MONOCHROME : Choice Of Destiny's

MONOCHROME : Choice Of Destiny's
Bab 16 Mata Dibalas Mata


__ADS_3

"Ehhhh!!?"


Ana berteriak didepan papan pengumuman karena menemukan namanya ada di dalam 16 peserta turnamen seleksi.


Hal itu emang cukup mengejutkan karena disekolah Ana sangat payah dalam menggunakan sihir bahkan dikenal sebagai siswa paling tidak berbakat disekolah dan tidak masuk didalam rekomendasi wali kelas jadi harusnya tidak ada alasan untuk memasukkannya.


Apa saat di dungeon ada orang yang melihat kekuatan Ana? tidak itu tidak mungkin.


Jika saat itu ada yang melihat pasti akan ada rumor tentangnya dan tittle siswa tidak berbakat akan hilang tapi hal itu masih berlanjut jadi tidak mungkin.


Aku memutuskan untuk membahasnya sepulang sekolah nanti.


.


.


.


Saat ini kami berempat berjalan bersama.


"Bagaimana menurut kalian?"


Aku memulai pertanyaan dan bertanya kepada teman teman ku kira kira apa tindakan terbaik untuk saat ini.


"Hmm Ana bisa saja ikut dan kalah dalam turnamen, kurasa itu tidak akan membuat siapapun curiga."


Asta memberikan pendapatnya, itu masuk akal karena Ana dikenal sebagai yang terlemah jadi semua orang akan menduga kekalahannya.


"Ana bagaimana? menurutku itu bukan ide yang buruk jika kamu ingin menyembunyikan kekuatan mu."


"Tidak... selama ini aku selalu serius untuk menang hanya saja aku tidak bisa, dan karena aku bisa terdaftar artinya ada orang yang sudah tau kekuatanku tapi menunggu ku untuk menunjukannya sendiri."


"Dan bukannya aku sedang menutupi identitasku yang sebenarnya atau apapun, jadi aku akan ikut dan menginjak sampah sampah itu."


"Baguslah, kita akan mendapatkan posisi satu hingga tiga. Dan Zep bagaimana dengan yang ku minta sebelumnya?"


"Ohh tentang siswa yang menyerang tuan putri? aku sudah mendapatkannya. Dia bukanlah iblis tingkat tinggi hanya saja dia terlahir di keluarga yang terkenal karena ilmu pedangnya."


"Aku tidak menanyakan itu, aku ingin tau dia tinggal dimana."


"Ohh kalau itu, karena dia putra seorang baron dia tinggal di sebuah desa bernama desa Anji di bagian barat daya Kekaisaran kamu akan sampai dalam beberapa jam jika naik kereta kuda cepat."


"Bagus terima kasih, kalau begitu kita berpisah di sini."


"Kau tidak mengajak kami?"


"Tidak, ini adalah masalah ku jadi aku tidak ingin kalian terlibat."


"Tch, kalau begitu hati hati."


"Baiklah, sampai jumpa."


Aku tidak pergi ke kediaman Lucifer untuk meminta kuda cepat jadi aku langsung menyewa kereta kuda biasa.


.


.


.


Di malam yang gelap di sebuah mansion dua orang sedang duduk di atas kasur.


"Syukurlah keluarga Lucifer memaafkan kita."


"Kamu benar, keluarga Lucifer sangat pemaaf, mereka memaafkan kita karena di ancam sebagai gantinya mereka hanya meminta informasi tentang orang orang itu dan tidak akan melindungi kita jika orang orang itu menyerang lagi. Haha mereka hanya orang bodoh."


"Tapi anak itu mengorbankan nyawanya demi kita, dia adalah anak yang baik."


Sang wanita mulai menangis memikirkan putranya.


"Kamu benar, karena itu kita harus hidup untuk menghormatinya."


"BOOM!" suara ledakan.


"Apa itu!?"


Baron keluar dari kamar dan meneriaki penjaga.

__ADS_1


"Penyusup!!"


.


.


.


Aku sampai di kediaman Baron dimalam hari, aku tidak berniat menyusup dan membunuh baron kemudia pergi, sebaliknya aku turun dan masuk dari gerbang utama.


"Siapa kau!?"


Salah satu penjaga menghampiriku dan langsung mengarahkan pedangnya.


Aku sekarang menggunakan penyatuan dengan elemen kegelapan agar wajahku tidak dikenali.


"Jawab aku!"


Penjaga itu mulai marah.


"Kau melayani orang yang sudah menyakiti nona ku jadi kau pantas mati."


"Apa yang kau-"


Aku langsung memenggal kepala orang itu.


"Kamprett!!"


Penjaga lain menebas kearah leherku tapi aku menebas lehernya lebih dulu sebelum tebasan nya mencapai armorku.


Aku berjalan masuk dan mulai membunuh semua penjaga yang berani mengarahkan pedangnya kearah ku dan untuk para pelayan aku membiarkannya, aku juga tidak tega membunuh orang yang bahkan tidak bisa mengayunkan pedang.


Aku masuk di sebuah kamar dan menemukan seorang wanita muda sedang berdandan, dia terlihat sangat terlatih karena bahkan disaat seperti ini dia masih membawa pedang di pinggangnya.


Wanita itu menyadari keberadaan ku kemudian langsung mengambil pedangnya dan mengarahkannya kearah ku.


"Siapa kau?"


"Apa kau putri dari Baron?"


"Benar, Apa yang kau lakukan disini?"


"Bagus, ikut denganku."


"Beraninya kau mengabaikan perkataan dari putri seorang baron!!"


