
Hari selanjutnya turnamen dilanjutkan, sekarang tersisa 8 peserta jika kami bertiga menang Ana dan Zep akan bertemu.
Kali ini tidak ada hal menakjubkan yang terjadi karena semua orang sudah mengetahui kekuatan kami jadi kami bertiga sepakat untuk menyelesaikan permainan secepat mungkin.
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini ada beberapa siswa yang mulai menggunakan penyatuan tapi sejujurnya itu sangat mengecewakan, mereka semua menggunakannya dengan cara yang salah.
Mereka menggunakan penyatuan seperti itu adalah teknik andalan dan teknik terlarang di sisi lain.
Mereka bukannya membentuk sebuah armor dari dari mana, mereka malah membiarkannya memasuki tubuh mereka, memang benar efeknya sama tapi tubuhmu akan hancur jika kekuatan sebesar itu dibiarkan mengamuk di dalam tubuhmu.
Awalnya aku sangat gugup dan tidak percaya diri bisa menang dalam turnamen seleksi ini karena hampir semuanya adalah siswa kelas S, dan jika siswa kelas C saja sudah sekuat Ana dan Zep bagaimana dengan kelas S yang berisi monster sekelas Lucy.
Tapi ini sangat mengecewakan, memang benar mereka cukup hebat tapi itu hanya di satu bidang.
Ana melawan siswa dengan kecepatan yang luar biasa dan senjatanya adalah dagger, dia adalah assasin. Tapi hanya itu, untuk apa memiliki kecepatan yang luar biasa tapi bahkan tidak bisa menembus pertahanan milik musuh mu.
Jadi saat itu Ana hanya perlu menciptakan tornado mini untuk menghempaskan musuhnya keluarga arena.
Sedangkan Zep melawan siswa dengan panah tidak terlihat dan tanpa suara, itu memang cukup menyebalkan bagi kebanyakan orang tapi bagi Zep yang sangat peka terhadap sihir itu adalah panah biasa yang bisa dilihat dengan jelas.
Saat ini aku sedang berhadapan dengan siswa berambut emas seperti Angelina.
Dia adalah Alno anggota keluarga Mammon dan menurut cerita Lucy dia adalah yang terkuat kedua setelah dirinya, kemampuannya adalah Pilfer yaitu mencuri sesuatu dari lawan mau itu senjata, artefak, hingga kekuatan lawan itu sendiri hanya saja kelemahannya adalah dia tidak mungkin bisa mencuri 100% kekuatan lawan paling banyak adalah 50-99% tergantung kekuatan lawan itu sendiri, semakin kuat lawannya maka semakin rendah persentase kekuatan yang bisa dicuri.
Itu sudah sangat kuat karena kekuatan musuh bisa di timpa dengan kekuatannya sendiri jadi bisa di bilang dia selalu unggul dalam pertarungan.
Tapi bukan berarti dia bisa mencuri kekuatan khusus dari 7 pangeran iblis lainnya, karena itu selama ini dia hanya bisa berada di peringkat kedua.
Dia menggunakan senjata jenis pedang seperti milikku.
Aura emas mulai menyelimuti Alno dan seketika aku merasa lemah dan Alno bertambah kuat.
"Hahaha!! aku merasakan kekuatan mengalir di dalam diriku!"
Alno tertawa dengan sangat keras seperti kemenangannya sudah terjamin.
Aku mencoba mengepalkan tanganku untuk menyesuaikan diri dengan perubahan, hanya saja efeknya tidak sebesar yang kubayangkan.
Energi sihir emas milik Alno meledak dari tubuhnya dan mulai berubah bentuk menjadi armor emas.
Aku melakukan hal yang sama dengan menggunakan penyatuan hanya saja saat ini aku menggunakan penyatuan cahaya.
"Pertarungan dimulai!"
