MONOCHROME : Choice Of Destiny's

MONOCHROME : Choice Of Destiny's
Bab 11 Pengakuan


__ADS_3

Ini adalah tahun keduaku di Academy.


Apa yang kulakukan tiap harinya tidak jauh berbeda yaitu belajar, berlatih, dan dihari libur kami berempat akan jalan jalan di kota.


Meskipun kami berempat sangat akrab tapi kami tidak pernah menyinggung soal kehidupan pribadi karena kami semua percaya bahwa hal itu pasti bukanlah hal yang indah untuk dibicarakan.


Dan untuk Lucy aku akan mengunjunginya sesekali untuk melakukan tugasku sebagai kesatrianya. Aku sangat senang karena selama di Academy Lucy selalu mengenangkan topeng tuan putri jadi dia tidak pernah memukulku.


Fakta menariknya adalah Zephyr adalah penggunaan tombak, oh iya kalau kupikir lagi ternyata aku belum pernah melihat pengguna tombak diseluruh Kekaisaran dan menurut Zep itu ada hubungannya dengan nenek moyangnya, dan itu saja dia tidak berbicara lebih jauh.


Dan untuk Ana aku benci mengakuinya tapi dia tidak berkembang sama sekali. Kami sudah melakukan berbagai cara untuk membantunya seperti memberinya item yang meningkatkan kekuatan sihir, tongkat sihir buatan Zep dll. dan itu menghabiskan semua uang kami bertiga.


Hasilnya? tidak ada sama sekali, saat kami yang menggunakan item itu efeknya bekerja dengan sangat baik tapi saat item itu digunakan oleh Ana efeknya seperti menghilang.


Hari ini kami berkumpul di kelas seperti biasa.


"Besok kita akan melakukan ekspedisi dungeon, jadi sebelum bersiap ada yang ingin kusampaikan kepada kalian."


"Di ekspedisi ini wali tidak akan bertanggung jawab dan kami hanya bertugas sebagai pengawas, jika kalian meninggal di dalam dungeon maka salahkan kelemahan kalian sendiri."


"Kami juga telah memberitahu orang tua kalian dirumah dan kami memutuskan untuk tidak memaksa siapapun yang tidak ingin ikut."


"Tapi.... jangan salahkan aku jika tahun depan kalian menemukan diri kalian berada di kelas D, jadi yang tidak ingin ikut angkat tangan!"


Kami bertiga melihat kearah Ana secara bersamaan, Ana menutup matanya kemudian mengelengkan kepalanya berulang kali.


Melihat itu kami menyerah dan melihat kearah guru sekali lagi.


"Waktu habis, sangat bagus tidak ada di antara muridku yang menjadi pengecut. Sekarang kalian semua kembali dan menyiapkan apa yang harusnya kalian bawa, aku tidak mau menjelaskan apa yang harus kalian siapkan."


"Kalau begitu bubar!"


Setelah itu kami berempat bertemu di kantin untuk membahas apa yang akan kami bawa.


"Kamu yakin tentang ini kan?"


Astarte bertanya dengan nada yang sangat khawatir.


"Umm aku tau kalau jika aku ikut aku hanya akan menjadi beban, tapi! kalau aku tinggal aku yakin kalau aku akan menyesal seumur hidupku, jadi kumohon..... hiks biarkan aku tetap bersama kalian."


Ana benar benar menangis.


"Jadi kamu tidak masalah jika kamu mati di dalam dungeon seperti itu?"


"Ryu!! apa yang kau katakan!? Ana tidak akan mati dan aku tidak akan membiarkannya mati!!"


Astarte berteriak dengan sangat keras sampai seluruh orang dikantin melirik kearah kami tapi setelah tau kalau kami adalah 4 orang aneh mereka tidak peduli lagi.


"Aku tidak masalah dengan itu."


"Tekad yang bagus."


"Ana... apa kamu pikir kami ini tipe orang yang akan meninggalkan sahabatnya hanya karena mereka lemah?"


Zep ikut membantuku dalam menghibur Ana.


"Itu benar, jika kamu mati di dalam dungeon aku pastikan kami bertiga yang akan mati terlebih dahulu."


"Tolong jangan bawa bawa aku, aku masih memiliki hal yang harus kulakukan."


"Aku juga sama jadi mati saja sendiri."


Aku dan Zep menolak mentah mentah tawaran Astarte untuk mati bersama di dalam dungeon, lagipula aku tidak berniat mati di dalam waktu dekat.


"Hehehe terima kasih semuanya."


Ana berhenti menangis dan mulai mengusap matanya yang basah.


"Sepertinya ini saat yang tepat untuk membahas apa yang akan kita bawa di ekspedisi besok, apa ada diantara kalian yang pernah melakukan ekspedisi?"


