MONOCHROME : Choice Of Destiny's

MONOCHROME : Choice Of Destiny's
Bab 12 Ekspedisi Dungeon


__ADS_3

Ana Cross siswa perempuan yang dijauhi orang lain karena penampilannya yang cupu dan tidak memiliki bakat apapun jadi semua yang dia lakukan akan berakhir buruk.


Tidak akan ada yang mengira kalau wanita seperti itu akan disukai oleh orang lain.


Menurutku sendiri penampilan dan kepribadian Ana berbanding terbalik karena meskipun penampilannya cupu tapi dia adalah wanita yang ceria, awalnya aku mengira dia bertingkah seperti itu untuk menutupi rasa sakitnya karena terbully tapi setelah bersama selama satu tahun aku merasakan kalau itu adalah kepribadian aslinya.


Ana bukanlah orang yang tidak berbakat dalam menggunakan sihir tapi seperti dihalangi oleh sesuatu, aku juga tidak tau apa itu tapi saat kami tanya, dia selalu mengalihkan pembicaraan jadi kami memutuskan untuk menunggu Ana menceritakannya atas keinginannya sendiri.


.


.


.


Hari ini aku berkumpul di depan pintu dungeon bersama Zep, di sini sudah banyak siswa yang berkumpul sambil menggunakan perlengkapan yang sangat bagus.


Saat ini aku menggunakan armor kesatria keluarga Lucifer seperti yang diminta Lucy kemarin.


Zep meskipun seorang pandai besi tapi dia tidak menggunakan armor apapun dan hanya membawa 2 tombak berwarna ungu.


Perjalanan dari Academy ke dungeon membutuhkan waktu berjam jam jika berjalan kaki tapi akan lebih cepat jika menggunakan kereta kuda.


Aku dan Zep kesini menggunakan kereta kuda yang kami pinjam dari keluarga Lucifer.


Alasan hanya kami berdua yang ada di sini karena kalian tau, kami ingin memberi pasangan muda ini waktu untuk berduaan.


Setelah berbicara dengan Zep selama beberapa saat.


"Teman-teman!"


Wajah seorang gadis muncul dari jendela kereta dan melambai kearah kami.


"Sepertinya mereka sudah datang."


Ana turun terlebih dahulu dan diikuti oleh Asta di belakangnya.


"Kalian jahat, meninggalkan kami seperti itu."


Ana langsung mengomel sesaat setelah sampai dan membahas tentang betapa pentingnya pergi bersama dan sebagainya jadi aku mengabaikannya dan melihat kearah Asta.


"Kamu terlihat senang, apa terjadi sesuatu?"


Mendengar pertanyaan ku Ana dan Asta menunduk dengan wajah merah.


"Haha!! melihat pasangan muda yang malu seperti ini sangat lucu."


Sedangkan orang yang tidak bisa menahan diri mulai tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya.


kita sedang berakting menjadi orang yang tidak tau apa apa dasar sialan!


"K- k- kenapa kamu mengetahui hal itu!?"


"Ahaha Asta memberitahu kami, kan?"


"Ahh benar, aku sangat senang saat itu jadi aku memberitahu mereka."


Saat kami berbicara satu sama lain suara terdengar.


"Semuanya harap berkumpul, aku ingin menyampaikan sesuatu."


Kami semua berkumpul dan melihat Angelina berdiri di atas batu.


"Seperti yang kalian tau, hari ini kalian akan menjelajahi dungeon rank C yaitu dungeon shadow wolf, seperti namanya dungeon ini dipenuhi dengan serigala bayangan jadi kalian harus berhati hati karena mereka dapat menyatu dengan kegelapan."


"Satu hal lagi, aku tidak akan masuk jadi aku tidak tau dan tidak peduli apa yang terjadi didalam sana, jika kalian memiliki dendam pada seseorang kurasa ini saat yang tepat untuk melakukannya karena apapun yang terjadi didalam sana aku akan melaporkannya sebagai kecelakaan."


*S*epertinya ekspedisi ini lebih menyebalkan daripada yang kubayangkan.


"Kalau begitu kalian semua silahkan masuk!"


Kami semua memasuki dungeon.


Jika kalian bertanya siapa yang membawa barang, jawabannya adalah tidak ada karena kami semua memiliki cincin dimensi yang dapat digunakan untuk menyimpan barang, jadi kami bisa bertarung dengan leluasa.


