MONOCHROME : Choice Of Destiny's

MONOCHROME : Choice Of Destiny's
Bab 43 Kenangan


__ADS_3

Kami semua pergi ke tempat orang menyiapkan makanan.


Itu pada dasarnya hanyalah tanah yang dilapisi karpet jadi kurang cocok untuk makan tapi mau bagaimana lagi.


Tempat ini seramai saat aku pertama kali datang meskipun semua orang tidak lagi panik.


Situasi saat ini sudah cukup tenang tapi warga belum diperbolehkan pulang kerumah karena ada kemungkinan masih ada bandit yang bersembunyi disuatu tempat.


"Selamat pagi tuan pahlawan."


"Tuan pahlawan apakah anda tidur dengan nyenyak?"


"Ahaha tolong jangan memanggilku dengan nama itu, kami semua bekerja sama untuk menahan para bandit jadi kita semua adalah pahlawan disini."


"Sungguh rendah hati."


"Haha."


Aku tidak mengerti mengapa semua orang menganggap ku sebagai pahlawan padahal saat itu kami tidak bertarung sendirian.


"Kebetulan tuan Ryu apa anda melihat Cheryl? saat aku kembali ketenda dia sudah menghilang, aku sudah mencarinya kemana mana tapi aku tidak menemukannya."


Lina menyapaku dengan makanan di tangannya, mungkin dia mencari Cheryl sambil membagikan makanan kepada pengungsi.


"Pagi ini Cheryl datang kepadaku minta untuk dilatih cara menggunakan pedang dan saat ini dia tertidur ditenda karena kelelahan, tolong jangan marahi dia."


"Jika tuan Ryu berkata begitu, maaf dia pasti merepotkanmu."


"Tidak malahan aku sangat berterima kasih kepadanya."


"Aku akan memberinya makanan lain nanti, tuan Ryu silahkan lewat sini tuan Carolyn sudah menunggu anda."


"Baiklah."


.


.


.


Semua orang makan dengan ceria meskipun makan yang disajikan cukup sederhana karena hanya sup dan roti.


"Enak!"


Aku cukup terkejut karena makanan ini memiliki rasa yang sangat enak.


"Hehe aku ikut membantu dalam pembuatan sup nya."


"Benarkah?"


"Kenapa reaksimu sangat datar?"


"Tuan Carolyn menjadi koki utama dalam pembuatan sup ini, dia sangat ahli dalam memasak jadi anda harusnya lebih bangga."


Lina duduk di depanku sambil membawa piring miliknya sendiri.


"Hehh kupikir kamu hanya membantu memotong sayuran, aku sangat terkejut sungguh."


"Tapi reaksimu masih sangat datar, apa itu tidak cukup bagus?"


"Ahh bukan begitu, ini sangat enak sungguh hanya saja...... tidak bukan apa apa."


Aku tidak boleh mengeluh didepannya tapi ketika aku melihat wajahnya mimpi itu menjadi sangat jelas seperti sebelumnya.


Bagaimana jika aku tidak bertemu Carl disini? apakah dia akan mengalami nasib yang sama seperti rekan ku yang lain? aku takut itu terjadi.


Aku harus pergi ke wilayah manusia setelah ini.


Setelah sarapan aku pergi kedalam hutan sendirian dan sedikit berlatih.


Jika aku mengingat mimpi itu mereka semua seperti telah bertarung dengan banyak orang sekaligus.


Seharusnya aku tidak belajar sihir pemusnah massal seperti yang disarankan Gizel tapi saat itu ada Ana yang sangat ahli dalam sihir pemusnah massal dan sekarang dia sudah tidak ada disini.


Aku bisa saja menggunakan sihir yang sebelumnya ku gunakan di kediaman baron tapi itu sangat tidak stabil dan tidak lebih dari membiarkan sihir ku meledak dan menghancurkan segalanya.


