
Tak lama setelah kejadian itu, para tetua langsung mengumpulkan seluruh beastman di alun alun desa untuk mengumumkan sesuatu.
"Bencana yang ditakdirkan sudah datang, namun bukan berarti kita harus takut! waktu yang telah kita habiskan untuk mempersiapkan hal ini bukanlah persiapan setengah matang, kita akan mengalahkan bencana ini apapun yang terjadi!"
"Woooaahhh!!!"
Tetua Kael berbicara di hadapan semua orang, berbeda dari harapan ku dimana semua orang akan putus asa, ternyata tidak ada ketakutan di mata mereka meskipun aku bisa melihat tubuh mereka sedikit bergetar.
Itu adalah pengumuman singkat, setelahnya seluruh beastman kembali ke rumah masing masing untuk mempersiapkan diri sementara kami kembali ke balai desa untuk mendiskusikan apa yang harus dilakukan, meskipun tetua Lief terlihat tidak suka akan keberadaan kami tapi dirinya berhasil di tenangkan oleh tetua Kael.
"Apa yang akan kalian lakukan sekarang? ini situasi yang sangat berbahaya, jadi aku minta maaf tidak bisa membantu kalian."
Aku tidak berpikir dia akan meminta maaf bukannya meminta bantuan kami, aku bisa memahami hal itu karena bagaimanapun kami adalah pendatang di sini jadi kami tidak punya kewajiban untuk membantu, namun setidaknya aku yakin bahwa ini adalah tujuan kami di kirim ke tempat ini.
Aku melirik ke arah Zephyr dan Carl dan mereka berdua mengangguk sangat kuat, bahkan Nuriel juga menunjukkan respon yang cukup positif jadi aku melihat ke arah tetua Kael.
"Izinkan kami untuk membantu, mungkin tidak banyak yang bisa kami lakukan tapi kami cukup percaya diri dengan kekuatan kami."
"Benarkah? kalian mungkin akan kehilangan nyawa kalian."
Memang benar aku tidak tau apa yang akan terjadi jika kami mati di sini, namun aku harus memikirkan kemungkinan terburuk sebelum menyesal nantinya.
"Kami sudah siap akan hal itu."
"Terima kasih, kalau begitu Ryu tolong ikut dengan ku untuk menghadiri rapat dewan, sedangkan Zephyr dan Carolyn tolong bantu menjaga desa."
"Baik"
"Serahkan keamanan di sini padaku."
Carl dan Zephyr juga menjawab dengan penuh keyakinan, jadi aku tidak punya alasan untuk khawatir.
Tetua Kael mengganti pakaiannya menggunakan sihir dan dalam sekejap pakaiannya berubah menjadi pakaian yang terlihat seperti pendeta druid, pakaian ku juga ternyata ikut berubah.
meskipun terlihat berubah total, ini sebenarnya hanya mengubah tampilannya saja, dan aku juga bisa merasakan kekuatan sihir mengalir dari dalam diriku.
"Kalau begitu mari berangkat."
Sesaat setelah itu sebuah lingkaran sihir muncul di sekeliling kami dan pandangan ku berubah dalam sekejap, instan teleport, ini adalah sihir tingkat atas yang sangat jarang di dunia ku tapi mungkin menjadi sihir umum di sini.
Kami berdua berdiri di sebuah ruangan besar yang berisi sebuah meja bundar raksasa yang di kelilingi dengan 99 kursi dan 4 kursi yang terlihat lebih mewah dari yang lainnya, jadi total 103 kursi.
Tetua Kael duduk di salah satu kursi dan aku berdiri tepat di belakangnya sebagai pengawal, setelah beberapa saat setiap kursi dipenuhi cahaya dan dalam sekejap seluruh kursi sudah penuh termasuk kursi yang terlihat mewah.
setiap kursi di isi oleh satu orang dan masing masing membawa satu pengawal di belakang mereka, semuanya di isi oleh 4 ras yang berbeda mulai dari beastman, elf, dwarf, dan terakhir mermaid yang sudah punah di zaman ku.
4 kursi mewah sepertinya di isi oleh 4 pahlawan di setiap ras, 3 dari 4 sudah terisi selain pahlawan dari ras elf, ketiga sosok di hadapanku memang pantas mendapatkan gelar yang terkuat dari ras mereka masing masing, jika bertarung dengan mereka aku pasti akan terbunuh dalam sekali serangan jika tidak serius.
"Kalau begitu mari kita mulai rapat dewan kali ini."
Salah satu tetua dari ras elf berdiri untuk memulai pembicaraan.
"Tunggu! bagaimana mungkin kita memulai rapat jika salah satu pahlawan belum hadir?"
Pahlawan ras beastman memukul meja dengan telapak tangannya hingga membuatnya retak, dia terlihat seperti pria dengan rambut dan telinga serigala putih, meskipun temperamennya buruk tapi dia memang sangat kuat.
"Dan apa apaan ini?! kenapa ada manusia di sini?!"
Pahlawan menunjuk ke arahku tanpa sedikitpun keraguan, tentu saja setelah itu semua orang akan melihat ke arah ku dan tetua Kael secara bergantian.