Saat kami masuk semua orang langsung pergi dengan kelompoknya masing masing, sepertinya mereka mengincar bos.


"Ryu apa tidak masalah kita berjalan santai seperti ini? yang lain sudah mulai berlari untuk mencari bos."


Zep bertanya kepadaku dengan nada bosan.


"Tujuan kita kesini bukan untuk mengalahkan bos tapi untuk bertahan dan keluar hidup hidup, cukup orang lain yang mengalahkannya."


"Tapi bukankah membosankan jika kita memasuki dungeon tanpa bertarung?"


"Hmm aku setuju, aku sangat bosan sekarang berjalan tanpa ada musuh."


"Haha kau benar di sini tidak ada musuh."


Aku melirik kebelakang.


"Baiklah, ayo kita berburu monster juga tapi kita tidak akan melawan bos setidaknya untuk sekarang."


"Aku juga tidak berpikir itu ide yang bagus memburu bos saat ini."


Dengan begitu kami mempercepat langkah kami dan setelah beberapa saat.


"Grrr, grrr." geraman serigala


Hanya saja aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena mereka menyatu dengan kegelapan.


"Asta perhatikan bagian belakang dan lindungi Ana, Zep kau tau apa yang harus dilakukan."


Serigala ini cukup merepotkan karena sebagian besar iblis tidak memiliki afinitas dengan elemen cahaya tapi ada aku.


Aku mengangkat tanganku keatas.


"Fast light."


Seketika seluruh ruangan menjadi terang dan memperlihatkan beberapa serigala berwarna hitam.


Serigala yang panik memutuskan untuk menyerang kami.


Tiga serigala menyerang kami dari depan tapi sebelum menyentuh kami mereka terhempas karena serangan Ana kemudia aku dan Zep melakukan serangan, aku memenggal salah satu kepala serigala dan Zep mengayunkan tombaknya secara horizontal.


Kedua serigala itu terbelah dua kemudian jatuh ke tanah.


Sementara dibagian belakang muncul 5 serigala yang menyerang secara bersamaan.


"Asta awas!"


Sepertinya Ana tidak menyadari keberadaan mereka dan dengan panik mulai menyiapkan sihir.

__ADS_1


Tapi sebelum dia bisa melemparkan sihirnya Asta menarik tali busurnya tanpa anak panah.


"Wushh." suara angin.


Saat itu salah satu serigala jatuh ke tanah dengan bunyi gdebuk!


Tidak ada anak panah tapi kepala serigala itu sudah berlubang.


Asta menarik tali busurnya beberapa kali dan setelahnya semua serigala jatuh ke tanah.


Memadatkan air untuk dijadikan anak panah di tambah tekanan yang sangat tinggi, ini terlihat seperti sniper.


"Wahh hebat! darimana kau belajar itu?"


Zep bertanya dengan penuh semangat.


"Ahh aku mencoba itu selama setahun ini, aku hanya tidak ingin kehabisan anak panah saat bertarung jadi aku mencoba menciptakan sebuah anak panah dan sihir, awalnya itu sangat lemah tapi setelah aku memberikan tekanan agar anak panahnya berputar dengan kecepatan tinggi itu jadi sangat kuat. meskipun tidak bisa digunakan untuk jarak yang sangat jauh karena anak panahnya akan menghilang."


"Kamu juga sudah bertambah kuat."


"Terima kasih."


Di sisi lain Ana menundukan kepalanya sambil melihat tangannya. sepertinya dia menyalahkan dirinya karena tidak bertambah kuat.


"Bagaimana kalau kita lanjutkan?"


Aku mendesak mereka pergi agar tidak memperpanjang percakapan ini.


"Dan Ana sihirmu tadi sangat membantu."


"Aku berniat menghancurkan mereka tapi hanya berakhir dengan menghempaskan mereka."


"Jangan sedih begitu, kita akan memikirkan jalan keluarnya nanti."


"Mamu benar."


Bergumam "Sepertinya aku harus segera memutuskan."


Kami melanjutkan perjalanan selama beberapa saat, saat malam tiba kami memutuskan untuk mendirikan tenda untuk istirahat. Setelah makan aku memutuskan untuk pergi.


"Maaf tapi aku ingin buang air sebentar."


"Aku juga, Asta tolong lindungi Ana sampai kami kembali."


"Serahkan kepadaku."


