MONOCHROME : Choice Of Destiny's

MONOCHROME : Choice Of Destiny's
Bab 14 Ekspedisi Dungeon 3


__ADS_3

Kami berempat duduk didalam ruang hidden bos sambil minum teh, sebelumnya Zep sudah memasang sihir ilusi diruangan ini untuk berjaga jaga jika ada orang yang melihat.


"Sejak kapan kamu bisa menggunakan teknik penyatuan Ana?"


Aku bertanya murni karena penasaran.


"Um? aku sudah bisa melakukan itu dari dulu hanya saja karena kutukan ini membatasi kekuatan sihir yang bisa aku keluarkan jadinya aku tidak pernah bisa menggunakan nya."


"Ngomong ngomong apa penyatuan bisa dilakukan oleh semua orang?"


Aku sekarang mempertanyakan apakah penyatuan ini adalah hal yang harus ku sembunyikan atau tidak.


"Apa kamu bercanda? yang bisa melakukan itu hanyalah anggota keluarga dari 7 pangeran iblis dan orang yang memiliki bakat sepertiku, lagipula hal ini tidak diajarkan dimanapun."


Kalau begitu ibuku juga salah satu anggota dari 7 pangeran iblis?


"Zep bagaimana bentuk penyatuan mu?"


"Tidak keren jika aku menunjukkannya di sini jadi bagaimana kalau aku menunjukkannya di ruang bos nanti?"


"Ide bagus, aku cukup penasaran."


"Tapi bukankah curang jika hanya aku yang menunjukkan kartu AS ku? kau juga harus menunjukkannya."


"Ini hanya dungeon rank C jadi aku yakin bosnya akan menderita jika melawan kita berdua secara bersamaan, kau lihat nasib hidden bos disana kan?"


"Kau benar, aku sedikit kasihan."


Kami berdua tertawa pahit memikirkan bagaimana nasib hidden bos dibuat terlihat seperti bola karet.


"Ana bagaimana caramu meledakan shadow wolf tadi?"


Aku cukup penasaran soal itu karena sejujurnya aku tidak tau apa yang terjadi, dan itu mengerikan jika dia bisa melakukannya sesuka hati.


"Saat aku dalam wujud penyatuan aku memiliki kontrol mutlak atas udara dan kamu tau kan kalau semua makhluk hidup pasti memiliki udara di dalam tubuhnya, jadi intinya aku hanya perlu membuat udara itu beputar dengan kecepatan tinggi dan BOOM tubuhnya meledak."


"Kau bisa melakukan itu kepada semua orang? sejujurnya itu sedikit membuatku takut."


"Ahh kamu tidak perlu memikirkan itu karena aku kesulitan mengontrol udara jika aku tidak menyentuh targetnya secara langsung, setidaknya aku harus menyentuh target selama satu sampai tiga detik untuk meledakannya."


"Aku tidak bisa melakukan hal seperti itu... bagaimana dengamu Zep?"


"Aku memang tidak mau menunjukkannya di sini tapi penyatuan ku adalah tipe penguatan bukan serangan langsung seperti itu."


"Tipenya sama seperti milikku."


Dan dengan itu kami melanjutkan pembicaraan, Asta hanya menangis di sana karena tidak bisa ikut dalam percakapan.


.


.


.


kami melanjutkan ekspedisi selama beberapa hari tanpa ada kejadian khusus, kami hanya berjalan sambil membunuh monster yang kami temui.


kami juga menemukan beberapa peti harta tapi isinya tidak sebagus yang kubayangkan.


Saat ini kami dalam perjalanan keruangan bos dipimpin oleh Zep, kami tidak pernah menemukan jebakan karena jebakan di dalam dungeon selalu terbuat dari sihir jadi cukup mudah menghindarinya.


"Berhenti, ruangan bos sudah dekat tapi aku mencium banyak bau darah."


"Ayo bergegas."


"Kau benar."


kami berlari secepat mungkin untuk mencapai ruangan bos tapi saat kami sampai.


"Kuak!"


"Sialan cepat bantu aku!"


"Sial!"


"Kaki ku!!"


Yang kami lihat didalam sana adalah pembantaian.


"Ayo kita bantu."


Kami langsung maju dan dan menahan monster itu.


Pertama Asta menembakkan panahnya kearah kaki bos kemudian dihempaskan oleh Ana untuk menjauhkannya dari murid lain.


Dilanjutkan olehku dan Zep, kami masing masing menebas satu kaki bos untuk membatasi gerakannya.


"Awas! monster itu bisa beregenerasi!"


Seorang siswa berteriak dan saat aku sadar aku dan Zep sudah terhempas hingga menabrak tembok.


kami menguatkan tubuh kami dengan sihir jadi kami tidak terluka dan kami berkumpul kembali.


"Monster shadow wolf harusnya tidak memiliki kemampuan regenerasi, sial itu membuatku lengah."