Wanita itu menyerang kearah ku tapi aku menghindarinya dan memberikan pukulan di bagian perut, wanita itu memuntahkan cairan dari dalam mulutnya dan jatuh dengan lemas.


Aku memegang rambutnya kemudian menariknya sambil mencari kamar Baron.


Aku menemukan seorang pelayanan yang sedang ketakukan.


"Ahh permisi... aku sedang mencari kamar Baron bisa antarkan aku kesana?"


"A- apa yang ingin kamu lakukan kepada tuan baron?"


"Seperti yang kamu lihat aku adalah utusan dari dewa kematian, aku ditugaskan untuk mencabut nyawa baron tapi aku tidak tau kamarnya ada di mana, aku juga diberi hak untuk membunuh orang yang menghalangi."


"Ak- akan aku antarkan."


"Cukup baik."


Pelayan itu berjalan kedepan dan sesekali melirik ke belakang untuk melihat kondisi wanita ini.


Kami sampai di lantai paling atas dan menemukan banyak penjaga sedang berdiri di depan sebuah pintu.


"Apakah itu kamar baron?"


"Benar itu kamarnya."


"Terima kasih, kamu bisa pergi dan sebaiknya kembali ke keluarga mu."


Aku melepaskan wanita ini dan mulau maju kedepan, sekitar sepuluh penjaga langsung maju kearahku. Aku mengayunkan pedangku dan semua penjaga ini berubah menjadu tumpukan daging cincang dalam sekejap.


Aku masuk ke kamar baron sambil menarik putrinya.


"Selamat malam."

__ADS_1


"Siapa kau!? siapa yang menyuruhmu melakukan ini!? Apa yang kau lakukan pada putriku!?"


Baron bertanya dengan panik


"Aku adalah kesatria pribadi tuan putri jadi dengan itu harusnya kau sudah bisa menebak apa tujuanku kesini."


"Keluarga Lucifer sudah memaafkan kami! kau tidak akan lepas begitu saja jika kau membunuh seorang baron!"


"Aku kesini sebagai kesatria pribadi dan tolong di catat bahwa aku melayani tuan putri bukan keluarga Lucifer."


"Ayah selamatkan aku!"


"Tuan baron apa yang akan kamu lakukan? putrimu sedang disandra oleh seorang penjahat. Kudengar kau rela menghianati keluarga Lucifer dan menusuk nona ku dari belakang karena diancam kan?"


"Jadi aku membuat penawaran, bagaimana kalau kau membunuh istrimu lalu aku akan melepaskan putrimu, bagaimana? tertarik?"


"Jangan bercanda!"


Baron mengeluarkan pedang dan langsung menerjang kearahku, aku mengangkat putrinya untuk dijadikan perisai dan benar saja Baron menghentikan serangannya.


"Slash!"


Aku menyerang dan memotong kedua tangan baron dan menendangnya kearah kasur.


"Sayang!"


Istrinya langsung menghampiri Baron untuk menyembuhkannya, aku membiarkannya melakukan itu karena aku juga tidak ingin baron mati karena kehilangan banyak darah.


"Hei tuan Baron kau sudah mendengar tentang pepatah mata di balas mata dan gigi di balas gigi kan?"


Aku menarik putrinya ke depanku.


"Ap- Apa yang mau kau lakukan!?"


"Kuak!" muntah darah


Pedang muncul dari dalam perut putrinya.


"Hmm kalau tidak salah ingat inti mana itu berada dibagian perut kan? tapi sepertinya meleset."


Aku menyembuhkan lukanya kemudian menusuk di bagian lain aku melakukannya beberapa kali, wajah putri baron semakin pucat setiap kali aku menusuk karena terus kehilangan darah dan akhirnya menusuk tepat di inti mananya.


Istri baron datang dan bersujud kearahku.


"Aku tidak meminta mu memaafkan kami atau membiarkan kami hidup tapi tolong setidaknya biarkan putriku beristirahat."


Istri baron menangis.


Tch sialan dia mengingatkan ku pada ibuku.


"Sebelum aku mengirim kalian semua ke tempat putra kalian aku ingin menanyakan sesuatu, siapa yang menyuruh kalian untuk menyerang nona ku?"


"Kami tidak tau tapi mereka menyebut diri mereka seven arc angel."


"Terima kasih, berdirilah."


Wanita itu berdiri dan aku langsung memenggal kepalanya, diikuti dengan putrinya dan sekarang hanya tersisa Baron.


"Aku berniat menyiksa mu sedikit lebih lama tapi istrimu membuat mood ku rusak jadi aku akan langsung mengakhiri ini."


Aku mengayunkan pedangku ke arah lantai untuk menciptakan jalan pintas menuju lantai dasar.


Aku melompat kebawah sambil menyiapkan pedangku, aku menancapkannya ke tanah dengan kekuatan penuh dan setelahnya tanah mulai bergetar.


sebuah garis hitam muncul dari tanah dan melambung keatas langit, Secara perlahan garis itu mulai membesar dan membesar lagi hingga menutupi seluruh kediaman Baron.


Setelah pilar kegelapan itu hilang, kediaman baron menghilang dan hanya menyisakan seorang pria berarmor hitam sebagai pusat nya.


"Seven arc angel, sebaiknya kalian bersiap."


.


.


.


Keesokan harinya Kekaisaran dihebohkan karena hilangnya kediaman Baron tapi dengan ajaib seluruh pelayan di tempat itu selamat.

__ADS_1


Menurut kesaksian mereka, utusan dewa kematian datang secara langsung untuk mencabut nyawa Baron.


__ADS_2