MONOCHROME : Choice Of Destiny's

MONOCHROME : Choice Of Destiny's
Bab 37 Kekacauan 2


__ADS_3

Kami berdua berlari sekuat tenaga menuju kota tapi saat kami sampai disana semuanya sudah kacau.


Bangunan hancur dimana mana dan bandit bertarung dengan prajurit.


Jumlahnya mungkin ratusan dan semuanya sangat kuat.


"Ayo berpencar."


"Baiklah."


kami berpisah dan mulai ikut dalam pertempuran.


Pertempuran ini bukanlah pertempuran yang teratur seperti perang tapi bahkan beberapa kali terlihat bandit saling menyerang satu sama lain.


sejak awal sudah aneh melihat bandit menyerang secara bersamaan seperti ini apalagi bekerja sama.


Tapi itu adalah hal yang bagus jika mereka tidak berkerja sama sebagai tim.


Aku berkali kali bertemu dengan bandit dan mereka selalu muncul dengan kelompok 2-5 orang dengan satu orang menjadi pemimpin.


Aku bisa mengalahkan mereka dengan mudah dan karena takut mereka akan meledak aku langsung membunuhnya.


Aku membunuh cukup banyak tapi mereka tidak berkurang sedikit pun dan akan melihat bandit kemanapun aku melihat.


Aku mempercepat langkahku dan menebas semua bandit yang menghalangi, aku tidak menuju kemanapun aku hanya ingin mempersingkat pertarungan ini.


"Tolong!"


Sebuah suara bergema dikepalaku, aku langsung melompat keatas atap untuk mencari sumber suara itu.


"Tolong!"


Aku berlari menuju sumber suara tapi setelah berjalan cukup jauh suara itu tidak terdengar lagi.


Apakah aku terlambat?


Aku memperkuat pendengaran ku hingga batasnya tapi tidak ada suara.


Tch sepertinya benar


Aku ingin melompat kebawah tapi sekali lagi suara itu terdengar.


"Kumohon selamatkan aku!"


Disana!


Aku berlari kearah sumber suara dan tidak jauh disana aku melihat orang yang melakukannya.


Aku langsung turun dan memberikan tendangan kepada bandit itu.


Tendangan itu cukup kuat untuk langsung membunuhnya setidaknya itu yang kuharapkan.


Aku berdiri di depan wanita itu untuk melindunginya karena aku masih bisa merasakan kalau bandit ini masih hidup dan cukup kuat jika dibandingkan dengan bandit lain.


"Menjauh dari Linaku!"


Bandit itu menyerang sambil mengoceh, aku mengabaikannya dan menangkis serangannya dengan pedang milikku dan melakukan serangan balik.


Ternyata bandit itu bisa menghindarinya dan juga melancarkan serangan balik disaat yang tepat.


Orang ini sangat terlatih.


Aku memperkuat tubuhku dengan sihir.


Kami berdua maju secara bersamaan dan beradu pedang beberapa kali, aku terus mengamati bandit ini dan menganalisa kekuatannya.


Ilmu pedangnya sangat hebat dan kekuatannya juga sebanding tapi dia tidak bisa mengendalikannya dengan benar seperti belum terbiasa dengan kekuatan ini.


Yah dia adalah yang terpilih jadi tidak heran jika dia menjadi kuat dalam sekejap tapi itulah masalahnya karena dia mendapatkan kekuatan yang besar dalam semalam jadinya tubuhnya belum beradaptasi.


Aku pernah mengalami ini ketika pertama kali berlatih dengan Gizel.


Kami terus beradu pedang dan akhirnya aku memilih menghindari serangannya dan benar saja dia kehilangan keseimbangan.


Aku tidak melewatkan kesempatan ini dan menebasnya.


"Tidak!"


"Sial!"


Aku terkejut karena wanita itu langsung berteriak jadinya seranganku kurang dalam.


itu memang cukup fatal tapi kurang dalam untuk langsung membunuhnya.


Aku berbalik dan melihat wanita itu menangis sambil memeluk putrinya, aku tau kalau saat ini dia tidak menangis untuk putrinya itu tapi untuk pria di depan ku.


"Hahh apa yang kau mau?"


"Umm."


"Baiklah."


"Aku bahkan belum bicara."


Sebelum wanita itu menjawab aku menyarungkan pedangku kemudian pergi menjauh.


"Tolong rawat putriku sebentar."


Wanita itu mengangkat putrinya dan menyerahkannya kepadaku.


Kenapa aku merasa sedikit tidak dihargai disini?


"Aku akan menunggu di lorong bagian sana jadi lakukan apa yang kau mau."

