Menyesal Setelah Dibuang

Menyesal Setelah Dibuang
32 Siapa?


__ADS_3

"Eh iya pak tunggu saya selesaikan ini sebentar" ucap Desi


Angga menunggu Desi di dekat pintu, entah mengapa ia tak mau duduk di kursi depan Desi.


Desi baru menyadari kalau bosnya sedang berdiri di dekat pintu.


"Emm bapak tidak duduk?" Tanya Desi


"Pertanyaan macam apa itu, sudah tahu dia berdiri duuh Desi bisa-bisanya kamu membiarkan bos kamu menunggu berdiri" omel Desi dalam hati pada dirinya sendiri


"Sudah?" tanya Angga datar


"Iya pak, ayo" Desi beranjak dari tempat duduknya


Desi dan Angga berjalan ke luar kantor, pemandangan itu terlihat oleh Sely yang hendak masuk ke kantor Angga namun dihalang oleh satpam.


"Dasar wanita tidak tahu diri" Sely mendorong Desi sehingga tubuh Desi terjungkal karna tidak bisa seimbang


"Aduh" keluh Desi yang merasakan lutut dan sikunya terasa perih


"Desi" Angga langsung membantu Desi untuk bangun "Kamu apa-apaan sih" bentak Angga pada Sely


"Sekarang kamu bela dia Ga!? Jadi benar ya kamu punya hubungan sama dia" Ucap Sely


Sarah yang baru saja keluar dan hendak pergi ke kantin kantor melihat Desi di sana langsung menghampirinya.


"Desi kamu kenapa?" tanya Sarah


"Tidak apa-apa" ucap Desi meyakinkan


"Pasti nenek sihir ini yang buat kamu begini ya?" ucap Sarah


Desi mengangguk dan memberi isyarat agar diam saja dan biar Angga yang menghadapinya.


"Sini kamu perempuan gat*al" Sely hendak menghampiri Desi tapi Angga segera menahan lengannya


"Kamu mau apa ke sini lagi? kita sudah tidak ada hubungan urus saja laki-laki kamu itu" ucap Angga geram


"Ga, aku minta maaf aku sudah tidak ada hubungan lagi sama dia semenjak kita putus aku jadi tidak bisa fokus buat ngapa-ngapain aku mau kita balikan lagi" Sely memegang tangan Angga memohon


"Jangan pernah bermimpi untuk kembali lagi" Angga menghempas tangan Sely


"Tidak tahu malu banget sih sudah ditolak masih saja mohon-mohon" cibir Sarah


Desi menyenggol lengan Sarah agar temannya itu diam dan suasana tidak semakin keruh.


"Kamu tidak usah ikut campur ya, kalian itu hanya perempuan gat*al yang mengharapkan harta laki-laki seperti Angga" ucap Sely


"Itu sih lagi menceritakan diri sendiri" sahut Sarah


"Kurang ajar kamu" Sely mengangkat tangannya hendak menampar Sarah namun dengan sigap Sarah menahan tangan Sely


"Kamu pikir aku bakal diam dan membiarkan tangan kamu ini menyentuh pipi mulus aku, lebih baik kamu pergi sebelum aku keluarkan kuda-kuda aku" Sarah mendorong Sely sehingga ia terjatuh


Merasa malu dan tidak ada yang membelanya Sely berdiri dan langsung pergi begitu saja, karna banyak orang yang sudah melihat dirinya ia tak mau semakin malu.


"Awas kamu" ucap Sely di kejauhan namun masih terdengar oleh Desi, Sarah dan Angga

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Angga yang tampak bersalah


"Tidak pak, hanya perih sedikit mungkin tergores tadi" jawab Desi


"Kita batalkan meetingnya, Sarah kamu bantu bawa Desi ke rumah sakit" ucap Angga


"Hah" Sarah yang mendengar bosnya terlalu berlebihan itu hanya menatap Desi bingung


Lukanya hanya kecil, tapi Angga berlebihan sehingga meminta Desi untuk pergi ke rumah sakit.