Aku dan Zep pergi bersama kemudian berpisah di tengah jalan.


Aku berhenti disebuah ruangan yang cukup luas dan mengeluarkan pedangku.


"Sebaiknya kalian keluar sekarang karena aku ingin tidur secepatnya."


"Matamu cukup tajam nak."


"Keke, jadi ini kesatria kesayangan putri dari keluarga Lucifer."


"Iya, jangan lupa tugas kita, tangkap atau bunuh orang ini."


Sekelompok pria muncul dari bayang bayang, mungkin sekitar sepuluh orang.


*S*epertinya mereka tentara bayaran dari orang yang membenci keluarga Lucifer.


"Cukup bagus, jika kalian ingin menemui orang tua kalian di akhirat lebih baik maju dan aku akan segera mengirim kalian."


"Ibuku masih hidup bocah sialan!"


"Ohh seperti itu? aku yakin ibu kalian akan menyesal telah melahirkan sampah seperti kalian."


"Cukup bacotnya bocah!"


Aalah satu pembunuh maju untuk menyerang dengan pedang, aku mengindari serangannya dengan gerakan minimum kemudian memenggal kepala orang itu. Kepalanya melayang di udara diikuti dengan semburan darah.


Sebelum kepalanya sampai ketanah aku menendangnya kearah orang yang terlihat seperti penyihir.


Sebelum kepala itu sampai, seseorang memotongnya tapi itulah yang ku inginkan.


Darahnya mengenai wajah orang tersebut, aku tidak melewatkan kesempatan ini dan langsung memenggal kepalanya.


"Dua orang sudah bertemu orang tua mereka, siapa selanjutnya?....... karena tidak ada yang mau maju maka aku yang akan maju duluan."


Pov pembunuh


Sialan! kami mengambil permintaan ini karena hadiah yang besar dan menurut informasi dia hanyalah bocah kelas C, tapi apa apaan itu!? saat kami beradu pedang, pedang kami langsung patah seperti mentega.


**K**ami mencoba menyerangnya menggunakan sihir tapi setelah menyentuh pedangnya, sihir itu langsung menghilang!.


*B*elum lagi ilmu pedangnya sangat ahli, meskipun belum sehebat Keluarga utama tapi itu sudah sangat hebat. sialan!!


"Mundur!"


Kami semua langsung kabur tapi di depan jalan keluar berdiri seorang pria berambut ungu.


*S*ialan apa yang dilakukan orang orang itu! mereka berkata akan membunuh orang ini tapi kenapa dia bisa berada disini dan dalam waktu secepat itu!?


Pov Ryutaro


Setelah Zep muncul kami memenggal kepala pembunuh satu persatu secara perlahan tepat di depan pemimpin mereka sendiri.


"Ryu kau harus melihat ini! ini sangat lucu orang ini membasahi celananya sendiri hahahaha."


Zep mulai tertawa terbahak-bahak.


"Dan liat wajah pemimpin itu, ingusnya sampai masuk ke mulutnya sialan!! ini sangat lucu. kupikir dia akan langsung mati jika dikagetkan dari belakang hahaha!!"


dan sekarang dia mulai memegang perutnya sambil berguling di tanah.


Setidaknya waspada sedikit dasar sialan!


Setelah kami membunuh semuanya pemimpin, kami mulai berjalan mendekatinya.


"Hiik! tolong tolong biarkan aku hidup! aku akan melakukan apapun! aku akan membocorkan semua informasi yang kutahu jadi tolong."


"Aku tidak peduli dan itu urusan keluarga Lucifer."


"Ehh?"


Aku langsung memenggal kepala orang itu.


.


.

__ADS_1


.


Pov Astarte


Beberapa saat yang lalu di tenda.


"Ana kamu berlindung dibelakangku."


Aku menarik panah ku arah bayangan dan sesaat setelahnya seseorang tumbang dengan lubang dikepalanya.


"Tck, sepertinya ini tidak akan mudah."


Seseorang keluar dari bayangan.


"Kalian semua keluarlah."


*M*ereka cukup banyak mungkin 20 orang?


"Nak, serahkan gadis itu dan kami akan langsung pergi."


Aku melihat kebelakang dan melihat Ana bergetar hebat.


"Apa yang kau inginkan darinya?"


"Ahh tenang saja, tuanku ingin menolong wanita itu untuk menghilangkan kutukannya."


"Kutukan apa yang kau maksud!?"


