Menyesal Setelah Dibuang

Menyesal Setelah Dibuang
30 Kalah Start


__ADS_3

"Lebih baik tanya sama Desi mau pulang bareng siapa" ucap Angga


"Des, kamu mau pulang bareng aku kan?" Tanya Anton


"Duh kenapa jadi begini sih, ngapain coba mas Anton sama pak Angga berantem masalah kayak gini. Malu banget dilihat anak-anak kantor" ucap Desi dalam hati


"Des, kamu mau pulang bareng aku kan?" Anton mengulangi pertanyaannya karna Desi belum juga menjawabnya


"Aku pulang naik taksi saja, kita sudah bukan muhrim mas jadi tidak baik kalau berboncengan" jawab Desi


"Kamu ikut saya, cepat naik" ucap Angga


Wajah Anton memerah menahan kesal, andai saja mobilnya masih ada mungkin Desi mau diantarnya pulang.


"Apa perlu saya gendong" ucap Angga yang membuat orang-orang yang ada di sana saling berbisik


"Kalah start" ucap Angga pada Anton yang masih melihat Desi menaiki mobil Angga.


Desi yang merasa malu karna ulah Angga akhirnya naik ke dalam mobil.


Selama di perjalanan Desi tak mengeluarkan sepatah kata pun, ia merasa kesal karna Angga sudah membuatnya malu di depan rekan-rekan kantornya. Pasti besok akan menyebar gosip yang tidak-tidak tentang dirinya dan Angga.


"Mau langsung pulang?" tanya Angga memecah keheningan


"Ya" jawab Desi singkat


Angga menghentikan mobilnya membuat Desi kaget.


"Kalo berhenti bisa pelan-pelan gak sih" omel Desi


"Suruh siapa kamu jawab singkat seperti tadi, aku tidak suka kamu bicara singkat apa kamu lagi diet bicara" Angga yang mulai cerewet


"Kenapa bisa cerewet seperti ini" ucap Desi dalam hati


"Jangan membicarakan saya di dalam hati kamu" ucap Angga


"Issh bapak-"


"Ini bukan jam kantor" Angga memotong ucapan Desi


"Ayo pulang" ucap Desi


Angga melajukan mobilnya menuju rumah Desi.


*


Sesampainya di rumah, Desi melihat bapaknya sedang berbicara serius.


"Assalamualaikum" ucap Desi yang baru sampai dengan Angga

__ADS_1


"Waalaikumsalam" jawab Darto dan Burhan


"Loh ada nak Angga, diantar lagi ya. Ayo duduk dulu" ucap Darto ramah


Burhan yang menatap Angga seperti tak suka mulai melihat penampilannya dari ujung kepala sampai kaki.


"Burhan, kita bicarakan lain waktu saja ya sekarang aku lagi ada tamu" ucap Darto


"Jadi kamu usir aku kak dan lebih pentingin tamu kamu ini, aku ini adik kamu keluarga kamu. Pokoknya besok aku akan ke sini lagi" Setelah marah-marah Burhan pergi dari rumah Desi.


Desi yang tidak tahu apa-apa tentu saja bingung dan bertanya pada bapaknya.


"Ada apa sih pak? Kenapa paman marah-marah seperti itu?" tanya Desi


"Kita bicarakan nanti saja lebih baik kamu buatkan nak Angga minum. Ayo duduk" ucap Darto


Desi menurut dan membuatkan Angga dan Darto segelas kopi.


