MONOCHROME : Choice Of Destiny's

MONOCHROME : Choice Of Destiny's
Bab 46 Puncak Ilmu Pedang


__ADS_3

Tempat ini sudah sangat luas sejak awal jadi tidak perlu waktu lama untuk mencari lokasi bertarung.


Aku langsung mengeluarkan salah satu pedangku dan siap untuk bertarung kapan aja.


"Sebelum itu aku ingin tau kamu bertarung dengan mengandalkan kekuatan, kecepatan, ketahanan, atau sihir?"


"Aku lebih suka mengandalkan kekuatan dan kecepatan pada saat yang sama dalam pertarungan, sedangkan sihir aku lebih sering menggunakannya untuk meningkatkan kemampuan fisik."


Belvina terlihat berfikir untuk sejenak sebelum melihat ke orang yang berdiri dibelakangnya.


"Fenrir kamu akan menjadi lawannya."


"Tentu."


Fenrir maju tanpa kata lain dan langsung memasang kuda kuda dengan tangan kosong.


"Aturannya sederhana bertarunglah dengan semua kekuatan kalian tapi dilarang membunuh itu saja, Mulai!"


Aku langsung mengalirkan sihir keseluruh tubuhku untuk memperkuatnya hingga batas dan langsung melanjutkannya dengan penyatuan.


"Heeeh sepertinya aku sedikit meremehkanmu kalau begitu aku juga akan sedikit serius."


Seketika sebuah arus listrik kuning meledak dari tubuh Fenrir dan mulai berkumpul di tangannya membentuk sebuah gauntlet dengan cakar panjang.


"Aku mulai!"


Fenrir menyerang dengan garis lurus membuat gerakannya mudah dibaca, aku berniat menghindari serangannya dan melakukan serangan balik tapi saat aku bergerak untuk menghindar serangan Fenrir tidak datang, sebaliknya dia sudah berdiri di belakangku.


Aku baru menyadari kalau ternyata di dadaku sudah ada luka yang muncul akibat serangan Fenrir barusan, itu tidak dalam dan hanya menggores kulitku tapi tetap saja itu akan menjadi luka fatal jika masuk sedikit lebih dalam.


"Jika aku musuh kau sudah mati sekarang nak, gerakanmu barusan memang sudah cukup bagus dan memang langkah yang tepat untuk dilakukan jika bertarung dengan kebanyakan orang tapi itu tidak berguna jika melawan sosok yang sudah hidup selama ribuan tahun."


Fenrir menyerang sekali lagi dengan gerakan yang sama persis, kali ini aku tidak menghindar melainkan langsung menyerang kearahnya.


Aku mengayunkan pedangku tepat ditempat Fenrir akan muncul tapi sekali lagi itu tidak mengenainya, Fenrir berhenti sejenak tepat diujung pedangku dan langsung melakukan serangan dibagian pipiku.


"Heeeh kamu cukup cepat dalam belajar, benar cara terbaik untuk melawan musuh dengan kecepatan tinggi adalah dengan membatasi ruang geraknya atau menahannya dengan pertahanan yang kuat."


Kami melakukan hal yang sama berkali kali tapi setiap aku melakukan sesuatu Fenrir selalu bisa menghindarinya dan memberikan goresan ditubuhku.


"Kau punya banyak potensi tapi kau terlalu membatasi dirimu nak, apakah sihir cahaya dalam dirimu ada hanya untuk sebagai pembatas? apakah sihir cahaya serendah itu dimatamu?"


"Dalam hal kekuatan kau lebih kuat dariku aku tau itu tapi kau tidak tau cara terbaik untuk memanfaatkan kekuatanmu itu."


Aku mendengarkan semua perkataan Fenrir dengan serius, aku tau kalau ini bukan saatnya untuk menjadi egois.


Aku melepaskan semua penguatan sihirku dan memasangnya kembali tapi kali ini murni sihir cahaya.


Armor yang menutupi tubuhku perlahan lahan berubah menjadi putih cerah.


Seketika rasanya tubuhku menjadi sangat ringan dan inderaku menjadi lebih tajam, sudah cukup lama aku tidak menggunakan wujud ini jadi aku merasa sedikit nostalgia.


