MONOCHROME : Choice Of Destiny's

MONOCHROME : Choice Of Destiny's
Bab 20 Final


__ADS_3

Aku sangat bersyukur karena kejadian saat itu tidak merusak hubungan kami dan berakhir menjadi bawahan Lucy.


Saat ini kami semua sedang minum teh bersama di kediaman Lucy tapi tidak seperti sebelumnya dimana aku yang menuangkan teh sekarang tugas itu telah diambil alih oleh Ana.


Aku melirik kearah Lucy karena wajahnya terlihat sangat cerah.


"Apa ada sesuatu yang terjadi? kamu terlihat sangat bahagia sekarang."


Lucy yang dari tadi meminun teh dengan senyum lebar berbalik kearah ku.


"Tidak ada, hanya saja saat aku tidur aku bertemu dengan ibumu."


Saat Lucy menyebutkan ibuku seluruh teman ku langsung berbalik karena tertarik.


"Begitu? ku yakin dia melebih lebihkan tentang diriku jadi apapun yang dia katakan jangan dianggap serius."


"Seperti katamu dia sangat A..... unik bisa ku bilang."


"Tidak perlu berbohong, aku sendiri yang merupakan putranya tidak bisa memahaminya."


"Haha kamu benar. Daripada membahas itu, mari kita bahas tentang turnamen selanjutnya."


"Di babak selanjutnya Ryu akan melawan siswa kelas S kan? tapi karena dia hanya cecunguk jadi lebih kita anggap saja dia sudah kalah dan mari bahas pertarungan Ryu dan Zep."


Yang berbicara adalah Ana dengan nada yang lembut hanya saja kata katanya tetap saja arogan.


"Karena semua kerusakan akan ditanggung oleh keluarga Lucifer jadi aku ingin membuat beberapa peraturan."


"Pertama, dilarang menggunakan sihir pemusnah massal seperti sebelumnya."


"Kedua, dilarang membunuh."


"Ketiga, dilarang menahan diri."


Kami semua setuju dengan aturan pertama dan kedua tapi yang ketiga cukup membingungkan.


"Kenapa kami dilarang untuk menahan diri?"


Aku bertanya.


"Kalian berdua sekarang adalah tangan kanan dan kiri ku jadi aku ingin melihat siapa yang lebih kuat jadi tergantung hasilnya aku perlu menukar posisi kalian."


"Aku mengerti."


"Aku memang tidak berniat menahan diri saat melawan Ryu."


"Aku menantikannya."


.


.


.


Di hari pertarungan.


Aku melawan siswa kelas S tapi karena tidak ingin membuang terlalu banyak tenaga jadi aku mengakhirinya dengan satu serangan.


Dan tiba saatnya aku dan Zep masuk ke arena.


"Ini adalah hari yang kita tunggu!! pertarungan final antara Zephyr dan Ryu!! Dikatakan bahwa mereka berdua adalah rival jadi ini akan menjadi penentuan siapa yang terkuat diantara mereka!"


Pembawa acara terus mengoceh hingga aku dan Zep masuk ke arena.


Setelah mengoceh selama beberapa menit.


"Pertarungan dimulai!!"


Berbeda dari biasanya kali ini Zep menggunakan penyatuan tanpa berteriak dan langsung mengeluarkan kedua tombaknya.


Aku juga langsung menggunakan penyatuan kegelapan dan menarik pedangku, kali ini aku menarik dua pedang.


Pedang cahaya di tangan kiri dan pedang kegelapan di tangan kanan.


Jujur aku sangat mengagumi karakter yang menggunakan dua pedang laser di sebuah game tertentu, hanya saja di dunia ini sangat sulit melakukannya jadi aku menyerah.


Tapi setelah melihat Zep menggunakan dua tombak, aku teringat kembali akan hal itu dan berlatih keras untuk mewujudkannya.


Agar lebih keren aku mencoba menggunakan dua pedang dengan afinitas yang berbeda tapi aku tidak menyangka itu akan berhasil.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka kau masih menyembunyikan sesuatu dariku."


Zep mengeluh tapi aku tau kalau dia sangat bersemangat sekarang.


"Ini masih tahap pengembangan tapi ini layak dicoba."


Setelah diam beberapa detik kami berdua menghilang.


Kami bertemu, Zep menyerang dengan tusukan kearah kepalaku tapi aku memiringkan kepalaku sedikit untuk menghindar.


Aku memberikan serahkan balik tapi dia menahannya dengan tombak miliknya.


kami terus melakukan adu mekanik di tengah arena bahkan kami tidak berusaha berpindah tempat.


Penonton di sisi lain hanya bisa melongo karena tidak bisa mengikuti pergerakan kami.


Hal itu terus berlanjut tapi Zep tiba-tiba menghilang, aku melompat sedikit kebelakang.


"Boomm!"


sebuah kawah muncul didepan ku, tadi Zep melompat keatasku dan menusukan tombaknya tapi aku menghindari serangan itu.


Tidak menunggu lama aku langsung meluncur kedepan dan menebas Zep dengan kedua pedangku tapi dia dengan sangat baik menahan seranganku dengan tombaknya dan berakhir terdorong beberapa meter kebelakang.


Kami berdua diam.


Kami berdua menghilang kembali dan mulai bertukar serangan. Aku menahan serangan Zep dan mendorong tombaknya keatas yang membuatnya kehilangan keseimbangan untuk sesaat.


Aku langsung mengayunkan pedangku secara vertikal kearah kepalanya tapi dia dengan cepat menyilangkan tombaknya untuk menahan seranganku.


"Boom!"


Sebuah kawah muncul dibawah kakinya karena tidak sanggup menahan dampak serangan ku.