Tetua Kael berdiri kemudian membungkuk di hadapan semua orang.
"Tuan Redclift, ini adalah Ryu, saat ini dia adalah tamu ku jadi aku akan menjamin segala resiko atas namanya."
Tetua Elf tersenyum melihat ku kemudian menenangkan semua orang.
"Kalau Kael sudah berkata demikian maka kami tidak akan protes, pahlawan Alden tolong duduklah."
__ADS_1
"Tch, jika kau melakukan hal yang tidak berguna maka kau akan mati di sini."
Akhirnya pahlawan berhasil tenang namun dia benar benar tidak berniat menyembunyikan niat membunuhnya, yah aku tidak masalah akan hal itu jadi aku memutuskan untuk diam.
"Baiklah, mari kita mulai, seperti yang telah kita rasakan bahkan bencana ini adalah masalah yang sangat serius. Sampai saat ini keberadaan sang bencana masih misteri namun kami bisa merasakan adanya kekacauan ruang belum lama ini dan retakan mulai muncul di beberapa tempat."
"Dari retakan ini muncul berbagai macam monster dengan jenis yang berbeda dari yang ada di dunia kita, kami menyebutnya sebagai mutan karena mereka lebih ganas dan juga lebih kuat."
"Karena keberadaan bencana masih tidak diketahui jadi saat ini kita akan fokus untuk membasmi para mutan terlebih dahulu sebelum jumlahnya meledak."
Rapat berlangsung cukup lama karena ada banyak hal yang memang perlu di bahas, namun secara garis besar rencananya seperti ini.
Setiap ras akan memburu para mutan di wilayah mereka masing masing kemudian melakukan penelitian tentangnya yang mana informasi tersebut akan dibagikan, kemudian akan dibentuk tim khusus yang dipimpin oleh pahlawan untuk mencari keberadaan sang bencana karena sangat beresiko membawa banyak pasukan ketika lokasi musuh tidak diketahui.
Setelah rapat selesai aku dan tetua Kael kembali ke desa dimana ternyata seluruh orang sudah sibuk berlarian kesana kemari, beberapa diantara mereka penuh dengan luka.
Zephyr bersama dengan Nuriel juga ada di antara kerumunan, dia menarik seekor monster yang terlihat seperti serigala namun tubuhnya di penuhi dengan duri serta bisa ku lihat monster ini memiliki banyak mata sehingga ciri cirinya sangat sulit untuk di deskripsikan.
Aku juga bisa melihat Carl di kejauhan yang sementara mengobati beastman yang terluka.
"Bagaimana keadaannya?"
Aku menghampiri Zephyr sambil mencoba mengambil Nuriel namun ntah kenapa dia terus menolak hingga membuat hatiku terasa sakit.
"Mengerikan, monster terus muncul dari retakan yang tersebar di banyak tempat, jadi kami kesulitan menahan mereka namun setelah beberapa saat kami akhirnya bisa membasmi mereka meskipun memakan beberapa korban."
"Ini benar benar cocok untuk kata mutan, bentuk tubuh mereka sangat mengerikan."
"Benar, kekuatan mereka juga bukan main, setidaknya butuh dua beastman untuk membunuh satu mutan serigala ini."
Yang jadi masalah kami saat ini adalah karena kami tidak tau apa yang kami lawan, jadi satu satunya yang bisa kita lakukan adalah bertahan sambil mencari tahu, karena akan sangat beresiko jika menyerang balik.
"Tapi kenapa Nuriel menjadi sangat suka denganmu?"
Ini adalah masalah yang jauh lebih penting, bagaimanapun Nuriel sudah seperti putri ku sendiri jadi aku sangat tersakiti jika dia lebih dekat dengan sahabat ku.
"Aku juga tidak tau, tapi dia terlihat suka saat aku menggunakan ki milikku."
Aku jadi ingat bahwa Naga sangat suka memakan sihir jadi aku menciptakan sebuah bola cahaya yang terbuat dari sihir namun Nuriel sama sekali tidak tertarik, tidak menyerah sampai di sana aku akhirnya menggantinya dengan bola gelap, akhirnya Nuriel melirik kearahku.
"Bagaimana nona kecil? bukankah ini terlihat nikmat?"
Aku menciptakan beberapa bola lagi dan membuatnya terbang mengelilingi Nuriel yang tertidur di atas kepala Zephyr.
Tubuhnya perlahan lahan bergetar. membuat ku tersenyum puas dan mulai menciptakan lebih banyak hingga puluhan bola gelap terbentuk.
Akhirnya Nuriel menyerah dan melompat keatas kepalaku, dalam sesaat seluruh bola gelap terserap kedalam tubuhnya.
"Kyuun!"
"Apakah kamu marah karena belakangan ini aku tidak memberimu makan dengan benar?"
"Kyun!"
"Haha maafkan aku."
Aku benar benar melupakan hal itu, ketika Nuriel masih dalam bentuk telur aku selalu memberinya hampir seluruh kekuatan sihirku hingga beberapa hari aku tidak bisa bertarung karena kehabisan sihir, namun setelah dia menetas aku hanya memberinya makanan dari daging monster.
