MONOCHROME : Choice Of Destiny's

MONOCHROME : Choice Of Destiny's
Bab 40 Tikus kecil yang lucu~


__ADS_3

Carl menceritakan kisahnya tentang apa yang terjadi setelah kita berpisah.


Carl yang terseret longsoran salju pingsang dengan sangat cepat jadi dia tidak memahami apa yang terjadi.


Saat sadar dia sudah terkubur didalam salju dan ternyata dia diselamatkan oleh seekor tikus salju.


Yang pertama dia lakukan adalah bertanya kepada tikus apakah dia melihat manusia lain disekitar sini tapi tikus itu tidak melihatnya.


Carl sangat kacau dan hatinya dipenuhi dengan perasaan negatif yang membuatnya merasa pasrah.


Menanggapi Carl yang sedih tikus itu menggigit kakinya yang mati rasa karena membeku.


Carl kembali ke dunia nyata dan menghilangkan semua emosi negatif dihatinya.


"Terima kasih, kamu benar aku tidak boleh menyerah disini!"


Tanpa kata lain tikus itu pergi dan Carl mengikutinya.


Kakinya sangat lemas karena terlalu lama terkubur didalam salju membuatnya tidak sanggup berjalan lagi.


Carl terjatuh diatas tumpukan salju karena tidak bisa berjalan lagi.


Tikus itu datang dan menggigit pakaiannya seperti berusaha untuk menariknya tapi tidak terjadi apa apa.


Carl memang masih remaja dan cukup ringan tapi itu bukanlah beban yang bisa tarik oleh seekor tikus.


Tikus itu menyerah kemudian berlari menjauh.


Carl mengulurkan tangannya untuk meminta agar tikus itu tidak meninggalkannya tapi tikus itu terus berlari menjauh membuat Carl sangat sedih karena ditinggalkan oleh teman barunya dan mungkin dia akan mati disini.


Carl menutup matanya dan siap untuk situasi terburuk.


Kesadarannya perlahan-lahan menghilang dan akhirnya semuanya menjadi gelap.


Dia berfikir kalau dia sudah mati tapi dia merasa hangat.


Perlahan tapi pasti kesadarannya muncul kembali, dia membuka matanya dan menemukan dia sedang menatap kelangit.


Tapi tubuhnya sangat berat seperti ditimpa oleh sesuatu atau mungkin diikat oleh sesuatu.


Dia melihat ke segala arah dan ternyata dia sedang bergerak sambil berbaring, dia juga melihat tubuhnya yang ditutupi oleh bulu seputih salju.


Itu adalah tikus salju yang menutupi seluruh tubuhnya.


Carl berusaha bangun dengan menggerakkan tubuhnya, tikus tikus itu merespon dengan turun dari tubuh Carl dan yang ada di bawahnya juga perlahan lahan menurunkannya ke tumpukan salju kemudian mereka semua berbaris dihadapannya.


Carl melihat mereka dengan heran kemudian salah satu tikus maju sebagai perwakilan.


Carl langsung mengenali tikus itu.


"Ternyata kamu tidak meninggalkan ku."


"Cit cit."


"Jadi kamu memanggil teman temanmu untuk menyelamatkanku?"


"Cit"


"Terima kasih."


"kruk kruk~" perut keroncongan.


"Setelah merasa hangat aku merasa sangat lapar sekarang."


"Cit cit."


Para tikus itu bubar membentuk sebuah jalan dan ditengahnya ada kelinci salju yang masih hidup tapi digigit oleh tikus dari segala arah jadi kelinci itu tidak bisa bergerak.


Selanjutnya tikus lain maju kemudian menggigit leher kelinci beberapa kali sampai kelinci itu mati.


Para tikus kemudian menyeret mayat kelinci itu kedepan Carl kemudian menjauh.


"Ini untukku?"


"Cit cit."


"Hehe aku akan menerimanya."


Carl membakar kelinci itu dengan sihir api sederhana.


Ini lebih baik daripada makan daging mentah.


Carl mengambil salah satu kaki kelinci kemudian memakannya dan dia mengarahkan sisanya kearah para tikus itu.


"Cit cit?


Tikus itu melihat kearah daging kelinci panggang kemudian melihat kearah Carl dengan mata yang berair seperti anak yang dimarahi ibunya.


"Erm kalian juga ikut makan, kalian pasti kelaparan juga kan?"


