
"Siapa sih, kenapa pak Angga seperti serius sekali tapi kenapa orang tadi lebih santai dari ekspresi pak Angga" Desi bermonolog
Desi masuk ke dalam ruangannya dan kembali bekerja.
Sampai jam pulang kantor Angga tidak menemui Desi di ruangannya, padahal Desi sudah menunggu di ruangannya dan berharap Angga datang untuk memberi tahu apa hang sebenarnya terjadi. Merasa apa yang dilakukannya tidak akan ada hasilnya Desi memutuskan untuk pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, lagi-lagi Desi melihat pemandangan yang akan membuat darahnya naik turun. Siapa lagi kalo bukan paman dan bibinya, di sana juga ada Anton entah sedang apa Anton berada di antara mereka, atau mungkin hanya kebetulan bertamu.
"Assalamualaikum" ucap Desi
"Waalaikumsalam" jawab mereka kompak
"Baru pulang Des?" tanya Anton
"Iya mas, tumben ke sini rame-rame?" tanya Desi basa-basi
"Iya tadi kebetulan pas aku ke sini paman sama bibi juga ada di sini" jawab Anton
"Oh" Desi mengangguk
"Ini hasil penjualan tanahnya kak" Burhan memberikan amplop coklat yang di dalamnya berisi uang hasil jual tanah warisan mereka
Darto mengambil dan melihat isinya, Darto mengerutkan keningnya.
"Ini setengah dari hasil penjualannya?" tanya Darto
"Iyalah kak, katanya harga tanah turun dan lakunya juga di bawah perkiraan kita karna tanahnya tidak strategis jadi cuma berani kasih segitu" jelas Burhan
"Tanahnya memang tidak strategis tapi itu bisa dijadikan kebun" ucap Darto
"Iya kak, tapi orangnya cuma berani harga segitu jadi ya kita terima tidak mungkin kita memaksanya kita juga lagi butuh banget" ucap Dewi
__ADS_1
"Kalian bisa jual ke bank pasti harganya lebih mahal, kenapa cuma jual ke orang katanya kalian butuh uang buat bayar hutang atau jangan-jangan uang kalian ambil sendiri ya" Sidik Desi
"Kamu jangan menuduh sembarangan ya, sama orang tua kok tidak ada sopan-sopannya" ucap Dewi gugup
"Aku tidak nuduh, aku cuma bilang seperti itu kenapa jadi sewot dan gugup begitu. Mungkin benar ya" ucap Desi
"Sudah-sudah, ya sudah kalo memang ini hasil dari penjualan tanahnya. Aku harap hubungan saudara kita tidak renggang karna masalah ini" ucap Darto
"Iya kak, tapi kalo kakak tidak keberatan kami akan sering-sering berkunjung kemari agar silaturahmi kita tetap terjaga" ucap Burhan
"Iya bagus kalo seperti itu" ucap Darto
"Hampir maghrib juga kita sholat di sini saja, oiya kamu tidak masak Des kan baru pulang kantor. Pasti enak kalo kita bisa makan malam bersama jarang-jarang kita seperti itu kamu ikut makan malam bersama di sini saja Anton kita sholat berjamaah" ucap Burhan bijak
"Iya benar tuh, mending kamu masak dulu Des kami juga tidak ada acara setelah ini jadi bisa santai di sini" ucap Dewi
"Tidak tahu malu banget, malah nyuruh orang masak ngajak mas Anton lagi" ucap Desi dalam hati
Desi menatap Darto meminta bapaknya itu tidak menyetujui apalagi Anton juga ada di tengah-tengah mereka.
"Iya pak" ucap Desi pasrah
Adzan berkumandang, semua orang sholat maghrib.
Desi yang baru saja selesai mandi, langsung berganti pakaian dan turun ke bawah untuk makan malam.
"Ayo duduk di sebelah Anton Des" ucap Dewi santai
Karna kursi hanya tersisa di sebelah Anton, mau tidak mau Desi pun duduk.
