Menyesal Setelah Dibuang

Menyesal Setelah Dibuang
20 Membesuk


__ADS_3

Syukur kalo ibu sudah baik, maaf ya bu aku baru sempat menjenguknya bapak juga baru sembuh jadi tidak bisa ditinggal selain pergi kerja” ujar Desi


“Iya tidak apa-apa kok, yang penting ibu sudah sehat sekarang” ucap Ratna


“Pulang naik apa?” tanya Desi


“Naik taksi Des” jawab Anton


“Loh mobil kamu mas?”


“Mobil sudah aku jual, hanya tersisa motor buat aku pakai bekerja” jawab Anton lirih


“Keadaan Anton semakin susah setelah pisah sama kamu, apalagi istrinya malah kabur. Anton yang tidak pintar mencari istri, wanita matre seperti itu malah dinikahi coba saja Anton masih sama kamu pasti kita tidak akan kesusahan seperti ini” ucap Ratna


“Ibu bicara apa sih tidak enak sama Desi” omel Anton


“Kita ambil hikmahnya saja bu, semoga setelah kejadian ini kita sama-sama bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi ke depannya”


“Apa kamu tidak ada niat untuk kembali dengan Anton Desi, kamu masih sendiri juga ibu yakin kalian pasti bahagia setelah ini dan ibu akan jaga Anton agar tidak tergoda dengan perempuan lain, ibu juga janji tidak akan galak-galak lagi sama kamu, ibu butuh kamu Desi, apalagi kalo Anton pergi kerja ibu hanya sendiri, ibu juga semakin tua takutnya terjadi apa-apa” ujar Ratna sendu


“Maaf bu, untuk kembali dengan mas Anton tidak pernah terpikir lagi apalagi mas Anton masih mempunyai istri aku mau fokus dengan memperbaiki diri dulu, kalo ada waktu aku pasti main ke rumah ibu, jadi ibu tidak usah khawatir aku masih anggap ibu seperti ibu aku sendiri meskipun hubungan aku dan mas Anton sudah berakhir” tolak Desi


“Keputusan kamu sudah bulat ya, ya sudah kalo itu memang mau kamu Des” ucap Ratna


“Maafkan ibu ya, dia memang seperti itu” ucap Anton


“Iya mas, tidak apa-apa. Aku pamit dulu ya mau berangkat kerja nanti takut telat. Semoga ibu sehat terus ya” pamit Desi


“Iya Des, terima kasih ya sudah menyempatkan ke sini” ucap Anton


“Iya sama-sama mas. Assalamualaikum” ucap Desi


“Waalaikumsalam”


Desi keluar dari rumah sakit, lalu mencari taksi menuju kantornya.


“Halo besti” panggil Sarah


“Kamu baru sampai juga Rah?” tanya Desi


“Iya, aku baru sampai tumben kamu baru sampai biasanya kamu awal berangkatnya” ucap Sarah


“Iya tadi aku mampir dulu ke rumah sakit buat jenguk ibu mantan suami aku”


“Memang kenapa kok bisa masuk rumah sakit?”


“Penyakitnya kambuh, sebenarnya yang dirawat bersamaan dengan bapak cuma aku tidak sempat buat jenguknya”


“Kamu ngapain sih masih peduli sama mantan suami kamu padahal dia sudah selingkuh dan menyakiti kamu, kalo aku jadi kamu sudah pasti aku tidak mau ingat bahkan berhubungan sama dia lagi. Aku tidak sudi kalo dekat-dekat dengan orang yang tega meninggalkan aku demi wanita lain”


“Kamu terlalu pendendam orangnya, biarlah itu sudah jadi masa lalu aku juga sudah melupakannya. Kalo ditanya sakit pasti sakit tapi aku tidak mau berlarut-larut dan meratapi semuanya toh aku juga masih punya masa depan lebih baik aku fokus untuk menata masa depan aku, siapa tahu aku bertemu pangeran yang akan menjadi suami aku nanti” jelas Desi

__ADS_1


“Memang terbaik teman aku satu ini, bijaksana banget tapi kadang halu” puji Sarah


