MONOCHROME : Choice Of Destiny's

MONOCHROME : Choice Of Destiny's
Bab 29 Isekai!?


__ADS_3

Namaku adalah Hirohito Daiki seorang siswa kelas menengah biasa.


Jika kalian mencari di internet tentang arti kata tidak mencolok maka aku akan ada di sana sebagai sesuatu yang relevan.


Aku benar benar normal, aku tidak ahli dalam hal apapun dan tidak tampan juga.


Di pagi hari aku biasanya akan berolahraga kemudian berangkat ke sekolah dan setelah pulang aku akan menghabiskan hari dengan membaca manga atau novel ringan.


Jika kalian berfikir aku adalah otaku akut itu memang benar tapi itu baru terjadi setahun ini.


Sebelumnya aku hidup secara normal seperti orang lain, bermain bersama teman dan sebagainya.


Tapi temanku satu satunya sudah tiada.


Itu terjadi 1 tahun yang lalu.


Seperti biasa aku terlambat datang ke sekolah aku biasanya akan berpapasan dengannya dijalan tapi kali ini dia tidak muncul.


Mungkin dia sudah berangkat duluan pikirku jadi aku berlari ke sekolah dan sampai tepat saat gerbang akan tertutup.


Aku masuk ke kelas tapi dia tidak ada di sana jadi aku memutuskan untuk duduk dikursi ku yang biasanya.


Setelah beberapa saat guru masuk kali ini yang masuk adalah guru mata pelajaran fisika yaitu Enaka-sensei.


Guru mengabsen dan siswa mulai menjawab dengan kata hadir satu persatu.


"Takeda kun? apa ada yang tau dia kenapa?"


Seketika semua orang menatap kearah ku.


"Maaf bu tapi aku belum mendapat kabar darinya."


"Begitu... kalau begitu tolong sepulang sekolah kamu pergi ke rumahnya untuk melihatnya."


"Baik bu."


"Bagus, kalau begitu kita lanjut saja pelajarannya."


"Semoga dia baik baik saja."


Aku bergumam sendiri sambil melihat keluar jendela.


.


.


.


Aku berjalan ke rumah Ryu.


Saat sampai aku terkejut karena disana ada banyak orang.


Perasaan ku semakin memburuk jadi aku langsung berlari masuk.


Di dalam aku menemukan Ibu dan ayah Ryu sedang berpelukan dengan sedih.


"Maaf mayumi san ini ada apa yah?"


Nona mayumi berbalik dengan air mata masih mengalir dari matanya.


"Ohh! Hiro kun! aku sudah menunggumu!"


Nona mayumi langsung memelukku sambil menangis lebih deras.


"Apa yang terjadi?"


"Ryu chan meninggal kau tau!? dia meninggal! Uweaaaa."


"Apa!?"


Nona Mayumi sekarang sudah merengek sambil mengguncang ku dengan sangat keras sampai aku mulai merasa mual.


"Sayang, kamu memang harus sedih tapi jangan menyiksa Hiro seperti itu."


Nona mayumi berhenti dan berbalik.


"Apakah begitu? baiklah hiks hiks."


Nona Mayumi berbalik lagi dan sekarang dia hanya terisak.


Seperti biasa keluarga ini cukup unik, kembali ke topik.


"A– apa benar Ryu meninggal?"


"Benar, aku juga tidak tau padahal tadi malam dia tidur dengan nyaman tapi paginya aku menemukannya dengan tidak bernyawa! hiks hiks."


"Tidak mungkin...."


Aku menunduk dengan sedih dan air mata mulai keluar dari mataku.


Bagaimana tidak, Satu-satunya sahabat ku, satu satunya teman masa kecilku sekarang pergi.


Kami pergi ke kamar Ryu dan disana dia terbaring.

__ADS_1


Aku hanya duduk di sampingnya dan bergumam sendiri.


"Kau meninggalkan ku dasar sialan."


Setelah menghadiri pemakamannya aku pulang dengan lemas.


Keesokan harinya aku tidak pergi ke sekolah karena tidak mood.


Setelah seminggu penuh aku akhirnya pergi ke sekolah dan melaporkannya kepada guru.


Kelas dipenuhi dengan suasana duka terutama untuk para wanita karena mereka semua langsung menangis setelah mengetahuinya sambil berteriak suamiku atau sayang dan sebagainya.


Sedangkan untuk pria mereka terlihat biasa saja bahkan ada beberapa yang terlihat tertawa dan menghina.


.


.


.


Hari ini aku berangkat ke sekolah seperti biasa.


Aku masuk ke kelas dan mulai duduk dan menunggu guru masuk.


Kebetulan yang masuk sekarang adalah Enaka sensei persis seperti waktu itu.


Aku mengikuti pelajaran seperti biasa dan tiba tiba sebuah lingkaran aneh muncul dibawah kami.


"Apa ini!?"


"Apa yang terjadi!"


Sebuah ledakan dahsyat terjadi dan seketika kesadaranku menghilang.


.


.


.


"Dimana ini?"


"Hei dimana kita!?"


Aku bisa mendengar murid lain berteriak dengan panik.


Aku membuka mataku dan melihat sekeliling.


Semuanya berwarna putih.


"Tenang semuanya!"


Enaka sensei berteriak dan memenangkan suasana.


"Mari kita pikirkan ini pelan pelan."


Semua siswa menjadi tenang dan kami berkumpul di dekat Enaka sensei sambil mendengarkan.


Tiba tiba suara langkah kaki terdengar.


Kami semua berbalik kearah suara itu dan disana berdiri seorang wanita yang penuh dengan cahaya bahkan aku tidak bisa melihat wajahnya.