"Ayo makan yang banyak Anton, kamu pasti rindu masakan Desi kan di rumah pasti tidak ada yang masakin, kalo seperti ini ingat kalian masih suami istri ya, kamu tidak mau cari jodoh Des? atau kamu mau kembali dengan Anton? Padahal kalian cocok loh mukanya agak mirip kenapa tidak rujuk saja sih" ucap Dewi mengunyah makanan di mulutnya
__ADS_1
Anton merasa senang karna Dewi melakukan keinginannya meski hanya seperti ini, Desi pasti akan mengingat masa-masa ketika bersamanya dulu.
"Bibi bicara apa sih, lagian mau aku nikah lagi juga tidak akan mengganggu bibi kan?" ucap Desi kesal
"Desi" Darto memanggilnya dengan nada penuh penekanan agar anaknya itu lebih sopan kepada pamannya itu.
"Tapi benar kan pak? Aku juga tidak pernah berpikir untuk nikah lagi dalam waktu dekat ini. Apalagi sampai kembali rujuk dengan mas Anton kami sudah punya kehidupan masing-masing, aku tidak mau basah kedua kalinya" jelas Desi
"Aku minta maaf ya Des, kalo seandainya kita kembali lagi aku janji tidak akan melakukan seperti itu lagi aku akan membahagiakan kamu" ucap Anton menunduk
"Iya mas, tapi untuk kembali lagi sepertinya tidak akan mungkin karna aku tidak mau mengingat semuanya lagi, cukup sekali dan tidak mau terulang lagi" ucap Desi
"Semua orang pernah melakukan kesalahan jadi apa salahnya kamu terima Anton lagi, Anton juga sudah janji untuk tidak mengulanginya lagi, untuk mencari orang baru itu sulit Des, apalagi kamu sudah janda laki-laki juga maunya yang masih segel meski kamu belum punya anak tapi jarang loh yang mau" ucap Dewi
Mendengar ucapan bibinya itu membuat Desi naik darah, seandainya dia bukan istri dari pamannya pasti Desi akan mengusirnya dari rumahnya.
"Aku tidak peduli, mau ada yang mau sama aku ataupun tidak yang penting aku tidak mau mengulang masa lalu, coba saja bibi yang ada di posisi aku dan paman yang selingkuh apa bibi akan semudah itu untuk kembali" ucap Desi sedikit menaik
Anton merasa malu, karna memang dirinya sudah salah. Anton hanya bisa menunduk, niatnya untuk bisa mengambil hati Desi sepertinya tidak mudah, bahkan Desi dengan terang-terangan menolak untuk kembali dengannya.
"Ya kalo paman kamu tidak akan seperti itu" Dewi membela diri
"Sudah jangan ribut ketika makan tidak baik, urusan Desi biarlah dia yang menentukan kita hanya bisa mendukungnya, mereka sama-sama sudah tahu apa yang harus ditentukan jadi biar mereka mengurus masalah mereka dan kita sebagai orang tua hanya perlu mendukung, aku juga tidak akan membiarkan anak saya jatuh ke jurang yang sama" Darto melirik Anton
Anton semakin tak berani mengangkat wajahnya, makan malam kali ini sangatlah tidak membantunya, bahkan ia seperti tak punya harga diri lagi.
"Lebih baik kita habiskan makanannya" sambung Darto
Semua orang kembali menyantap makanannya setelah keadaan sempat tegang, tapi bisa mencair kembali karna Darto menengahi perdebatan.
Setelah makan malam, Dewi, Burhan dan Anton pamit untuk pulang.
__ADS_1
Di perjalanan Anton menghentikan mobil milik Burhan.
"Ada apa lagi? ini sudah malam jadi kita bahas besok saja kamu tidak lihat tadi sudah ditolak dan kami sudah melakukan mau kamu tapi hasilnya tidak sesuai kan?" ucap Burhan kesal