“Kenapa kamu ada di bawah Rah?” tanya Desi


“Hah” Sarah melirik ke kanan kiri dan melihat ke bawah ia bingung dengan ucapan Desi “Bawah mana Des?” tanya Sarah bingung “Perasaan kita sejajar deh”


“Iya aku terbang karna kamu puji hahaha” Desi terbahak melihat Sarah yang kebingungan


“Ih dasar Desi kurang ajar, aku kira apa” omel Sarah


“Hahaha makanya jangan suka memuji orang nanti kamu di bawab sendirian”


“Biar saja aku di bawah, yang penting tidak jatuh nantinya. Kamu terbang tinggi tapi nantinya jatuh kan sakit” ucap Sarah tak mau kalah


“Ye tidak mau kalah ni ye” Ledek Desi


Sintak mereka berdua tertawa.


“He’em” Mendengar suara yang sangat mereka kenali membuat Desi dan Sarah saling pandang dan takut


Desi dan Sarah membalikkan badannya.


“Eh ada pak Angga, selamat pagi pak” ucap Sarah


“Pagi” ucap Angga dingin


“Saya permisi ke ruangan saya mari pak” Sarah berjalan dengan cepat agar tidak diomeli bosnya itu


Desi melihat Sarah yang sudah masuk ke dalam ruangannya.


“Tidak pak” Desi menggelengkan kepalanya


“Terus kenapa masih ada di sini” bentak Angga


Seketika Desi berlari masuk ke ruangannya.


“Apa semua wanita seperti itu, jika sudah bergosip sampai lupa waktu. Apa aku buatkan peraturan saja agar tidak ada karyawan yang bergosip di waktu bekerja” Angga memijat pelipisnya


Angga masuk ke dalam ruangannya.


*


Brakak


Seseorang menabraknya dari belakang.


“Maaf aku tidak sengaja” ucap Resti


“Iya tidak apa-apa, aku yang minta maaf karna sudah berhenti mendadak kamu juga tidak lihat kalo aku berhenti” ucapnya


“Sepertinya dia kaya, buktinya pakaiannya rapi banget pasti dia pengusaha beda sama Anton yang sudah jatuh miskin” ucap Resti dalam hati

__ADS_1


“Aku Resti” Resti mengulurkan tangannya


Kriiing kriiing


Tiba-tiba ponselnya berbunyi.


“Halo” ucapnya


“------“


“Iya aku akan segera ke sana” ucapnya


“Maaf ya, aku buru-buru oh iya ini kartu nama aku” ia memberikan kartu namanya pada Desi


Pria itu berlalu pergi meninggalkan Resti.


“Belum juga tahu siapa namanya sudah pergi begitu saja, tapi tidak apa-apa yang penting aku dapat kartu namanya, aku akan menghubunginya nanti” ucap Resti


*


“Desi cepat ke ruangan saya” ucap Angga


Angga langsung mematikan sambungan teleponnya.


Tok tok tok


“Masuk” ucap Angga


“Ada apa ya pak?” tanya Desi


“Saya ada meeting setelah makan siang, kamu ikut saya makan siang setelah itu temani saya meeting” ucap Angga


“Tapi pak say-“


“Kamu membantah?” Angga menatap tajam


“Tidak pak, saya akan ikut bapak makan siang dan juga meeting nanti” ucap Desi pasrah


“Ini namanya pemaksaan” ucap Desi dalam hati


“Kamu kenapa masih berdiri di situ” ujar Angga


“Apa sudah tidak ada lagi yang ingin disampaikan pak?” tanya Desi


“Tidak” jawab Angga singkat


“Dih cuek amat jawabnya sudah memaksa jawabnya cuek lagi, dasar bos tidak punya hati padahal aku mau makan siang dengan Sarah jadi gagal deh” keluh Desi dalam hati


“Tidak perlu mengomel di dalam hati” ucap Angga tanpa melihat Desi


“Kalo begitu saya permisi pak”

__ADS_1


Desi keluar dari ruangan Angga.


“Kerjanya pasti menggerutu di dalam hati, apa dia punya kelainan” ujar Angga setelah kepergian Desi


__ADS_2