MONOCHROME : Choice Of Destiny's

MONOCHROME : Choice Of Destiny's
Bab 50 Bencana


__ADS_3

Setelah memasuki desa aku bisa dengan jelas merasakan tatapan permusuhan dari segala arah sampai sampai aku meragukan apakah ini jebakan atau sejenisnya.


Aku terus melirik ke arah Carl yang berbicara serius dengan pria yang sebelumnya menghentikan para beastman, melihat dari perawakan dan kekuatannya sepertinya dia memang punya semacam kedudukan yang cukup tinggi di sini, dan Carl juga selalu meyakinkanku untuk percaya jadi tidak ada yang bisa kulakukan.


Setelah berjalan cukup jauh kedalam, kami berhenti di sebuah bangunan yang sedikit lebih besar daripada yang lainnya meskipun tetap kumuh.


Di dalamnya sudah terdapat 3 pria tua dengan berbagai ras yang berbeda mulai dari serigala, rubah, dan beruang.


"@#&$¢€°" (saya telah membawa manusia kemari)


"Keluarlah."


Aku terkejut, tidak, kami bertiga terkejut karena salah satu beastman dengan telinga rubah berbicara menggunakan bahasa yang biasanya kami gunakan meskipun sedikit berbeda.


Pria sebelumnya keluar tanpa kata kata, namun aku bisa tau bahwa dia sedang berdiri tepat di balik pintu untuk mengawasi kami.


"Sebelumnya maafkan atas kekasaran yang kami lakukan."


Beastman rubah menundukkan kepalanya kepada kami yang membuat kedua beastman lainnya ikut menunduk.


"Maafkan kami juga karena telah memasuki wilayah kalian tanpa izin."


Kami juga salah di sini karena masuk tanpa izin, jadi sudah sewajarnya kami juga meminta maaf untuk menunjukkan bahwa kami tidak memiliki niat jahat.


"Hohoho, kalian sangat sopan, duduklah."


Beastman besar dengan telinga beruang ternyata adalah pria tua yang sangat ramah, berbeda dengan perawakannya yang terlihat kasar sehingga aku sedikit merasa bersalah telah salah paham.


Kami membicarakan kondisi kami saat ini namun menyembunyikan beberapa hal seperti kenyataan bahwa kami mungkin berasal dari dunia yang berbeda dan menyamarkannya sebagai korban teleportasi paksa ketika kami menjelajahi sebuah reruntuhan.


Ketika mereka mendengarnya secara mengejutkan mereka percaya tanpa ragu, jadi mungkin kejadian seperti ini memang pernah terjadi sebelumnya atau apapun itu.


"Hmmm kondisi kalian sepertinya sedikit rumit, Aku sudah hidup cukup lama, tapi jujur saja aku sama sekali tidak tau soal apa yang menimpa kalian."


Yah jawaban seperti itu sudah ku duga, karena pada dasarnya kami sedikit merekayasa apa yang kami katakan, jadi sangat wajar jika mereka tidak tau.


"Tadi kalian mengatakan mengatakan ingin informasi tentang tempat ini bukan? aku bisa memberi kalian beberapa informasi meskipun mungkin akan terbatas karena kami hidup sambil mengisolasi diri, jadi informasi kami sedikit tertutup dari dunia luar."

__ADS_1


Para tetua memberi tahu kami cukup banyak informasi yang sangat berguna, atau setidaknya bisa ku bilang ini adalah informasi yang sangat penting dan sangat sulit dipercaya juga.


Ceritanya di mulai dari lokasi kami saat ini, kami saat ini berada di ujung timur benua lebih tepatnya di salah satu hutan agung tempat beastman dan elf tinggal, daerah di luar hutan hampir semuanya di kuasai oleh pihak manusia namun bukan berarti mereka membenci beastman ataupun elf, mereka semua ternyata saat ini sedang masa gencatan senjata sebagai persiapan untuk melawan bencana yang akan bangkit tidak lama lagi.


Dikatakan bahwa beberapa tahun yang lalu telah muncul ramalan yang mengatakan bahwa akan ada bencana yang bangkit dimana bencana tersebut akan menghancurkan seluruh benua jadi semua pihak harus bekerja sama.


Tetua juga menceritakan bahwa pada awalnya manusia menyarankan untuk menunjuk seseorang sebagai perwakilan setiap ras utama sebagai perwakilan dan di sanalah terbentuk sosok yang di sebut 5 pahlawan dunia yang terdiri dari sosok paling kuat di setiap ras, saat ini kelimanya masih tinggal untuk menjaga ras masing masing dan baru akan bersatu apabila bencana sudah bangkit.


Namun karena wilayah manusia sangat luas dan keserakahan mereka sendiri, mereka melakukan sebuah ritual unik untuk memanggil pahlawan dari dunia lain yang memiliki kekuatan yang sangat dahsyat yang katanya memiliki kekuatan setara dengan pahlawan dunia.


Itu pada awalnya di tolak oleh ras lain namun karena kondisi saat ini cukup darurat jadi tidak bisa di pungkiri juga bahwa pemanggilan ini adalah bantuan besar ketika perang nanti, namun ini akan memperkuat kekuatan ras manusia dibanding ras lain.