"Cit!"


Semua tikus langsung menyebar ke segala arah dan menyatu dengan salju.


Beberapa saat kemudian kerumunan tikus muncul lagi sambil menyeret beberapa mayat kelinci.


Mereka semua meletakkan kelinci itu di hadapan Carl.


"Cit."


"Benar satu daging saja tidak cukup untuk kita semua, mari kita berpesta!"


"Cit cit cit!"


Carl mulai memanggang daging kelinci satu persatu kemudian membagikannya kepada para tikus.


Mereka semua makan secara lahap dan dipenuhi dengan tawa satu orang.


Jika ada yang melihatnya mereka pasti akan mengira kalau orang ini sudah gila.


"Hehe itu itu sangat menyenangkan dan aku sangat kenyang."


Carl terbaring ditumpukan salju sambil menatap keatas langit.


Tidak ada tanda tanda keputusasaan dimatanya dan hanya ada kesenangan murni.


"Fiuh baiklah waktunya pergi."


Carl bangkit kemudian menatap para tikus yang terbaring karena makan terlalu banyak.


Tikus yang menyadari Carl telah berdiri juga ikut bangun dan berkumpul didepannya.


"Emm ini memang pertemuan singkat tapi aku sangat senang bertemu dengan kalian semua tapi aku harus pulang, jadi terima kasih karena sudah menyelamatkan dan merawatku."


Carl berjalan menjauhi para tikus dan mulai berjalan menuruni gunung.


"Cit cit!"

__ADS_1


Carl berbalik dan menemukan tikus mengikutinya dengan tatapan memohon, bahkan orang biasapun akan tau kalau tikus itu tidak ingin ditinggalkan.


Carl duduk dan mengambil salah satu tikus kemudian memeluknya.


"Aku juga merasakan hal yang sama tapi aku harus pulang dan mencari kakak dan yang lainnya."


"Cit"


"Ehh? kamu mau ikut denganku?"


"Cit! cit! cit!"


Para tikus mulai mengelilingi Carl.


"Aku akan pergi ke wilayah manusia kalian tau? kalian akan dibunuh jika ada yang melihat kalian."


"Cit cit cit!"


"Hehe baiklah kalian boleh ikut, tapi kalian tidak boleh mengikuti ku masuk kedalam kota oke?"


"Cit!"


Para tikus menjawab serempak kemudian mengikuti Carl berjalan menurunu gunung.


Carl terus tertawa karena bercerita dengan para tikus membuatnya merasa aman.


Mereka berjalan cukup jauh tanpa masalah sampai mereka hampir mencapai kaki gunung.


"Grrr grrr."


Beberapa serigala muncul dan menghadang mereka.


"Bagaimana ini aku hanya bisa melancarkan sihir dasar jadi tidak mungkin aku bisa membunuh mereka, aku harus kabur."


Carl sangat ketakutan dan ingin kabur secepat mungkin.


Tapi sebelum dia bisa melangkah kebelakang sesuatu yang aneh terjadi.


Salah satu serigala terjatuh dan salju dibawahnya berubah menjadi warna merah karena darah.


Di kaki serigala itu sudah menempel tikus salju.


Serigala itu terjatuh tidak berdaya kemudian tikus lain mengerumuninya.


Saat tikus pergi serigala itu sudah menjadi mayat.


Tanpa jeda serigala lain mengalami nasib yang sama dan habis dalam sekejap.


Carl cuma bisa terdiam karena yang dia ingat monster serigala ini cukup kuat sampai semua orang harus bekerja sama untuk melawannya.


Tapi teman temannya bisa membunuh mereka semua dalam sekejap.


"Cit!"


Carl tersadar karena suara tikus yang sudah berkumpul didepannya.


"Benar, kita harus terus berjalan."


Mereka melanjutkan perjalanan dan beberapa kali bertemu dengan serigala atau beruang tapi tikus ini mampu mengalahkan mereka dengan mudah.


Carl merasa tidak enak karena harus dilindungi oleh hewan kecil ini tapi dia sendiri tidak bisa berbuat apa apa karena dia tau kalau dia tidak memiliki bakat dalam sihir atau seni beladiri.


Mereka terus berjalan dan akhirnya keluar dari daerah salju tapi yang ada didepan mereka bukanlah desa tapi sebuah hutan sejauh mata memandang.