Aku membutuhkan sihir yang mampu membunuh banyak musuh sekaligus, tidak terlalu merusak bangunan dan tentu saja menggunakan sedikit sihir.


Aku harus menjadi kuat, lebih kuat dan lebih kuat lagi untuk melindungi seluruh rekan ku.


Saat aku memikirkan ini sebuah sihir langsung muncul di kepala ku dan sangat cocok dengan yang ku inginkan jadi aku memutuskan untuk mencobanya.


Malamnya aku kembali tapi tidak ke pengungsian dan pergi ke padang rumput diluar hutan dan duduk sendirian disana sambil melihat langit yang dipenuhi bintang.


Melihat langit dimalam hari selalu bisa memberiku perasaan ditemani oleh orang lain dan itu selalu bisa membantuku menenangkan diri.


.


.


.


Saat itu aku sedang tertidur didalam kamar setelah pulang dari perjalanan.


"Ryu sedang apa? yang lain sudah siap untuk makan malam."


"Akari, aku akan makan sendiri nanti, kalian silahkan makan dulu."


"Kamu tidak cerdas dalam berbohong."


"Haha ternyata terlihat jelas yah."


"Kemari, ikut denganku."


Akari langsung menarik tangan ku dan berjalan keluar rumah.


Dia berjalan keluar kota sampai tiba disebuah padang rumput yang lokasinya tidak jauh dari gerbang kota.


"Apa yang kita lakukan disini?"


"Kamu pasti rindu rumah kan?"


"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"


"Aku tau karena aku juga sering melakukan hal itu, duduklah."


Aku menurutinya dan duduk sambil melihat bintang yang tersebar di langit.


"Sangat indah."


"Kan? saat rindu rumah aku selalu melihat kearah langit malam, aku percaya jika bintang adalah tempat dimana orang yang sudah meninggal melihat kearah kita."


"Tapi itu tidak benar kan."


"Hehe aku juga tau itu tapi itu tidak penting yang penting adalah aku percaya akan hal itu dan itu bisa menghilangkan rasa rinduku."


"Masuk akal juga."


"Aku sudah menganggap kalian semua sebagai keluarga melebihi keluarga ku yang sesungguhnya jadi kuharap kamu juga berfikir seperti itu."


"Aku akan mencobanya."

__ADS_1


"Berusahalah untuk bergantung kepada kami karena itulah fungsinya keluarga."


"Terima kasih."


"Sudah baikan? bagaimana kalau kita kembali?"


"Baiklah"


Kami kembali ke rumah.


"Akhirnya kalian kembali!"


"Hey makannya sudah dingin lihat?"


"Kakak kamu dari mana saja!?"


"Lihatkan?"


Kami berada diluar selama beberapa jam tapi mereka bahkan tidak menyentuh makanannya.


"Karena makanannya sudah dingin lebih baik kita panaskan dulu sebelum makan."


"Hey Ryu aku akan menghajarmu jika kamu pergi lagi!"


"Ryu aku tidak percaya kau mengambil kesempatan untuk mendahului ku untuk mendapatkan nona Akari!"


Semua orang mulai berisik seperti biasanya tapi Akari selalu maju dan menangkan semuanya.


"Sudah sudah, semuanya ayo duduk."


"Makanan sudah, minuman sudah, dan yang terpenting semuanya hadir BERSULANG!!"


"""BERSULANG!!"""


.


.


.


"Terima kasih Akari."


Aku benar benar merasa bodoh sekarang, hanya karena mimpi yang tidak pasti aku terguncang sehebat ini dan melupakan hal yang paling penting.


"Kalian pasti masih bertahan disuatu tempat aku percaya itu jadi tolong tunggu sebentar lagi."


Aku mengeluarkan sebuah karpet dan selimut kemudian mulai berbaring sambil menatap kearah langit.


Langit terasa jauh lebih indah hari ini.


