
"Mah! aku mau ini!"
Empat orang sedang berjalan disebuah pasar dua anak laki laki dan dua seorang wanita dewasa.
Salah satu anak laki-laki itu menunjukkan kearah toko mainan.
Tanpa menunggu jawaban anak itu langsung berlari kearah toko dan melihat ke dalam melalui dinding kaca.
"Mah! aku mau ini!"
Anak itu menunjuk kearah mainan super hero yang terpajang di sana.
Tidak lama anak lainnya juga ikut berlari ke sana juga.
"Waahh! mah aku juga mau yang ini!"
Anak lain menunjuk kearah toko tapi bedanya dia menunjuk kearah monster kaiju yang dipasang di dekat super hero.
"Kenapa kau memilih monster yang jahat Ryu?"
"Eh? bukankah itu terlihat keren? dan aku merasa sedikit sedih melihat monster selalu mati."
"Mereka itu jahat jadi harus dibunuh!"
Anak itu menjelaskan dengan penuh semangat.
"Tapi menurutku mereka pasti punya alasan untuk melakukan itu."
"Aku tidak mengerti, Mah apa itu benar?"
"Ibu tidak tau tentang itu."
"Kalau menurut tante itu mungkin karena bahkan monster pun punya perasaan dan mungkin saja tidak berniat buruk hanya saja pola pikir mereka berbeda dengan manusia makanya mereka dianggap jahat."
"Kata kata yang bagus mayumi."
"Terima kasih, sudah sudah mari kita beli dan lanjut berbelanja kalian bisa memainkannya saat sampai dirumah."
""Baiik!""
.
.
.
"Argghh kalah lagi!?"
"Kukuku sepertinya kau harus mentraktir ku besok."
Dua siswa kelas menengah bawah duduk sambil memegang konsol game.
Dilayar terlihat manusia ultra melawan kaiju tapi itu berakhir dengan kemenangan kaiju.
"Baiklah, tapi kenapa aku selalu kalah? kita bermain seharian tapi aku tidak pernah menang!"
"Sederhana, saat sendirian aku selalu berlatih keras agar bisa menang!"
"Aku juga melakukan hal yang sama."
"Err kalau begitu aku mendapatkan kekuatan dari dewa jadi aku bisa menang!"
"Huhh yang seperti itu tidak mungkin ada."
"Begitu? yah intinya terima saja kekalahan mu inilah kenyataan."
"Huuh bagaimana bisa aku kalah setelah menggunakan karakter terkuat."
Anak itu bergumam.
.
.
.
Aku bangun dan memegang kepalaku yang terasa sangat sakit, tubuhku juga terasa sangat sakit sekarang.
Aku memaksakan diri untuk bangun dan saat turun dari kasur aku nyaris terjatuh karena pusing.
Seorang pelayan masuk dan menopang tubuhku.
"Tolong izinkan saya untuk membantu memasang pakaian anda."
Pelayanan itu berbicara tanpa emosi.
Aku ini laki laki kau tau?
"Tidak Terima kasih, aku bisa memakainya sendiri."
"Dimengerti."
Pelayan itu membantu ku duduk kemudian keluar.
Aku memakai pakaianku kemudian keluar.
Di depan pintu sudah ada pelayan yang menunggu, Saat dia berjalan aku mulai mengikutinya.
Kami tiba didepan sebuah pintu besar dan saat masuk di sana sudah ada meja besar dengan makanan diatasnya.
Teman-teman ku juga sudah ada di sana dan sepertinya aku yang terakhir.
"Kau terlambat dasar pemalas!"
Daisuke berdiri dengan marah.
"Maafkan aku."
"Sudah sudah, mari kita makan."
Aku duduk dan pelayan tadi berdiri di belakangku, aku melihat kearah kursi paus dan itu kosong.
"Paus ada dimana sekarang?"
Aku hanya bertanya secara tidak sengaja karena penasaran tapi seseorang menjawab pertanyaan ku.
"Paus saat ini sedang melakukan sesuatu dan sangat sibuk jadi tidak bisa hadir, dan maaf karena aku juga tidak tau apa yang beliau lakukan."
"Ahh tidak perlu dipikirkan, aku hanya sedikit penasaran."
