
Keesokan harinya, Darto meminta Burhan untuk datang menemuinya di rumahnya. Banyak hal yang ingin ia tanyakan dan ia juga ingin menagih hutang yang dipinjamnya, sebenarnya Darto tidak pernah masalah jika Burhan meminjam uang asalkan digunakan untuk hal yang bermanfaat, tapi Darto tak bisa memaklumi semuanya karna Burhan melakukan kesalahan dalam hidupnya.
"Ada apa kak sampai aku harus ke sini?" Tanya Burhan
Desi sudah berangkat kerja, sebenarnya Desi meminta Darto untuk menunggunya pulang saja karna takut terjadi sesuatu tapi Darto meyakinkan Desi dan akan menyelesaikan semuanya secara kekeluargaan.
"Apa kamu ingin mengatakan sesuatu sebelum aku menjelaskan semuanya?" Tanya Darto
"Mengatakan apa? Aku tidak ingin mengatakan apa-apa bukankah kakak yang memintaku ke sini?" Ujar Burhan
"Aku sudah tahu semuanya, Anton sudah menceritakan semuanya" ucap Darto
Wajah Burhan berubah menjadi panik, ia khawatir jika kakaknya itu akan memberitahu istrinya, jika memang Anton memberitahukan semuanya tentu semua rahasia Burhan sudah terbongkar dan Darto sudah mengetahui semuanya.
"Mak-maksud kakak apa?" Tanya Burhan gugup namun sebisa mungkin ia menutupi kegugupannya
"Sudahlah Burhan, kamu tidak perlu pura-pura lagi. Aku kecewa karna sudah gagal menjadi kakak kamu, aku kira setelah menikah kamu akan berubah dan serius menjadi kepala rumah tangga yang baik untuk istri kamu apalagi istri kamu sedang mengandung anak kamu bagaimana kalo dia sampai tahu dan mendengar kelakuan kamu di belakang dia. Aku tidak akan ikut campur urusan rumah tangga kamu tapi selesaikan secara baik-baik dan bicarakan semuanya sebelum Dewi tahu dari orang lain yang akan membuatnya tambah sakit hati lagi sama kamu" ujar Darto
"Kurang ajar memang si Anton berani sekali dia membocorkan semuanya dan memberitahu pada kak Darto, awas kamu Anton aku akan buat pelajaran lihat saja nanti" ucap Burhan dalam hati, ia sangat marah ketika tahu yang memberitahu itu adalah Anton orang yang selama ini selalu ikut dengannya.
"Kenapa kamu diam saja Burhan, dan untuk masalah uang hasil penjualan tanah aku tidak akan meminta karna aku yakin uang itu sudah habis untuk membayar hutang-hutang kamu tapi untuk uang yang kamu pinjam segera kembalikan, dan jika nanti ada masalah ke belakangnya jangan libatkan aku selesaikan sendiri urusan kamu, kamu sudah besar jadi aku harap kamu sudah tahu mana yang baik dan tidak untuk kamu. Kamu juga harus pikirkan Dewi yang sebentar lagi akan segera melahirkan, segera akhiri semuanya dan beritahu Dewi sebelum kamu menyesal nantinya" Darto berusaha memberi peringatan pada adiknya itu agar segera sadar dan bisa berubah.
*
__ADS_1
Desi terlihat cemas, ia tak fokus dengan pekerjaannya dari tadi. Angga yang juga berada di ruangan Desi melihat sang sekretarisnya itu juga bingung lalu menanyakannya pada Desi.
"Kamu kenapa gelisah seperti itu? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Angga
"Saya kepikiran bapak" jawab Desi
"Memang bapak kenapa? Apa bapak sakit?" Tanya Angga
Desi menggeleng pertanda tidak.
"Lalu?"
"Ada masalah dengan paman Burhan dan sekarang bapak meminta paman datang ke rumah, makanya aku khawatir takutnya paman melakukan sesuatu sama bapak, paman orangnya nekat kalo marah bisa melakukan apa saja" jelas Desi
"Apa perlu kita melihatnya?"
"Ya sudah, aku pesankan minuman ya biar kamu lebih tenang, kalo memang tidak bisa fokus kamu bisa kerjakan nanti setelah kamu dapat kabar dari bapak"
"Benarkah? Saya tidak terlalu fokus, saya akan menelepon bapak nanti"
Angga mengangguk dan tersenyum. Hubungan mereka memang biasa saja kalau sedang di kantor, tapi berbeda dengan jantung mereka yang berdetak lebih cepat kalau sudah saling pandang dan perhatian, apalagi Desi yang mendapat perhatian lebih dari Angga.
Setelah itu Angga kembali ke ruangannya, ia pergi ke ruangan Desi untuk mengambil dokumen namun bukan Angga kalo tidak duduk dan memperhatikan Desi untung saja Desi tidak merasa terganggu karna kehadiran bosnya itu.
__ADS_1
Desi menelepon bapaknya dan menanyakan apakah semuanya baik-baik saja.
"Assalamualaikum pak, apa bapak baik-baik saja?" Ucap Desi
"Waalaikumsalam Des, bapak baik-baik saja memangnya kenapa?" Ucap Darto dari seberang sana
"Huh syukurlah, aku khawatir sama bapak" ucap Desi
"Memang khawatir kenapa Des? Bapak kan tidak kenapa-napa"
"Aku takut paman melakukan hal-hal yang membahayakan bapak jadi aku bertanya keadaan bapak"
"Tidak kok, pamanmu memang marah ketika bapak menagih hutangnya dan beralasan masih belum mempunyai uang tapi bapak tetap memaksa dan mengancamnya akan memberitahukan istrinya tentang semua kelakuan pamanmu di belakangnya"
"Biar saja pak, yang penting bapak tidak apa-apa, masalah hutang kita bisa bucarakan lagi nanti"
"Iya Des, tapi bapak tetap akan menagihnya karna itu tanggung jawabnya yang sudah meminjam uang agar pamanmu bisa bertanggung jawab atas perbuatannya, untung cuma ke bapak jadi tidak perlu menagihnya setiap saat kalo dia pinjamnya sama orang lain bagaimana? Kan kasihan yang memberi pinjaman harus menagihnya terus, sebenarnya bapak tidak masalah dengan hutang itu hanya saja bapak ingin memberinya pelajaran agar bisa lebih bertanggung jawab atas perbuatannya apalagi sebentar lagi dia akan menjadi ayah dan usianya juga tidak muda lagi untuk bermain-main."
"Iya pak, ya sudah kalo bapak tidak apa-apa, aku tutup ya teleponnya mau lanjut kerja lagi"
"Iya Des"
"Assalamualaikum"
__ADS_1
"Waalaikumsalam"
Desi memutuskan sambungna teleponnya, ia bisa kembali bekerja setelah mendengar bapaknya baik-baik saja, kekhawatirannya sudah terobati dan ia bisa fokus bekerja.