MONOCHROME : Choice Of Destiny's

MONOCHROME : Choice Of Destiny's
Bab 34 Telur


__ADS_3

Setelah kami membunuh naga kami mengambil taring dan intinya karena sisiknya hancur setelah terkena serangan Zep.


Zep keluar sambil memegang sebuah kristal hitam besar ditangannya.


"Hahaha sangat beruntung bisa mendapatkan inti naga hitam disini, ini akan menjadi senjata yang sangat luar biasa!"


"Itu luar biasa aku bisa merasakan energi sihir yang sangat besar di dalamnya."


Aku menyentuh kristal itu dan itu langsung hancur.


"EHHH!? apa yang kau lakukan pada kristal nagaku!?"


"Hahhh!? aku tidak melakukan apa apa!"


Sekarang kristal sihir itu hancur dan sebuah kekuatan sihir yang besar berputar disekitar kami seperti sebuah badai.


"Ini akan memancing monster yang kuat ayo pergi!"


"Baiklah."


Kekuatan sihir itu semakin kuat dan masuk kedalam tubuhku sekaligus.


'Kuserahkan putriku kepadamu.'


Aku bisa mendengar suara tapi aku tidak tau darimana asalnya, itu seperti dia berbicara langsung didalam kepalaku.


Dalam sekejap semua kekuatan sihir itu menghilang karena masuk kedalam tubuhku.


Aku sekarang merasakan energi sihir aneh lainnya mengalir di dalam diriku.


"Apa yang kau lakukan?"


"Apa? aku tidak melakukan apa apa!"


"Bohong, kau mengambil inti naga milikku sialan!"


"Sudah kubilang kalau aku tidak mengambilnya."


"Kruk kruuk." Perut Keroncongan.


"Kita bahas itu sebentar karena sekarang aku sangat lapar."


"Setelah kau mengatakannya aku juga merasa sangat lapar sekarang."


Kami berjalan keluar dari kawah karena energi sihir di tempat itu cukup padat jadi kami takut itu akan merusak makanannya.


Kami memasang sebuah tenda sederhana dan kemudian mengeluarkan beberapa bahan makanan kemudian memasaknya.


"Ahhh~ aku merasa hidup kembali."


"Kamu benar, memangnya berapa lama kita bertarung dengan naga itu sampai perutku kosong seperti ini."


"Aku juga tidak yakin tapi sepertinya sekitar 3 hari atau lebih."


"Itu pertarungan yang panjang."


"Dan membutuhkan pengorbanan."


""Huuh.""


Kami berdua menghembuskan nafas lelah.


"Hei ngomong ngomong sihir apa yang kau gunakan waktu itu? itu sangat luar biasa jadi kenapa tidak menggunakannya diawal saja?"


"Itu bukan sihir tapi aku memasukkan inti wyvern yang kita lawan kedalam sebuah tombak kemudian melemparkannya keatas langit, itu akan terus menyerap energi sihir dan saat itu melebihi batas akan meledak dengan kekuatan yang sangat luar biasa. Karena itu aku tidak ingin menggunakannya diawal untuk mengalahkannya saja kita harus mengorbankan 10 inti wyvern yang berharga."


"Itu pengorbanan yang sangat besar."


Kami menghabiskan beberapa saat dalam diam sambil menatap api.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita pergi untuk mencari sarang naga tadi? harusnya disana ada harta yang sangat berharga!"


"Ayo lakukan!"


Kami berdua pergi sambil dituntun oleh Zep.


Ternyata sarang naga itu tidak jauh dari sini dan dia tinggal di sebuah goa raksasa dibawah tebing.


Kami masuk cukup dalam, karena ini adalah sarang naga jadinya tidak ada monster disekitar sini.


Setelah masuk dan melewati beberapa belokan kami menemukan sebuah ruangan besar yang penuh dengan Harta.


Aku bertanya tanya dimana naga itu mendapatkan ini semua tapi siapa peduli.


"Woahhh ayo kita ambil semuanya!"


Zep langsung berlari dan mulai memasukan semuanya kedalam cincin dimensi miliknya.


Aku berjalan jalan disekitar dan Disudut ruangan ada sebuah kain lusuh.


Aku mengambil kain itu dan dibawahnya ada sebuah telur yang cukup besar.


Itu berwarna hitam legam dan memancarkan sebuah cahaya berkilau menandakan kalau itu mengandung kekuatan sihir.


Aku langsung ingat suara yang kudengar saat itu.


Aku mencari ke segala arah tapi tidak menemukan yang lain.


Jadi aku berdiri di depan telur itu sambil memikirkan apa yang harus kulakukan untuk menjaganya.


"Woahh! bukankah ini telur naga!?"


"Aku sedang berfikir bagaimana mengurusnya, menurutmu bagaimana jika kita meninggalkannya disini?"


"Jika kita membiarkannya disini cepat atau lambat naga lain akan datang untuk menempati sarang ini dan itu akan menjadi akhir baginya, tapi jika membawanya itu akan sulit untuk menetas karena kurangnya kekuatan sihir dan kemungkinan akan mati juga."


