MONOCHROME : Choice Of Destiny's

MONOCHROME : Choice Of Destiny's
Bab 8 Tiba Di Ibu Kota


__ADS_3

"Uahhh haa" menguap


"Nghhh" merenggangkan tangan


Aku bangun dengan perasaan sangat segar hari ini.


"Dimana ini?"


Seharusnya sekarang aku akan melihat tangan ku yang gemetaran sambil mengingat kejadian waktu itu dan diikuti dengan muntah.


Tapi perasaan itu tidak muncul sekarang, awalnya aku memang merasa sedikit takut tapi itu takut nanti aku akan kehilangan diriku dan setelah aku bisa mengendalikannya kemungkinan itu terjadi semakin kecil.


Aku keluar dari kamar dan menuju lantai bawah dan menemukan Lucy sedang menata makanan di atas meja.


Dia melihat kearahku tapi setelah itu dia duduk dan langsung makan.


Apa aku melakukan sesuatu yang salah? aku rasa tidak.


Karena tidak memahami apa yang terjadi, aku langsung duduk dan ikut makan.


"Jadi? bagaimana rasanya tertidur selama tiga hari penuh dan membuat perjalanan kita tertunda?"


Ku pikir domain tidak terikat hukum ruang dan waktu tapi sepertinya tidak demikian, jika sekarang sudah 3 hari artinya 1 hari dunia nyata sama dengan 1 bulan domain.


"Aku tertidur lebih lama dari yang kubayangkan, maafkan aku."


"Yah tidak masalah, dan bisakah kita sedikit berbicara?"


"Tentu."


"Aku ingin tau tentang kekuatan kegelapanmu itu, darimana kamu mendapatkannya? harusnya manusia tidak mungkin memiliki kekuatan kegelapan kecuali membuat kontrak dengan iblis tapi setelah melihat kekuatanmu waktu itu aku jadi meragukannya."


"Apakah iblis kuat jarang membuat kontrak dengan manusia?"


"Di masa lalu hal itu umum terjadi saat perang melawan para dewa karena keadaan memaksa manusia dan iblis untuk bekerjasama, tapi di masa sekarang bahkan iblis kelas rendah tidak akan mau melakukan kontrak dengan manusia apalagi iblis sekelas demon lord."


"Bukannya aku berniat merahasiakannya darimu hanya saja kemarin aku sendiri tidak tau darimana aku mendapatkan kekuatan ini. tapi saat aku pingsan aku bertemu dengan ibuku dan dia menceritakan kalau dia adalah iblis tetapi ayahku adalah manusia."


Mata lucy melebar seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya, jadi aku menebak kalau hal itu cukup jarang terjadi.


"Apa ada masalah?"


"Tidak, tidak ada, hanya saja baru kali ini aku melihat yang asli, dulu saat perang ada beberapa manusia dan iblis saling jatuh cinta dan akhirnya menikah tapi mereka tidak pernah bisa memiliki anak hinggal akhir."


Bergumam "apa itu alasan ibu terlalu menyayangi ku?"


"Dimana orang tuamu sekarang?"


"Aku juga tidak tau keberadaan pastinya karena aku di teleportasi paksa dengan sihir pemanggilan, tapi mereka sepertinya sedang dalam pengasingan."


"Hmm begitu, mungkin saja leluhur mu adalah iblis tingkat tinggi yang memilih hidup bersembunyi setelah perang, semuanya jadi masuk akal."


"Aku mengangkatmu menjadi kesatria karena terlihat menarik tapi aku tidak menyangka akan mendapatkan jackpot."


"Ohh bolehkah aku meminta sesuatu?"


"Hm? katakan."


"Aku ingin belajar ilmu pedang, cara bertarung ku terlalu sederhana saat melawan manusia, kalau bisa aku ingin mempelajari ilmu pedangmu."


"Tentu, sejak awal aku berniat melatihmu saat kita sampai di ibukota. aku akan malu jika kesatria ku dikalahkan oleh bandit."


"Satu hal lagi, aku ingin mempelajari apa yang terjadi 10.000 tahun yang lalu bisakan kau membantuku?"


"Itu mudah, kamu bisa belajar sendiri di perpustakaan keluarga ku."


"Bagus, sekali lagi terimakasih."


"Kamu tau? aku sedikit kesal sekarang dan merasa ingin memukul seseorang."


"Aku juga sedang merasa ingin balas dendam kepada seseorang."

__ADS_1


"Kalau begitu ini sangat bagus, ada padang rumput di dekat sini. aku juga akan memberimu pelajaran pertama yaitu tentang sadari posisi mu"


.


.


.


Kami berdiri saling berhadapan dengan jarak 10 meter sambil memegang pedang masing masing.


"Aku memberimu kehormatan untuk menyerang ku lebih dulu."


Lucy berbicara kepadaku dengan nada provokatif, meski begitu dia tidak memberiku celah untuk menyerang.


Aku mengelus pedangku sambil mengalirkan mana kegelapan ku kedalamnya, kali ini aku membatasinya hanya dibagian pedang.


"Hooohhh! padahal kemarin kamu langsung jadi gila setelah menggunakannya tapi kali ini bisa dikontrol dengan sangat baik."


"Nona sebaiknya kamu tidak meremehkanku."


Aku menerjang ke depan dengan kecepatan penuh ku.