"Selamat datang para pahlawan sekalian, Mulai sekarang kalian akan pergi ke dunia lain dan menjadi pahlawan untuk mengalahkan raja iblis yang kejam."


Kami semua terdiam karena tidak tau harus berkata apa sekarang.


"Umm siapa kau?"


Enaka sensei bertanya mewakili kami semua, Wanita itu terlihat sedikit terkejut.


"Fufu aku adalah dewi cahaya Rebecca, sang dewi tertinggi, dewi terhebat, dan Mahakuasa."


Aku langsung berfikir kalau orang ini pasti melebih lebihkan.


"Umm kenapa kau memanggil kami kesini?"


"Huuh sudah ku bilang tadi kalian akan menjadi pahlawan titik, dan aku sangat malas untuk menjelaskan sesuatu jadi aku akan langsung ke intinya."


"Kalian semua akan menjadi pahlawan di dunia itu dan kalahkan raja iblis untukku, sebagai hadiahnya aku akan mengabulkan permintaan kalian apapun itu, menjadi raja, kaisar atau apapun akan ku kabulkan."


"Untuk membantu kalian aku akan memberi kalian sedikit kekuatan jadi kalian bisa mengeceknya nanti."


"Bagaimana kalau kita gagal mengalahkan raja iblis?"


Yang bertanya adalah Daisuke katsuo bos disekolah kami.


"Sederhana, dunia akan hancur dan kalian semua akan mati."


Wajah semua siswa langsung menjadi pucat karena gugup.


"Baiklah waktu sesi tanya jawab sudah berakhir jadi semoga beruntung!"


Cahaya menyelimuti kami semua dan seketika pemandangan didepan kami berubah.

__ADS_1


.


.


.


"Waahh pemanggilannya berhasil!"


"Dewi Rebecca mengabulkan doa kita!"


"Puja dewi Rebecca!"


Aku membuka mata dan menemukan diriku berada disebuah ruangan yang sangat luas tapi kosong dan hanya berisi sebuah lingkaran raksasa yang terlukis dilantai.


"Tuk tuk tuk."


Suara langkah kaki terdengar dan orang orang yang dari tadi berisik langsung terdiam.


"Selamat datang wahai pahlawan sekalian."


Yang berbicara adalah orang tua dengan janggut panjang, dia terlihat sudah sangat tua.


Dia mengenakan pakaian serba putih dan dilapisi emas, dilihat saja aku sudah tau kalau orang ini pasti orang penting.


"Akan sangat tidak sopan jika kita berbicara di sini jadi mari ikut denganku kita akan berbicara sambil makan malam."


Orang itu mulai berjalan pergi tanpa menunggu jawaban kami.


Kami saling memandang dan mulai mengikutinya karena kami tidak punya pilihan lain.


.


.


.


Kami semua duduk di sebuah kursi dan didepan kami terdapat banyak sekali makanan yang terlihat enak.


"Silahkan dimakan tidak perlu ragu."


Beberapa teman ku mulai makan.


"Ini sangat enak!"


"Apa ini!? ini sangat lezat!"


Melihat mereka semua makan dengan sangat lahap aku juga ikut makan.


"Umm ini sangat enak."


Kami semua makan sambil berbicara satu sama lain dan suasana suram tadi dengan cepat menghilang.


Setelah makan orang tua itu mulai berbicara.


"Aku adalah paus Clasher aku sering disebut juga sebagai utusan dewi Rebecca, dan aku akan menjelaskan situasinya kepada kalian."


Inti ceritanya seperti ini.


Saat ini manusia berada diambang kehancuran karena iblis semakin kuat dan karena mereka mampu mengendalikan monster untuk menyerang umat manusia.


Monster itu sangat kuat jadi manusia sangat kesulitan melawannya dan terus menderita kerugian.


Beberapa tahun yang lalu dipanggil seorang pahlawan tapi pahlawan itu terbunuh ditangan raja iblis.


Jadi sebagai upaya terakhir, paus memohon kepada dewi Rebecca untuk memberikan bantuan dan inilah hasilnya.


Katanya kami berbeda dari pahlawan dahulu karena kami diberi karunia berupa kekuatan yang dahsyat dari dewi Rebecca.


Paus juga menjelaskan bahwa di dunia ini ada 7 raja iblis yang berkuasa dan ada 1 kaisar iblis yang sangat kejam.


Kami harus membunuh ketujuh raja iblis itu dan kaisar untuk menyelamatkan umat manusia.


Sejujurnya itu sangat mengerikan mengingat ada 7 raja iblis.


"Tapi jangan khawatir karena kalian sudah mendapatkan karunia dari dewi Rebecca jadi aku yakin masing masing dari kalian akan mampu bertarung dengan raja iblis dimasa depan."


"Yosh! aku sudah tidak sabar!"


Daisuke berdiri dan berteriak dengan semangat diikuti dengan siswa lain.


Aku melihat kearah Enaka sensei dan dia hanya menunduk sambil mengepalkan tangannya.


Bukankah harusnya sekarang kau akan melarang kami untuk bertarung? kenapa kau malah ikutan bersemangat seperti itu?


Sudahlah.


"Ceritanya berakhir sampai di sini, sudah malam jadi lebih baik kalian semua beristirahat karena besok kalian akan mulai latihan."


Paus melihat kearah pelayan dan mereka langsung berjalan ke arah pintu.


"Saya akan mengantarkan kalian semua ke kamar."


Kami semua pergi ke kamar masing masing, aku terkejut karena kamarku sangat mewah bahkan setingkat kamar bangsawan dari novel yang kubaca.

__ADS_1


Aku terbaring ditempat tidur sambil memikirkan apa yang terjadi hari ini.


"Isekai yah.... tidak buruk."


__ADS_2