
Betapa terlukanya hati Desi ketika mengetahui bahwa suami sedang bermesraan dengan wanita lain.
Anton saja tak akan bisa jika melihat Desi dengan bosnya itu, meski bukan lagi suami istri tapi tetap saja pernikahan yang dijalaninya dengan Desi tidak sebentar.
Kesalahan yang dilakukan Anton tidak bisa dimaafkan oleh Desi, baginya perselingkuhan adalah kesalahan fatal dalam sebuah hubungan. Jika ia bisa melakukan maka tidak menutup kemungkinan untuk tidak melakukannya lagi.
*
"Ayolah kak, hanya sedikit" ucap Burhan
"Bukannya kamu sudah melunasinya, kenapa sekarang masih meminjam lagi?" Tanya Darto heran
"Aku meminjam untuk mengembangkan bisnis aku kak jadi aku terpaksa karna tidak tahu lagi mau pinjam ke siapa" jawab Burhan
"Kasih saja kak, kakak tidak mau bantu adik kakak ya lagian hasil dari kebun juga pasti ada apalagi Desi juga bekerja sekarang" Dewi ikut menambahi
"Seharusnya kamu berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu, memang mengembangkan bisnis itu termasuk investasi tapi kalo kamu tidak bisa dan hanya menambah beban kamu lebih baik lakukan saja semampu kamu" nasehat Darto
"Iya kak, tapi aku lagi butuh sekarang masak iya aku harus merelakan bisnis aku lagi ini juga demi masa depan aku, sekarang Dewi lagi mengandung aku juga harus menabung untuk masa depannya nanti" jelas Burhan
"Itu kamu tahu, kalo Dewi lagi mengandung seharusnya kamu bisa berpikir mana yang lebih diprioritaskan"
"Waktu itu aku mau pinjam uang kakak juga tidak kasih, sekarang aku lagi butuh kakak juga tidak kasih. Kamu pelit banget sih kak padahal sama adik sendiri" Burhan mulai kesal dan emosi
"Bukannya aku tidak mau kasih, tapi kamu harus bisa berusaha sendiri. Kamu juga sudah memiliki keluarga" ujar Darto
"Alah bilang saja kakak tidak mau memberi" ucap Dewi
Sepasang suami istri ini memang memiliki sifat yang sama, bahkan mereka bisa melawan siapa saja yang tidak bisa menuruti keinginannya.
"Kalian memangnya mau pinjam berapa?" Tanya Darto pasrah, ia tak mungkin berdebat dengan adiknya bagaimanapun saat ini dialah yang menggantikan sebagai sosok bapak.
"Tidak banyak kak hanya 10 juta saja" ucap Burhan
"10 juta?!" Ucap Darto terkejut
"Iya kak, uang segitu pasti tidak berat untuk kakak" ujar Burhan
"Kalo segitu aku tidak punya kalo hanya separuhnya ada" ucap Darto
"Kalo bantu jnagan tanggung-tanggung kak biar pahalanya juga tidak tanggung" Dewi ikut menambahi
"Betul kak, memang kamu mau kalo pahalanya hanya separuh" ucap Burhan
__ADS_1
"Aku memang tidak ada uang segitu, kalo kalian mau aku punya 7 juta tapi kalo tidak ya sudah terserah kalian saja" ucap Darto
"Ya sudah, kalo memang tidak mau kasih 7 juta saja" ucap Burhan
"Aku ambil uangnya dulu" Darto pergi ke kamarnya untuk mengambil uang
"Ini uangnya" Darto memberikan uangnya pada Burhan "Tapi kalo kalian sudah ada uangnya segera kembalikan ya" Darto memperingati
"Iya kak, tidak perlu khawatir kami akan membawa kabur uang kamu" ucap Burhan
"Ya sudah kami pamit dulu kak" Dewi dan Burhan berdiri dan keluar dari rumah Burhan
Desi yang baru saja datang melihat Burhan dan Dewi masuk ke dalam mobil langsung berlari menghampiri bapaknya.
"Assalamualaikum pak" Desi mencium punggung bapaknya
"Waalaikumsalam, sudah pulang Des?"