Karena pihak manusia menolak keras untuk membocorkan cara melakukan ritual sehingga terpaksa 4 ras lainnya secara rahasia melakukan kerja sama ketika perang melawan manusia pecah agar benua tidak di kuasai oleh manusia saja.


Pindah topik, sudah beberapa tahun sejak ramalan di keluarkan namun belum ada tanda tanda yang jelas, para Tetua curiga bahwa kami adalah tanda tanda kemunculan dari bencana tersebut.


Tetua menjelaskan bahwa itu karena kami muncul secara mendadak dan kehilangan sebagian ingatan kami, jadi mereka berpikir bahwa ini karena adanya masalah dalam ruang dan waktu karena bencana ini.


Tapi aku sedikit curiga karena tetua serigala terus melirik kearah ku dengan tatapan mengancam dari matanya.


"Mphh! baiklah akan ku jelaskan apa yang salah darimu jika kau tidak sadar, matamu-"


"Lief tutup mulutmu!"


"Tch!"


Tetua rubah menghentikan tetua serigala yang di sebut Lief yang membuat ku semakin penasaran mengapa reaksinya separah itu, belum lagi dirinya menyebutkan sesuatu tentang mataku.


"Tetua, apakah ada yang salah dengan mataku?"


"Ahh maafkan dia, dia cukup bermasalah dengan mata merah karena sebuah kejadian di masa lalu."


"Haahh! berhenti berpura pura Kael brengsek! tidak kah kau tau bahwa ini adalah petunjuk yang jelas!?"


Tetua Lief memukul meja dengan kuat kemudian berdiri sambil menunjuk ke arahku, kali ini dirinya tidak mencoba menyembunyikan rasa permusuhan yang sangat kuat.


"Haaah, baiklah baiklah aku akan menjelaskannya jadi jangan menghancurkan meja."

__ADS_1


Tetua Kael memegang kepalanya sambil melihat kearahku untuk melihat reaksiku, melihat aku hanya duduk diam, tetua Kael mulai berbicara.


"Sebelumnya maafkan kami, kami tidak memiliki niat buruk dan hanya ingin memastikan satu hal, karena ramalan mengatakan bahwa bencana ini adalah sosok yang memiliki mata merah yang terlihat seperti darah."


Setelah tetua Kael mengatakan itu, aku akhirnya mengerti satu hal mengapa tetua Lief melihat ku seperti itu, aku memiliki ciri ciri yang sama persis dengan bencana yang ramalkan yaitu mata merah.


Aku tidak mengucapkan apa apa atas hal tersebut karena aku sendiri tidak yakin apa tujuan kami di kirim ke tempat ini, mungkin saja benar bahwa aku adalah bencana yang telah diramalkan meskipun aku ragu bahwa itu benar.


"Lalu apa yang kalian lakukan sekarang?"


Melakukan penolakan sekarang hanya akan memperbesar kecurigaan mereka, jadi lebih baik mengalah untuk sekarang.


"Kami tidak akan melukai atau membunuhmu seperti yang dilakukan manusia, tapi izinkan kami untuk mengawasimu untuk sekarang."


Aku terkejut, jika aku muncul di wilayah manusia apakah ini artinya aku akan terbunuh? memikirkannya saja membuatku semakin membenci manusia.


"Tentu, tidak malasah."


Mendengar itu, para tetua menjadi sedikit lega dan beastman yang mengantar kami mulai masuk.


"Kalau begitu silahkan istirahat untuk hari ini, kalian akan pandu oleh-"


"! ! !"


Mata semua orang membesar pada saat yang sama, tubuh ku rasanya akan hancur, keringat mengalir deras dari dalam tubuhku, kesadaranku dengan cepat memudar sehingga hilang fokus saja akan membuat ku pingsan, bulu kudukku berdiri seolah olah sedang berdiri di hadapan predator dan hanya menunggu untuk di mangsa, kepala ku tanpa sadar melihat ke arah barat yang sangat jauh tempat keberadaan itu berasal, tidak hanya diriku tapi semua orang melihat ke arah yang sama.


"Ya tuhan, ini adalah akhir dunia."


Tetua Kael bergumam kecil sambil berusaha menahan kakinya yang sudah bergetar hebat sejak tadi hingga keringatnya membasahi pakaian yang dia kenakan.


Zephyr terlihat berusaha keras hanya untuk tetap sadar dan Carl sudah pingsan sejak awal, aku khawatir dengan kondisinya melihat napasnya yang sangat berat.


Mati


Itu adalah kata yang terus muncul di kepala ku sejak tadi, Insting ku belum pernah se aktif ini, aku kembali teringat ketika Ibuku berusaha menerobos masuk kedalam kamar ku ketika aku membawa teman ku ke rumah sampai sampai aku tidak bisa tidur pada malam harinya karena ketakutan.


Aku sendiri bingung mengapa aku teringat hal itu di saat seperti ini tapi yang pasti situasi ini sangat sangat gawat.

__ADS_1


__ADS_2