"Ini diminum pak, Ga" ucap Desi


"Sudah akrab ya mulai panggil nama" ledek Darto


"Issh bapak apa sih" Desi memajukan bibirnya


"Biar tidak canggung saja om kalo pas lagi di luar jam kantor" ucap Angga


"Panggil bapak saja sama seperti Desi, oh iya terima kasih ya sudah antarkan anak bapak jadi merepotkan" ucap Darto


"Bukan aku yang minta dianya saja yang mau antar" ucap Desi yang seperti tak dianggap karna asik mengobrol


"Desi jangan bilang seperti itu, jarang-jarang ada bos yang mau antarkan karyawannya" ucap Darto


"Bapak malah bela dia sih kan aku anak bapak, bapak tidak asik aku mau mandi dulu bapak ngobrol saja biar tidak diganggu" Desi berdiri dan masuk ke dalam rumah


"Jangan dimasukkan ke hati ya, Desi kalo bicara memang suka tidak dikontrol" ucap Darto


"Iya pak, saya pamit dulu pak masih ada urusan" ucap Angga


"Loh kok buru-buru banget padahal kopinya baru setengah yang diminum"


"Lain waktu saja pak"


"Ya sudah hati-hati ya"


"Iya pak, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Setelah Angga pulang, Darto masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


"Loh bapak kok sudah ke dalam?" tanya Desi yang baru keluar dari kamarnya


"Terus mau nunggu kamu selesai mandi di luar sendirian"


"Memangnya Angga sudah pulang?"


"Sudah sampai ke rumahnya kali" jawab Darto asal


"Ye bapak aku mandinya juga tidak sampai 10 menit. oh iya tadi paman Burhan ngapain ke sini pak tumben banget mukanya juga serius banget lagi"


Darto menghela nafasnya "Kamu tahu kan sifat paman kamu itu seperti apa, kalo sudah A harus A. Ini masalah warisan dari kakek kamu, tanah yang ditinggalkan oleh almarhum kakek kamu hanya satu petak dan paman kamu meminta untuk dijual karna sedang butuh uang katanya. Paman kamu mendesak agar segera menjual tanah itu dan tanah di sampingnya pamanmu juga meminta hak itu" Raut wajah Darto tampak menahan kesal


"Apa paman tidak tahu kalo tanah itu bapak yang beli hasil keringat bapak" ucap Desi ikut kesal


"Bapak sudah jelaskan, tapi pamanmu ngeyel dan tetap meminta bagian itu paman kamu itu memang keras kepala"


"Kita pikirkan lagi nanti caranya ya pak, kalo memang kita harus menunjukkan sertifikat itu dan juga ada pak Parto yang menjadi saksi perjuangan bapak mendapatkan tanah itu jadi paman tidak akan bisa memaksa bapak lagi"


"Bapak ke dalam dulu ya"


"Aku ke dapur nanti habis maghrib biar langsung makan"


Darto mengangguk.


*


Keesokan harinya


Desi sudah rapi dengan balutan baju warna biru yang membuat dirinya tampak lebih muda dan cantik.


Tok tok tok


"Biar aku saja pak, bapak makan saja dulu" ucap Desi


Desi membuka pintu depan.


"Lama banget sih bukanya" ucap Dewi


"Mana bapak kamu?" tanya Burhan


"Ada sedang sarapan" jawab Desi malas


Burhan adalah adik dari Darto, meski mereka kakak beradik tapi sikap dan sifat mereka bertolak belakang. Kalau Darto mempunyai sifat yang baik dan lemah lembut serta bisa menghadapi masalah dengan kepala dingin berbeda dengan Burhan yang selalu mengandalkan emosi dan kekuatan otot. Dewi adalah istri Burhan, sifatnya hampir sama dengan Burhan mungkin ini yang dimaksud dengan jodoh adalah cerminan.


Burhan, Dewi dan Desi langsung berjalan ke tempat meja.


"Kak bagaimana? sudah dipikirkan?" tanya Burhan


"Kamu pagi-pagi malah membahas masalah ini" Darto menggelengkan kepalanya

__ADS_1


"Sudahlah kak, tinggal jual saja terus bagi hasil apa susahnya sih" kali ini Dewi ikut berbicara


"Tapi tanah itu bukan tanah warisan, kalo memang mau dijual jual saja warisan yang diberikan ibu dan bapak dan hasilnya kita bagi dua tapi kalo kalian menyuruh aku menjual tanah di sampingnya aku tidak akan setuju karna itu hak aku dan aku akan berikan untuk Desi nanti" ucap Darto tegas


__ADS_2