Awalnya aku merasa kalau selama aku mengalirkannya didalam tubuhku aku akan tetap merasakan efeknya tapi sepertinya memang benar kalau itu membuatnya tidak efesien.


"Hahaha jika kau punya sihir cahaya sebesar itu kenapa tidak kau gunakan sejak awal!?"


Dengan begitu babak kedua dimulai, aku hanya mengandalkan kecepatan disini karena sihir cahaya cukup lemah jika dibandingkan sihir kegelapan dalam hal kekuatan.


Fenrir maju sekali lagi dengan gerakan yang sama, aku hanya diam disana menunggu dia semakin mendekat.


Saat cakarnya sudah diayunkan hingga beberapa centimeter dari pipiku aku bergerak sedikit kebelakang dan langsung menebasnya secara horizontal dengan kecepatan penuh.


Tapi itu hanya menebas udara karena Fenrir sudah berdiri beberapa meter di depanku.


"Bagus, aku sudah lelah mengajari anak kecil jadi sudah saatnya untuk latihan yang sesungguhnya."


Aku baru menyadari kalau semuanya menjadi lebih gelap jadi aku melihat kearah langit dan disana sudah dipenuhi dengan awan gelap dan suara guntur dimana mana.


"JGEEER!!"


Petir kuning jatuh dan mengenai tepat di tempat Fenrir berdiri, petir itu meledak dengan keras tapi tidak menghancurkan apapun dan menghilang begitu saja.


Fenrir berdiri disana seperti sebelumnya tapi sekarang tubuhnya sudah dilapisi dengan armor petir berwarna hitam dengan corak petir berwana kuning.


Arus listriknya belum hilang sampai membuatku sedikit kesemutan.


.


.


.

__ADS_1


Di kejauhan Carolyn dan yang lainnya menonton sambil berdiri.


"Umm bukankah ini hanya latihan? kenapa mereka berdua terlihat sangat serius?"


Carolyn bertanya dengan nada khawatir sambil merapatkan kedua tangannya seperti sedang berdoa.


"Latihan terbaik adalah pertarungan sungguhan, akan lebih bagus jika ini menjadi pertarungan sampai mati tapi itu tidak mungkin jadi setidaknya dia harus merasakan bagaimana rasanya terdesak dalam pertarungan."


Belvina menjawab pertanyaan Carolyn tanpa berbalik dan terus melihat pertarungan antara Ryu dan Fenrir.


"Apakah ini akan baik baik saja."


Carolyn bergumam sendiri dan lanjut melihat pertarungan.


Dimata orang normal ini adalah pertarungan yang sangat dahsyat dan tidak mungkin diikuti oleh mata karena mereka berdua bergerak dengan kecepatan yang luar biasa.


Tapi di sini tidak ada yang seperti itu jadi mereka semua bisa melihatnya dengan jelas bahkan Carolyn karena dia bisa melihat apa yang dilihat oleh bawahannya.


.


.


.


Fenrir bergerak dengan sangat cepat sampai aku tidak bisa berfikir jadi aku hanya bisa mengandalkan insting ku untuk menghindar dan melakukan serangan balik.


Aku menghindari serangan Fenrir dan melakukan serangan tapi sebelum pedangku berayun Fenrir sudah muncul di belakangku dan melakukan serangan lain memaksa ku untuk menghindar.


Karena panik aku melompat kesamping dan kehilangan keseimbangan untuk sesaat.


Sial!!


Aku tau itu kesalahan fatal karena celahnya sangat besar.


"Arrrrrgghh!"


Darah tumpah dari belakangku karena aku menggunakan sihir cahaya jadi pertahananku cukup lemah membuat serangan Itu masuk cukup dalam.


Itu bukan satu serangan melainkan dua atau mungkin tiga serangan dalam waktu sesingkat itu.


Tanpa menungguku untuk pulih Fenrir melancarkan serangan lain kearah leherku.


Fenrir menyerang dengan garis lurus, tanpa menunggu aku langsung mengayun pedangku sekuat tenaga, menanggapi itu Fenrir melompat kebelakang dengan wajah dipenuhi rasa heran.