"Aku pernah melakukannya." Suara seorang wanita terdengar.


"Ohhh!! itu akan sangat membantu, ehh? suara siapa itu?"


Disamping meja berdiri wanita berambut silver, ya itu adalah Lucy. Baru kali ini dia mengunjungiku secara langsung.


Aku langsung menunduk dengan satu lutut.


"Apa yang nona lakukan disini?"


"Aku sedikit khawatir pada kesatriaku, kamu belum pernah melakukan ekspedisi kan? nah aku kesini untuk membantumu."


Di sisi lain semua temanku terdiam dengan mulut menganga, aku perhatikan seluruh kantin menjadi tenang juga seolah waktu telah berhenti.


"Kenapa kalian berekspresi seperti itu?"


"""Kau tidak pernah memberitahu kami soal ini!!"""


Mereka berteriak secara bersamaan, dan setelah menyadari keberadaan Lucy mereka langsung berlutut.

__ADS_1


"Maaf atas ketidaksopanan kami tuan putri!"


Astarte berbicara mewakili mereka berdua karena dia memiliki pengalaman sebagai anggota 7 pangeran iblis


"Sudah jangan terlalu formal, kita sama sama siswa disini."


Lucy melirik ke samping dan setelah itu seorang pelayan langsung membawakan sebuah kursi.


Lucy duduk dan melihat kerumunan dengan senyum, sesaat setelahnya seluruh ruangan menjadi normal kembali.


"Haha maafkan aku, kupikir kalian semua sudah tau kalau aku menjadi kesatria pribadi putri keluarga Lucifer."


"Kami hanya tau kalau kau dipungut oleh keluarga Lucifer.


"Lupakan itu, lebih baik segera membahas tentang ekspedisi."


"Aku tidak perlu menjelaskan tentang apa itu dungeon tapi cara menyelesaikan dungeon pada dasarnya sama yaitu membunuh bos yang ada didalamnya, tentu ada kemungkinan kalian akan menemukan mini bos dan hidden bos atau bos tersembunyi."


"Di dalam dungeon akan muncul peti harta secara acak dan berisikan hadian mulai dari emas sampai artefak, hanya saja hadiah utamanya tidak akan muncul dua kali jadi hanya penantang pertama yang bisa mendapatkannya."


"Untuk pertanyaan apa yang akan kalian bawa, tidak perlu terlalu banyak cukup bawa beberapa potion health dan mana, 1 senjata cadangan, alat tidur dan tenda, dan persediaan makanan setidaknya untuk 1 minggu, untuk berjaga jaga jika memakan lebih banyak waktu sebaiknya kalian membawa alat masak dan beberapa bumbu agar bisa memakan daging monster, ohh dan ini."


Lucy mengulurkan sebuah gulungan kearahku.


"Ini adalah....."


"Itu adalah gulungan teleportasi, itu bisa memindahkan maksimal 5 orang ke kediaman keluarga Lucifer, jadi gunakan di saat darurat."


"Ini akan sangat membantu, Ana kau lihat? sekarang kau tidak akan mati di dalam dungeon."


"Terima kasih banyak tuan putri."


Ana menundukkan kepalanya kepada lucy.


"Ahaha tidak masalah, aku hanya tidak mau kesatriaku dan teman temannya mati di saat aku tidak melihat, ohh dan Ryu saat kamu pergi jangan lupa untuk menggunakan itu."


"Dimengerti."


"Kalau begitu aku akan pergi, dan semoga kalian semua kembali dengan selamat."


Setelah Lucy pergi, kami semua memutuskan untuk ke distrik perdagangan untuk membeli semua kebutuhan ekspedisi besok.


Aku melirik kearah Zep dan untungnya dia mengerti.


"Hari ini aku akan berbelanja bersama Ryu karena ada yang ingin ku bicarakan dengannya."


Dengan begitu kami pergi meninggalkan mereka berdua dan pergi ke distrik perdagangan.


Pov Astarte


Aku tersenyum mengingat berapa pengertian kedua sahabatku itu.


"Yahhh... padahal akan bagus jika kita bisa pergi bersama."


*D*ia terlihat sedikit sedih


"Umm bagaimana kalau kita pergi berbelanja bersama juga?"


"Ahh tentu."


Kami ke distrik perdagangan untuk berbelanja bersama.


Canggung, tapi aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini.


"Umm apa yang harus kita beli untuk sekarang?"


Ana bertanya kepadaku sambil terus melihat lihat toko yang kami lewati.


"Berdasarkan saran tuan putri lebih baik kita membeli beberapa potion dan senjata cadangan, kita belum punya kan."


"Ahh kamu benar, aku hanya punya tongkat sihir yang kalian berikan kemarin."


"Bagus, kalau begitu kita ke toko senjata terlebih dahulu, aku tau tempat yang bagus."