"Aku juga belum pernah melihat monster di dungeon rank C yang sekuat ini, dilihat dari manapun monster ini pasti tidak normal."


monster didepan kami sama persis dengan dengan hidden bos hanya saja kali ini tubuhnya lebih besar, bulunya kaku bahkan terlihat seperti pisau, ditambah air liur yang terus menetes dari mulutnya.


"Sekarang monster ini sudah setingkat bos dungeon rank B atau mungkin A kelas bawah."

__ADS_1


"Heeh menarik, biar aku yang melawannya."


"Ana dan Asta sebaiknya kalian menyeret orang orang itu pergi, aku tidak ingin ada yang melihat pertarungan ini, aku akan tinggal untuk berjaga jaga."


"Baiklah hati hati."


Dan mereka berdua mulai membawa siswa lain meskipun aku tidak yakin itu disebut membawa karena Ana hanya menghempaskan mereka keluar satu persatu dengan sihir anginnya.


Saat semua siswa sudah keluar kami mulai.


"Haaaaahhhhh!!!! URAAA!!"


Zep mulai berteriak seperti ingin berubah menjadi super saia.


Setelah beberapa saat armor berwarna ungu mulai menutupi tubuhnya dari bagian kaki dan terus naik hingga menutupi seluruh tubuhnya.


Bentuk armor nya tidak jauh berbeda dari punyaku hanya saja di bagian Kepalanya ada satu tanduk panjang yang terlihat seperti pisau, ditambah dia memiliki sebuah duri tajam raksasa di bagian bahu, siku, dan bagian tumit.


Zep mengeluarkan satu tombak lagi jadi sekarang dia memegang dua jenis tombak. sekarang bentuk tombaknya juga ikut berubah yang tadinya hanya biasa saja sekarang sudah lebih besar dan lebih panjang.


"Kikikik MATI!!!"


Zep menyerang langsung kearah bos dan meninggalkan debuah kawah ditempat dia berdiri sebelumnya.


"MATI MATI MATI MATI MATI MATI MATI MATI MATI MATI! MATI!! MATI!!!!"


Dan begitulah pertarungan monster gila melawan orang gila dimulai.


Zep menyerang bos dengan serangan berturut-turut tapi bos selalu bisa beregenerasi setiap kali terpotong.


Zep terus melancarkan serangan tapi tiba tiba tubuhnya terhempas ke dinding.


"KUAHAHA MENARIK! MEMANG HARUS BEGITU!"


Bos menghilang tapi berbeda dari hidden bos yang muncul dari tanah kali ini dia muncul dari udara kosong dan langsung menyerang Zep.


Zep mengindari serangan itu dan melakukan serangan balik tapi serangannya hanya mengenai udara kosong, bos menghilang lagi.


Bos itu muncul kembali tepat dibelakang Zep tapi saat Zep mengayunkan tombaknya kebelakang bos itu menghilang lagi.


"KIKIK INGIN BERMAIN PETAK UMPET SEKARANG!?"


Zep mengarahkan tombaknya keatas dan mulai menusuk kearah langit.


Sesaat setelahnya tusukan tombak mulai berjatuhan dengan jumlah yang tidak terhingga membuat lantai hancur dengan radius 20 meter.


Setelah selesai bos muncul dengan penuh luka tusukan di seluruh tubuhnya.


"Grrrr."


"HHAHAHAHA! MATI! DASAR SIALAN!"


"huuhh.....membosankan."


Zep mendesah dengan nada bosan, kemudian dia mulai menggunakan kuda kuda diikuti dengan energi sihir Zep yang meledak kemudian semua itu masuk kedalam kedua tombaknya.


Zep mengayunkan kedua tombaknya secara bergantian sampai membentuk tebasan X membuat bos terbelah kemudian jatuh ke tanah tanpa beregenerasi.


"Kerja bagus!"


Kku menyapanya tapi dia tidak menjawab.


Zep berbalik kearahku hanya saja niat membunuhnya masih belum hilang.


"MATI!!!"


Zep menerjang kearahku dengan niat membunuh yang sangat jelas.


Sial dia sudah gila!


Aku menahan serangannya tapi itu masih membuatku terhempas menabrak tembok.


Aku muncul dengan armor putih yang kubuat dari penyatuan dengan elemen cahaya milikku.


"Kau yang memulainya sobat jadi jangan salahkan aku."


"KUAHAHA MENARIK!"


Aku menyerang dan langsung muncul dibelakang Zeb dalam sekejap untuk menebas lehernya.


Tapi karena armornya yang mengurangi dampak seranganku itu hanya berakhir menggores armor miliknya.


Aku mundur dan muncul kembali ke tempat sebelumnya.


"Serangan selanjutnya akan memisahkan kepala dari tubuhmu."


"KUAHAHA BARU KALI INI ADA ORANG YANG MEMBUATKU TIDAK BISA BEREAKSI SEPERTI INI!"


