Menyesal Setelah Dibuang

Menyesal Setelah Dibuang
21 Ditemani Bos


__ADS_3

Setelah makan siang, Angga dan Desi menuju tempat meeting. Di sana sudah ada klien yang menunggu mereka.


Satu jam lebih mereka meeting, kini selesai juga.


“Kita langsung balik ke kantor pak?” tanya Desi


“Memang kamu mau mampir?” Angga balik bertanya


“Mau beli sesuatu di toko pak, buat menebus kesalahan sama Sarah” ucap Desi


“Kesalahan apa?”


“Sebenarnya tadi kami sudah berjanji untuk makan siang bareng, eh malah saya tidak bisa jadi mau beli camilan buat Sarah dia kan suka makan” ucap Desi jujur


“Kamu tunjuk saja mau berhenti di toko mana” Ucap Angga fokus menyetir


“Di situ saja pak, sepertinya banyak macamnya” ucap Desi “Pak Angga mau ikut turun?”


Tanpa menjawab Angga sudah turun terlebih dahulu.


“Dih dasar bos garcep” ucap Desi


Desi turun dari mobil, ia mengikuti langkah Angga yang berada di depannya namun karna Desi tidak memperhatikan kalo Angga berhenti, Desi menabrak tubuh Angga.


Bruuk


“Aduuh, bapak kalo berhenti bilang-bilang dong” Desi mengelus jidatnya


“Kalo jalan itu fokus jangan toleh kanan kiri” omel Angga


“Saya kan sedang memilih” ucap Desi tak mau kalah


“Terus kenapa kamu ada di belakang bukannya kamu yang mengajak ke sini”


“Tapi kan tadi bapak yang jalan dulu jadi saya mengikuti bapak”


“Alasan! Cepat jalan” titah Angga


Desi berjalan lebih dulu di depan Angga, Angga mengikuti Desi. Namun dari tadi ia hanya putar-putar belum mendapatkan apa yang akan di belinya.


“Apa kamu belum menemukan yang ingin kamu beli?” tanya Angga yang terlihat lelah karna mengikuti Desi


“Saya belum tahu mau beli apa pak, karna aku juga belum tahu apa yang biasanya Sarah makan” ucap Desi tak bersalah


“Jadi kita dari tadi putar-putar belum tahu kamu akan membeli apa?” Angga menghela nafasnya kasar


Desi hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menunjukkan deretan gigi putihnya.


“Apa perlu kita beli semuanya untuk Sarah” saran Angga


“Ya tidak seperti itu juga pak nanti kalo tidak dimakan mubazir” omel Desi


“Kok kamu jadi marah” ucap Angga meninggi


“Bukan marah pak, saya hanya mengingatkan” Desi menciut setelah melihat Angga kesal

__ADS_1


“Kamu pernah melihat Sarah makan sesuatu?”


“Pernah pak, dan hampir semua camilan dia makan”


“Itu kamu tahu, kenapa tidak beli apa yang pernah dimakan sama Sarah”


“Oh iya ya pak, kenapa saya tidak kepikiran ya hehehe”


Angga menggelengkan kepalanya, ia gemas dan kesal dengan tingkah Desi yang polos seperti ini.


Setelah memilih beberapa camilan Desi dan Angga langsung kembali ke kantor


Sesampainya di kantor, Desi menghampiri Sarah di ruangannya.


“Rah, aku ada bawa sesuatu buat kamu” Desi memberikan satu kantong plastik yang berisi berbagai macam makanan


“Apa ini?” tanya Sarah


“Sebagai permintaan maaf aku, ini aku kasih untuk kamu” ujar Desi


“Ya elah Des, aku juga tidak marah meskipun kamu membatalkan makan siang kita tapi terima kasih ya aku jadi kesenangan ini” ucap Sarah girang


“Iya sama-sama”


“Sering-sering saja batalkan janji makan siang terus beli kayak gini” ucap Sarah


“Itu sih mau kamu yang ada aku yang bangkrut kalo setiap hari begini” omel Desi


Kreek


“Kenapa lama sekali cuma kasih camilan” omel Angga


“Iya pak, tadi kami masih-“


“Masih mengobrol iya kan?” potong Angga


“Bukan mengobrol pak, aku cuma minta maaf sama Sarah” Desi membela diri


“Cepat kembali ke ruangan kamu” titah Angga


Setelah itu Angga langsung ke luar kembali masuk ke ruangannya.