Itu karena di dadanya ada sebuah tebasan pedang yang cukup dalam meskipun tidak menjadi luka fatal.


Memang benar kalau serangan ku meleset tapi saat itu aku memperpanjang bilah pedangku dengan sihir yang cukup tipis.


Konsepnya sama dengan saber sword yang kubuat tapi kali ini lebih tipis agar tidak dapat dilihat.


Kekuatannya mungkin melemah dan hanya akan menjadi goresan kecil jika menyerang wyvern atau naga tapi setidaknya ini efektif untuk melawan monster dengan kecepatan tinggi tapi dengan pertahanan lemah seperti Fenrir.


"Heeeh kau punya trik kecil yang sangat bagus, itu terdengar sangat sederhana tapi aku yakin itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan jika seseorang tidak memiliki kontrol mana yang cukup baik."


Aku sendiri tidak percaya sihir yang ku buat karena iseng ternyata sangat berguna disaat seperti ini.


Sejak itu Fenrir mulai berhati hati karena aku terus mengubah bentuk pedangku dengan sihir jadi Fenrir kesulitan memprediksi jangkauan serangan ku.


Meskipun begitu aku juga tidak bisa melancarkan serangan balik karena Fenrir selalu bisa menghindarinya.


Itu terus berlanjut hingga beberapa saat sampai Fenrir berhenti menyerang.


"Sudah cukup, aku menyerah."


Aku terkejut mendengarnya karena sejak tadi aku selalu menjadi pihak yamg terdesak jadi aku tidak pernah menyangka dia akan menyerah.


Aku menurunkan pedangku dan duduk ditanah sambil menyembuhkan luka ku dengan sihir.


Fenrir menghampiri ku dan aku baru sadar ternyata luka di tubuhnya sudah sembuh.


"Kerja bagus nak, kurasa latihannya sudah cukup untuk saat ini setidaknya kamu harus mengingat pertarungan kita tadi."


"Aku akan mengingatnya, terima kasih banyak."


"Haha tidak masalah lagian jika kau terlalu lemah kau tidak akan bisa melindungi Ratu kami."


Dia benar pengalaman ku terlalu kurang.


Kurasa aku harus berlatih pedang bersama Lucy ketika pulang nanti.


Karena sampai saat ini Lucy adalah orang dengan ilmu pedang paling hebat yang kutahu.

__ADS_1


"Kira kira dia sedang apa ya sekarang?"


Aku berdiri dan mulai berjalan kearah Zep dan yang lainnya.


.


.


.


Di ibu kota Kekaisaran atau lebih tepatnya di istana.


Di tempat pelatihan Ana sedang duduk di sebuah kursi taman dengan Astarte tidur dipahanya.


Astarte baru saja menyelesaikan sesi latihan hariannya jadi disana masih cukup banyak prajurit yang tetap tinggal untuk berlatih sisanya pulang kerumah.


"Kerja bagus sayang, haruskah aku memijat bahumu seperti biasanya?"


Ana adalah orang pertama yang berbicara.


"Tidak perlu, terakhir kali kamu melakukannya kamu meminta imbalan bermain semalaman dan membuatku tidak bisa bekerja keesokan harinya."


"Jangan membuatnya terdengar seperti itu salahku, kamu sendiri yang tidak tau kapan harus berhenti ketika sudah mulai jadi aku hanya menjadi wanita baik dan diam."


"Haha maaf aku tidak bisa menahannya ketika melihat tunanganku yang sangat cantik."


"Fufu aku juga tidak tahan setiap melihat kejantanan mu."


Semua prajurit menghentikan latihan mereka karena mendengar percakapan antara Astarte dan Ana.


Mereka berdua benar benar tidak tau kapan dan dimana tempat yang tepat untuk membicarakan hal itu, itu membuat prajurit sangat terganggu tapi kebanyakan diantara mereka iri dengan Astarte karena bisa mendapatkan wanita yang sangat cantik seperti itu.


Awalnya ada banyak yang menentang Astarte sebagai instruktur karena dia sangat muda jadi banyak yang meremehkannya dan menantangnya untuk berduel meskipun mereka semua dikalahkan dengan mudah.