Alno menghilang dan muncul di depanku dalam sekejap, saat ini aku cukup berhati hati karena dia adalah siswa terkuat sekarang jadi aku memutuskan untuk menilai kekuatannya terlebih dahulu.
kekuatan serangan, kecepatan, refleks, semuanya cukup hebat jadi aku menyimpulkan kalau dia sekuat Lucy saat menggunakan kekuatan Lucifer, hanya itu karena sampai sekarang saat kami bertarung Lucu tidak pernah menggunakan penyatuan.
"Hahaha kau bahkan tidak bisa melakukan serangan balik sekarang?"
Alno menyerang kearah leherku tapi pedang itu hanya menebas udara kosong.
Aku muncul dibelakangnya untuk memberikan pukulan telak tapi dia langsung berbalik dan menahan pedangku.
Alno terdorong mundur beberapa langkah karena dampak dari seranganku.
"Tidak mungkin! aku sudah mencuri kekuatan mu dan kau masih bisa mengimbangi kecepatan ku, bahkan membuat ku mundur seperti ini!?"
Sekali lagi kami berdua menghilang dan energi sihir emas dan putih saling berbenturan kesana kemari, tapi setelah beberapa saat salah satu energi sihir berubah dari putih menjadi hitam.
"Boom!" "Kuaak!"
Alno terlempar keluar arena hingga menabrak penghalang diikuti dengan batuk darah.
Armor nya sekarang hancur dan mulai menghilang, benar sekarang aku mengganti penyatuan ku dari cahaya ke kegelapan karena jika terus seperti tadi hanya akan berakhir dengan jalan buntu.
"Pemenangnya adalah Ryu dari kelas C!"
Dan dengan itu kami bertiga lolos ke 4 besar dan setelah istirahat Ana dan Zep akan bertarung.
.
.
.
"Kerja bagus."
Ngomong ngomong Lucy selama ini duduk di kursi vip karena dia hadir sebagai putri keluarga Lucifer.
Setiap istirahat kami berdua pasti selalu pergi untuk minum teh, karena sekarang aku kebih sering ke tempat Lucy jadi teman teman ku harus ikut kesana jadi kami sekarang sudah cukup jarang berada dikantin.
Saat ini kami berlima sedang duduk di sebuah taman dikediaman Lucy sambil minum teh bersama.
"Setelah ini Zep akan bertarung dengan Ana kan? aku menantikannya."
Lucy berbicara sambil meminum teh, karena kami sering berkunjung jadi mereka sudah cukup akrab sebagai teman.
Ana dan Asta yang bermesraan dari tadi berbalik setelah pembicaraan dimulai.
"Heii Zep aku akan membunuhmu jika kau melukai Ana!"
Asta langsung mulai dengan peringatan, aku setuju karena Zep adalah tipe orang yang menjadi gila saat bertarung tapi itu berlaku bagi Ana yang menjadi sangat sombong ketika dalam penyatuannya. Aku tidak mengerti karena aku bahkan tidak merasakan apa-apa saat dalam bentuk penyatuan kecuali jika aku membiarkan energi kegelapan masuk kedalam tubuhku.
"Hah!? bagaimana caraku bisa menang kalau aku bahkan dilarang menggores tubuhnya!?"
"Pokonya tidak boleh! apa kau tega merusak kulit Ana yang sangat indah ini!? kau pasti tidak ingin kan? katakan iya!"
"Hah!? sungguh konyol! kalau aku menolak apa yang bisa kau lakukan? kau bahkan lebih lemah dari Ana! bahkan jika aku membunuh Ana sekarang kau hanya bisa menangis dan melihat."
Setelah kalimat terakhir keluar Asta langsung diam.
"Zep tolong jangan mengejeknya seperti itu, dia sudah bekerja keras belakangan ini. dia cukup berbakat jadi mungkin dalam beberapa bulan dia sudah bisa menggunakan penyatuan."
Sekarang ana turun tangan untuk menegur Zep sambil mengelus kepala Asta seperti seorang ibu.
"Ana bagaimana kalau kamu menyerah saja? kamu harusnya tau kalau kamu tidak mungkin bisa menang melawan Zep."