.
.
.
Kami semua berkumpul di sebuah lapangan yang terlihat seperti tempat latihan tentara.
"tuk tuk tuk." Suara langkah kaki.
"Selamat pagi semuanya~"
Kami semua berbalik dan di sana muncul seorang wanita dengan rambut hitam panjang dan tipikal kakak yang baik hati.
Setidaknya itu kesan pertamaku.
Wanita itu berjalan sambil menguap bahkan pakaiannya sangat kasual seperti baru bangun tidur.
Rambutnya berantakan dan cara berjalannya sangat tidak bersemangat seperti dibangunkan dengan paksa.
Yang membuatnya terlihat seperti prajurit adalah pedang yang masih menggantung di pinggangnya.
Wanita itu berhenti di depan kami.
"Hooh jadi ini para pahlawan itu, beberapa diantara mereka terlihat cukup menjanjikan."
"Ano.... Anda siapa?"
"Hm? aku? kalian tidak mendengar apa apa dari tua bangka bau tanah itu?"
Bisa mengejek paus secara terang terangan seperti itu..
"Kami diarahkan kesini untuk latihan tapi itu saja."
"Tua bangka itu! Huuh baiklah aku akan menjelaskannya sesingkat mungkin."
Wanita itu mulai memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Namaku adalah Yumei Evenlope, salah satu dari 7 kesatria suci dan akan menjadi instruktur kalian mulai sekarang."
"..."
"kenapa?"
"Umm hanya itu?"
"Iya, kita akan sering bersama mulai sekarang jadi kita akan saling mengenal seiring berjalannya waktu, kalau begitu kita mulai dengan mengecek status kalian agar aku bisa tau latihan seperti apa yang pantas untuk diberikan kepada kalian."
Pelayan mulai muncul dan membagikan sebuah kaca kecil seperti gadget.
"Teteskan darah kalian ke cermin kemapuan itu kemudian alirkan mana kalian kedalamnya."
Mengikuti instruksi aku menusuk jariku dengan jarum kemudian mengalirkan manaku kedalamnya.
Cermin itu mengeluarkan sedikit cahaya dan seketika disana muncul sebuah tulisan.
"Sebagai perbandingan manusia normal biasanya akan memiliki statistik dasar mulai dari 10-20 dan pahlawan biasanya ada diantara 50-100."
"Woah kekuatan ku diatas 100!"
"Kecepatan ku sangat tinggi!"
Aku mendengar siswa mulai melompat dan saling memperlihatkan statistik masing masing.
Aku melihat statistik ku dengan hati hati dan setelah melihatnya aku tidak bisa berkata kata.
Nama : Hirohito Daiki
Umur : 19 tahun
Gender : Pria
Statistik dasar :
Stamina : 5
Kecepatan : 5
Kecerdasan : 5
Kekuatan fisik : 5
Kekuatan sihir : 5
"..."
"Pfft! Teman-teman lihat ini! Statistiknya sangat rendah hahahah!"
"Serius!?"
Teman temanku mulai berkumpul dan mulai tertawa terbahak bahak terutama Daisuke yang sudah berguling di lantai sambil memegang perutnya.
Sejak awal aku harusnya tidak berharap.
"Hei lihat ini!"
Daisuke menunjukkan Statistiknya kepadaku dan itu sangat hebat.
Nama : Daisuke Katsuo
Umur : 19 tahun
Gender : Pria
Statistik dasar :
Stamina : 100
Kecepatan : 100
Kecerdasan : 100
Kekuatan fisik : 100
Kekuatan sihir : 100
"Waahhh seperti yang diduga dari bos! statistik mu sangat luar biasa!"
"Bos kau adalah tokoh utama sekarang!"
Aku berniat berbalik untuk kembali ke kamar tapi di depan ku berdiri seorang wanita.
"Mau kemana? latihannya bahkan belum dimulai."
Itu adalah Yumei.
"Aku mau kembali ke kamar."
"Kenapa? apakah aku terlalu keras kepadamu atau sesuatu?"
"Lihat saja sendiri."
Aku memperlihatkan statistik ku dan anehnya dia tidak terkejut atau merendahkan ku.
