
Hari selanjutnya Edward terus menyegel sihir lawannya diawal pertarungan dan kemudian memenangkan pertarungan dengan mudah.
Aku tidak mengerti mengapa dia melakukannya sejauh itu karena dari yang kutahu di Kekaisaran ini bangsawan selalu ramah kepada semua orang jadi cukup jarang menemukan diskriminasi meskipun masih ada seperti kasus Ana.
Aku bertanya kepada semua yang dia lawan dan tenyata sihir mereka terus tersegel.
Sejujurnya ini membuatku sedikit emosi karena tidak ada yang mau melaporkan masalah ini hanya karena Edward adalah bangsawan.
Hari ini kami bertiga memasuki arena dan berhadapan dengan siswa dengan pakaian orange.
"Siap? Mulai!"
Seperti hari hari sebelumnya kami bertarung tanpa penyatuan karena hanya ingin fokus pada kerja sama tim.
Alasan lain karena kedua sobat ku ini langsung menjadi gila jika menggunakan penyatuan, Ana pasti akan mulai menciptakan tornado raksasa tanpa pikir panjang dan disisi lain Zep pasti akan langsung menggila tanpa mendengarkan ku.
Musuh menyerang terlebih dulu dan kami semua bertahan sambil bersiap untuk serangan balik.
Salah satu siswa mengayunkan pedangnya, aku menahan pedang itu sambil menyesuaikan kekuatanku tapi.
"Arkk!"
Aku melompat mundur dan melihat tangan ku yang bergetar hebat.
Apa apaan itu? aku menahannya tapi itu masih sangat menyakitkan.
Aku melihat Ana sedang beradu sihir dengan musuh tapi baru kali ini aku melihat sihirnya berakhir ditengah karena keduanya saling menghancurkan.
Zep juga melompat mundur.
"Ini cukup merepotkan, mereka lebih kuat daripada yang kubayangkan."
Zep mengeluh, dia benar musuh kali ini tidak terlihat kuat tapi kekuatan mereka yang sebenarnya sangat berbeda.
"Tingkatkan sedikit kekuatan kalian."
"Baiklah."
Musuh kembali menyerang tapi kali ini daripada bertahan aku lebih memilih untuk menghindari nya dan langsung melakukan serangan balik kearah lehernya namun pedangku tidak bisa mencapainya.
Dia memiliki sebuah pelindung yang melindungi tubuhnya.
Aku melihat kearah penyihir mereka dan dia terlalu sibuk berurusan dengan Ana jadi tidak mungkin bisa menggunakan sihir pertahanan di saat yang bersamaan.
Sedangkan Zep dia tidak memiliki masalah karena skill nya yang bisa menembus pertahanan semudah menghancurkan sebutir telur.
"Hahaha kenapa? apakah siswa dari Ba'al academy hanya setingkat ini? sejujurnya ini sangat mengecewa- Kuak!!"
Sebelum menyelesaikan ucapannya pria itu terhempas dan berguling di lantai.
"Jangan berbicara dasar sampah aku sedang tidak mood sekarang."
Aku melihat kebelakang dan cuma bisa tersenyum pahit karena Ana sudah tidak menginjak lantai dan sekarang terbang di udara.
"Hei! tapi aku tidak akan membiarkan mu mengambil mangsaku jadi urus mangsa mu sendiri!"
Zep berteriak dengan marah seperti orang yang menjaga mainannya agar tidak diambil oleh orang lain.
"Haha baiklah tapi jangan menggunakan tornado karena aku tidak mau di diskualifikasi disini."
Ana tidak menjawab tapi langsung menyerang.
.
__ADS_1
.
.
Dikursi VIP lucifer terus mengawasi pertarungan.
Mereka semua bertarung dengan sengit.
Ryu berhadapan dengan seorang siswa pengguna pedang.
"Hahaha kenapa? apakah siswa dari Ba'al academy hanya setingkat ini? sejujurnya ini sangat mengecewa- Kuak!!"
Orang itu langsung terlempar oleh serangan yang tidak terlihat.
Untuk pertama kalinya mata Lucifer sedikit membesar.
Karena Ana mulai melayang diudara dan aura yang berada di sekitarnya langsung berubah.
Rasanya seluruh udara bergerak atas kehendaknya.
Penyihir menggunakan sihir api untuk menyerang Ana tapi sihir itu berhenti di tengah jalan, berbeda dari sebelumnya karena kali ini itu berhenti dan tidak meledak.
Setelahnya bola api itu langsung meluncur dengan sangat cepat tapi bukan kearah Ana melainkan kearah penyihir Itu sendiri.