__ADS_1


Aku membawa putrinya menjauh, akan sangat buruk jika dia sadar saat ini jadi aku pergi sedikit lebih jauh.


.


.


.


Saat Ryu sudah pergi Lina mendekati Frank yang terbaring penuh dengan darah.


"Lina maaf aku tidak bisa melindungimu."


Lina duduk di dekatnya.


"Tidak masalah, aku sangat senang kamu menyelamatkanku Terima kasih."


"Tapi aku tidak bisa menyelamatkanmu."


"Kamu sudah menyelamatkan ku lihat? kalau kamu tidak ada aku pasti sudah mati sejak lama, Terima kasih."


"Pada akhirnya aku tidak melakukan apa apa."


"Jangan seperti itu, kamu lelah bukan? bukankah sudah saatnya kamu beristirahat? aku berjanji akan terus hidup mulai sekarang sambil menjaga nyawa yang sudah kamu selamatkan ini."


"Hahah aku sangat senang mendengarnya."


"Terima kasih karena sudah menjadi kakak bagiku, Terima kasih karena sudah menyelamatkan ku berkali kali, dan Terima kasih karena sudah mencintai ku, terima kasih."


"Suaramu sangat kecil aku tidak bisa mendengarnya."


Mata Frank mulai berkabut dan warnanya perlahan lahan menghilang.


Lina mengelus kepala Frank dengan lembut kemudian mengambil sebuah pedang yang sebelumnya dipakai oleh frank.


"Selamat tinggal."


"Hehe aku selalu bermimpi bisa mati ditanganmu."


"Setidaknya ini yang bisa kulakukan."


Lina menancapkan pedang itu kedada Frank dan cahaya menghilang sepenuhnya.


Frank mati.


.


.


.


Aku mendengar percakapan mereka diujung lorong dan diakhiri dengan tangisan keras dari wanita itu.


"Haah untunglah tidak ada yang datang."


Aku melihat kesamping dan ternyata anak itu sudah sadar.


Aku lupa kalau anak ini terluka dan ternyata lukanya cukup parah.


Aku segera merapalkan mantra penyembuhan kepadanya.


Setelah sembuh dia langsung bangun dan melihat kearahku.


"Bagaimana kondisi tubuhmu? apa masih ada yang terasa sakit?"


Aku berusaha bertanya dengan lembut agar dia tidak takut.


"Umm aku baik baik saja, ibu! apa ibu baik baik saja!?"


Setelah memeriksa tubuhnya anak itu langsung menanyakan kondisi ibunya.


Anak yang baik


"Tenang saja dia baik baik saja."


Sebelum aku selesai berbicara ternyata wanita itu sudah datang.


"Cheryl!"


Wanita itu kembali dan langsung memeluk Cheryl.


"Ibu!"


Aku mundur sejenak sambil memberi waktu kepada ibu dan anak ini dan sekalian aku juga berjalan jalan disekitar sambil melihat para bandit.


Aku tidak sadar ternyata jumlah bandit sudah semakin berkurang dan tidak sekacau sebelumnya.


Mungkin karena tentara sudah mulai berdatangan.


Setelah memastikan daerah sekitar aku kembali ke gang tadi dan disana mereka berdua duduk bersama.


"Aku sangat berterima kasih karena sudah menyelamatkan kami dan sampai menyembuhkan luka putriku."


"Terima kasih banyak!"


Ibu dan anak itu menundukkan kepalanya secara bersamaan.


"Tidak masalah, yang lebih penting lebih baik kita pergi ke tempat yang aman terlebih dahulu, ikuti aku."


Aku pergi keluar dari gang dan berusaha sebaik mungkin untuk menghindari bandit karena akan sangat buruk jika anak kecil sepertinya melihat sesuatu yang sangat brutal.


Yah sekarang kota ini penuh dengan mayat jadinya aku terpaksa mencari jalan yang sepi.


Aku mencari lokasi dimana iblis paling banyak berkumpul karena kemungkinan itu adalah tempat pengungsian.

__ADS_1


Aku melihat kejalan utama dan disana hanya ada mayat bandit, dengan penglihatan ku yang diperkuat aku melihat dikejauhan disana ada seorang pria dengan rambut coklat sambil menggunakan armor mewah berwarna hijau.


Dia berlari sambil menebas semua bandit yang ada di hadapannya dengan satu tebasan kuat yang membuat bandit langsung terpotong menjadi beberapa bagian.


Saat semua bandit musnah aku sangat terkejut karena orang itu melihat kearahku kemudian tersenyum ramah.


Aku kembali ke tempat wanita itu.


"Ayo pergi, sepertinya ada tempat pengungsian di sekitar sini."