"Ahh kau pasti sudah sadar kalau wanita itu tidak bisa menggunakan sihir dengan baik kan? itu karena kutukan."


"Aku tidak tau bagaimana cara kalian menghilangkan kutukannya tapi Ana terlihat takut jadi aku yakin kalian menggunakan cara yang menjijikan untuk menghilangkan kutukannya."


"Maaf tapi jika kalian ingin mengambilnya kalian harus melewati mayatku terlebih dahulu."


Orang orang itu mulai mencabut pedangnya satu persatu.


"Bunuh bocah itu."


Seluruh pembunuh maju secara bersamaan.


Aku menembakan panah ku dengan kecepatan penuh sambil perlahan-lahan mundur untuk menjaga jarak.


*S*ialan!! ruangan ini terlalu kecil


Sebenarnya ruangan ini cukup luas tapi karena ada banyak orang jadi ruang gerakku sangat terbatas.


Apalagi saat ini aku harus melindungi Ana.


Saat ku sadari kami sudah terkepung, seseorang menyerang dari depan.


Sialan terlalu dekat, aku tidak bisa menggunakan panahku!


"Whuss." orang itu terhempas kebelakang, aku langsung menembak kepalanya dan orang itu jatuh ke tanah.


"Kyaa!"


Aku langsung berbalik dan melihat Ana ditarik oleh orang itu.


ku menembakan panah dan tepat menembus kepalanya.


"Ana! kemari!"


"Dibelakang mu!"


Ana berteriak, aku berbalik dan melihat seseorang telah mengayunkan pedangnya kearahku, aku mengangkat panahku untuk menahannya.


Panahku hancur dan aku terlempar kebelakang menabrak Ana.


Aku buru buru mengambil panah lain tapi sebelum aku menariknya orang itu menendangnya.


"Inilah akhirmu nak, ambil wanita itu."


"Aduh" pria lain menarik Ana dengan sangat kasar.


"A- aku akan ikut dengan kalian tapi tolong biarkan orang ini hidup."


Orang ini berhenti di tengah ayunan.


"aku sudah menanam bom didalam diriku jika kalian membunuhnya aku akan bunuh diri!"


"Tck, kau cukup beruntung nak, bawa wanita itu kita pulang."


"Terima kasih Ana."


Aku memotong tangan orang didepan kemudian langsung memenggal kepalanya.


"Kapten!!"


Saat mereka panik aku langsung menusuk kepala orang yang memegang Ana kemudian menariknya.


Sekarang aku memegang pedang tapi bukan pedang asli melainkan pedang yang terbuat dari sihir.


"Haaah haaah jauhkan tangan kotor kalian darinya."


Sial! menggunakan teknik yang belum sempurna ini menguras terlalu banyak mana dan staminaku. **I**nikah akhirnya? tidak! masih ada banyak hal yang harus kulakukan, aku tidak boleh mati disini!


"Serang dia menggunakan sihir!"


Seketika tiga jenis sihir melayang kearah ku dan


"Boom!!."


Saat itu kupikir aku akan mati tapi aku tidak merasakan apa apa dan luka ku sudah sembuh, dan apa ini? aku merasa semakin kuat.


Setelah debu menghilang aku dikelilingi oleh aura biru terang yang melambangkan keluarga Bezebbub.


"Haha kau bangkit disaat yang tepat." aku memuji diriku sendiri.


Aku berlari untuk mengambil panahku dan mulai menembak. Saat musuh mendekat aku menggantinya dengan pedang kemudian menebas mereka dan mundur lagi untuk menembakan panah, sesekali Ana akan membantuku menghempaskan musuh dengan sihirnya.


Tapi hal itu tidak bertahan lama, mungkin karena baru mengalami kebangkitan jadi tubuhku belum bisa menanggung sepenuhnya, nafasku mulai berat dan dadaku sangat sakit.


"Haaah haah satu lagi."


Orang terakhir menyerang kearah ku tapi terhempas oleh sihir.


"Aahh!!" aku mengangkat pedang sihirku kemudian melemparkannya dengan sekuat tenaga.


Pedang itu mengenai dada penyerang kemudian membuatnya terbang, dia mati.


"Haaah sialan apa yang dilakukan karakter utama kita."

__ADS_1


Aku tumbang, untuk sesaat aku melihat Ana menangis sambil berlari kearahku.


__ADS_2