"Ya, silahkan pimpin jalannya."


Dia masih tidak melihat kearah ku, mungkin dia lebih suka ke Ryu?


Kami masuk ke toko dan mulai memilih senjata. aku memilih tongkat sihir yang yang menurut ku paling cocok untuk Ana.


"Ana menurutku ini cocok untukmu."


"Asta kurasa ini cocok akan terlihat bagus dipakai olehmu."


Kami berdua terdiam untuk sesaat.


"Tongkat sihir ini menurutku cocok untukmu, warnanya cocok dengan warna rambutmu, dapat meningkatkan kekuatan sihir, dan memiliki afinitas yang kuat dengan elemen angin."


"Tidak! aku tidak bisa menerima ini, ini sangat mahal kau tau!?"

__ADS_1


"Haha tidak masalah, meskipun tidak sebanding dengan tongkat sihir buatan Zep tapi aku ingin kamu memiliki ini sebagai cadangan. kalau kamu tidak mau aku akan memilih yang lain."


"Aku akan menerimanya, terima kasih."


"Bagus."


"Umm dan ini aku memilih panah untukmu karena aku melihat warnanya serasi dengan rambutmu juga, ini juga memiliki afinitas dengan elemen air. maafkan aku, aku hanya bisa memilih barang yang murah."


Aku memegang tangan Ana.


"Tidak, aku menyukainya. terima kasih."


"Selamat tuan dan nyonya!! hari ini kami mengadakan diskon pasangan dan anda memenuhi syarat untuk mendapatkannya!!"


"Apa maksudnya?"


Aku bertanya kepada pegawai yang meneriakkan hal itu.


"Ahh anda tidak tau? hari ini adalah hari spesial dimana kami memberi diskon 100% bagi pasangan yang memenuhi syarat, dan syaratnya adalah kalian harus saling memberi hadiah."


"Waahh!!! sepertinya kita beruntung."


Aku terkejut kamu tidak curiga sama sekali.


"Ini cukup bagus, jadi kita bisa membeli kebutuhan lain."


"Silahkan datang lagi!"


Selanjutnya kami pergi untuk membeli potion, tenda, alat tidur, dan alat masak. dan bagusnya suasana saat itu tidak canggung jadi aku cukup suka.


*H*anya saja dia masih tidak menatap wajahku.


Ana berlarian kesana kemari untuk melihat toko, seperti sedang menghindari ku. Sejujurnya hal itu cukup merusak kepercayaan diriku.


"Ana! kita sudah membeli semua yang dibutuhkan, mau jalan jalan sebentar?"


"Ummm tentu."


"Ikuti aku, di dekat sini ada sebuah bukit kecil dan pemandangan disana sangat indah saat malam."


Kami berjalan menaiki tangga selama beberapa menit dan akhirnya tiba.


Disana ada sebuah pagar, kami kesana dan melihat pemandangan kota yang indah dan ditambah hari ini langitnya sangat cerah jadi bintang terlihat sangat jelas.


"Wahhh!! indah."


"Benar kan? ini adalah tempat favorit ku."


"Bintangnya juga sangat cantik."


"Aku menyukaimu."


"Yaa... aku juga menyukainya...... ehh apa?"


Ana terlalu fokus untuk melihat bintang tapi setelah mencerna apa yang kukatakan dia langsung menunduk.


Aku berjalan mendekatinya, perlahan lahan aku menyentuh pipinya yang halus dan lembut, aku mengangkat wajahnya agar dia dapat melihat wajahku.


"Ana, apakah kamu membenciku? hari ini kamu tidak pernah mau melihat wajahku."


"Ehh? tidak, hanya saja.... umm aku tidak tau harus berekspresi seperti apa saat melihat wajahmu."


Meskipun wajahnya sudah mengarah tepat kearah ku tapi matanya berusaha melihat kearah lain.


"Ana, aku menyukai mu."


Aku berjongkok dengan satu lutut seperti seorang pangeran.


"Ana Cross aku ingin kamu menjadi istriku."


"bdum! bdum! bdum!" jantungku berdetak terlalu cepat! jika hal ini berlanjut mungkin aku akan mati karena gagal jantung.


"Umm bisakah kamu menunggu hingga ekspedisi selesai?"


"Tentu!!"


Aku ingin melompat sekarang karena terlalu senang tapi aku menahannya.


"Boom! bom bom bom!" suara kembang api


Aku melihat kearah sumber suara dan menemukan langit dipenuhi dengan kembang api warna biru dan hijau.


*S*epertinya ini kesalahanku karena memiliki sahabat yang terlalu pengertian.


"Indahnya... apa hari ini ada festival atau semacamnya?"


"Haha..mungkin."


Kami melihat kembang api bersama dengan tangan yang saling berpegangan erat.

__ADS_1


__ADS_2