
Semua kembali berjalan seperti biasanya, Angga bekerja seperti hari-hari biasanya Desi pun juga begitu, keduanya seperti tidak ada apa-apa entah mengapa menjadi rumit setelah ungkapan perasaan Angga.
"Sampai sekarang pun Desi tidak memberi jawaban apa-apa, mungkin dia memang tidak mau menjalin hubungan dengan aku" Angga bermonolog
"Permisi pak" ucap Sarah
"Iya masuk" ujar Angga
"Bapak memanggil saya?"
"Oh iya Sarah, duduk" titah Angga
"Ada apa ya pak? Sepertinya serius sekali"
"Sebenarnya ini bukan urusan kantor sih, tapi saya ingin bertanya sesuatu sama kamu" ucap Angga
"Jangan-jangan ini masalah Desi, sepertinya aku akan jadi pos mereka deh" ucap Sarah dalam hati
"Rah" panggil Angga
"Ah iya pak" jawan Sarah
"Apa kamu punya masalah? Kalo kamu punya masalah saya tidak jadi minta tolong kamu" ucap Angga
"Tidak pak, saya tidak punya masalah"
"Kenapa bengong?"
"Tidak pak, tadi hanya ingat sesuatu. Memang bapak mau minta tolong apa ya?"
"Tapi kamu janji dulu jangan kasih tahu Desi" ucap Angga
"Memang apa hubungannya sama Desi?" Tanya Sarah bingung
"Janji dulu"
"Iya iya janji tidak akan kasih tahu Desi"
"Nah gitu awas saja kalo sampai Desi tahu saya potong gaji kamu" ancam Angga
"Ya elah pak kenapa main begini sih, kalo potong gaji makannya gimana pak" ucap Sarah memelas
"Ya bukan urusan saya"
"Iya deh saya janji tidak akan kasih tahu Desi asal gaji saya aman biar makan saya juga aman selama sebulan tanpa harus ngirit, memang apaan sih pak sampai harus janji segala"
"Pakai curhat" cibir Angga "Apa Desi pernah cerita sesuatu sama kamu?" Tanya Angga
Sarah tampak berpikir dan mengingat-ingat.
__ADS_1
"Pernah bahkan sering" jawab Sarah
"Cerita apa?" Tanya Angga penasaran
"Ya banyak pak, tentang dia yang capek karna dimarahi bapak, terus dia yang suka berantem sama Sely, tentang mantan suaminya yang masih ingin kembali dengannya, masih banyak lagi deh pak kalo disebuti satu-satu ada yang lupa" ujar Sarah
Angga mengusap mukanya dengan kasar "Tidak perlu kamu ceritakan semuanya Sarah, maksud saya itu Desi pernah cerita tentang saya ke kamu bukannya kamu ceritakan semua yang pernah Desi ceritakan ke kamu" Angga mulai tidak sabar
"Ooh saya kira semua cerita yang pernah Desi ceritakan pada saya kenapa bapak tidak ngomong dari tadi, kalo itu pernah tapi sekali" ujar Sarah
"Sekali?" Ucap Angga tak menyangka ternyata dirinya tidak seberuntung itu untuk diceritakan oleh Desi
"Iya pak, hanya sekali memang kenapa sih?"
"Tidak, memang dia cerita apa sama kamu?"
"Setelah dari kebun bapak ya Desi itu, ketika kami di dapur Desi cerita semuanya yang terjadi di kebun bersama bapak"
"Terus dia tidak bercerita lagi selain itu?"
"Tidak ada, hanya itu memang kenapa sih pak? Saya jadi bingung dari tadi pertanyaannya tidak jelas" Sarah mencoba menangkap semua pertanyaan Angga yang menurutnya sangat tidak bisa dipahaminya atau hanya Sarah yang tidak mengerti
"Tidak apa-apa, kamu bisa kembali bekerja" ucap Angga
"Jadi bapak memanggil saya hanya untuk seperti ini, tidak jelas banget sih bapak" omel Sarah
"Kamu berani mematahi saya?!"
