan orang ini pak, tolong bawa dia ke luar saya takut pak" Resti berpura-pura ketakutan