__ADS_1
Asta menyarankan dengan nada khawatir, aku sebenarnya setuju karena Zep adalah counter dari semua hal dan tanpa kelemahan bisa kubilang.
"Tidak, aku akan mati karena malu jika menyerah sebelum bertarung. Jika Zep serius aku juga akan serius dan jika Zep menahan diri aku akan tetap serius, aku mungkin akan kalah tapi aku tidak akan kalah tanpa perlawanan."
.
.
.
Kami pergi ke arena karena sebentar lagi pertarungan akan dimulai.
"Kami akan melihat dari kursi penonton jadi sebaiknya lakukan yang terbaik."
Kami berpisah Aku dan Asta ke kursi penonton, Lucy ke ruang vip, sedangkan Ana dan Zep pergi ke dalam arena.
.
.
.
Sesaat setelah istirahat di ruang vip Kepala sekolah duduk di sebuah kursi dan sekertaris masuk memberikan tumpukan laporan kedepan kepala sekolah.
kepala sekolah membaca dokumen itu sambil berbicara.
"Bagaimana keadaan penghalang yang terpasang di arena?"
"Kami sudah memperbaiki kelima penghalang dan diperkirakan akan mampu menahan serangan tingkat strategis, bahkan jika siswa Ana cross mengeluarkan sihir pemusnah massal seperti sebelumnya itu hanya akan menghancurkan beberapa lapis dan tidak akan mencapai penonton."
"Tingkatkan penghalang menjadi 10 lapis dan kau harus menjaga lapisan terakhir untuk berjaga jaga."
"10 Lapis? bukankah itu terlalu berlebihan? hanya kekuatan penuh dari keluarga utama yang bisa menghancurkan penghalang sekuat itu sedangkan siswa Ana Cross hanyalah putri dari keluarga biasa."
"Menurut mu putri dari keluarga biasa bisa menggunakan penyatuan? dan apakah tadi kamu melihat dia berkeringat saat bertarung? dia bahkan tidak serius di pertarungan tadi."
"Apa? bagaimana mungkin...."
"Jika kamu mengerti maka lakukan itu."
"Dimengerti."
.
.
.
Ana dan Zep berdiri berhadapan.
"Pertarungan dimulai!"
"Penyatuan aktifkan."
Ana langsung melayang ke udara.
Sedangkan di sisi lain Zep mulai berteriak untuk mengaktifkan penyatuan seperti super saia.
"HAAAA!!!!"
"BOOM!!"
Zep terhempas karena serangan Ana.
"Apa yang kau lakukan dasar sialan!!"
"Disini aku yang bertanya apa yang kau lakukan? berteriak seperti itu di tengah pertarungan?"
"Hah!? apa kau tidak pernah mendengar kalau kau harus menunggu musuh mu menggunakan kekuatan penuh mereka sebelum bertarung!?"
"Itu cuma di dalam cerita tertentu kau tau? itu tidak berlaku di dunia nyata."
Zep terus mengomel karena Ana tidak memiliki semangat kesatria dan menggunakan cara kotor, sedangkan Ana di sisi lain menatap kebawah dengan sangat jijik.
Zep berulang kali mencoba menggunakan penyatuan tapi selalu di gagalkan oleh Ana dengan tekanan angin yang sangat kuat.
"Kau bisa menggunakannya tanpa berteriak kan? sebaiknya lakukan dengan cepat karena aku mulai bosan."
"Tidak akan!"
"Tch jangan salahkan aku kalau kamu mati."
Ana membentuk sebuah tornado dan itu langsung menuju kearah Zep dengan kecepatan tinggi.
"Boom!"
debu beterbangan kemana mana, dari dalam debu keluar sebuah energi tombak berwarna ungu langsung meluncur tepat kearah wajah Ana tapi Ana menghindarinya dengan mudah.
Setelah debu menghilang, Zep muncul dengan wujud penyatuannya.
"cukup bagus, penyatuan tahap 2 aktifkan."
