MONOCHROME : Choice Of Destiny's

MONOCHROME : Choice Of Destiny's
Bab 58 Oliver 2


__ADS_3

Di belahan dunia lain, di tempat yang sama sekali belum terjamah.


Namun di tempat yang seperti itu, terlihat dua orang sedang duduk di depan api unggun, salah satunya adalah seorang gadis 12 tahun dengan mata merahnya yang sangat mencolok di dalam kegelapan.


Sedangkan yang lainnya adalah seorang pria elf tampan dengan rambut pirang yang tidak kalah mencoloknya.


"Enak bukan?"


"Ya! ini sangat enak!"


"Syukurlah kalau kamu suka."


Gadis itu terlihat memakan daging bakar di tangannya dengan sangat lahap, sampai sampai air matanya keluar di setiap gigitan.


"Aku tidak pernah makan daging seenak ini!"


Siapapun tidak akan percaya jika ku bilang sosok itu adalah Sang Bencana yang mampu menghancurkan dunia jika dia sedikit kesal.


"Makanlah, kita masih punya banyak waktu."


Sedangkan pria elf ini adalah Oliver, sang pahlawan dari ras elf.


Aku masih tidak percaya jika ternyata dia bisa diam jika di beri daging.


Oliver melirik di sekeliling mereka, semuanya hancur sejauh mata memandang, bahkan gunung tampak seperti kue yang telah di gigit raksasa hingga menyisakan bagian bawahnya saja. Tidak ada tanda tanda kehidupan di sekitar mereka.


Gadis itu melihat ke arah matahari terbenam.


"Kamu suka melihat matahari?"


"Aku mencium sesuatu yang lebih manis."


"Haha begitukah, kamu mencium sesuatu yang lebih manis?!"


Untuk sesaat Oliver tidak memahami maksudnya, namun bagi sosok di hadapannya sesuatu yang manis adalah darah makhluk hidup.


Alasan dia bisa menahannya karena gadis ini sangat tertarik dengan darahnya yang dia sebut manis, tapi bencana ini mengatakan ada sesuatu yang lebih manis.


"Aku akan pergi sebentar, bye bye."


"T-tunggu!"


Namun sebelum kata katanya selesai, gadis itu sudah menghilang ke suatu tempat di dunia ini.


"Ya ampun!"


Meneriakkan itu, Oliver juga menghilang dalam sekejap.


...****************...


Kami sudah bertarung selama beberapa waktu, namun Julius terlihat baik baik saja, dalam beberapa momen kami bisa mendaratkan beberapa serangan, tapi itu tidak pernah cukup kuat.


Masaru terus menebas semua tentakel yang mendekat dalam sekejap, tapi kecepatan regenerasi tentakel juga sama gilanya.


Aku juga tidak hanya diam, serangan demi serangan terus kulakukan, tapi Julius benar benar hebat dalam bertahan.


Belum lagi sihir darah miliknya yang bisa menyerang kapan saja, membuatku cukup babak belur.


"Bagaimana kalau kita sudahi saja? kalian sudah sangat babak belur."


"Kulitmu juga menjadi lebih pucat bukan? sepertinya yang mulia sedang kekurangan darah."


Meskipun kekuatannya sangat luar biasa tapi Julius selalu menggunakan sihir darah tingkat rendah, yang membuat semua ini menuju jalan buntu.


"Sungguh mengecewakan."


Aku mengangkat pedang untuk menahan pedang darah Julius, semakin lama pertarungan berlangsung aku juga semakin terbiasa dengan gerakannya jadi itu membuatku bisa bertahan melawan Julius untuk waktu yang lama.

__ADS_1


Namun, aku sekali lagi melirik ke arah Masaru yang terus menebas tentakel tanpa henti, di bawah kakinya ada beberapa katana yang terlihat rusak.


Rosa juga membantu Masaru dengan sihir miliknya, tapi menggunakan sihir sangat tidak efesien di situasi ini.


Aku tidak tau berapa banyak lagi senjata yang dimiliki Masaru atau seberapa banyak mana Rosa yang tersisa, tapi yang pasti aku harus mengalahkan Julius dengan cepat.


Yang menjadi masalah, bagaimana caraku mengalahkannya ketika sihir darahnya sangat menggangu.


Darah? berbicara tentang darah, aku jadi mengingat sihir darah yang ku latih beberapa bulan terakhir ini.


Meskipun kontrol ku belumlah cukup baik, tapi setidaknya itu adalah sihir yang sangat kuat.


Sembari beradu pedang dengan Julius, aku perlahan lahan fokus pada darahku yang tumpah di lantai.


Mari kita coba. Aku bisa merasakan darah di dalam diriku memanas hingga rasanya kulit ku akan sobek, pandanganku juga menjadi lebih merah karena dibasahi oleh darah.


Melihat sesuatu yang aneh, Julius mendorongku menjauh sebelum berbicara.


"Tidak kusangka kau masih punya rahasia."