“Si bos kenapa marah-marah terus ya, setiap kita lagi asik-asik mengobrol selalu datang kayak jelangkung saja” ujar Sarah


“Aku balik ke ruangan dulu ya, jangan lupa dimakan” ucap Desi


“Pasti tidak akan lupa dong, kalo begini aku selalu ingat” ucap Sarah tersenyum


“Iya habiskan sekalian sama bungkusnya, biar tidak mubazir” Desi segera bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan Sarah


“Enak saja, kamu kira aku apaan makan plastik” teriak Sarah tidak terima pada Desi yang sudah berada di ambang pintu


Desi tertawa melihat Sarah yang tidak terima.


*

__ADS_1


Setelah pulang kerja, Desi langsung pulang.


“Assalamualaikum” ujar Desi


Merasa tak ada yang menjawab Desi langsung membuka pintu namun sayangnya terkunci, Desi mengambil kunci dari dalam tasnya.


Kreek


Pintu terbuka, Desi langsung mencari keberadaan bapaknya, Darto tidak bilang kalo hari ini akan masuk bekerja, namun kondisinya sudah baik.


Setelah mencari ke sana sini tak menemukan bapaknya, Desi memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya.


Selesai mandi dan berganti pakaian, Desi keluar dari kamarnya.


“Bapak dari mana?” Tanya Desi yang melihat Darto baru masuk


“Bapak dari kebun Des, sudah beberapa hari tidak ke kebun” jawab Darto


“Memang bapak sudah sehat, kenapa tidak istirahat saja pak kan ada yang mengurus kebun nanti bapak kecapekan” ujar Desi


“Bapak sudah sehat, tadi bapak hanya mengecek saja tidak membantu pekerjaannya jadi tidak capek, tadi bapak di sana hanya duduk-duduk saja”


“Ya sudah bapak mandi dulu, aku mau masak”


“Iya”


Darto masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Desi bertarung di dapur dengan alat-alat masaknya.


Setelah solat maghrib, Desi dan Darto duduk di meja makan, mereka makan malam sambil mengobrol.


“Bagaimana keadaan ibunya Anton?” tanya Darto


“Sudah baik pak, tadi sudah dibolehkan pulang” jawab Desi


“Syukurlah, pekerjaan kamu bagaimana?”


“Seperti biasa pak”


“Biasa bagaimana? Apa tidak ada yang mencuri perhatian kamu?”


“Tidak ada pak, tapi ya pak aku itu bisa mengidap darah tinggi”


“Kok bisa? Memang kamu makan apa sampai darah tinggi?”


“Bos aku galak pak, marah-marah terus bahkan aku cuma mengobrol dengan teman aku dia tiba-tiba datang dan marah-marah tidak jelas”


“Pasti kamu yang bikin ulah”


“Bapak bukannya bela anaknya” Desi memajukan bibirnya


“Kalo benar ya bapak akan bela, kalo kamu salah bapak tidak akan membela meskipun kamu anak bapak”


“Tapi Desi tidak salah pak. Desi cuma mengobrol sebentar tapi meski di saat jam kerja kan hanya sebentar” jelas Desi


“Nah itu kesalahan kamu di situ, kamu mengobrol di saat jam kerja dan itu bisa mengganggu pekerjaan kamu wajar saja bos kamu marah untung kamu tidak dipecat”

__ADS_1


“Iih bapak kok malah bilang begitu, seharusnya bapak bela anaknya karna sudah dimarahi kalo nanti aku tambah kurus karna dimarahi bos bagaimana?”


“Ya tidak apa-apa anggap saja kamu tambah sehat nanti kalo kurus” Desi memanyunkan bibirnya


__ADS_2