Kami semua pergi dan kami tiba di alun alun.


Disana sudah ada tembok tanah yang diciptakan dengan sihir dan dikelilingi oleh banyak penjaga.


Kami keluar dari gang dan pergi kearah salah satu penjaga.


Mereka melihat kami dan salah satu dari penjaga datang.


"Kalian datang dari mana?"


Penjaga mengamati kami dan melihat kearah ibu dan anak yang terlihat sangat berantakan dan terluka.


Dan terkahir dia melihat kearahku.


"Kau adalah manusia?"


"Tolong biarkan dia masuk, dia yang sudah menyelamatkan ku dari bandit itu."


Wanita itu maju kemudian membelaku.


"Tolong, dia adalah kakak yang baik hati."


Setelah Cheryl ikut bicara penjaga itu menyerah dan membiarkan kami memasuki pengungsian.


Saat kami masuk disana ada banyak sekali tenda yang dipasang dan aku bisa melihat banyak orang berlari kesana kemari.


daripada digunakan untuk menjadi tempat tinggal ini lebih seperti dikhususkan untuk menampung orang yang terluka.


Saat masuk, penjaga lain menjemput kami.


"Aku akan mengantar kalian ke tenda yang kosong."


Kami mengikuti penjaga itu pergi melewati banyak sekali tenda yang penuh dengan prajurit dan warga yang terluka.


"Masuk."


Kami masuk ke sebuah tenda yang sudah disediakan.


Meskipun dia mengatakan kosong tapi ini sangat padat dan dilantai berbaris banyak sekali orang yang terluka dan orang yang berlarian membawa alat kesehatan.


Meskipun di dunia ini ada yang namanya sihir penyembuhan tapi bukan berarti itu menjadi sangat mudah karena pengguna harus bisa mengetahui bagian mana yang terluka dan menyembuhkannya.


misalnya patah tulang, orang tersebut harus tetap diberi pertolongan pertama dan tulangnya harus disambungkan terlebih dahulu sebelum disembuhkan karena jika langsung disembuhkan itu hanya akan membuat orang tersebut menjadi cacat selamanya.


Ada cara yang lebih bagus yaitu sihir regenerasi tapi itu hanya bisa dilakukan oleh penyihir tingkat tinggi dan penggunaan mana nya sangat boros jadi tidak cocok digunakan dalam situasi seperti ini.


Sihir regenerasi biasanya digunakan kepada orang yang kehilangan anggota tubuh dalam peperangan karena luka setingkat itu tidak mungkin bisa disembuhkan oleh sihir penyembuhan biasa.


Kami mencari tempat yang kosong dan membiarkan ibu dan anak itu beristirahat disana sekaligus diperiksa oleh perawat.


Aku berbalik untuk pergi tapi wanita itu menahan ku.


"Tunggu, setidaknya beritahu kami siapa namamu?"


"Ahhh maaf, aku adalah Ryu hanya Ryu."


"Aku adalah Lina Liilay dan anak ini."


"Cheryl!"


"Seperti itu, bisakah kita bertemu lagi? aku ingin mengucapkan terima kasih dengan benar."


"Hmm aku masih punya urusan disini jadi tentu saja."


"Kamu harus berjanji, kami akan menunggumu."


"Baiklah aku berjanji, kalau begitu sampai jumpa."


"Sampai jumpa, tolong kembali dengan selamat.'


Aku merasa kalau aku terikat sebuah takdir aneh dengan orang ini.


Aku pergi ke medan perang sekali lagi.


Di tengah jalan aku teringat sesuatu yang sangat menjanggal.


Mereka semua bergerak atas keinginan masing masing dan tidak terlihat seperti bekerja sama.


Jika seperti itu bagaimana bisa mereka menyerang secara bersamaan? harus ada sosok pemimpin yang merencanakan semua ini.


Sekarang pertempuran sudah mencapai tahap akhir tapi sosok itu tidak muncul.


Apakah dia merencanakan sesuatu yang lebih besar? aku tidak tau.


Aku bahkan tidak tau apa alasan mereka menyerang kota ini.


Apa yang mereka dapatkan? apa tujuan mereka?


Saat aku sibuk memikirkan semua itu sebuah ledakan lain terjadi di istana Leviathan.


Itu bukanlah ledakan bom seperti terakhir kali ini tapi ini adalah ledakan mana murni seperti sosok yang ingin memamerkan kekuatannya.


"Sepertinya orang itu sudah muncul."

__ADS_1


Aku merasa kalau ada sesuatu yang ku lupakan tapi aku menepisnya dan fokus berlari kearah sumber ledakan mana itu.


__ADS_2