"Sudah sana kerja" usir Angga
"Tadi manggil sekarang malah ngusir" gerutu Sarah yang masih terdengar oleh Angga
"Saya dengar Sarah" ucap Angga pada Sarah yang sudah berada di ambang pintu
Sarah malah kabur dengan jurus kilatnya. Angga yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Huuh untung saja bisa kabur dari si bos" ucap Sarah sambil ngos-ngosan
"Kamu kenapa Rah?" Tanya Desi yang baru saja masuk ke ruangan Sarah
"Aduuh kamu ngagetin saja tahu" omel Sarah
"Lagian kamu habis ngapain sih sampai ngos-ngosan begitu, kalo mau olahraga jangan di kantor juga" ujar Desi
"Siapa yang olah raga aku itu cuma-"
"Uh hampir saja keceplosan nih mulut, gajiku terancam saat ini. Ayo dong jangan keceplosan nanti makan sebulan bisa berkurang" ucap Sarah dalam hati
Desi menatap Sarah bingung, ia menunggu jawaban dari teman satu kantornya itu.
__ADS_1
"Cuma?"
"Ya cuma lagi pemanasan saja untuk olahraga sore nanti" ucap Sarah asal
"Kalo olahraganya sore kenapa pemanasannya sekarang? Aneh banget sih kamu"
"Hehehe" Sarah menunjukkan deretan giginya yang putih "Biar nanti tidak terlalu tegang ototnya dan tidak perlu lama-lama senamnya"
"Terserah kamu saja deh, aku mau antar ini perbaiki lagi ya ada yang salah" Desi memberikan beberapa dokumen
"Oh iya nanti aku perbaiki kalo sudah aku antar ke ruangan kamu ya"
"Langsung ke ruangan pak Angga saja, kemarin pak Angga titip ke aku suruh kasih kamu karna kemarin dia buru-buru katanya"
"Ke pak Angga?"
Desi mengangguk "Memang kenapa? Kamu kok kayak takut begitu sih biasanya juga biasa kalo ketemu dia"
"Eh tidak kok, cuma takut salah lagi saja nanti malah disemprot" Sarah mencari alasan
"Tidak akan, aku balik ke ruangan aku dulu ya"
"Iya"
Desi keluar dari ruangan Sarah "Huh untung saja" Sarah mengelus dadanya yang sudah menahan degup yang berlebihan.
*
"Aku kan sudah bilang jangan terlalu capek jadinya kan seperti ini bu" ucap Anton
"Kalo bukan ibu yang beresin semuanya siapa? Istri kamu saja pergi ninggalin kamu" ucap Ratna
"Biar aku cari pembantu saja"
"Gaji kamu saja cukup buat makan kita sebulan terus gaji pembantu dari mana? Kalo tahu akan begini ibu tidak akan izinkan kami menikah dengan Resti dan meninggalkan Desi, semuanya jadi berantakan"
"Sudahlah bu, hampir setiap hari ibu bicara seperti itu, aku juga tidak mau begini aku lagi usaha agar kita bisa kayak dulu lagi"
"Ibu mau istirahat, kamu keluar saja"
"Ya sudah ibu istirahat ya"
Anton keluar dari kamar Ratna dan Ratna merebahkan tubuhnya.
"Kenapa hidup aku jadi tambah rumit begini sih" keluh Anton
Setelah kepergian Resti sang ibu ikut tinggal bersama Anton.
Semua pekerjaan rumah Ratna yang mengerjakan, Anton terkadang ikut membantu karna tidak tega melihat sang ibu yang kelelahan.
__ADS_1
Awalnya Anton hanya bosan dengan suasana rumah tangganya yang begitu-begitu saja, tapi ketika Resti mencoba menggodanya Anton malah tergoda dan lupa pada janjinya yang telah diucapkan sewaktu menikahi Desi.
"Andai saja aku tidak mengkhianati Desi, semua ini tidak akan terjadi. Mungkin rumah tanggaku bahagia tanpa ada kejadian seperti ini yang menimpaku" Anton meratapi nasibnya, ia mengingat semua kesalahan yang sudah ia perbuat pada mantan istrinya.