"Hmmm ini aneh, bagaimana bisa statistik mu sangat rendah."
Yumei mulai menyentuh tubuhku dan mengamatiku dari segala arah seperti melihat sesuatu yang aneh.
"Kan? aku mau kembali dan tidur."
Aku berjalan melewatinya tapi tanpa kusadari ternyata aku cuma berjalan ditempat, aku melihat kebelakang dan menemukan Yumei menarik kerah bajuku.
"Latihannya akan segera dimulai dan kau harus ikut."
"Hei lepaskan aku!"
Aku menggunakan semua kekuatan ku untuk menahannya dan itu berhenti.
Yumei menatapku dengan tatapan terkejut dan itu membuat ku sangat takut.
"Tolong lepaskan aku."
"Tidak, pokoknya kau harus ikut."
Sekarang dia menyeret ku dengan lebih kuat jadi aku terpaksa ikut.
.
.
.
Kami duduk disebuah ruangan yang terlihat seperti ruangan kelas dan Yumei berdiri di depan kami.
"Hari ini aku akan menjelaskan sedikit tentang sihir dan kalian akan mempraktikkannya."
Yumei mulai menjelaskan tentang apa itu mana dan sihir dan bagaimana cara menggunakannya.
Kami mempraktikkannya dikelas dan Yumei menunjuk Enaka sensei untuk maju karena diantara kami semua dia yang memiliki kekuatan sihir paling tinggi.
Enaka sensei maju dan mulai menutup matanya dan seketika api mulai muncul di telapak tangannya.
"Waahh itu berhasil!"
Enaka sensei mencoba lagi dan kali ini dia menciptakan air, tanah, angin, petir, es dan lainnya.
"Itu cukup hebat bagaimana caramu melakukannya?"
"Hehe cukup sederhana aku hanya mencoba beberapa hal seperti yang ku ketahui tentang hukum fisika dan ternyata berhasil."
"Hooh menarik, kamu cukup berbakat."
Aku mencobanya sendiri dibelakang dan ternyata aku bisa menggunakannya meskipun sangat kecil.
"Kalau begitu kelas hari ini kita sudahi saja, kalian sebaiknya berlatih sendiri karena besok akan ada latih tanding untuk mengetes kemampuan kalian."
Aku kembali ke kamar ditemani oleh pelayan.
"Kenapa kamu terus mengikutiku?"
"Aku adalah pelayan pribadimu jadi sudah sewajarnya kalau aku terus mengikutimu kemanapun."
"Begitu, Namaku adalah Hirohito karena kita akan sering bersama jadi salam kenal."
Pelayan itu melihat ku dengan tatapan terkejut.
__ADS_1
"M–maaf! lupakan saja."
Aku memutuskan untuk pergi tapi pelayan itu membuka mulutnya.
"Tidak, Aku adalah Marie hanya marie jadi anda bisa memanggilku dengan nama itu."
"Salam kenal Marie."
Aku berbalik untuk pergi ke kamar dan Marie ikut dibelakang ku.
DUG! DUG! DUG!
"Arrk!"
"Tuan hiro ada apa!?"
Dadaku terasa sangat sakit bahkan jauh lebih sakit dari yang tadi pagi.
"Aargh!!!"
Aku hampir terjatuh tapi langsung ditahan oleh Marie.
"Maaf."
"Tidak masalah."
Aku sampai dikamar sambil ditopang oleh Marie.
"Apapun yang terjadi tolong jangan beritahu siapapun, aku tidak ingin ada yang mengetahuinya."
"Dimengerti."
.
.
.
Ditengah malam.
"Haah haah haah Arkk!"
Marie terus mengompres dahi Hiro tanpa henti sejak dia tidur.
"Apa yang harus kulakukan, suhunya semakin tinggi dan napasnya semakin kasar, haruskah aku memanggil tabib untuknya? tidak boleh aku harus bertanggung jawab sampai akhir, tapi apa yang harus kulakukan?"
Marie panik karena sudah berjam jam melihat kondisi hiro yang tambah parah.
"Meskipun belum mencapai tingkat tinggi tapi setidaknya aku bisa mencoba."
Marie mengulurkan tangannya ke dada Hiro dan merapal sihir penyembuhan sederhana.