"Bagaimana kalau kita menghabiskan hari ini bersama?"
"Kyuuuu!"
Nuriel benar benar senang membuatnya mengelus pipiku dengan pipi imut miliknya.
"Kalau begitu, Zep tolong jaga kami."
"Serahkan kepadaku."
__ADS_1
Aku dan Nuriel masuk kedalam rumah yang telah disediakan untuk kami oleh tetua dan langsung berbaring di atas kasur dengan Nuriel di pelukanku.
Aku bisa merasakan sihir ku meninggalkan tubuhku dengan cepat yang membuat tubuhku kelelahan hingga tertidur lelap.
* * *
Di kerajaan Avalor, seluruh penduduk menjalani hidupnya dengan damai meskipun ada invasi mutan.
Itu bisa terjadi karena kekuatan kerajaan Avalor yang di kenal sebagai kerajaan sihir bukan hanya nama belaka, namun memang memiliki sihir yang sangat kuat.
Barrier tingkat 8 yang melindungi kerajaan membuat seluruh mutan tidak dapat masuk dengan mudah, belum lagi seluruh pertahanan sihir yang diciptakan membuat kerajaan ini hampir tidak tertembus hingga sekarang.
Saat ini di depan gerbang kerajaan terlihat 3 sosok berjalan ke arah kerajaan, di tengah terlihat seperti gadis umur 12 tahun dan di belakangnya terdapat dua sosok yang menutupi wajahnya dengan tudung.
"Berhenti!"
Dua penjaga mengarahkan tongkat sihir mereka ke arah sosok itu, namun mereka tidak berhenti.
"Inikah tempat yang ingin kamu hancurkan?"
Gadis 12 tahun itu berbicara sambil melihat seluruh kerajaan di depannya, kerajaan ini meskipun cukup kecil karena hanya terdiri dari satu kota besar namun kekuatan militernya salah satu yang terkuat di dunia.
"Begitukah? baiklah aku akan membantumu."
Gadis 12 tahun itu berbicara sendiri seolah olah ada sosok yang tidak terlihat di sampingnya.
"Nona, izinkan saya yang melakukannya."
Salah satu orang di belakangnya maju kedepan dan memperlihatkan sebuah katana di pinggangnya yang ramping menandakan bahwa dia adalah wanita.
"Apa yang kalian lakukan?!"
kedua penjaga melancarkan serangan berupa sihir pengekangan namun tidak ada efek sama sekali.
"T-tidak mungkin!"
"Hentikan dia!"
"Nukitsuke."
Gadis itu menarik katanya secara horizontal, itu hanya tarikan pedang biasa namun rasanya seperti waktu terhenti untuk sesaat.
"Eh?"
Para penjaga pun heran dengan apa yang terjadi karena mereka bisa melihat tubuh mereka sendiri menjadi daging cincang dari atas, jiwa mereka sudah meninggalkan tubuh sebelum mereka sadar, mereka mati.
Tidak berhenti sampai di sana, seluruh kerajaan pun runtuh dalam sekali serangan, bahkan tidak ada suara teriakan yang terdengar melihat seberapa cepat serangan tersebut dilakukan, sebuah kerajaan yang terlihat megah dengan istana raksasa dan banyak menara sihir langsung berubah menjadi reruntuhan dalam sekali tebasan pedang.
"561.397 orang dari 572.489 orang telah tewas di tempat, sisanya dalam kondisi terluka, haha sepertinya kemampuanmu menurun."
Salah seorang pria dengan tudung melihatnya sambil tertawa seolah olah apa yang dilakukan gadis itu belum cukup bagus.
"Ini adalah batasan tubuh inkarnasi dan juga barrier tingkat 8 tadi cukup mengganggu, jika aku menggunakan tubuh asliku harusnya aku bisa menghancurkan 10 gunung lagi di tebasan tadi."
Gadis itu melihat katana miliknya yang tersisa gagang saja, tebasan sebelumnya sudah cukup untuk mengubah pedangnya menjadi abu.
"Haha, haruskah aku membereskan sisanya?"
Pria itu mengambil sebuah tombak dari punggungnya kemudian menancapkannya kedalam tanah dengan kuat.
Tanah itu sendiri bergetar hebat, setelahnya duri raksasa setinggi 50 meter muncul dari dalam tanah satu persatu hingga menutupi seluruh kerajaan, mungkin ada jutaan diantaranya sehingga tidak ada celah bahkan seekor semut pun untuk selamat darinya.
Sesaat sebelumnya kerajaan terlihat sangat indah, kemudian berubah menjadi reruntuhan dalam sekejap namun sekarang kembali berubah menjadi landak raksasa karena duri raksasa yang menutupi seluruh kerajaan.
"Dengan ini kamu sudah puas bukan?"
Gadis umur 12 tahun itu kembali bertanya namun tidak ada respon dari siapapun.
__ADS_1
"Benarkah? yah kalau begitu mari bersahabat mulai sekarang."
Gadis itu tersenyum indah memperlihatkan sebuah taring panjang, di tambah dengan matanya yang bercahaya merah ketika melihat lautan darah di hadapannya.