"Hmmm apakah ada cara agar kita bisa membawanya pergi dan tetap menjaganya agar tetap hidup?"


"Tidak, naga itu meminta ku untuk menjaga putrinya jadi aku harus bertanggung jawab."


"Tapi itu akan sangat membatasimu karena menurut perkiraan ku kau harus mengalirkan manamu setidaknya sekali sehari."


"Tidak masalah aku akan mengurusnya, Terima kasih."


"Lakukanlah, aku ingin lanjut mengumpulkan harta."


Saat Zep pergi aku mengangkat telur itu.


"Aku memang tidak pantas mengatakan ini tapi mulai sekarang aku akan menjagamu."


Aku merasa sedikit bersalah karena sudah membunuh ibunya padahal saat itu kami yang salah karena telah masuk dan mengacau di wilayahnya.


Aku mengalirkan semua energi sihirku kedalam telur itu.


Aku langsung merasa sangat lelah dan mengantuk jadi aku memasukannya kedalam cincin dimensi kemudian pergi untuk membantu Zep mengumpulkan harta.


Karena lelah kami berjalan menuruni gunung untuk beristirahat di penginapan hari ini.


Di dalam perjalanan kami bertemu banyak monster tapi Zep mengalahkan mereka sendirian.


Setelah aku mengalirkan sihirku kedalam telur itu berbeda dari yang disebutkan Zep karena rasanya telur itu menyerap sihirku terus menerus.


Jadi pemulihan manaku sangat lambat karena sebagian langsung masuk kedalam telur.


Kami tiba di penginapan pada malam harinya dan aku langsung masuk ke kamar mandi untuk berendam.


"Ahhh~ ini sangat nikmat."


Aku benar benar kelelahan hari ini dan aku harus bertahan sampai telur ini menetas.

__ADS_1


Aku kembali ke kamar dan langsung terbaring dikasur untuk tidur.


"Pasti tidak menyenangkan tinggal di cincin dimensi seharian."


Aku bergumam sendiri dan mengeluarkan telur itu kemudian memasukkannya kedalam selimut dsn menjadikannya sebuah guling.


Aku dengan cepat tertidur dengan pulas sambil memeluk telur itu.


.


.


.


Setelah menyerahkan putriku kepada anak itu aku memberinya sisa kekuatan sihirku, setidaknya aku ingin dia sedikit lebih kuat untuk menjaga putriku.


Aku sudah siap untuk mati tapi kesadaranku masih ada.


Aku mencoba membuka mata dan itu terbuka.


Aku melihat tubuhku dan saat ini aku menggunakan wujud manusia yang biasanya ku pakai yaitu dengan wujud perempuan berambut hitam panjang.


Aku terbaring disebuah lantai saat ini.


"Fufu sepertinya celah kekuatan antara kita semakin menjauh carl-chan, Ohh dan sepertinya pendatang baru kita sudah bangun."


"Aku harus protes kepadanya."


Aku bisa mendengar dua suara wanita sedang berbicara, aku bangun dan didepanku sudah berdiri wanita dengan rambut hitam yang biasa.


Hanya saja yang membedakan adalah aura yang ada disekitarnya itu terlihat seperti jurang yang tidak berujung.


Dan dibelakangnya berdiri wanita dengan rambut putih dan mata merah, aku sangat yakin kalau dia adalah seorang monster.


Dan dibelakang wanita itu berdiri wanita lain dengan rambut biru ES dengan tatapan tajam.


Bagaimana bisa dragon lord ada di sini? dan ini ada di mana!?


Aku sangat panik di dalam hati karena kemunculan orang orang kuat ini.


Wanita berambut hitam maju dan mengguncang bahuku karena sekarang aku telanjang.


"Kau! kenapa kau memberikan kekuatan kepada anak itu!?"


"Maafkan aku!"


Aku tidak tau apa yang dia maksud jadi aku hanya bisa meminta maaf.


"Kukk! gara gara kau anak itu menjadi lebih kuat sekarang!"


"Fufu~ ini adalah perbedaan kekuatan kita. Berbeda dari putraku yang lucu putramu bahkan tidak bisa beradaptasi dengan kekuatan kecil yang kau berikan."


"Kukk! anak itu pasti bisa mengatasinya."


"Fufu~ aku menantikannya."


Ketiga orang itu kembali duduk dan menatap sebuah kaca yang menampilkan anak yang telah membunuhku.


"Fufu~ ini menjadi sangat menarik."


"Apa yang terjadi!?"


Aku berteriak secara tidak sadar karena terkejut merasakan ada yang berubah dari putriku.


"Hei apa yang kamu lakukan!?


"Ja-jangan bilang!"


"Ini sangat menarik."

__ADS_1


Aku hanya bisa diam sambil melihat apa yang dilakukan orang ini.


Aku hanya bisa berharap supaya putriku bisa selamat dari cobaan ini.


__ADS_2