
"Aku akan menelepon Angga dan melaporkan kelakuan kamu" ancam Sely
Sely mengeluarkan ponsel, benar saja ia menghubungi Angga, namun sialnya Angga tak mengangkat teleponnya.
"Kenapa tidak diangkat sih" gerutu Sely
"Sebaiknya ibu keluar, sebelum saya benar-benar memanggil satpam untuk menyeretnya" ucapnya
"Awas kamu ya" Tunjuk Sely
Mau tidak mau Sely pun keluar dari kantor Angga, ia tak mungkin bisa menerobos orang itu.
Sely masih terus mencoba menghubungi Angga, berharap pria itu mengangkat teleponnya. Entah sengaja atau tidak yang pasti dari tadi Sely menghubungi Angga, ia tak meresponnya sama sekali bahkan pesannya pun tak dibacanya.
"Awas kamu Ga, berani-beraninya kamu buat aku kesal kayak gini" ucap Sely sebelum benar-benar pergi dari perusahaan Angga
Sedangkan Angga sedang sibuk di ruangannya. Hari ini banyak pekerjaan yang membuatnya tidak bisa bergerak bebas, bahkan ponselnya pun ia silent agar tak mengganggunya.
Desi juga ikut membantu Angga, jika urusan pekerjaan mereka tak pernah menyangkut pautkan dengan urusan pribadi. Sikap profesional Desi membuat Angga kagum, sesekali ia melirik Desi yang terlihat fokus mengerjakan pekerjaannya.
"Kalo kamu lapar pesan saja" ucap Angga
"Tidak pak, nanti saja setelah jam istirahat" jawab Desi
"Cemilan?" Tanya Angga lagi
"Tidak pak" jawab Desi
"Minuman?" Angga bertanya lagi
Desi yang mulai terganggu dengan pertanyaan Angga yang membuat dirinya tak konsentrasi dengan pekerjaannya.
"Kalo bapak mau pesan, pesan saja pak aku lagi tidak haus dan lapar" ucap Desi menyunggingkan senyumnya
"Oh ya sudah" Angga kembali melanjutkan pekerjaannya
__ADS_1
Hampir satu jam mereka bergelut dengan kertas-kertas yang ada di depannya. Angga berdiri dari tempat duduknya dan membuka pintu ingin melihat suasana yang tidak membosankan selain tumpukan kertas.
"Apa ada seseorang yang ingin masuk?" Tanya Angga pada pengawal yang menjaga di depan pintu ruangan Angga
"Ada pak, tadi ada perempuan yang ingin masuk bahkan memaksa masuk untuk bertemu bapak sambil marah-marah, kalo tidak salah perempuan itu yang pernah datang ke rumah bapak waktu itu" jelasnya
"Maksudnya Sely?" Tanya Angga memastikan
"Iya pak"
"Apa dia mengamuk dan melakukan sesuatu?"
"Tidak pak, dia hanya marah-marah dan memaksa masuk menemui bapak tapi saya sudah mengatakan kalau bapak sedang sibuk dan tidak bisa diganggu oleh siapapun"
Setelah mendengar itu Angga kembali masuk dan mengambil ponselnya memeriksa apakah Sely menghubunginya, ternyata benar Sely menelepon dan mengirim pesan pada Angga.
Desi yang melihat perubahan raut wajah Angga ingin bertanya namun ia urungkan, Desi kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sudah tiba waktunya untuk makan siang, Desi masih fokus dengan pekerjaannya dan tak menyadari, sedangkan Angga yang sudah tahu kalau waktunya makan siang masih memerhatikan Desi, namun sayangnya Desi tidak peka dan tetap fokus pada pekerjaannya.
"Hah apa sudah waktunya untuk makan siang?" Tanya Desi, ia melihat jam di tangannya benar saja waktu sudah menunjukkan untuk makan siang "Sebaiknya aku ke kantin dulu, sudah lapar" ucap Desi merapikan kertas-kertas yang berserakan.
"Saya ikut" ucap Angga
"Hah?!"
"Setelah bekerja dengan tumpukan kertas tadi membuat kamu lemot?" Sindir Angga
"Ah tidak tidak saya hanya bertanya takutnya salah dengar" ucap Desi
"Ayo" Angga berjalan melewati Desi dan Desi mengikuti langkah Angga
"Des" panggil Sarah
"Hai Rah" ucap Desi
__ADS_1
"Kalo sudah ketemu pasti lupa ada orang" cibir Angga
"Hehehe pak Angga, mau ke kantin pak? Saya iku ya? Ayo Des" tanpa menunggu jawaban Angga, Sarah langsung menarik tangan Desi
"Hei saya belum menjawab pertanyaan kamu, kenapa kamu langsung pergi dan membawa Desi?" Ucap Angga
"Emm kalau berduaan itu tidak baik pak, jadi saya harus ikut agar tidak terjadi fitnah diantara kalian jadi bapak harus berterima kasih pada saya" ucap Sarah bangga
"Huh" Angga hanya menghela nafasnya, meski ia sering makan bareng Desi jika orang lain berpikir dirinya ada apa-apa dengan Desi, dan perkataan Sarah ada benarnya juga, jadi mau tidak mau Sarah bergabung dengannya.
"Kamu ke mana saja Des? Aku ke ruangan kamu kenapa tidak ada?" Tanya Sarah sambil mengunyah makanan di mulutnya
"Kalau makan itu jangan sambil bicara" ucap Angga
"Iya pak maaf lupa" ucap Sarah menunjukkan deretan giginya yang putih
"Aku lagi kerja di ruangannya pak Angga, jadi tidak ada di ruanganku" jawab Desi
"Memang harus ya bekerja di sana?" Pertanyaan Sarah membuat Angga kesal
"Kamu mau ikut bergabung di ruanganku juga Sarah" ucap Angga sambil melotot
Sarah yang menyadari pertanyaannya yang bodoh itu hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Tidak pak hehe"
"Lalu kenapa kamu melarang Desi untuk bekerja di ruangannya?" Pertanyaan Angga membuat Sarah tersedak
"Bu-bukan melarang pak hanya bertanya saja" ucap Sarah
"Sudah, ayo makan nanti keburu habis waktu istirahatnya jangan membahas pekerjaan disaat jam istirahat agar ketika bekerja nanti bisa fokus" nasehat Desi
"Baik bu" ucap Sarah ramah
"Bu? Kamu pikir aku ibumu" Desi menyenggol lengan Sarah akhirnya mereka berdua tertawa.
"Hanya ucapan seperti itu bisa membuat mereka tertawa serenyah itu" ucap Angga dalam hati
__ADS_1