Ada juga yang nekat menggoda Ana di waktu kosong dan berakhir dengan orang orang itu pulang dengan keadaan sekarat, ada beberapa kasus juga dimana ada yang berani menyentuhnya dan keesokan harinya bendera kuning langsung berkibar dirumah orang itu.


Setidaknya mereka tau kalau Astarte adalah instruktur yang hebat dan juga baik jadi mereka tidak bisa protes, Ana pun sering ikut melatih prajurit bagaimana caranya menggunakan sihir.


"Ngomong ngomong apakah belum ada kabar tentang Lucy?"


Ekspresi Astarte berubah menjadi lebih serius dan menatap lurus kearah Ana.


"Aku juga khawatir tapi kita tidak punya petunjuk, kamu sendiri tau kan kalau bahkan Lucifer tidak tau apa apa soal ini, terakhir kali dia hanya memintaku berhenti menjadi pelayan dan membantu pengembangan sihir jadi kupikir dia sudah tau akan hal ini dan meminta kita untuk tidak mencarinya."


"Kuharap dia baik baik saja."


"Kamu benar, kuharap begitu."


.


.


.


Di sebuah tempat yang sangat jauh, itu adalah sebuah gunung yang sangat tinggi hingga puncaknya mencapai langit.


Tidak mungkin ada orang yang bisa hidup di tempat ini karena kamu akan sangat sulit dalam bernafas ditambah tekanan angin yang sangat kuat hingga mampu meremukkan tulang tulangmu hingga menjadi abu.


Tapi disana ada seseorang atau mungkin dua orang wanita.


Salah satunya sedang mengayunkan pedang dengan sangat anggun sedangkan yang lainnya duduk sambil minum teh dengan sangat tenang orang itu bahkan tidak terganggu dengan tekanan angin yang sangat kuat dan tetap minum seperti itu ada di rumah.


"Aku terkejut ketika kamu tiba tiba datang kepadaku dan langsung minta untuk diajari ilmu pedang padahal ayahmu sendiri tidak tau apa apa soal itu, tapi aku sangat senang mengetahui ternyata dia yang memberitahumu."


"Aku sendiri tidak menyangka kalau anda adalah master pedang iblis legendaris karena menurut catatan anda sudah mati ditangan sword saint."


"Akulah yang mengarang cerita itu untuk memalsukan kematian ku tapi aku tidak percaya aku benar benar menjadi sebuah legenda haha."


Keduanya berbincang bincang sambil melakukan kegiatannya masing masing.


"Kenapa kamu memilih untuk menempuh jalan pedang Lucy? harusnya kamu bisa mengikuti jalur keluarga mu yang sangat ahli dalam sihir apalagi kamu lahir dengan sihir sebesar itu di dalam dirimu belum lagi kejadian baru baru yang harusnya membuat sihir mu meningkat berkali kali lipat dari sebelumnya."


"Tidak, jika membahas sihir cepat atau lambat dia akan menggapai ku karena dari segi sihir anak itu jauh lebih berbakat dariku dan jumlah sihirnya sangat tidak masuk akal, jadi aku butuh sesuatu yang tidak dimiliki olehnya."


"Memang benar kalau anak itu punya bakat yang luar biasa dalam sihir jadi hanya menunggu waktu sampai dia bisa mengalahkanmu, Tapi percaya kepadaku jika kamu bisa menguasai ilmu pedangku tidak peduli sihir apa itu kamu pasti bisa menebasnya hingga pada tingkat dewa pun akan takut pada satu tebasan pedangmu, kurasa sudah cukup untuk hari ini coba belah apel ini menggunakan pedang mental mu."


Wanita itu melemparkan sebuah apel kearah Lucy dan sebelum mencapainya apel itu berhenti diudara selama beberapa saat kemudian pecah menjadi potongan kubus kecil dan terpotong lagi hingga menjadi sekecil debu setelah itu terbang karena angin.


"Bagus, aku tidak menyangka kamu bisa mencapai tingkatan ini dalam waktu yang sangat singkat istirahatlah dan besok kita akan lanjut ketahap selanjutnya."


Keduanya duduk dan mulai minum teh.

__ADS_1


__ADS_2