"Mata di balas mata, gigi di balas gigi, darah di balas darah!"


Sebenarnya tidak perlu meneriakannya seperti itu, namun aku sedikit ingin mencobanya ketika melihat Masaru terus meneriakkan nama skill yang keren.


"Ap-?!"


Belum sempat berbicara, puluhan jarum darah menusuk tubuh Julius dari dalam tanah.


"Fiuh, sihir darah selalu melelahkan."


"Sihir darah?! kau juga seorang penganut!?"


Aku cukup terkejut melihat ekspresi mengerikan Julius, jika ku lihat, itu adalah campuran antara terkejut dan kesakitan, atau mungkin sedikit rasa takut?


"Jawab aku!"


"Tch, ini menyebalkan!"


"Boom!"


Dalam sekejap, seluruh jarum darah ku hancur karena ledakan.


Aku sedikit berharap bahwa ini akan berakhir seperti biasanya tapi Julius punya begitu banyak trik tersembunyi yang selalu membuatnya bisa lolos.


Julius, muncul dari balik asap dengan pakaian yang compang camping, ku pikir itu karena ledakannya tapi tubuhnya sedikit lebih besar dari sebelumnya, kulitnya juga menjadi lebih merah.


"Itu tadi nyaris saja bukan?"


"Yah, aku sendiri berharap ini akan segera berakhir."


"Sesuai keinginanmu!"


"Gah!"


Rasanya seperti tulangku hancur karena pukulan kuat tiba tiba dari Julius.


Aku bahkan tidak sempat bereaksi dibuatnya, untungnya aku selalu mengunakan penyatuan untuk meningkatkan pertahanan, tapi tetap saja aku tidak menyangka akan sesakit ini.


"Cuih" beberapa tetes darah jatuh ke lantai.


"Selanjutnya akan menjadi yang terakhir!"


Tanpa menunggu, Julius berlari ke arahku sambil menyiapkan tinjunya.


"Ryu menunduk!"


Rosa berteriak dari kejauhan, tanpa perlu berpikir aku langsung mengikuti perkataannya, beberapa saat kemudian sebuah sambaran petir hitam menghantam Julius.

__ADS_1


Namun, tepat sebelum Julius mengangkat tangan untuk menahan serangan Rosa, Masaru meneriakkan skill lain yang membuat ruang terdistorsi.


"Kekkai no kiri!"


Hal yang paling mengerikan dari kekuatan Masaru adalah kemampuannya untuk memotong ruang sesuka hati, setiap serangannya tidak bisa dihindari atau di tahan.


"Arrgh!"


Julius berteriak kesakitan untuk pertama kalinya, sepertinya serangan kombinasi Rosa dan Masaru cukup berdampak.


"Ryu jangan berhenti!"


Menanggapi Masaru, aku menerjang langsung ke arah Julius dengan tebasan vertikal, aku bisa membayangkan tubuh Julius yang terbelah jika serangan ini berhasil.


"S-sial!"


"Boom!"


Akibat ledakan, Julius terlempar menjauh dari pedangku namun itu tidak sepenuhnya lolos karena salah satu lengannya terbang di udara.


"Masaru!"


"Aku tau!"


"Urei no yaiba!"


Aku tidak tau itu teknik seperti apa, tapi dari namanya aku berpikir itu sebuah serangan tipe spiritual.


Rasanya untuk sesaat waktu terhenti, dan apa yang selanjutnya terjadi hanyalah penampakan Julius yang dipenuhi tebasan pedang.


"T-tidak mungkin..."


"Heh, sudah ku duga... akan seperti ini."


"Masaru!"


Sama dengan Julius, masaru juga tiba tiba dipenuhi dengan darah.


Aku sama sekali tidak bisa tau apa yang terjadi.


"Rosa tolong Masaru!"


"Aku tau!"


Sekarang hanya tersisa Julius yang dipenuhi dengan luka, setiap tebasan sangat dalam sampai sampai aku meragukan mataku karena orang ini masih hidup.


"Hahahaha! tidak ku sangka akan kalah seperti ini!"


"Menyerahlah, kami butuh informasi darimu."


"Hehehhahahahha, menyerah? aku?"


Perasaan ku sangat tidak baik setiap kali melihat anggota sekte yang sekarat.


"Jangan lakukan hal yang tidak perlu."


"Terlambat!"


"Sial! Rosa! Masaru!"


Aku menggunakan semua kekuatan pada kakiku untuk bergerak ke arah Rosa dan memeluknya.


"Duaarr!!"


Sebuah ledakan terjadi yang skalanya sangat berbeda dari sebelumnya, rasa sakit dengan cepat menutupi seluruh tubuhku hingga rasanya di hajar oleh Lucy terasa jauh lebih nikmat.


Kulitku meleleh sedikit demi sedikit hingga tulang tulangnya mulai terlihat, bahkan armorku tidak sanggup menahan dampaknya.

__ADS_1


Sialan, rasanya begitu menyakitkan.


__ADS_2