Pov lucy


Menggunakan elemen cahaya untuk meningkatkan kemampuan fisik, dan elemen kegelapan untuk memperkuat serangan.


Sangat menarik, bahkan dalam 10.000 tahun tidak pernah ada yang bisa melakukan hal seperti ini, sepertinya aku benar benar mendapatkan jackpot kali ini.


Ryu menerjang kearah ku dengan kecepatan yang luar biasa karena dia meningkatkan kemampuan fisik menggunakan elemen cahaya yang berfokus pada kecepatan dan refleks.


Ryu menebas secara vertikal dari atas, aku memiringkan sedikit tubuhku untuk menghindar.


Pedang Ryu menebas tepat di depan hidungku.


Kekuatan tebasan pedangnya juga bukan main karena ditingkatkan menggunakan elemen kegelapan yang fokus pada kekuatan.


Aku mundur beberapa langkah.


"Aku berniat untuk bersikap lembut karena kamu baru siuman tapi sepertinya itu tidak perlu."


P****ov Ryutaro


"Tck"


Dia bisa menghindari serangan ku dengan sangat mudah.


Aku mengambil langkah mundur untuk mempersiapkan serangan selanjutnya. tapi


"Aku berniat untuk bersikap lembut karena kamu baru siuman tapi sepertinya itu tidak perlu."


Lucy mengelus pedangnya dan aura berwarna merah terang mulai membungkus pedang dan tubuhnya.


sial! kau meniru gayaku.


Elemen api? tidak itu adalah elemen kegelapan hanya saja terlihat sedikit unik. Lucy perlahan lahan berjalan kearahku dengan niat membunuh yang sangat jelas.


"Sebagai nonamu aku tidak bisa membiarkanmu meremehkan ku kau tau? aku akan serius sedikit kali ini."


Aku menelan ludah karena gugup. Sesaat setelah mengatakan itu lucy menghilang dari pandanganku.


Aku langsung melompat kesamping karena insting dan benar saja sesaat setelahnya pedang lucy lewat di tempat aku berdiri sebelumnya.


Aku merasakan sesuatu di pipiku dan itu darah.


Kupikir aku berhasil menghindari serangannya.


"Heehh~ kamu semakin kurang ajar Ryu, bukan hanya tidak sopan sekarang kamu bahkan berani menghindari serangan ku."


"Kau berniat membunuhku sialan!"


"Tadi kamu menyerangku dengan niat membunuh jadi aku hanya melakukan hal yang sama."

__ADS_1


Lucy sekali lagi menghilang, aku hanya bergerak berdasarkan insting dan melekuk tubuhku kebelakang, pedang lucy melintas tepat di depan hidung ku.


Aku melakukan backflip beberapa kali untuk memenangkan diri.


Sekali lagi darah mengalir tapi kali ini didahi ku.


"Ohh bukan cuma sekali tapi kamu menghindar dua kali, karena itu aku sebagai nonamu yang baik hati akan memberimu pelajaran tambahan yaitu rasanya tercabik cabik"


Dasar psikopat sialan!


Aku kembali menyerang tapi lucy selalu dapat menghindarinya kemudian melancarkan serangan balik di saat yang bersamaan dan menggores bagian tubuhku yang lain.


Hal ini terus berlanjut selama beberapa menit, kemudian kami kembali ke rumah.


.


.


.


Hasil pertandingan


Lucy win


Luka yang diterima \= 0


Ryutaro lose


Luka yang diterima


Tulang patah \= 2


Gigi lepas \= 1


Goresan di tubuh \= 12


Aku sekarang dipenuhi perban dari ujung kaki hingga kepala.


"Aendam ini akan kubalaskan tiga kali lipat."


"Fufu~ kalau begitu kamu harus bersiap menerima lebih banyak goresan."


"Tapi jujur aku sangat terkejut dengan perkembanganmu, dapat menghindari seranganku seperti itu di saat terakhir."


"Itu hanya insting."


"Tetap saja insting yang kamu miliki lumayan membuatku terkesan."


"Sejak awal kau cuma mengincar untuk menggores bukan memotong."


"Tidak seperti itu, untuk serangan pertama dan kedua aku benar benar berniat untuk memenggal kepalamu."


"Sial, tapi setidaknya tolong sembuhkan lukaku, kau akan malu jika orang lain melihat kesatriamu babak belur seperti ini."


"Tidak, aku ingin menikmati pemandangan ini setidaknya sampai kita tiba di Ibukota dan tenang saja mulai sekarang kamu akan berperan sebagai kusir dan pengawal bayaran."


Dari kemarin aku selalu penasaran kenapa orang sebesar Lucy tidak memiliki kesatria, mungkin semua kesatrianya kabur atau mungkin mati di tangannya sendiri.


Kesalahan terbesar yang kulakukan dalam kehidupanku adalah pernah terpesona oleh psikopat ini.


.


.


.


Besoknya kami berangkat ke ibukota dan Lucy benar benar tidak mau menyembuhkan luka ku.


Kami beberapa kali bertemu bandit di jalan tapi kali ini aku bisa memenggal kepala mereka dengan mudah dan tidak merasa ingin muntah.


6 hari berlalu.

__ADS_1


kami sampai ke ibukota Kekaisaran Iblis "Ba'al"


__ADS_2