Kali ini kami menghilang secara bersamaan.


Aku menyerang lebih cepat tapi armornya sangat menyebalkan karena menghilangkan sebagian besar kekuatan seranganku. sedangkan untuk Zep dia hanya mendaratkan beberapa serangan tapi itu langsung menembus armorku seperti sebuah mentega.


Setelah beberapa saat kami mundur menjauh.


Armor Zep sudah penuh dengan goresan tapi tidak ada luka.


Sedangkan aku sudah mendapatkan beberapa goresan.


"Tch, kau serius melakukan ini kan? kalau begitu aku tidak akan menahan diri."

__ADS_1


Armor ku mulai berubah warna menjadi armor hitam legam, pedangku juga berubah warna.


Aku mengangkat pedangku keatas sambil meniru apa yang pernah ibu lakukan.


Seketika aura hitam meledak dari dalam tubuhku dan membuat seluruh ruangan ini bergetar.


Pedangku mulai diselimuti kegelapan yang lebih gelap kemudian mulai membesar, sekarang sudah seukuran pedang dua tangan.


Aku memang belum bisa membuat pedang raksasa seperti yang dibuat ibu tapi aku sudah bisa meniru cara menggunakannya.


Saat aku mengayunkan pedang ku kebawah dengan kekuatan penuh.


"HEI! tadi aku hanya bercanda!! aku hanya ingin melihat penyatuan mu!"


Zep bersujud di tanah.


Aku mulai menurunkan pedangku dan armorku mulai menghilang.


Aku berjalan kearahnya dan mengulurkan tangan.


"Huuhh... kau sudah melihatnya jadi ayo pergi."


"Tapi aku tidak menyangka penyatuan mu sekuat itu bahkan sebelum dilepaskan."


"Haha itu masih jauh dari apa yang bisa dilakukan ibuku."


Zep mengambil tanganku dan kami berjalan bersama ke tempat Asta dan Ana merawat siswa lain?.


Diluar ruangan bos tergeletak banyak sekali siswa dengan posisi yang acak, bahkan ada beberapa yang saling tumpang tindih.


Beberapa masih sadar dan saling mengobati satu sama lain dengan perban.


Aku mencari Ana dan Asta.


Aku melihat Asta di sudut ruangan sedang tertidur pulas di paha Ana dan Ana mengusap kepalanya.


"Zep tolong atur tumpukan siswa ini dengan posisi baris lurus agar aku bisa mengobati mereka."


"Tentu."


Aku menghampiri pasangan muda ini. Ana melihat kearahku.


"Ohh Ryu pertarungannya sudah selesai?"


"Iya berakhir dengan baik, bagaimana keadaan di sini?"


"Aku sudah membawa mereka keluar seperti yang kamu bilang."


"Tapi kenapa mereka masih menumpuk seperti ini!? apa kamu tidak mengobati mereka?"


"Eh? kenapa aku harus melakukan itu? mereka terluka karena kelemahan mereka sendiri jadi aku tidak punya alasan untuk mengobati mereka, dan jangan berisik Asta sedang tidur."


Sial setelah segelnya lepas wanita ini benar benar menjadi psikopat! dan apa yang dilakukan bocah ini!?


Aku menendang kepala Asta hingga dia berputar beberapa putaran diudara sebelum jauh ke tanah.


"Apa yang kau lakukan dasar sialan!? aku sedang bermimpi indah kau tau!?"


"Di sini ada banyak siswa yang terluka, bantu aku mengobati mereka."


"Huhh merepotkan, aku ingin tidur di paha Ana lebih lama."


Aku pengambil pedangku dan mengarahkannya ke leher Asta dengan niat membunuh.


"Atau aku harus memberimu beberapa goresan sebelum mau mendengarkan ku?"


"Baiklah! aku hanya bercanda!"


"Dan Ana apa kamu bisa mengubah penampilan mu seperti sebelumnya? akan merepotkan jika kamu keluar dengan penampilan seperti itu."


"Tentu aku bisa melakukannya tapi Asta, bagimana menurutmu?"


Kedua orang itu mulai berciuman.


"Aku menyukaimu apa adanya."


"Fufu~ baiklah."


Aku akan gila jika berlama lama berada di dekat mereka.


Kami menyembuhkan semua siswa yang ada di sini kemudian pergi.


Dengan begitu ekspedisi berakhir dan 50% siswa mati didalam dungeon.


.


.


.


Beberapa hari kemudia Ekspedisi dari kelas S kembali, aku pergi nyambut mereka tapi apa ini?


Lucy kembali dengan tatapan kosong dan ada luka diperutnya. Saat dia melihatku dia langsung mengalihkan pandangannya.


"Apa yang terjadi!? kenapa kamu bisa terluka seperti ini."


"Jangan sentuh aku! jangan lihat aku!"


Lucy menepis tanganku kemudian dia berlari menjauh.

__ADS_1


__ADS_2