Tapi penyihir itu muncul tanpa luka karena dia dilindungi oleh semacam pelindung.
"Hmm itu membuktikan betapa lemahnya sihirmu, tapi bagaimana dengan ini."
Setelah mengatakan itu Ana tidak melakukan apa apa tapi dibawah kaki penyihir muncul sebuah kawah dan itu terus membesar.
"Itu terlihat seperti sihir gravitasi..." bergumam.
"Itu hanyalah tekanan angin yang dipadatkan sedemikian rupa sehingga terasa seperti tekanan gravitasi, meskipun sederhana tapi mengontrolnya adalah hal lain dan dia bahkan tidak merapalkan apapun."
Lucifer kagum setelah mendengar penjelasan dari pelayan wanita dibelakangnya.
"Tidak, karena afinitasku ku bukan angin tapi bisa ku bilang kalau anak ini adalah jenius diantara para jenius."
"Bagaimana dengan latar belakang keluarganya?"
"Kami sudah melakukan penyelidikan dan dia hanyalah putri dari sebuah keluarga pemilik toko roti sederhana di pinggiran Kekaisaran."
"Bukankah itu membuatnya sangat mencurigakan? bagaimana bisa seorang anak dari pemilik toko roti dipinggiran bisa memiliki kekuatan sebesar itu."
"Yah sejujurnya ini cukup mencurigakan tapi sejujurnya anak itu mengingatkan ku pada orang tertentu."
"Siapa itu?"
"Wind emperor."
"Orang itu... terus selidiki masalah ini."
"Dimengerti, tapi kurasa anda tidak perlu terlalu memikirkan itu karena wanita itu sekarang bekerja sebagai pelayan putri anda dan secara otomatis akan membantu keluarga Lucifer juga."
Setelah mendengar itu tubuh Lucifer menjadi sedikit tenang.
"Kamu benar, mungkin aku hanya terlalu banyak berfikir."
Mereka semua memutuskan untuk kembali menonton.
.
.
__ADS_1
.
Karena serangan ku tidak berdampak aku mengubahnya menjadi elemen kegelapan.
Orang itu menyerang lagi dan aku menghindari serangannya kemudian melancarkan tebasan di dadanya dan itu mengenainya.
Pria itu terkena di bagian dada, itu memang tidak dalam tapi ku yakin itu cukup parah sampai akan gawat jika tidak segera diobati.
Aku berbalik untuk melihat Zep dan ternyata dia juga sudah mengalahkan musuhnya dengan sebuah tusukan di bagian perut.
sekarang aku melihat kearah Ana yang masih menekan musuhnya menggunakan sihir gravitasi.
Wanita di sisi lain mulai batuk darah sambil merangkak karena tidak sanggup menahan sihir gravitasi Ana.
Anehnya tubuhnya tidak terluka karena pelindung itu.
"Hmm~ ini masih belum cukup ternyata, mari kita lihat berapa lama pelindung itu bisa melindungi tubuhmu."
Sihir gravitasi meningkat berkali kali lipat dan memperbesar kawah dibawahnya.
Wanita itu muntah darah dan jatuh tengkurap karena tidak sangguo menahan sihir gravitasi Ana.
"Crusshh!"
Pelindung itu pecah dan wanita itu pingsan.
Ana turun dan terus bergumam.
"Butuh cukup banyak sihir untuk menghancurkannya."
Kami semua berkumpul di tengah arena.
"Pemenangnya adalah siswa dari Ba'al academy!"
"WOOAAHH!"
Sorakan dari penonton langsung meledak.
Kami bertiga meninggalkan arena dan pergi untuk menemui Lucy dan Asta.
Di lorong Edward sedang bersandar di dinding dengan tangan terlipat.
"Jangan bangga dulu hanya karena bisa mengalahkannya cecunguk lemah dasar pecundang, di babak selanjutnya akan kutunjukkan perbedaan kekuatan kita."
"Ahh~ dari tadi nyamuk terus bersuara dan itu sangat mengganggu."
Ana berbicara dan kami langsung berjalan tanpa melirik kesamping.
"Beraninya kalian mengabaikan ku!"
"BOOM!"
Edward terkubur didalam tembok karena serangan Ana.
"Diamlah dasar rendahan jika kau masih ingin bernafas."
.
.
.
Setelah ketiga orang itu pergi Edward berbicara sendiri.
__ADS_1
"Aku akan menyegel sihir mu kemudia memperkosa mu di hadapan semua teman mu terutama kekasih mu! hahahah!!"
"Aku adalah yang terpilih jadi tunggu saja dasar ******."