Di atas tembok kota Zephyr berdiri sambil menatap kearah padang rumput yang jauh.


"Kupikir aku harus memberimu beberapa pukulan sebelum sadar tapi baguslah kau bisa mengatasinya sendiri."


Zephyr menghilang dari tempatnya seperti itu adalah hal yang sangat alami.


.


.


Aku kembali ke pengungsian di pagi harinya setelah menyelesaikan latihan harian ku.


Disana ternyata semuanya sudah berkumpul lebih cepat dari biasanya.


"Apa yang terjadi disini?"


"Pagi ini penjaga datang mengatakan kalau situasi kota sudah aman dan warga sudah bisa kembali kerumah masing masing jadi semuanya sepakat akan mengadakan pesta besar hari ini."


Zep membalas tanpa melihat kearah ku.


"Baguslah, dimana Carl? aku harus meminta maaf kepadanya."


"Dia saat ini sedang membantu membuat hidangan untuk pesta."


"Kuharap dia tidak marah."


Zep menghembuskan nafas panjang.


"Haaah jika kau berfikir seperti itu artinya kau hanyalah pria menyedihkan yang tidak mau menerima kenyataan."


"Eh? kenapa kau kesal seperti itu?"


"Aku memang tidak mengenalnya cukup lama tapi aku tau kalau anak itu bukan lagi anak kecil seperti yang kau kenal."


"Tapi dia masih sama dimataku."


"Itulah kenapa aku menganggap mu bodoh."


Aku tidak pernah mengerti apa yang dia katakan.


Banyak orang mulai berjalan membawa makanan dan menatanya diatas lantai dengan rapih.


Berbeda dari biasanya yang hanya berisi roti dan sup sederhana, sekarang ini ada banyak jenis makanan yang disediakan dan terlihat cukup mahal.


"Gulp."


Suara menelan ludah terdengar dimana mana karena dari aromanya saja aku semua tau kalau ini sangat enak.


"Baiklah semuanya sudah berkumpul."


Carl dan Lina muncul sambil membawa sup dan roti ditangannya.


"Ini untukmu."


Carl meletakkan sup didepanku diikuti dengan Lina yang meletakkan roti.


"Karena semuanya sudah berkumpul tidak perlu ada pembukaan atau apapun jadi semuanya silahkan nikmati hidangannya!"


Aku tidak tau sejak kapan Carl menjadi seakrab ini dengan warga.


Semua orang mulai makan dengan penuh tawa yang sangat meriah.


Carl duduk disamping ku kemudian mengambil semangkuk sup untuk dirinya sendiri.


"Kenapa hanya sup ku yang terlihat berbeda dari yang lain?"


"Hehe itu karena ini adalah sup spesial jadi tidak bisa dimakan oleh orang lain selain kakak."


"Heeeh, kalau begitu selamat makan..."


Aku memasukkan sup kedalam mulutku dan langsung menjatuhkan sendok ke lantai karena terlalu terkejut.


"Tidak mungkin.... bentuk dan bahannya memang sedikit berbeda tapi rasanya sangat persis seperti sup buatan Akari."


"Syukurlah ternyata rasanya sama, Kak Akari selalu membuat sup ini jika ada salah satu dari kita yang bersedih jadi kupikir kakak akan menjadi lebih baik jika aku membuatnya juga."


"Terima kasih ini membuat ku merasa lebih baik, sungguh."


Kali ini aku benar benar merasakan perubahan yang terjadi dalam diriku, sejak aku tinggal disini aku tidak pernah mengingat kenangan indah bersama rekan tidak, keluarga ku membuat fikiran ku dipenuhi dengan hal hal negatif.


Aku tidak memungut sendok itu dan langsung mengangkat mangkuk dan memakan sup nya secara langsung.

__ADS_1


"Ini sangat enak sungguh, sudah bertahun tahun aku tidak makan makanan seenak ini."