Ana yang biasanya dalam bentuk penyatuan hanya mengelilingi dirinya dengan energi sihir angin sekarang semua energi sihir itu mulai memadat dan membentuk sebuah armor berwarna hijau pucat.
Energi sihir milik Ana meningkat pesat sampai ke tingkat dimana Energi sihir sebelumnya tidak bisa dibandingkan.
Jika kekuatan diukur hanya dengan energi sihir maka Ana jelas jauh lebih kuat dari Zep, tapi itu tidak berlaku saat ini.
Ana menyerang Zep dengan sebuah tombak angin, jika tekanan angin yang biasanya digunakan Ana bertujuan untuk menghempaskan musuh maka tombak ini akan langsung menghancurkannya.
Zep bahkan tidak bergerak atau berniat menahan serangan itu, tombak angin mengenai Zep membuat lantai disekitarnya hancur karena terkena dampaknya.
Hanya saja Zep tidak bergerak sama sekali bahkan tidak tergores.
Inilah kenapa kami sepakat bahwa Ana tidak bisa menang melawan Zep sejak awal, itu karena efek "Anti sihir" yang dimiliki armor Zep.
Bahkan serangan ku tidak bisa menembus armor miliknya karena efek sihirnya dihilangkan dan menjadi kekuatan fisik murni.
__ADS_1
Jadi Ana yang murni menggunakan sihir tidak akan bisa menang.
Zep mulai berlari kearah Ana yang masih melayang diudara, Ana membombardir Zep dengan ratusan tombak angin tapi itu hanya merusak area sekitar tanpa menggores armor milik Zep sedikitpun.
Zep melompat kearah Ana sambil menyiapkan serangan menusuk.
Tapi sebelum tombaknya mencapai Ana, Zep terhempas ketanah dengan sangat keras hingga menciptakan sebuah kawah.
"Fufu~ sudah kuduga serangan ini berdampak padamu."
"Aku tidak menyangka kau bisa menembus anti sihirku."
Jika sebelumnya Ana menggunakan sihir untuk membentuk sebuah tombak, sekarang dia hanya memutar angin dengan kecepatan tinggi kemudian mendorongnya dengan sihir, tombak yang sekarang bukanlah tombak yang terbuat dari sihir melainkan hanya angin alami.
Itu tidak mungkin menembus armor Zep karena itu hanya angin biasa yang bergerak dengan sangat cepat sehingga mampu menghempaskan Zep ketanah, itu juga cukup kuat untuk membuat armor Zep menjadi sedikit penyok.
Zep melompat sekali lagi tapi kali ini dengan kekuatan yang lebih besar dan menciptakan ledakan debu.
Zep sampai di depan ana dalam sekejap dan langsung melancarkan serangan dengan kedua tombaknya, puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan tusukan tombak menyerang Ana saat masih diudara, Ana menghindari semua serangan itu karena dia bisa bergerak leluasa diudara kemudian Zep terhempas lagi karena serangan Ana.
"Sepertinya ini menjadi jalan buntu."
Ana adalah orang yang berbicara.
"Menurut mu begitu? Maaf tapi aku tidak berpikir demikian."
Sesaat setelahnya Ana tersadar bahwa ada darah di pipinya, bahkan sekarang di armor nya ada beberapa goresan.
"Tch jadi begitu, kamu menggunakan sihir ilusi saat melancarkan serangan."
"Hahah! seperti yang diduga darimu kau langsung bisa mengetahuinya."
"Pertarungan berkepanjangan hanya akan merugikan ku jadi bagaimana kalau kita akhiri di serangan selanjutnya?"
"Aku juga bosan jika bertarung dengan cara yang seperti ini jadi mari lakukan."
Ana mulai menciptakan sebuah Tornado raksasa seperti yang terakhir kali, tidak ini lebih besar.
Tornado mulai mengamuk dan menghancurkan arena.