Carl terus berjalan melewati hutan dan bertemu banyak monster sampai membuat Carl sakit kepala karena semakin banyak monster yang mulai mengikutinya.


Itu membuat Carl terlihat seperti raja iblis yang akan memulai perang dengan manusia.


Dia tidak mungkin masuk ke wilayah manusia dengan monster sebanyak ini, yah lagian dia tidak tau wilayah manusia dimana jadi dia hanya berjalan lurus.


Tapi tidak lama pemandangan di depan Carl benar benar berbeda.


Pohon hancur dimana mana, mayat monster berserakan ditanah.


Carl ragu sejenak karena dia sangat lemah jadi dia pasti tidak bisa membantu apa apa tapi dibelakangnya ada banyak teman yang selalu bersamanya.


"Boom!"


Sebuah ledakan terjadi dan membuatnya sangat panik.


"Cit!"


Tikus salju yang duduk dibahu Carl berbicara kepadanya.


"Apa benar bisa seperti itu? kalian mungkin terluka atau mungkin mati kau tau?"


"Cit." "Grr" "Roar!"


"Kalian semua.... Baiklah ayo kita maju lebih jauh."


Carl hampir menangis karena teman temannya siap untuk mati bersamanya dan itu membuatnya sangat senang.


Mereka semua maju sambil melewati semua mayat monster dan juga disana ternyata ada banyak mayat manusia dengan sayap.


.


.


.


Jauh ditengah hutan agung Schwaziger terlihat hutan yang hancur berantakan.


Pohon hancur dan terjadi kebakaran dimana mana, mayat monster dan malaikat menutupi tanah dan mewarnai nya dengan darah.


"Ini memang membutuhkan pengorbanan yang sangat besar tapi itu sepadan selama kami bisa membunuhmu."


"Haah haah jangan pikir kau bisa kelakuan apapun sesukamu di wilayahku."


Dua sosok saling berhadapan yaitu seseorang malaikat dengan 2 pasang sayap dan satunya lagi seekor rubah kecil dengan 9 ekor besar dibelakangnya.


"Sampai membuatku menggunakan kekuatan asliku, itu membuat ku cukup terkesan."


"Sudahi omong kosong mu."


Malaikat itu terlihat cukup sehat jika dibandingkan dengan rubah yang nafasnya semakin berat meskipun tidak memiliki luka tapi dia sangat kelelahan.


Dibelakang mereka juga masih berdiri beberapa prajurit dimana dibelakang malaikat masih ada beberapa malaikat dan dibelakang rubah masih ada beberapa wyvern.


"Hahah menyerah saja kau tidak mungkin bisa mengalahkan ku dalam wujud itu dan biar ku tebak kalau semua prajuritmu sudah musnah benar kan? ."


"Aku tidak boleh mati disini, jika aku mati semua monster ini akan keluar dari hutan kemudian mengamuk tidak terkendali."


"Haha itulah yang kami incar sejak awal bodoh."


"Tch"


Memang benar kalau mereka sudah bertarung habis habisan selama beberapa hari tanpa henti sampai menghancurkan hutan yang ada disekitar mereka.

__ADS_1


Dan jujur saja jika pertarungan dilanjutkan mereka akan kalah dan musnah.


Mereka hanya bisa mengeluarkan semua yang mereka punya untuk menahan para malaikat ini.


"Roaar!!"


"kwaaak!"


"Auung!"


Suara makhluk buas bergema didalam hutan disertai dengan rentetan serangan kearah para malaikat.


Serangan gelombang suara, hujan api, bola petir menghujani para malaikat.


"Apa yang terjadi!? seharusnya tidak akan ada bala bantuan yang datang!"


Malaikat itu sangat terkejut dan melihat kearah rubah dengan marah tapi dia terdiam karena melihat rubah itu juga sangat terkejut.


Dia melihat kearah pendatang baru itu dan disana berdiri seorang wanita muda dengan banyak monster yang berbaris dibelakangnya.


Terlebih lagi semua monster ini adalah puncak dari spesies mereka dan sudah melakukan evolusi.


Malaikat itu kembali melihat kearah rubah.


"Begitu, kau berbohong kepadaku dan menyimpan kartu as mu untuk saat terakhir, aku akui kalau ini adalah rencana yang sangat baik dan cerdas."


Rubah itu hanya terdiam dan tidak menanggapi ucapan malaikat.


"Yah terserah, aku hanya perlu melawan kalian semua sekaligus."