"Iya pak, pak mereka ngapain ke sini? Mereka tidak menyakiti bapak kan?" Tanya Desi
"Tidak, mereka hanya meminjam uang" jawab Darto
"Lalu bapak kasih?"
"Ya terpaksa, mereka tidak mau pulang dan ngotot mau pinjam"
"Mereka bilang untuk bisnis, ya sudahlah yang penting nanti dibalikin"
"Memang bapak kasih pinjam berapa?"
"7 juta"
"7 juta?! Aduuh kenapa bapak kasih sebanyak itu pasti lama baliknya dan akan ada seribu alasan deh"
"Mereka mau pinjam 10, bapak bilang hanya punya separuhnya tapi mereka tetap maksa ingin meminjam 10 juta jadi bapak kasih saja 7 juta" jelas Darto
"Bukannya aku pelit dan tidak mau kasih apalagi ke saudara bapak tapikan mereka itu saudara tidak tahu diri jadi bapak jangan terlalu baik nanti mereka malah ngelunjak"
"Iya Des, kenapa anak bapak sekarang jadi garang begini biasanya tidak akan marah-marah kalo membantu orang"
"Kalau yang dibantu benar mana mungkin aku marah pak, kalo yang dibantu tidak bisa dipercaya ya wajar aku khawatir apalagi bukan sedikit, meski aku masih punya tabungan tapi itukan hasil dari kebun kerja keras bapak"
"Iya, sudah jangan marah-marah terus nanti malah cepat tua sana mandi biar segar dan lebih tenang"
__ADS_1
"Huh aku ke dalam dulu ya pak"
"Iya"
Desi masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan kesal.
*
Keesokan harinya Angga yang sudah siap dengan jasnya yang rapi, ia menuruni anak tangga untuk sarapan.
"Mohon maaf mengganggu tuan, di luar ada non Sely memaksa masuk untuk bertemu tuan" ucap salah satu pelayan Angga
"Untuk apa lagi dia ke sini" ucap Angga kesal
"Suruh dia masuk dan jaga gerak-geriknya jangan sampai dia berani melakukan macam-macam" titah Angga
"Baik tuan"
Pelayan itu memanggil Sely agar segera menemui tuannya.
"Ga, kamu harus tanggung jawab" ucap Sely
Angga menghentikan sarapannya dan langsung berdiri.
"Apa maksud kamu?" Tanya Angga tegas
"Lihat Ga, ini anak kamu yang ada di dalam perut aku itu anak kamu" ucap Sely
"Jangan asal bicara kamu! Mana buktinya kalo kamu mengandung anak aku"
"Apa kamu lupa kejadian beberapa bulan lalu di kamar kamu Ga? Aku tidak menyangka kalo kamu ternyata tidak punya hati"
"Kamu pasti bohong, aku tidak percaya kalo kamu hamil anak aku!"
"Aku akan muncul di media dan akan bilang kalo kamu tidak mau tanggung jawab"
Angga naik pitam "Awas saja kalo kamu sampai berani muncul dengan informasi yang palsu seperti itu, aku yakin aku tidak pernah melakukan hal seperti itu apalagi dengan kamu"
"Kamu mau enaknya saja tidak mau bertanggung jawab" ucap Sely sendu
Angga mulai frustasi ia memukul kursi yang ada di dekatnya.
"Aku akan tanggung jawab kalo itu memang anak aku, kita tes DNA" ucap Angga
__ADS_1
Sely yang mendengar itu kaget dan menutupi muka paniknya dengan berbagai alasan.
"Tega kamu Ga, kamu bahkan tidak percaya kalo anak ini benar-benar anak kamu apa kamu benar-benar lupa tentang kejadian waktu itu sehingga kamu tidak mau bertanggung jawab atau karna sekretaris kamu itu, kalo dia tahu aku hamil anak kamu apa dia masih bisa dekati kamu" ujar Sely membuat Angga semakin murka dengan Sely, meski dirinya tidak begitu yakin kalau anak yang dikandung Sely adalah anak dia tapi Angga tidak semudah itu percaya karna dirinya merasa tak pernah melakukan apa-apa dengan Sely.