Karena sekarang tombaknya sudah terkunci pada pedangku, aku menyerangnya dengan pedangku yang lain berniat menusuk perutnya.


Zep terlempar kebelakang membuatnya berguling beberapa kali sebelum berdiri kembali.


Di perutnya ada sebuah luka tapi itu tidak dalam karena aku menyerangnya dengan pedang cahaya.


"Satu poin kawan."


Aku mengatakan itu dengan nada mengejek.


Aku melompat sedikit kebelakang seperti sebelumnya.


Sial! ini berbeda


Karena insting aku langsung melompat ke udara dan setelahnya seluruh arena dipenuhi dengan tombak yang muncul dari tanah.


Aku menyadari kesalahku karena sekarang Zep muncul di depan ku dan langsung melancarkan serangan seperti yang dia lakukan kepada Ana.


Karena telat merespon beberapa serangannya mengenaiku.


Aku mendorong Zep menjauh dan menghancurkan tombak dibawahku untuk turun tanah.


Saat kami mendarat, seluruh tombak sudah menghilang.


"Itu memang tidak menembus armor mu tapi karena aku mendaratkan 3 serangan bisakah itu dianggap sebagai 1 poin? kawan."


"Ini jalan buntu, kalau saja Tidak ada larangan untuk menggunakan sihir pemusnah massal."


"Huuh aku juga ingin mengatakan itu."


Kami berhenti bicara.


Aku menyimpan pedang cahayaku dan sekarang hanya menggunakan satu pedang tapi aku mengubah bentuknya menjadi pedang 2 tangan.


Sedangkan di sisi lain Zep melemparkan kedua tombaknya keatas.


"Satukan."


Sebuah cahaya ungu meledak dari tombak itu dan saat turun itu sudah menjadi satu, bentuk tombak itu berubah lagi dan lebih besar juga, dan yang terpenting kekuatan yang ada didalamnya.


"Bagaimana kalau babak keduanya kita mulai?"


Aku menawarkan.


Kami berdua menyerang secara bersamaan, karena kami menggunakan senjata yang lebih besar jadinya serangan kami sedikit lebih lambat tapi kekuatan adalah hal yang berbeda.

__ADS_1


Saat kedua senjata itu bertabrakan menciptakan sebuah gelombang kejut yang sangat kuat sampai menghancurkan arena.


Bahkan sekarang penghalang mulai bergetar.


Kami beradu beberapa pukulan dan berakhir kejalan buntu lagi.


kami berdua melompat kebelakang.


Aku mengangkat pedangku keatas dan memusatkan semua energi kegelapan ku kedalam pedang, seketika pedangku meledak menjadi sebuah pedang setinggi 5 meter dan lebar 1 meter.


Di sisi lain Zep mulai memegang tombaknya dengan posisi menusuk bukan melempar seperti sebelumnya.


Seluruh energi sihir milik Zep juga meledak dan masuk kedalam tombaknya, bentuk tombak itu memang masih sama tapi kekuatan sihir didalamnya sudah beda dimensi.


.


.


.


Di kursi penonton


"Hei!! bukannya kita sudah sepakat untuk tidak menggunakan serangan pemusnah massal!?"


Asta mulai panik.


"Tenanglah, itu bukan serangan pemusnah massal tapi serangan tunggal yang sangat kuat."


"Tapi bukankah itu artinya mereka berdua kemungkinan akan mati?"


"Ryu tidak mungkin melakukan itu, jika dia serius dia bisa mengalahkan Zep dari tadi tapi dia menyesuaikan kekuatannya sendiri."


"Begitu..."


.


.


.


Aku menggunakan wujud vampir ku sekarang meskipun hanya sedikit karena tidak mungkin menahan serangan Zep dengan tubuh manusia ku.


Kami berdua maju dan senjata kami saling bertabrakan.


"Boom!!"


Gelombang kejut yang sangat kuat muncul dan menghancurkan lantai arena dan terus menyebar hingga menabrak penghalang.


"Crush! crushh!!"


Suara penghalang pecah terus terdengar hingga mencapai kursi penonton tapi itu berhenti sebelum mencapai penonton karena sekarang Ana menciptakan sebuah tornado tipis sebagai penghalang.


Hanya saja karena gelombang sihir orang tidak bisa melihat apa yang terjadi dan mereka semua hanya bisa menelan ludah.


"Boom!"


Suara ledakan terdengar tapi itu bukan berasal dari dalam arena melainkan dari kursi penonton.


Disana Zep sedang terbaring karena terhempas.


Armornya tidak tergores hanya saja tombak di tangannya hancur berkeping-keping.


Sedangkan untukku aku masih berdiri di tengah arena meskipun nafasku sedikit berat.


Pembawa acara yang tadi kabur sekarang langsung kembali ke arena.


"Pemenangnya adalah Ryu dari kelas C!!"


Sorakan dari seluruh penonton langsung meledak.


Zep melompat kembali kedalam arena dan menyapaku diikuti oleh Ana dan Asta.


"Ini kemenanganmu."


"Terima kasih dan maaf aku merusak tombakmu."


"Jangan pikirkan itu, aku bisa membuatnya kapan pun aku mau lagipula aku butuh senjata yang lebih kuat dimasa depan."


Dengan itu aku dan Zep dipastikan akan lanjut ke turnamen bintang putih tahun depan.

__ADS_1


Sebenarnya masih ada satu pertarungan lagi untuk menentukan peserta ketiga tapi karena itu adalah Ana jadi dia menang dengan mudah.


Kami bertiga akan mengikuti turnamen bintang putih tahun depan.


__ADS_2