"Ngapain ke rumah sakit pak?" Tanya Sarah polos


"Kamu tidak lihat teman kamu terluka" jawab Angga


"Saya tidak apa-apa pak, lagian ini hanya lecet dibawa ke UKS sudah sembuh" ucap Desi


"Apa kamu yakin?" tanya Angga ragu


"Iya pak yakin"


"Kamu temani Desi ke UKS Sarah" titah Angga


Sarah mengangguk dan memegang tangan Desi untuk membantu berjalan.


Sesampainya di UKS, Sarah membantu Desi mengobati lukanya.


"Pak bos lebay banget ya, luka kecil begini saja mau dibawa ke rumah sakit" ucap Sarah


"He'em"


Desi menoyor kepala Sarah.


"Jangan berpikiran yang macam-macam" ucap Desi


"Kebiasaan banget sih, nanti kalo aku jadi ogeb bagaimana harta perusahaan nih" omel Sarah


"Biarin saja banyak yang mau gantikan kamu"


"Kamu tidak berperi kemanusiaan" ucap Sarah memelas


"Jangan kayak bos deh lebay tahu"


"Bos begitu juga cuma sama kamu, kalo yang lain tidak mungkin seperti itu"


"Apaan sih"


Setelah selesai mengobati Desi, mereka kembali ke ruangannya.


*


Di ruangannya Angga tak tenang, ia merasa bersalah pada Desi karnanya ia harus terluka walau hanya sedikit tapi perasaan bersalah itu mengganggu pikirannya sehingga ia tak bisa fokus untuk bekerja.


"Aku harus ketemu Desi, tapi kalo dia" Angga tampak berpikir "Arggh semua ini gara-gara Sely ngapain sih datang ke sini segala" ucap Angga kesal


Telepon Angga berdering.


"Halo" ucap Angga

__ADS_1


"Halo pak, ini ada perwakilan dari PT Bintang ingin bertemu bapak" ucapnya


"PT Bintang?" Angga berpikir, mengingat klien yang ingin bertemu dengannya


"Iya pak, beliau menunggu di ruang tunggu"


"Suruh masuk ke ruangan saya" ucap Angga


"Baik pak"


Sambungan telepon terputus.


*


"Siapa bak?" tanya Desi yang lewat dan mendengar percakapannya dengan Angga


"Perwakilan dari PT Bintang bu" jawabnya


"PT Bingtang" Desi mengingat nama perusahaan itu, sepertinya ia tidak ingat kalo ada pertemuan dengan perusahaan itu "Orangnya ke ruangan pak Angga?"tanya Desi


"Iya bu"


Desi langsung pergi ke ruangan Angga, takutnya bosnya itu memerlukan sesuatu dan dirinya tidak ada di ruangannya


Desi sudah berada di depan ruangan Angga,ia mendengar percakapan keduanya.


"Bagaimana pak Angga?" ucapnya


"Anda ingin mempermainkan saya!" bentak Angga


Desi yang mendengarnya terkejut, kenapa Angga sampai marah-marah berbicara dengannya.


"Apa yang dibahas kenapa pak Angga sampai marah begitu, apa ada hal penting. Sebaiknya aku masuk saja" ucap Desi


Desi membuka pintu, ia melihat suasana seperti tegang.


"Duh aku tidak tepat sepertinya, kenapa wajah pak Angga tegang seperti itu dan siapa laki-laki ini kenapa ia santai sekali" ucap Desi dalam hati


"Permisi pak" ucap Desi


"Masuk" ucap Angga


"Maaf pak, apa ada sesuatu yang bapak butuhkan?" tanya Desi


"Yang ini boleh juga pak Angga, ternyata sekarang selera pak Angga lebih relegius ya buat hati tenang lihatnya" ucapnya


"Jangan libatkan orang lain" ucap Angga serius


"Oh santai pak, seperti orang spesial ya" bisiknya namun masih terdengar oleh Desi


"Kamu tunggu di ruangan kamu saja, aku tidak membutuhkan sesuatu" ucap Angga


"Baik pak, saya permisi" Desi keluar dari ruangan Angga


"Siapa sih, kenapa pak Angga seperti serius sekali tapi kenapa orang tadi lebih santai dari ekspresi pak Angga" Desi bermonolog


Desi masuk ke dalam ruangannya dan kembali bekerja.

__ADS_1


__ADS_2