Pertempuran dimulai dengan keadaan yang sepenuhnya terbalik.


Malaikat memulai serangan terlebih dahulu dan menyerang kearah rubah.


Aku harus keluar dari situasi terkepung ini terlebih dahulu kemudian melancarkan serangan besar besaran kepada mereka semua.


Malaikat itu terbang dengan sangat cepat kearah rubah dan berniat menerobos.


Dia dihadang oleh beberapa wyvern tapi dia bisa membunuhnya dengan sangat mudah kemudian terus terbang menjauh.


Tapi dia berhenti karena didepannya berdiri sosok kecil dan lucu yaitu seekor tikus putih.


Setidaknya itulah yang terlihat.


Tapi malaikat itu cukup tau makhluk seperti apa yang sedang berdiri di depannya.


"Sejak kapan penghuni asli gunung Shcnee bekerja sama dengan penguasa hutan agung Schwaziger?"


"Jangan bodoh, aku tidak mungkin mau bekerja sama dengan orang orang itu."


"Kalau begitu biarkan aku lewat dan aku tidak akan menggangu mu lagian ini bukanlah wilayahmu."


"Hahah sangat lucu, Tuanku ada disini jadi ini sudah menjadi wilayahnya dan aku akan menghancurkan siapapun yang menghalanginya."


"Makhluk yang terisolasi sepertimu memiliki tuan? jangan bercanda."


"Yah terserah kau mau percaya atau tidak aku tidak peduli tapi kau akan mati disini, ditempat ini dan saat ini juga."


"Hahh! jangan bercanda! kekuatan kita setara kau tau!"


"Kau sekarang sudah cukup kelelahan jadi sadari posisimu."


Malaikat itu maju dengan kekuatan penuh sambil menarik pedangnya.


Dia menebas kearah tikus dan menghancurkan semua pohon yang ada didepannya tapi karena tubuhnya yang kecil tikus itu bergerak dengan lincah melewati malaikat.


"Tidak mungkin."


Dibelakang malaikat itu bukan seekor tikus tapi seorang anak laki laki remaja dengan rambut putih runcing diatas kepalanya dan memegang sebuah pedang ES ditangannya.


"Lihat? kau sangat kelelahan sampai kemampuanmu menjadi tumpul."


Sesaat setelahnya malaikat itu mulai membeku dan berakhir menjadi balok ES kemudian hancur berkeping-keping menjadi pecahan cahya.


.


.


.


Pertarungan dengan cepat berakhir setelah pemimpin malaikat pergi dan meninggalkan pasukannya.


Pertempuran berakhir dengan kemenangan monster dan kekalahan telak bagi pihak malaikat.


Meskipun harga yang harus dibayar adalah kehilangan banyak pasukan tapi ini sepadan.


Aku harus berterima kasih.


Rubah itu berjalan kearah kelompok monster yang dipimpin oleh 3 penjaga hutan yaitu elang api, serigala petir, dan singa berekor ular.


Mereka semua adalah penjaga hutan selain Rubah berekor sembilan meskipun rubah adalah makhluk yang memiliki posisi tertinggi tapi tetap saja dia


harus menundukkan kepalanya untuk berterima kasih.


Rubah sampai di depan 3 penjaga hutan.


"Aku sangat berterima kasih atas bantuan kalian."


"Hehe tidak perlu berterima kasih kami hanya kebetulan lewat."


"Eh?"


Rubah itu sangat terkejut karena yang menjawabnya bukanlah 3 penjaga melainkan seorang manusia.


"Waaah bulumu terlihat sangat lembut bisakah aku menyentuhnya?"


"ya?"


Rubah itu hanya bertanya karena tidak bisa memproses informasi yang masuk tapi manusia itu salah mengartikannya sebagai persetujuan.


"Waah Terima kasih."


Manusia itu langsung memeluknya dan mengelus bulunya.


Ahh itu sangat nikmat, tidak bukan itu!


"Lepaskan aku!"


"Ahh maafkan aku."


Apa apaan manusia ini, dia sangat berbahaya tapi anehnya aku merasa sedikit senang saat dia mengelus buluku.


"Dia bisa berkomunikasi dengan monster seperti kita, aku akan menjelaskannya nanti."


Elang adalah sosok yang berbicara terlebih dahulu.


"Aku mengerti, kalau begitu ikuti aku."

__ADS_1


__ADS_2