"Baguslah kalau itu sesuai dengan seleramu, aku cukup khawatir dengan rasanya karena aku menggunakan bahan yang berbeda tapi kata katamu membuatku merasa lega."


"Umm maafkan aku soal yang sebelumnya."


"Hehe tidak masalah aku tau kalau aku tidak akan bisa membantu dalam hal itu."


"Terima kasih, tapi aku cukup terkejut ternyata kamu sangat ahli dalam memasak."


"Hehe sejujurnya selama bertahun tahun ini yang kulakukan hanyalah belajar memasak, selama ini kita harus kehutan jika ingin mencari rempah rempah dan itupun kita hanya bisa pergi ke pinggiran hutan saja tapi selama ini aku tinggal ditengah hutan dan aku sangat terkejut ternyata ada banyak sekali rempah dan bahan makanan langka yang tumbuh didalam hutan."


"Apalagi aku bisa menggunakannya dengan bebas karena tidak perlu bertarung dengan monster, yah ada beberapa monster yang agresif tapi mereka bukan apa apa."


"Kamu mungkin sudah tau kalau aku akan pergi tapi hari ini aku akan melanjutkan perjalanan menuju Kekaisaran manusia, bagaimana denganmu?"


"Eh? tentu aku akan ikut."


"Tapi bukankah kamu harus tinggal di hutan untuk menjaganya?"


"Itu memang benar tapi tenang saja mereka pasti mengizinkan ku setelah aku meminta izin, ohh benar! bagaimana kalau kakak ikut denganku kerumah? aku yakin kakak akan sangat terkejut melihat betapa indahnya itu."


"Ide bagus, aku juga ingin berterima kasih kepada mereka secara langsung."


"Yeeyy!"


.


.


.


Pesta dengan cepat berakhir dan semua orang mulai berkerja untuk membongkar tenda satu persatu.


Kami sudah berpamitan saat pesta jadi kami menyiapkan semua barang bawaan kami dan bersiap untuk berangkat.


"Tuan Ryu."


Lina berlari kearahku dan akhirnya aku teringat sesuatu.


"Ada apa?"


"Ini memang kurang sopan tapi bisakah anda bicara dengan Cheryl sebelum pergi?"


"Ahh sejak hari itu aku belum pernah melihatnya, dimana dia?"


"Dia sedang berlatih didalam hutan, aku sudah memintanya untuk berhenti tapi dia tidak mendengarkan ku. Bisakah anda membujuknya agar tidak latihan di dalam hutan lagi? aku khawatir jika dia diserang oleh monster atau bandit."


Keringat mengalir dileher ku, di tambah aku merasakan tatapan yang melihat lurus kearahku dari belakang.


Aku memang selalu berlatih di hutan tapi itu karena aku mempelajari sihir yang cukup berbahaya jadi aku bisa menggunakannya tanpa takut melukai orang lain atau merusak bangunan jadi apa yang dipikirkan anak ini?! apakah dia juga melihat ku saat latihan di dalam hutan?


"Baiklah aku akan menyapanya."


Kami pergi kedalam hutan dan perasaan ku semakin buruk karena jalan yang kami lewati sama persis dengan jalan yang kugunakan kemarin.


Kami tiba disebuah tempat yang pohonnya sudah hancur berantakan karena ulah seseorang.


Ditengah Cheryl sedang memegang pedang kayu yang kuberikan dan tidak hanya itu sekarang dia sesekali bisa mengayunkannya.


Kami menghampirinya, Cheryl yang menyadari kedatangan kami menurunkan pedangnya dan melihat kearah kami.


"Aku kemari karena ingin berpamitan denganmu."


"Ehh?! kakak sudah mau pergi?! padahal aku ingin menunjukkan hasil latihan ku."


Cheryl menunduk dengan sedih, sejujurnya aku merasa bersalah sekarang jadi aku mendekat dan mengelus kepalanya.