"Argghh!"
"Hiih! apa yang harus kulakukan?"
Marie semakin panik karena saat menggunakan sihir penyembuhan kondisi Hiro bukannya membaik malah semakin parah.
Marie hanya bisa duduk dan memegang tangan Hiro sambil meletakkannya di dahinya sambil berharap.
"Kumohon cepatlah sembuh."
.
.
.
"Aduh kepalaku sangat sakit."
Aku bangun sambil memegang kepalaku.
Aku terlambat sadar ternyata baju dan kasurku sudah sangat basah.
"Apa ada atap yang bocor? ah tidak mungkin."
"Sial kepalaku seperti mau meledak, Hm?"
Aku melihat sesuatu dibawah selimut ku dan saat aku mengangkatnya disana Marie terbaring sambil meringkuk.
Belum lagi pakaiannya sangat tipis dan basah yang membuat penutup gunungnya terlihat jelas!
Aku melirik sedikit kebawah dan langsung berteriak Karena telah melihat sesuatu yang harusnya tidak kulihat diusia sekarang.
"Waahh!!"
Aku berteriak dengan panik dan berusaha menjauh.
"Aduhh!"
Aku jatuh ke lantai.
"Ehh?"
Aku berusaha berdiri tapi tidak tau kenapa rasanya aku tidak punya kekuatan untuk melakukannya.
Marie terbangun karena suara yang kubuat.
"Tuan Hiro apa anda baik baik saja!? bagaimana dengan tubuhmu!? tolong jangan bergerak dulu anda harus beristirahat!"
Aku langsung menunduk untuk memperkuat iman agar tidak lepas kendali.
"Daripada itu apakah aku sudah melakukan sesuatu kepadamu?"
"Eh? kenapa anda menanyakan hal itu?"
"Kasurku basah dan kamu ada di sampingku dengan pakaian seperti itu!"
"Pakaian apa yang anda maksud?"
Marie terlihat bingung untuk sesaat sebelum melihat dirinya sendiri di cermin.
"M–maaf!"
Marie langsung berlari keluar tapi hanya dalam beberapa menit dia sudah kembali.
Dia hanya menggunakan pakaian tipis dan terlihat sangat berantakan mungkin dia hanya mengganti pakaiannya dan langsung bergegas kesini.
Dia juga membawa pakaian pria.
"Terima kasih."
"Tidak masalah."
Aku berniat mengambil pakaian itu tapi Marie melewati ku dan membuka pakaian ku.
"Apa yang kau lakukan!?"
"Menganti pakaian anda, lihat anda sudah sangat basah."
Aku mengambil pakaian itu.
"Sekarang kamu pergi ke kamar mu sendiri dan bersihkan dirimu kamu cukup basah."
"Dimengerti tapi tolong diingat bahwa anda yang membuat saya basah seperti ini, dan izinkan saya untuk menyiapkan air hangat agar anda bisa mandi."
Apa yang telah kulakukan!?
Marie masuk ke kamar mandi dan mulai menyiapkan air kemudian membantuku untuk masuk, karena dia mulai berbicara tentang menggosok punggungku aku langsung menyuruhnya keluar.
"Ahhh~ sangat nikmat, aku tidak melakukan apapun tapi aku merasa sangat lelah."
"Dan apa yang sebenarnya terjadi? kenapa Marie ada di kasurku dan basah kuyup dengan pakaian seperti itu!? apa aku mabuk dan melakukannya? tidak itu tidak mungkin aku tidak pernah minum alkohol jadi apa yang sebenarnya terjadi!?"
Setelah berendam cukup lama aku merasa sedikit tenang dan tenagaku sedikit terisi.
Aku akhirnya bisa berjalan dengan baik meskipun sedikit pusing.
Aku menggunakan pakaian dan keluar, didepan pintu Marie sudah menunggu dengan pakaian pelayannya.
"Umm Marie apa aku sudah melakukan sesuatu kepadamu tadi malam?"
"Hmm? apa yang anda maksud?"
"Hahhh!! syukurlah!! Bagus wahai diriku!"
"Ehh!? apa ada masalah!?"
__ADS_1
"Uhuk tidak, ayo keruang makan."
"Dimengerti."