Saat tornado sudah memenuhi seluruh arena, tornado itu mengecil dan semakin mengecil dan sekarang itu hanya seukuran sebuah tombak, yang berkurang hanyalah ukurannya tapi di dalam tombak itu kekuatan tornado masih sangat gila.
Yang dilakukan Ana adalah dengan mengompres tornado secara paksa dengan mengurangi ruang lingkup tornado sedikit demi sedikit dengan sebuah penghalang angin.
Saat tombak tornado itu sudah selesai Ana mimisan dan muntah darah.
"Hehe ternyata mengompresnya saja sudah menguras sihirku dan cukup sulit mempertahankan bentuknya."
Disi lain Zep menyimpan satu tombaknya dan mengangkat tombak lain dengan posisi melempar.
"HAAAAA!!!!"
Zep berteriak dan seketika seluruh energi sihirnya terpusat pada tombak bahkan sekarang armornya sudah menghilang karena ikut terserap ke dalam tombaknya.
Kekuatan sihir dalam tombak itu sangat mengerikan sampai aku tidak yakin bisa menahannya bahkan dengan seluruh kekuatan ku.
"Harap evakuasi! ini keadaan darurat! semua penonton harap evakuasi!"
Para penjaga mulai berlarian untuk mengevakuasi penonton, dan setelah beberapa saat seluruh kursi menjadi kosong menyisakan aku dan Asta.
"Zep sialan!! Ana akan mati jika serangan itu mengenainya!!"
Mereka berdua melemparkan tombaknya secara bersamaan dan bertemu tepat di tengah.
Kedua tombak itu berbenturan dan berhenti di bagian tengah untuk sesaat tapi setelahnya.
"Crack Crush!!!"
Tombak Ana pecah dan menciptakan sebuah ledakan tornado yang sangat dahsyat hingga menghancurkan seluruh arena dan terus menghancurkan semua penghalang bahkan sampai kursi penonton.
Aku mengaktifkan penyatuan ku untuk melindungi diri dan Asta.
Di tengah ledakan, tombak Zep masih terus meluncur kearah Ana.
"Fufu~ seperti yang kuduga, aku bahkan tidak bisa bergerak sekarang."
Ana menutup matanya dan menerima akhirnya tapi Ana terlempar menjauh dari tombak.
Aku menendang Ana menjauh karena sekarang bukan waktunya untuk bersikap lembut.
Sesaat setelah aku menendang Ana tombak Zep sampai, aku menahannya dengan semua kekuatanku.
Aku terseret oleh tombak dan terbang sejauh ratusan meter, aku mengalirkan sihir kegelapan kedalam tombak untuk mengurangi kekuatannya tapi itu tidak banyak berefek dan aku terus terseret semakin jauh hingga tombak itu mencapai tanah.
Bukannya berhenti tombak itu terus meluncur diatas tanah sambil mendorongku.
"Kuakk!" muntah darah
Tombak itu terus maju menghancurkan seluruh bangunan yang dilewatinya.
Karena tidak ada pilihan lain Aku melepaskan Sihir cahaya yang mengalir di dalam diriku dan membiarkan sihir kegelapan masuk.
Seketika bola mataku menjadi merah dan taring mulai muncul bahkan dibelakang ku ada sebuah sayap kelelawar.
Karena berubah menjadi vampir aku akhirnya bisa mendaratkan kakiku di tanah dan sedikit mengurangi kecepatan tombak.
Aku terseret selama beberapa saat sebelum tombak itu akhirnya berhenti.
armorku rusak bahkan sekarang aku terluka parah. Aku tidak percaya ada orang mampu menahan serangan langsung dari tombak ini.
Armorku menghilang dan aku kembali ke wujud manusia ku. Jika kekuatan tombak ini tidak berkurang karena bertabrakan dengan sihir Ana aku yakin aku pasti akan mati.
Sekarang aku hanya bisa berbaring sambil menunggu orang menjemput ku, karena semua tenaga ku habis sekarang.
"Kamu sudah bekerja keras jadi sekarang istirahatlah."
Setelah mendengar suara itu aku tertidur.
__ADS_1