"Jangan sedih seperti itu, aku percaya kamu akan menjadi kesatria yang sangat kuat, kita akan bertemu lagi suatu saat nanti jadi tunjukan hasil latihan mu saat itu."


"Janji?"


"Iya aku janji, jadi tolong dengarkan saran terakhir ku kamu harus mendengarkan kata ibumu dan jangan buat dia khawatir oke?"


"Baiklah."


"Terima ini, ini adalah hadiah dariku."


Aku menyerahkan sebuah cincin dan memasangkan dijari tengah tangan kirinya.


"Ini adalah cincin dimensi, kamu bisa menyimpan barang disana."


"Waahhh!"


"Carl bisakah kamu minta salah satu temanmu untuk menjaga hutan bagian ini?"


"Aku memang menjaga seluruh bagian hutan termasuk wilayah ini tapi sepertinya lebih baik jika memberinya satu monster sebagai teman."


Carl mengatakan itu kemudian diam selama beberapa saat.


Setelah beberapa saat aku merasakan sosok monster mendekat.


Itu adalah monster kuda yang terlihat memiliki armor menutupi seluruh tubuhnya, itu adalah jenis monster yang belum pernah kulihat sebelumnya.


"Perkenalkan dia adalah Kaval, dia memang terlihat seperti kuda tapi aslinya dia adalah monster dengan darah naga tanah tapi karena itu tidak dominan jadi dia hanya mewarisi kekuatan fisik milik naga."


"Ini belum puncaknya, jika kamu memberinya makanan dan pengalaman yang cukup dia akan bisa berevolusi jadi tolong rawat dia dengan benar."


"Kaval sekarang anak ini adalah tuan barumu dan tolong jaga dia oke?"


"Neigh!"


"Ehh? ah baiklah baiklah, tapi tolong jaga dia oke? kalau dia sampai terluka aku akan membencimu."


Setelah percakapan singkat antara Carl dan monster yang disebut Kaval ini.


"Nah bagus, Kaval cukup kuat untuk melindungimu dan dia juga sangat bagus saat jalan jalan karena dia bisa menggunakan sihir tanah jadi dia tidak akan terguncang meskipun di medan rusak sekalipun ohh dan juga dia lebih cepat puluhan kali lipat jika dibandingkan dengan kuda perang sekalipun jadi ini teman yang sempurna bukan?"


Bukankah ini berlebihan?


Kaval maju dan menunduk didekat Cheryl.


Cheryl memeluk dan naik di punggungnya, Kaval adalah kuda yang cukup tinggi sedangkan disisi lain Cheryl hanya anak kecil jadi dia harus duduk di tanah agar Cheryl bisa naik.


"Kalian sepertinya cocok jadi aku tidak perlu khawatir, ini hanya saran tapi jangan perlakukan dia seperti hewan peliharaan atau hanya sekedar tunggangan karena dia memiliki kebanggaan yang cukup tinggi."


"Aku akan mengingatnya."


Yang menjawab adalah Lina karena Cheryl tidak akan mengerti dengan hal hal seperti itu.


"Umm dia tidak makan daging kan?"


Lina bertanya dengan ragu, aku juga ingin menanyakan itu tadi.


"Dia hewan yang cukup cerdas jadi dia bisa makan sayuran atau gandum meskipun dia tidak terlalu suka itu, tenang saja dia tidak akan memakan kalian dan jika sedang ingin makan daging kalian hanya perlu membiarkannya mencari sendiri didalam hutan."


"Aku lega mendengarnya."


"Kalau sudah selesai sepertinya kami harus pergi."


Kami keluar dari hutan bersama sama dengan Cheryl yang masih asik menunggangi Kaval.

__ADS_1


"Kami pergi kalau begitu."


Diluar hutan kami berpisah, Cheryl pergi ke kota bersama Lina sedangkan kami menaiki wyvern Ryu dan terbang kekedalam hutan.


__ADS_2